نخستین 195 خط.
Kapten Tomoaki Shida
Kasus ini terjadi di dalam pesawat JAM 377 yang tengah terbang menuju bandara Haneda.
Sesaat setelah lepas landas, tiba-tiba asap memenuhi bagian dalam pesawat.
Meski awalnya semua mengira bahwa itu adalah ulah teroris,
setelah mengetahui bahwa sumber asap berasal dari bom asap, semua pun menarik napas lega.
Tapi setelah keributan itu berakhir, saat para kru pesawat tengah periksa keadaan para penumpang,
dalam jangka waktu sepuluh menit itu, sang kapten telah dibunuh di dalam kokpit.
Kasus pembunuhan yang terjadi di ruang tertutup pada ketinggian 10.000 meter di atas langit ini
pasti akan kupecahkan dengan kedua tanganku ini!
Dengan mempertaruhkan nama kakekku!
GOOD-BYE BOY, wahai dunia yang kita tinggali ini
GOOD-BYE BOY kono sekai
ucapkan selamat tinggal pada kesedihan yang telah kaualami
kanashimi ni sayonara
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
Kembalinya Catatan Kasus Kindaichi
Kembalinya Catatan Kasus Kindaichi
Kembalinya Catatan Kasus Kindaichi
bila ingin kumpulkan kembali impian yang berserakan
yume no kakera wo atsume ni yukeba
maka carilah menara jam pencakar langit
tokei jikake no matenrou
kini kita saling berdampingan bagai bintang bertaburan
amata no hoshi ga yorisoi bokura wa
untuk harapkan dunia yang tak punya cela
kirameku sekai yume mita
sesungguhnya, semua orang pasti ingin bisa terus tersenyum
hontou wa daretatte nukumori wo
sambil terus genggam kehangatan dalam diri mereka
daite waraitai kara
karena itu, genggamlah perasaan itu dan terbanglah menuju angkasa
sono omoi ima sora he mai agero
kini dobraklah semua pintu yang menghalangi itu
tsuki yabure sono DOOR wo
dan mulailah perjalanan 'tuk hubungkan era baru ini
atarashii jikan wo tsunaide yuke
hingga ke ujung ke dunia demi dirimu
sekai no hate made kimi no tame
sampai seluruh kesedihan yang ada hilang tanpa sisa
kono kanashimi ga naku naru made
GOOD-BYE BOY, yang ada di ujung sana
GOOD-BYE BOY sono mukou
adalah dunia yang telah kita nantikan
bokura wo matsu sekai
Semua misterinya telah terpecahkan!
Kasus Pembunuhan di Ketinggian 10.000 Meter
Kasus Pembunuhan di Ketinggian 10.000 Meter
Kasus Pembunuhan di Ketinggian 10.000 Meter!
Sebenarnya, ada sesuatu yang terus menggangguku sejak awal.
Sejak awal?
Ya. Sejak asap memenuhi kabin dan terjadi keributan besar karenanya.
Berdasarkan pengetahuan dan pengalamanku, pada saat itu terjadi hal yang sangat sulit dipercaya.
Begitu, ya? Sebenarnya aku juga menyadari sesuatu.
Tentang sesuatu yang agak tak wajar dari orang-orang tertentu.
Begitu, ya? Baiklah, bagaimana kalau kita saling bertukar informasi?
Baiklah. Satu, dua, tiga!
Kindaichi.
Ya.
Semua misterinya...
...telah terpecahkan!
Hajime!
Akhirnya, ya!
Inspektur Kenmochi, tolong kumpulkan semua tersangka dan juga anggota kru pesawat.
Baik! Aku mengerti!
Lalu Kindaichi, barusan aku berikan kertasnya dua detik lebih cepat darimu.
Bicara apa kau ini? Jelas-jelas aku beri kertasnya sedetik lebih cepat darimu, 'kan?
Tidak, aku yang lebih cepat.
Enak saja, aku yang lebih cepat!
Aku duluan yang memberimu kertasnya.
Dasar. Seperti anak kecil!
Apa Anda telah temukan pelakunya?
Kopilot Koganei. Apa tak apa-apa kalau Anda tinggalkan kokpit?
Ya. Karena kondisi penerbangan saat ini sedang stabil, jadi kupindahkan ke pilot otomatis.
Asal tak terlalu lama, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kopilot Mamoru Koganei
Lagi pula, kalau Anda memang akan menguak
orang yang telah membunuh kapten Shida,
maka sudah pasti aku ingin melihatnya!
Baiklah.
Lepaskan aku! Apa-apaan ini?
Artis Maria Ishida
Memangnya kenapa aku harus diseret kemari?
Masa aku diperlakukan seperti kriminal hanya karena pergi ke toilet sebentar?
Juru Kamera Yutaka Oogoshi
Pak Kenmochi, ada apa ini?
Apa Anda akan perlakukan aku seperti teroris?
Tidak, Pak Oogoshi. Bukan begitu.
Karena penumpang yang tak punya alibi hanya kalian berdua, jadi aku ingin kalian datang ke sini.
Aku juga ingin agar seluruh anggota kru pesawat ikut ke sini.
Bendahara Shinobu Sekiguchi
Maaf, Anda tak akan menuduh kami sebagai teroris, 'kan?
Pramugari Akari Momoyama
Pramugari Yui Kagaya
Karena setelah keributan akibat asap usai,
kami segera berkeliling untuk tenangkan para penumpang.
Jadi, kami semua punya alibi.
Sebenarnya, semua itu bukan terorisme.
Semua itu hanyalah pembunuhan terencana yang dibuat seakan-akan seperti terorisme!
Mulai dari ancaman terorisme yang diterima sebelum pesawat ini lepas landas,
sampai keributan akibat bom asap itu.
Semua itu adalah trik yang direncanakan pelaku agar dia bisa lolos dari tuduhan pembunuhan.
Pelaku yang telah membuat aksi terorisme palsu serta membunuh kapten Shida,
adalah salah seorang di antara kita!
To-Tolong tunggu sebentar!
Kapten dibunuh dengan cara dicekik di dalam ruang kokpit yang terkunci, 'kan?
Ya, sudah tak salah lagi.
Kalau kita lihat kondisi jasad korban,
bisa dipastikan penyebab kematiannya adalah kehabisan napas akibat dicekik dengan tali.
Kalau memang begitu, bukankah akan ada jeda waktu saat pembunuhan terjadi?
Untuk berjaga-jaga kalau ada penumpang yang alami gangguan kesehatan selama penerbangan,
sebenarnya aku sedikit pelajari ilmu kedokteran di waktu senggang.
Agar seseorang tewas karena kehabisan napas, dibutuhkan waktu setidaknya enam menit.
Setelah kapten kembali ambil alih pesawat dan kopilot datang menuju kabin,
kalau kapten memang terbunuh pada jeda 10 menit tersebut,
dan kalau tersangkanya adalah orang-orang yang tak punya alibi setidaknya selama lima menit,
maka yang bisa dijadikan tersangka
hanyalah sang artis, Nyonya Ishida, dan juga sang juru kamera, Pak Oogoshi, 'kan?
Tunggu, berani sekali kau bicara lancang seperti itu pada penumpang!
Aku ini artis, tahu! Memangnya apa yang salah kalau seorang artis pergi ke toilet untuk berdandan?
Alasanku tak punya alibi adalah hanya karena inspektur yang seharusnya duduk di sebelahku itu
pergi entah ke mana untuk periksa keributan yang terjadi!
Aku tak terima kalau dijadikan tersangka hanya karena alasan seperti itu!
Kalau pembunuhnya memang salah seorang di antara kami, sudah pasti dialah orangnya!
Wajahnya saja sudah seperti pembunuh!
Apa?
Sudah, sudah, kalian berdua.
Inti dari pernyataan barusan adalah dugaan jeda waktu saat pilot terbunuh,
yaitu setelah dia kembali ke kokpit dan kopilot pergi menuju kabin untuk tenangkan para penumpang.
Tapi, bagaimana kalau ternyata dugaan itu adalah hasil dari trik yang telah dibuat oleh pelakunya?
Sepertinya memang ada semacam ancaman teroris sebelum pesawat ini lepas landas.
Tapi, keributan akibat dugaan terorisme itu adalah siasat pelaku untuk buat sebuah trik alibi.
Trik alibi?
Apa maksudmu?
Kapten Shida tak dibunuh setelah keributan akibat asap usai.
Tapi, dia dibunuh pada saat keributan asap itu tengah berlangsung!
Apa?
Sebenarnya, sang kapten dibunuh pada saat keributan akibat asap itu tengah berlangsung.
Karena pada saat itu terjadi keributan besar,
ada cukup waktu bagi siapa pun
untuk ambil kesempatan di tengah kepanikan dan menghilang selama 10 menit.
Tapi itu tak masuk akal, 'kan?
Momoyama.
Habisnya, saat keributan tengah terjadi, kapten datang ke kabin
dan bicara pada para penumpang, 'kan?
Itu kalau memang benar bahwa dia adalah sang kapten.
Saat itu, sang kapten tengah pakai topi, juga kacamata hitam yang sangat tebal,
serta pakai sapu tangan untuk tutupi mulutnya, sehingga kita hampir tak dapat kenali wajahnya.
Karena suaranya juga tak terdengar jelas akibat sapu tangannya, tak ada yang bisa mengenalinya.
Aku bahkan sampai tak bisa bedakan apa jenggotnya palsu atau tidak.
Kita semua mengira bahwa yang keluar adalah sang kapten,
hanya karena dia pakai topi dan juga seragam kapten.
Kalau dipikir-pikir, benar juga.
Sebenarnya, saat itu sang kapten masih berada di dalam kokpit.
Mungkin sang kapten dibius dengan semacam obat, sehingga dia pingsan pada saat itu juga.
Lalu, saat terjadi keributan akibat asap di dalam kabin,
dia segera gunakan peluang itu untuk mencekik sang kapten hingga tewas karena kehabisan napas.
Sekalipun tak ada orang yang kendalikan pesawat,
selama pesawatnya masih dalam keadaan stabil,
maka tak masalah sekalipun pesawatnya dibiarkan terbang dengan pilot otomatis selama 10 menit.
Kalau begitu, pilot palsu yang keluar saat keributan itu terjadi...
Sudah pasti, dialah pembunuhnya.
Sebenarnya, pelakunya ada dua orang.
Dua orang, katamu?
Setelah pastikan kendali pilot otomatis telah terpasang,
pelaku pertama yang telah membius kapten Shida
selanjutnya menyuruh pelaku satunya lagi untuk membunuh sang kapten,
lalu dia kenakan seragam milik kapten dan pergi menuju kabin demi ciptakan alibi.
Pelakunya ciptakan keributan asap itu,
agar dia bisa gunakan sapu tangan untuk menyamar sebagai sang kapten.
Bukankah begitu, Kopilot Koganei?
Koganei yang telah...
Di pesawat ini,
satu-satunya orang yang bisa menyamar sebagai pilot hanyalah kau yang bertindak sebagai kopilot.
Kau adalah salah satu dari dua orang yang telah membunuh kapten Shida!
To-Tolong jangan main-main! Memangnya, apa bukti dari tuduhanmu itu?
Bukti, ya?
Memang ada beberapa bukti, tapi hal yang paling menarik perhatianku adalah,
bagaimana bisa sang kapten dengan santainya
pergi ke kabin tanpa peduli dengan adanya ancaman teroris?
Saat aku masih di Amerika,
sudah berulang kali aku bertemu dengan kapten Shida,
dan saat itu dia pernah bilang sesuatu padaku.
Di Amerika, tak ada yang bisa tebak kapan akan terjadi serangan teroris di tengah penerbangan.
Kalau terjadi sesuatu, satu-satunya hal yang bisa kami lakukan hanyalah,
mengunci kokpit dari bagian dalam,
lalu lakukan segala cara agar para teroris tak bisa masuki kokpit dan ambil alih kendali pesawat.
Pada situasi begitu, yakni di tengah kecurigaan adanya teroris,
hal yang paling masuk akal adalah mengunci pintu kokpit,
lalu berusaha sebisa mungkin agar para teroris tak masuk ke dalam kokpit
dan ambil alih kendali pesawat.
Tapi, yang kapten Shida lakukan pada saat itu...
Di tengah kecurigaan adanya teroris, dia justru dengan santai pergi menuju kabin.
Meski bisa serahkan tugas itu pada para pramugari, dia malah pergi menuju kabin
No comments yet. Be the first to leave one.