نخستین 200 خط.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Bukankah inspeksinya baru kemarin?
Tugas kalian sudah dilakukan, 'kan? Bagaimana bisa bencana ini terjadi?
Aku menyarankan
kita menjual Sanggraloka Junya.
Tentu saja tidak.
Tanah itu milik ibuku.
Aku akan membuat Sanggraloka Junya berkembang sendiri
tanpa bantuan finansial dari JS Group.
Aku ingin bergabung dengan Jay.
Hei. Kukira kau akan datang besok.
Inilah harinya.
EPISODE SEBELUMNYA
Suchart.
Suchart!
Tolong temui dokter.
Tidak!
Tak ada tempat yang seaman rumah kita.
Apa maksudmu?
Ini juga rumah kita.
Rumahku.
Itu indah, Jay.
Mulus sekali.
- Kau tak terdengar tulus. - Aku ketahuan.
Apa yang kau lakukan?
Mari istirahat dan makan kukis buatan Vin.
- Astaga. - Hebat. Ayo.
- Ayo. - Silakan makan.
Aromanya sedap.
- Biar kucium. - Sedap?
- Astaga. - Benar.
- Ohm, ayo makan kukis. - Apa?
Aku sudah pernah memakannya.
Sial. Kau ini…
Kau sangat menyebalkan. Maafkan aku, Jay.
Kau sudah makan kue orang lain, tapi ini buatanku.
- Tanganku penuh. - Benarkah?
Biar kubantu. Aku akan menyuapimu.
- Hei. - Apa?
- Ada apa? - Chuen!
Kau lupa harus memeriksa stok seprai?
- Benar. - Kau makin tua dan pelupa.
Ayo.
- Mari kita periksa stoknya. - Ya.
- Periksa stoknya. - Benarkah?
Vin?
Kau ingin dia mencobanya, jadi, bawakan satu untuknya.
Tentu saja, Jay.
Astaga!
Ada apa?
- Ya. - Aku baru sadar
- aku juga punya kroisan. - Apa?
- Aku harus mengambilnya. - Benar.
- Aku mencium bau gosong. - Aku harus mengambilnya.
- Cepatlah. - Aku akan pergi.
Cepat lari.
- Viva. - Ya?
Aku baru sadar harus menelepon Organisasi Administratif Subdistrik
- untuk memesan sampo. - Apa?
Aku hampir lupa. Biar kutelepon mereka sebelum aku lupa.
- Aku harus menelepon mereka nanti sore. - Tunggu.
- Astaga. - Astaga.
Mana seprainya?
Mana kroisannya?
Kenapa kita banyak bertanya?
- Anggap saja… - Kita semua di sini untuk memata-matai.
Aku yakin kau mau makan.
Ini.
- Apa? - Biar kusuapi.
Terima kasih.
Hei. Ada apa? Kau tersedak?
- Air. - Apa dia tersedak?
- Lihat. - Diam.
Tunggu. Ini airnya.
- Tunggu. - Apa?
Ini panas dan kau akan menumpahkannya.
Kau tak meminumnya dengan benar.
Bisakah kau meminumnya dengan benar sekarang?
Tidak.
Bekerja selagi seseorang menyuapimu
ternyata menyenangkan juga.
- Ini masih panas. - Ambillah.
Aku…
Aku merasa kepanasan.
Aku akan ke pantai untuk mencari udara segar.
Jay.
Apa?
Pantainya ke arah sini.
Aku…
Aku akan ke pantai di sana.
- Hei. - Apa yang terjadi?
- Kami melihatmu. - Ya.
- Manis sekali. Dia menyuapimu. - Ada apa?
- Apa yang terjadi? - Benar.
- Apa yang terjadi? - Astaga.
Kau tersedak?
Jus jeruk segar.
Minumlah sebelum ujianmu dan kau akan sukses.
Terima kasih, Yu.
Kalau begitu, aku pergi dahulu.
Kuharap kau menjawab semua pertanyaannya dengan benar.
Tentu saja, Yu.
Aku ingin segera lulus agar bisa menikah.
Sampai jumpa, Yu.
Bawa barang Meena dan Mark ke atas.
Baik, Pak.
Halo, Jee.
Kau mau ke universitas?
Ya.
Aku ada ujian.
Ada insiden semalam.
Ayah ingin mereka tinggal di sini.
- Baiklah. - Kau tak keberatan?
Aku tak keberatan, tapi…
Jay?
Ya.
Tak apa-apa. Ayah akan bicara dengannya.
Maksud Ayah, Ayah belum bicara dengannya?
- Ada yang mau minum? - Terima kasih.
- Terima kasih. - Minumlah.
Chuen, bisa tolong angkat teleponnya?
Ya.
Halo, Bu Jee.
Astaga.
Chuen. Kau bersama Jay?
Ya, aku membantu Bu Jay di sanggraloka.
Kapan kau akan datang?
Aku sangat merindukanmu.
Aku akan pergi setelah ujian.
Boleh aku bicara dengan Jay?
Ada hal mendesak yang harus kukatakan kepadanya, Chuen.
Tentu saja.
Bu Jay. Ini dari adikmu.
Ini mendesak.
Ini.
Halo, Jee.
Jay.
Ayah membawa Meena untuk tinggal di rumah.
Apa katamu?
Ayah membawa Meena pulang untuk tinggal di sini.
- Astaga. Bu Jay. - Bu Jay.
Ayah membawa Meena pulang untuk tinggal di sini.
Jika Ayah mau menikah lagi, tak akan kuhentikan.
Namun, harus sesuai persyaratanku.
Apa maumu?
Ayah bisa tinggal dengannya di mana pun Ayah mau.
Namun, jangan biarkan dia pindah ke sini.
Itu tak akan menjadi masalah.
Itu masuk akal.
Bu Jay.
- Jay! - Bu Jay.
Jay.
- Hei. - Cepatlah.
Kau harus mengikutinya.
Aku tak tahu ke mana dia pergi.
Dia sudah seperti ini sejak Pat meninggal. Dia biasanya minum pil.
Pil?
Pil apa?
- Kau tahu pil apa? - Itu tak penting.
Ikuti dia. Dia mengemudi ugal-ugalan saat marah.
- Ya. - Cepatlah.
Jay.
Kau baik-baik saja?
Hei. Tenanglah.
Jay.
Kau membawa pilmu?
Jay.
Di mana obatnya?
Kau harus meminumnya dahulu, ya?
Tidak.
Kau tak sehat. Kau harus meminumnya.
Tak mau.
Jika kau tak meminumnya,
aku takkan mengantarmu pulang.
Sejak insiden itu, apa kau bergantung pada pil?
Aku sudah lama berhenti meminumnya.
Namun, sejak Meena datang ke kehidupan ayahku,
aku harus mulai meminumnya.
Jika kau tahu akan sedih melihatnya,
kenapa kau pergi?
Aku meminta ayahku
melarangnya pindah ke rumah kami.
Dia melanggar janji kami.
Itu rumah ibuku.
Jadi, apa rencanamu?
Mengusirnya dari rumah itu?
Aku berhak tahu kenapa dia melanggar janji kami.
Kekasihmu tak sepolos itu.
Kau pasti tahu itu.
Di mana Ayah, Yu?
Pak Suchart sudah pulang, tapi dia pergi ke kantor tadi.
Ayah sungguh membawanya pulang?
Jay.
Lalu bagaimana sekarang?
Aku akan ke kantor. Aku harus bicara dengan ayahku.
- Jay. - Mari bicara, Jay.
Tolong taruh barang-barangku di ruang tamu.
Kenapa Ayah melanggar janji kita?
Ayah punya alasan, Jay.
Apa karena wanita itu?
No comments yet. Be the first to leave one.