نخستین 200 خط.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
DRAMATISASI INI DIANGKAT DARI KEJADIAN NYATA
TOKOH, BISNIS, PERISTIWA, DAN LOKASI TELAH DISAMARKAN.
Aku akan menceritakan sesuatu.
Namun aku akan jujur. Kisah ini tak berakhir bahagia.
Kenyataannya, tak memiliki akhir sama sekali.
Ini tentang sekelompok institusi,
yang seharusnya kau percaya,
bersatu dan memulai perang.
Bukan perang yang kau bayangkan,
perang dengan tank, pesawat, pasukan, dan semacamnya.
Ini tentang perang narkoba.
Perang yang mudah dilupakan terjadi
sampai kau menyadari 30 tahun terakhir di Meksiko,
500.000 orang terbunuh
dan masih akan bertambah.
Banyak orang tak mau mendengar cerita ini.
Mereka ingin melupakannya.
Persetan dengan itu.
Itu terjadi.
Aku tak bisa menyebutkan masa saat perang itu berakhir.
Aku bahkan tak tahu jika itu akan berakhir.
Namun, aku bisa menceritakan permulaannya.
Setidaknya saat sadar bahwa kini kita terlibat.
Terkadang, kau butuh seseorang untuk membangunkanmu
dan mengabari saat perang dimulai.
Dalam kisah ini,
nama pria itu
adalah Kiki Camarena.
Kau mengisap ganja?
Kurasa itu tak masalah.
Sudah ada yang legal.
Aku tak sependapat, tapi itu bukan keputusanku.
Mereka bilang itu narkoba pintu gerbang dan memang benar.
Seperti itu dalam kisah ini.
Jika mengisap ganja di akhir tahun '70-an, sadar atau tidak,
ganja itu mungkin tumbuh di tempat yang sama dengan kisah kami.
Sinaloa.
Kaki Ketiga yang mereka sebut Segitiga Emas Meksiko.
Tempat lahirnya penyelundupan ganja Meksiko
dan orang-orang yang mengaturnya.
Dengan ladangnya yang subur, bukit dengan bunga opium,
dan mariyuana Meksiko,
bagi pengisap ganja,
dan penjahat Sinaloa yang beroperasi di sana,
itu bagaikan Taman Eden.
Bagaimana kabarmu?
Bagaimana keadaan di tanah masa depan?
Tertawalah, tapi masa depan mendatangi kita.
Bahkan di sini, Sinaloa.
Lihatlah, murid baruku.
Inilah masa depan yang nyata.
Baik, Tuan Putri. Apa ini siap dipanen?
Tidak, terlalu muda.
- Setidaknya seminggu lagi. - Menurutmu?
Dia benar.
Dia bekas muridku.
Tapi apa kau percaya, kini dia menanam ganja di rumah kaca?
Kau seperti penjual bunga.
Nak, kau akan terlambat.
Cepat pergi.
Pergilah, Tuan Putri.
- Kalian dengar dia. - Ya, Pak.
Seminggu lagi sebelum dipetik.
Kenapa kau kemari?
Kau keluar untuk mencari udara segar?
Panen yang baru perlu jeda.
Mau pinjam kipas angin...
Ayo, Rafa!
Andrea!
Bunyikan belnya!
Tidak ada hal yang abadi.
Saat pemerintah di Mexico City tahu
petani Sinaloa menjadi kaya karena mengirim ganja ke utara,
mereka memutuskan untuk bertindak.
Mereka sebut Operasi Condor.
Itu kode nama untuk invasi pemerintah Sinaloa,
misi pencarian dan penghancuran perdagangan narkoba.
Tujuan para tentara?
Membakar apa pun yang mereka lihat, menangkap penyelundup,
dan mengingatkan orang di sana soal penguasa sebenarnya.
Hati-hati!
Kami tentara nasional.
Kami mau membebaskanmu dari penyelundup Sinaloa
yang sudah terlalu lama menentang pemerintah federal.
Keluar dan angkat tanganmu,
atau kami masuk secara paksa.
- Keluar, Rafa! - Mereka akan membunuhku.
Kita semua akan mati jika kau tak keluar.
Saat kusuruh, tembak pintunya. Aku mau mereka tahu kita di sini, paham?
Kerja bagus, Komandan.
Akan kukeluarkan dia yang kau cari, Rafa Quintero.
Tunggu! Siapa kau?
- Siapa aku? - Ya, kau?
Miguel Ángel Félix Gallardo. Polisi Bagian Sinaloa.
Siap membantumu.
Kau sadar berada di tengah-tengah operasi?
Ayolah, Komandan. Ini gereja!
Ada anak-anak di sana. Ada wanita.
Tak perlu keributan untuk menangkap satu pria, 'kan?
Aku masuk. Semua orang mengenalku. Tunggu.
Bapa, aku masuk.
Baik.
Jika dalam 30 detik dia belum keluar, aku ingin semuanya menembak.
Pergilah, Keparat.
Ini dia.
Rafael Caro Quintero.
Orang tolol buta aksara dan anak buah Pedro Aviles.
Bandar terbesar di Sinaloa.
Pemerintah telah mengirim tentara.
Kau benar-benar sudah hancur.
Beri tahu Tuan di sana lokasi ladang yang belum dibakar.
Aku tak paham...
Kita coba lagi.
Di mana ladang yang belum dibakar?
Aku tak tahu!
Perhatikan, Tolol.
Di mana ladang Tameapa yang belum hangus?
Di atas sana, Pak! Di atas.
Di samping bukit, dua kilometer setelah sungai!
Belum pernah bertemu polisi Sinaloa sepertimu.
Aku boleh membawa dia?
Tentu saja.
Kami masih harus membakar banyak ladang.
Tuan-tuan!
Ayo!
Hei! Tetap tenang!
Lihat yang dilakukan para bajingan ini.
Diamlah.
Tetap di mobil.
Hei, ini aku. Akan kubuka pintunya.
Ayah!
Apa kabarmu, Nak? Kalian baik-baik saja?
Mereka menghancurkan rumah kita.
Mereka kembali.
Seperti katamu.
Seolah-olah kau telah merencanakannya.
Memprediksi itu bukan merencanakan.
Kalian tak apa-apa?
Kalian melindungi Ibu?
Kami berusaha, tapi kami takut.
Hei, kalian tak perlu takut.
- Baik. - Baik.
Paman!
Sayang.
Kau keluar mobil.
Mulai sakit. Aliran darahku tersumbat...
Kau lihat perbuatan mereka pada rumah kacaku?
Mereka tak mengambil semuanya.
Seharusnya itu cukup.
Aku selalu berkata kau adalah otak di rumah ini, Maria.
Masuklah. Mereka bisa melihatmu!
Masuklah bersamanya.
- Kau memukulku terlalu keras. - Dasar cengeng.
Aku berpikir biar saja mereka ambil semuanya.
Memberi kita waktu lebih lama.
Tidak...
Jika bukan sekarang, tak ada yang akan berubah.
Aku tahu.
Aku sudah memberitahumu.
Jika kau ingin aku berhenti, akan kulakukan.
Itu alasan aku tak pernah memintanya.
Kurasa kau juga memprediksinya, Keparat.
Hasil intervensi militer tak pernah sesuai rencana.
Bahkan, itu bisa menjadi bumerang.
Bandar narkoba seperti kecoak.
Kau bisa meracuninya,
menginjak mereka,
kau bisa membakar mereka,
tapi mereka selalu kembali.
Jauh lebih kuat.
Setiap ada bisnis ganja yang hancur,
penyelundup cerdas akan menemukan cara lebih lihai.
Setengah negara bagian masih hangus.
Mexico City tak pernah peduli dengan kita.
Mereka hanya ingin menunjukkan kepada orang Amerika
bahwa mereka bisa mengendalikan bisnis ganja.
Ya.
Tapi dengan krisis
datang peluang, bukan?
Kau mengajariku itu, Gubernur.
Serta risiko.
Aku mengajari itu.
Aku berterima kasih atas jasamu untuk keluargaku.
Kau turut berjasa dalam membesarkan Rodolfo.
Kau bisa berkarier sebagai penegak hukum, Miguel.
Kepala Kepolisian Negara Bagian, jika kau mau.
Kau mungkin bahkan mengubah hal-hal di sini.
Mungkin saja, ya?
Tapi tidak, kau tak pernah mau mengubah sesuatu.
Tak mau hal yang lebih besar, 'kan?
Presiden Sinaloa?
Harus membuat keributan untuk mengubah sesuatu.
Itu bukan sifatku.
Akan kuberi tahu Rodolfo kau mampir.
Dia akan sedih karena tak bertemu kau.
Ya.
Apa pun rencanamu,
berhati-hatilah.
Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.