نخستین 200 خط.
School 2021 Episode 5
Belakangan kamu dekat lagi dengan Ji Won.
Masa sih?
Kalian kembali lagi ke masa lalu?
Masa lalu?
- Masa lalu apa? - Hadeuh...
Maksudku, kalian 'kan cinta pertama untuk satu sama lain.
Ngemeng apa sih---
- Bukan, lah! - Hah?
Mencurigakan! Jangan malu, bilang aja.
Kamu suka Ji Won, 'kan?
Diterjemahkan oleh "Sekolah Online Team"
Anyeong!!
Untuk Ki Joon.
Halo, ini aku, Jin Ji Won.
Aku akan jujur.
Aku menyukaimu seperti gunung dan langit.
Saat melihatmu, aku merasa ingin menangis, karena aku terlalu bersemangat.
Saat bersamamu, aku menjadi orang paling bahagia di dunia.
Mau pacaran denganku?
Dari Jin Ji Won.
Hey, Gong Ki Joon!
Hey, jangan dong!!
Hentikan!
Dasar cengeng! Cengeng!
Cengeng! Cengeng!
Nggak!
Huh? Mencurigakan!
Kamu suka Ji Won, 'kan?
Aku...
ingin mencobanya lagi.
Apa?
Ji Won!
Kakek.
Aduh...
Cepat sekali datangnya.
Ya. Alatnya juga sudah kubawa.
Apa...
Kalian janji ketemuan?
Kudengar kalian mau ikutan lomba.
Aku minta Kakek mengajari kita pertukangan.
Kita coba belajar lebih giat lagi seperti waktu kita kecil dulu.
- Baiklah, ayo masuk. - Ya.
Ngapain? Hayuk masuk!
Aku juga?
- Tak gak ikutan lomba? - Anu, itu...
Aku juga punya jadwal tauk!
Hey, aku juga syibuk.
Nah kan!
Bidang ini sulit digunakan bahkan setelah bertahun-tahun.
Yang perlu kalian lakukan adalah terbiasa menggunakannya.
Ini. Ji Won, cobalah.
Sini, berikan.
Ya.
Sudah.
Sekarang. Ki Joon, cobalah.
Ini.
Tunggu, Ki Joon.
Kau...
Kau harus rasakan serat kayunya.
Gimana?
Kerasa?
Belum.
Kenapa belum kerasa?
Oke, baiklah.
Masing-masing, coba buat 5 bidang.
- Pastikan kayunya halus. - Ya.
Tapi-- setidaknya Kakek perlihatkan bagaimana cara melakukannya.
Aku tak tahu caranya.
Tinggal coba saja.
Jika terbiasa, kau akan tahu.
- Mulai! - Mulai!
Oke...
Tapi bidang ini---
Apa yang mesti dirasa?
Jago juga dia.
Cara menggergajimu terburu-buru.
Pakai ini.
Tanganmu terluka.
Kapan datang?
Harusnya bilang dong.
Makasih.
Tapi kok kamu tahu?
Tahu apa?
Cara menggergajiku terburu-buru.
Karena sering lihat.
Ayahku itu tukang kayu,
biasanya aku sering ikut ke tempat kerjanya saat masih kecil.
Tanganmu kenapa?
Jatuh dari motor saat kerja paruh waktu.
Bukan masalah besar.
Kayaknya kamu lebih butuh perban.
Gak usah, simpan saja.
Aku punya banyak.
Aduuhh!!
Hey...
Kamu tuh gak becus banget.
Kupikir keterampilan Kakek bakal diwariskan ke kamu.
Kenapa kamu segitu pedenya mau ikut perlombaan?
Tunggu saja. Aku bisa cepat mengatasinya.
Katanya kamu ingin jadi tukang kayu,
membangun Hanok seperti Kakek, 'kan?
Ya. Harapan sejak kecil.
- Aku tuh iri. - Iri kenapa?
Ya gitu deh...
Kau bisa yakin terhadap segalanya.
Merencanakan sesuatu, menginginkan sesuatu.
Kau juga bisa membuat impianmu sendiri. Yang ingin kamu lakukan.
Entahlah.
Tidak semudah itu caranya.
Mana tahu, 'kan?
Kau mungkin akan menyukai pertukangan saat melakukan ini.
Hidup memang tidak bisa diprediksi.
Pertukangan...
aku melakukannya karena cuma ini yang kubisa.
Sepi ya.
Apanya?
Orang-orang yang mengganggumu.
Karena mereka banyak, jadi kamu memintaku jadi pacar settinganmu, 'kan?
Dari dulu juga banyak!
Tanganmu sudah mendingan?
Ya, gak apa-apa.
Pelan-pelan saja.
Jangan terlalu bertenaga sejak awal.
Perlombaan juga belum diumumkan.
Mana bisa aku bersantai? Pokoknya aku harus menang.
Jadi kau pun harus lebih giat.
Gede banget bebannya.
Apa ini gara-gara hadiahnya?
Aku butuh hadiah uangnya, aku juga harus kuliah.
Dan?
Selanjutnya...
hidup seperti orang kebanyakan.
Hidup normal.
Sudah sampai.
Pulanglah.
Ya.
Aku pergi ya.
Kakek.
Kakek kurang enak badan?
Tidak, tidak.
Pasti karena sudah lama tidak memahat.
Maaf.
Harusnya aku tidak minta Kakek mengajari kami.
Tidak...
Tidak apa-apa.
Setelah istirahat sebentar, pasti agak baikan.
Jangan khawatir.
Tetap saja, aku senang bisa sering bertemu denganmu.
- Aku juga menyukainya, tapi... - Hah?
Kakek sungguh tidak apa-apa?
Tidak apa-apa.
Jangan khawatir.
Tapi Ki Joon itu...
Bukankah lebih bagus kalau dia mengantarmu pulang?
Tidak. Aku menyuruhnya merapikan ruang pertukangan.
- Oh. Begitu? - Iya.
Kerja bagus.
- Oke, hati-hati pulangnya. - Ya.
Kakek juga istirahat, ya.
- Silakan masuk duluan. - Ya.
Masih belum balik?
Kenapa?
Gak perlu nganterin aku pulang, kok!
Apaan sih?
Aku mau ke alfamart.
Kenapa ngikutin aku?
Alfamartnya kan udah kelewat.
Aku mau ke alfamart lain di sana.
Kenapa?
Ada barang yang cuma dijual di sana.
Ada apa?
Ada apa pagi-pagi ke sini?
Itu...
Tolong kembalikan gantungan kuncinya.
Masalahnya sudah selesai.
Saya dengar pelakunya mengaku.
Barang itu penting buat saya.
Jadi tolong kembalikan.
Aigoo...
Halo.
Hai!
Aigoo, aku juga berniat memberitahumu.
Silakan lihat.
Astaga, lihat dirimu. aku akan membagikannya sendiri.
Iya, oke!
Belum selesai.
Bapak masih merasa kamulah yang melempar pot.
Kenapa?
Pengakuan itu mencurigakan
dan buktinya jelas.
Hey, Gong Ki Joon.
Ya?
Kenapa?
Tadi kamu membicarakan apa?
Nggak ada apa-apa, kok.
Kudengar kamu membicarakan tentang pot.
Kukira itu sudah selesai.
Ya, tapi...
masih ada yang belum terselesaikan.
No comments yet. Be the first to leave one.