نخستین 200 خط.
INI KARYA FIKSI.
SEGALA KEMIRIPAN DENGAN PERISTIWA ATAU TOKOH NYATA, HANYA KEBETULAN.
Aku sungguh minta maaf.
Selamat ulang tahun!
Selamat ulang tahun!
Cukup, Aqil. Diamlah.
Kenapa? Karena ini hadiah sederhana?
Aku tidak mengatakan itu.
Kau seharusnya bangga.
Kau merayakan ulang tahunmu empat tahun sekali.
Itu istimewa.
Istimewa?
Empat tahun sekali?
Bersyukurlah.
Kau salah satu dari sedikit orang yang terpilih.
Terpilih untuk apa?
Untuk hadapi masalah seperti ini?
Untuk hadapi kesulitan seperti ini?
Berpikirlah positif, Sayang.
Aku yakin orang yang lahir di tahun kabisat
punya berkah tersendiri.
Yakinlah.
Cukup, Aqil.
Ayo, Sayang.
Sayang, kita berdoa dulu sebelum masuk rumah.
Aku berlindung kepada Allah dari setan. Dengan nama Allah.
Ini akan menjadi kamar Laila.
Jangan lompat-lompat di atas kasur.
Berdebu. Nanti Ibu bersihkan, turun dulu.
Kau menyukainya?
Ya?
Kau termenung begitu.
Lihat wajah itu.
Ayolah, tersenyumlah sedikit.
Sayang.
Hei!
Apa kita yakin?
Kau serius?
Jangan lagi, Sayangku.
Kukira kau sudah paham.
Kita melakukan semua ini karena terpaksa.
Tabunganku habis.
Kita beruntung bisa tetap tinggal di rumah keluarga ini.
Jadi? Kita tidak akan bekerja lagi?
Aku sudah mencoba banyak cara.
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Aku sudah coba semua.
Jadi, ini upaya terakhir kita?
Sayang, kesabaranku sudah habis.
Baik! Jika kau tidak suka, kita berkemas.
Ayo kembali.
Kita jual rumah ini.
Tinggal di bawah jembatan saja. Kau yang pilih! Mau yang mana?
Sayang, maafkan aku.
Aku minta maaf.
Mari kita mulai hidup baru. Bantu aku merapikan rumah.
Ayo.
Dengar,
jika aku melakukan ini…
Aku melakukannya demi Laila.
Demi Laila.
Kau sedang apa?
Siapa orang-orang dalam foto ini?
Kau mau tanya tentang sejarah keluargaku atau kau ingin membersihkan rumah?
Jangan buang waktu.
Aku mau mandi.
Aku tak bisa tanya apa pun.
Aqil!
Aqil!
Aqil!
Sayang.
Tolong!
- Sayang! - Sayang!
Ada apa?
Sayang.
Tidak apa-apa, Sayang. Tenanglah.
Tenanglah. Tak ada apa-apa.
Halo?
Bagaimana hasilnya?
Aman?
Ya, jangan terlalu banyak berpikir.
Tenang saja.
Istriku tidak akan tahu.
Bisakah tolong beli roti, beras,
telur, dan mentega?
Baiklah.
Sampai jumpa.
Sayang?
- Sayang! - Sayang?
- Sayang! - Ada apa, Sayang? Kenapa?
Ada sesuatu di dekat jendela.
Tidak ada apa-apa di sana.
Ada…
Jendelanya hanya terbuka. Tak ada apa-apa.
Kau tak memercayaiku?
Aku tidak bilang kalau aku tak percaya.
Tadi pagi aku lihat hantu di kamar mandi dan sekarang ini?
Tenanglah, Sayang.
Kau lelah.
Apa itu tadi?
Tak ada apa-apa di sana. Tenanglah.
Istirahatlah. Biar aku yang urus semua.
Biar aku saja.
Di mana Laila?
Laila sudah tidur.
Laila.
Laila.
Laila.
Anakku tidurnya tidak bisa diam.
Si kecilku yang berharga.
Laila?
Ibu tahu ini hari pertama kita di sini.
Jangan nakal, ya?
Selamat tidur, Sayang.
Semoga mimpi indah.
Apa yang kau lakukan?
Aku ingin menenangkan diri.
Kenapa?
Kau sudah janji, 'kan?
Kita baru saja tiba di sini.
Kenapa kau menambah bebanku?
Beban?
Beban?
Bagaimana denganku?
Apa aku tidak punya masalah?
Lihat, tidakkah kau perhatikan? Kehidupan kita makin buruk!
Katamu kau sudah berusaha.
Lihatlah usahamu!
Kau terus memilih jalan yang sama.
Kau mau aku berbuat apa?
Berpikirlah, Aqil!
Apa saja! Apa aku harus mengajarimu?
Aku tak mau mengandalkan obat ini supaya tenang.
Aku tidak ingin membebanimu.
Sayang, semuanya akan baik-baik saja.
Aku mengerti situasimu.
Tidak mudah untuk menerima semua ini.
Bagaimana kalau kita jalan-jalan di sekitar desa besok untuk mencari angin?
Ingat,
kau pernah cerita bahwa saat kau masih kecil,
kau biasa bermain di sungai.
Kau memanjat pohon dan makan buah.
Tunjukkan kepadaku. Aku ingin melihat semua tempat itu.
Laila pasti suka, 'kan?
Aku ingin dia mengalaminya seperti yang kualami saat masih kecil
saat aku seusianya.
Laila, kau baik-baik saja?
Merasa lebih baik?
Sedikit.
Kedengarannya bagus.
Ayo berangkat.
- Yang mana favoritmu? - Yang ini!
Lihat, besar sekali!
Asalamualaikum.
Kau putri Ridwan, ya?
Ya.
Kau pasti tidak ingat aku.
Pak Erman.
Pak Erman?
Teman almarhum kakekku?
Maaf, Pak Erman. Aku tidak mengenalimu.
Tidak apa-apa.
Kalian sedang berlibur di dekat sini?
Tidak, kami sudah pindah ke sini.
Bagus.
Kukira tidak ada yang peduli dengan rumah itu.
Sebenarnya, rumah itu masih bagus.
Itu rumah leluhur, 'kan?
Tidak baik jika ditinggalkan, terlalu banyak kenangan.
Ini keponakanku, Amat.
Dia agak istimewa.
Baiklah.
Jika butuh sesuatu, kalian bisa memberitahuku.
- Setuju? - Tentu.
Baiklah.
Ayo, Amat.
Sebelumnya tidak ada mainan di luar. Sekarang ada banyak.
Oh, Laila.
Sayang, ada apa?
Apa yang terjadi?
Air?
Aku…
Aku…
Tadi aku ambil air.
- Sejak tadi kau tidur, Sayang. - Tidak, aku mengambil air.
Kenapa kau menakutiku seperti itu? Itu hanya alarm.
Cukup.
Sudah waktunya salat Subuh. Ayo kita salat.
Sayang, ayo sarapan.
Makanan favoritmu.
Makanlah.
Aku berbagi dengan Laila.
Ayo pindah dari sini.
Jangan lagi, Sayang. Kita mau pindah ke mana?
Bukankah ucapan almarhumah ibuku benar?
Rumah ini…
Dengar, kumohon.
Cobalah untuk mengerti.
Pengeluaranku X.
Komitmenku Y.
No comments yet. Be the first to leave one.