نخستین 200 خط.
KBS Drama Special 2022 Episode 1: The Stain
Subtitle Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Nung
Buah hackberry sudah matang dan manis.
Musim dingin yang ekstrim akan segera datang.
Apakah para penyewa gunung ini siap untuk musim dingin ini?
Tupai menyimpan biji pohon ek di pipinya...
dan menyibukkan diri dengan menyimpannya satu per satu.
Sudah, tidur saja!
Jangan membuatku naik darah!
Aaahh, astaga!
The Stain
Tidak tahu, dia tidak keluar.
Astaga, orang itu.
Ruang latihan kami sedikit, kenapa dia betah sekali di sana?
Oke, sampai nanti.
Halo, Sunbae-nim.
Sesi selanjutnya sudah aku pesan.
Oh...
Tapi aku masih punya waktu tersisa.
Ooh...
Sisa waktumu 5 menit lagi.
Kalau begitu, silakan lanjutkan.
Sebentar.
Aku ingin mendaftar untuk belajar di luar negeri, di Cologne semester depan.
Bisakah Anda menulis surat rekomendasi untukku, Profesor?
Apa kau memenuhi syarat?
Ya?
Ya, aku sudah memenuhi beberapa persyaratan.
Aku akan menyerahkan dokumen yang diperlukan semester depan...
Maksudku, apa kemampuanmu cukup baik?
Aku...
Aku melakukan yang terbaik...
Tidak, jangan bilang begitu.
Itu berarti sekarang adalah waktu terbaikmu.
Ketika siswa lain mengikuti pelajaran privat yang mahal,
"Aku bisa lulus sambil bekerja, dua sampai tiga pekerjaan."
"Memberikan yang terbaik adalah bakatku, dan aku memenuhi syarat untuk itu."
Apa itu yang membuatmu percaya diri?
"Oke."
"Jika ini adalah kesempatan yang diberikan,"
"dibanding anak-anak lain yang bisa pergi ke luar negeri kapan saja dengan uang orang tuanya,"
"memang benar bagi siswa miskin sepertiku untuk menerimanya."
Boleh saja kau berpikir seperti itu.
Tapi kau tahu, ini bukan kegiatan amal.
Jangan membiarkan dirimu salah paham.
Menjadi lemah tidak secara otomatis membuatmu jadi baik,
dan kemiskinan juga bukanlah bakat, bukan?
Benar?
Buktikan bahwa kau adalah investasi yang terjamin.
Kita bahas tentang surat rekomendasi jika kau bisa membuktikannya.
Aku akan berlatih.
Ji-hoon Hyung!
Ayo gabung di pesta akhir semester.
Ayo! Aku yang traktir semuanya.
Maaf, aku sudah ada janji.
Aah... janji.
Padahal aku ingin berteman dekat karena sudah kembali ke kampus.
Tapi kau tidak memberiku kesempatan.
Apa boleh buat.
Selamat istirahat, dan janji padaku lain kali kita harus minum bareng.
Oke, kau juga, selamat beristirahat.
Hati-hati di jalan.
Dia gak ikut, 'kan?
Dia seorang penyendiri.
Kenapa kau memedulikannya?
Dia itu kasihan.
Ayo pergi.
- Ayo pergi! - Ronde ketiga!
Kau benar-benar mau pergi tanpa aku?
Kau tahu 'kan, kondisiku kuran baik. Ayolah Si-young, jangan begitu.
Yeon-jun!
Tepuk tangan yang meriah!
Hyung! Kita lanjut ronde ketiga 'kan?
Kalau minum lagi, aku pasti sekarat!
Ayo kita mati saja.
Tunggu.
- Kami tidak akan menyuruhmu minum sampai mati. - Apa itu?
- Dia mabuk berat. - Kalian saja yang lanjut.
Teman-teman, di crescendo.
- Jang Yeon-jun! - Jangan begitu lah!
- Iya, oke, oke! - Jang Yeon-jun!
Jang Yeon-jun!
- Kau di mana? - Ayo pergi ke karaoke!
Pak, aku hampir sampai.
- Berapa harganya? - Kenapa mendorongku keras sekali?
Jadi janji yang tadi itu, di sini tempatnya.
Inilah kenapa aku menyukaimu, Hyung.
Kau pekerja keras.
Kau benar-benar berbeda dari orang-orang yang menjilatku demi uangku.
Baguslah. Ayo ke rumahku dan kita minum berdua!
Kompleks apartememu nomor berapa?
Gedung 107.
Ah, aku ngantuk.
Yeon-jun. Jang Yeon-jun.
- Bangun. - Pergi sana.
Kita sudah sampai.
Pergi saja sana! Aku bisa pulang sendiri.
Ayolah.
Pulang ke rumah.
Ji-hoon Hyung?
Aah, sopir panggilan.
Kita harus minum!
Sini.
Sini. Kau tidak sempat minum.
Kau mabuk. Lain kali.
Aku tidak mabuk!
Aku benar-benar ingin minum denganmu.
Maaf, aku harus pergi.
Kau butuh uang berapa?
Berapa banyak bayaranmu?
Cukup, 'kan? Ayo minum.
Hey!
Kau meremehkanku?
- Memangnya kau ini siapa? - Kau ini kenapa?
- Hey! - Kau pikir kau ini siapa?
- Hey! - Apa aku terlihat gampangan bagimu?
Kau baru saja mendorongku!
Kau baru saja mendorongku!
Bajingan sialan yang tidak tahu terima kasih.
Lantai pertama.
Lihat ini, dasar penyihir!
Apa begini caramu memperlakukan ibu mertuamu?
Memberi makanan busuk kepadaku yang sudah tua ini?
Kau saja yang makan, dasar penyihir!
Penyihir jahat! Kau pikir kau menabung...
Gong Ji-hoon, mana uang bulanan kita?
Apa?
Hanya karena dia bukan anakmu,
jadi kau berani minta uang padanya?
Kau benar-benar memoroti uangnya! Dasar penyihir jahat! Ular licik!
Anakku masih kecil!
Siapa?
Kalau ibu sudah pikun, bersikap baiklah dan makan makanan yang kuberi!
Beri saja aku makan kotoran anjing!
Nomor yang Anda hubungi tidak tersedia. Silahkan tinggalkan pesan...
Siapa ini?
Aku Gong Ji-hoon.
Siapa? Kau siapa?
Aku Gong Ji-hoon.
Gong Ji-hoon? Oh, Ji-hoon Hyung.
Darimana tahu nomorku?
Aku sopirmu kemarin malam.
Kau tidak ingat?
Ah... tapi aku sudah sampai di Seoul.
Aku akan kembali di semester baru nanti.
Aku kasih password pintu rumahku, jadi ambil saja dompetmu.
Kau tidak mencuri apapun, 'kan?
Bercanda.
Sampai jumpa di semester depan.
Uang.
Uang.
Jangan menginap semalaman di warnet.
Berisik!
Buktikan bahwa kau adalah investasi yang terjamin.
Nanti kita bicarakan lagi soal surat rekomendasi.
Tapi aku sudah di Seoul.
Aku akan kembali saat semester baru dimulai.
Jang Yeon-jun!
Jang Yeon-jun, dasar bajingan!
Aku dengar suaramu bermain piano!
Cepat buka pintunya!
Ini konyol.
Berani-beraninya kau mencampakkanku?
Kau?
Teleponya berdering, 'kan?
Hey! Jawab teleponmu!
Kubilang jawab teleponmu!
Dasar kau ini!
Si-young, tunggu!
Hah? Apa?
Yeon-jun ada di Seoul.
Ingat 'kan aku pernah mengantarnya pulang terakhir kali?
Waktu itu dompetku ketinggalan di sini, jadi aku datang untuk mengambilnya.
Sudahlah.
Jadi kapan bajingan itu kembali?
Oh... saat sekolah dibuka lagi.
Saat sekolah dibuka lagi?
Berengsek.
Kau punya alkohol, 'kan?
Maksudku, dia tidak mengajakku pacaran. Dia hanya bermain-main denganku.
Sejujurnya, kalau dia tidak kaya, apa hebatnya dia?
Bukan berarti aku tidak punya uang.
Berani-beraninya dia mempermalukanku?
Berengsek.
Dia membawaku pulang dan menguasaiku.
"Mudah untuk mengajak pacaran, tapi bukankah akan lebih asyik kalau TTM-an?"
Seharusnya aku menendangnya sampai pingsan saat dia bicara omong kosong seperti itu!
Lalu di hari terakhir semester, dia benar-benar putus kontak denganku.
Jadi aku bilang pada diriku "ya sudah, enyah saja! Aku juga tidak butuh!"
Tapi aku mendengar rumor konyol hari ini.
Oppa, kau tahu So-jung, 'kan?
Dia bilang ke So-jung,
kalau dia mencampakkanku karena aku terlalu terobsesi padanya!
Bukankah kau sudah terlalu banyak minum?
Pelan-pelan—
Memangnya ini milikmu?
Kau menghematnya?
Tidak...
Astaga, aku sangat malu.
Oppa, ini rahasia, oke?
No comments yet. Be the first to leave one.