نخستین 135 خط.
Tayangan ini cocok untuk semua umur.
Mungkin kamu menganggap ini keluarga bahagia.
Apa keluargamu seperti ini?
Jika seperti ini, selamat.
Karena keluargaku
berbeda dengan keluarga ini sepanjang hari.
Halo, aku Moopah.
Aku tumbuh besar di Thailand.
Ini kakak sulungku, Jeesun.
Dia yang pertama pindah ke rumah ini dari Meksiko.
Ini Truffle.
Dia anak kedua keluarga kami
yang datang dari London.
Haruskah kita bertindak sejauh ini?
Ya!
Ikatan keluarga kita berakhir di sini!
Hei. Jangan!
Aku dapat udangnya!
Tidak! Ini milikku!
Tidak! Berikan padaku.
Aku akan mengupasnya sendiri.
Berikan padaku!
Berikan padaku!
Udangku!
Kamu tidak boleh menyantapnya sekaligus!
Hei!
Dia kuat sekali!
Astaga.
Sial!
Jika aku tidak bisa,
tidak ada yang boleh menyantapnya!
Hei! - Hei!
Hei!
Tidak kotor. Masih bisa dimakan.
Kalian jahat.
Kalian datang dari negara maju.
Kalian tidak tahu makanan berharga!
Kamu tidak bisa makan. - Kamu tidak bisa makan.
"4Freaks 4Fam"
"Jirayu La-ongmanee sebagai Moopah"
"Sutatta Udomsilp sebagai Lingzhi"
"Carissa Springett sebagai Truffle"
"Thongchai Thongkanthom sebagai Jeesun"
"Sukhapat Lohwacharin: Copter, Sedthawut Porntanawut: Aung Pao"
"Panupan Krutto: Pelayan Mitt, Nutthanapon Thinroj: Sin"
"4Freaks 4Fam"
Seharusnya aku yang makan. - Apa? Kamu sudah makan banyak.
Aku yang membeli, tapi belum makan.
Aku yang memanggangnya.
Aku memanggangnya. Bagaimana lagi kalian menyantapnya?
Aku yang membuat saus lezat.
Aku membuatnya sendiri dengan alat tumbuk.
Apa? Pikirkan. Bagaimana cara kalian makan
jika udangnya tidak matang? - Seharusnya aku bisa makan
lebih banyak dari kalian. - Kamu sudah makan banyak.
Tapi aku anak perempuan.
Ini kepala pelayan kami.
Permisi, Tuan dan Nona Muda.
Maksudku...
Aku tidak bisa makan... - Hei!
Aku...
Kenapa tidak menjawab teleponnya?
Di mana tombol untuk menjawab telepon?
Aku tidak begitu paham teknologi.
Halo? - Terbalik!
Aku hanya bercanda.
Halo? - Masih terbalik!
Bagaimana cara menjawab telepon?
Berikan padaku.
Astaga. - Ada apa?
Telepon dari Ayah.
Tenang.
Diam.
Ayah.
Satu, dua, tiga.
Halo! - Halo!
Halo.
Kenapa lama sekali menerima telepon ayah?
Kalian masih bertengkar seperti biasa?
Sama sekali tidak.
Tidak, Ayah.
Kami saling menyayangi. - Luar biasa.
Semua baik-baik saja. - Bagus. Luar biasa.
Saudara tidak boleh bertengkar. Ingat itu.
Kalian harus saling menyayangi.
Begini.
Ayah menelepon karena ingin menyampaikan dua kabar.
Kabar baik. - Pertama.
Ayah membeli mobil baru untuk kalian.
Seseorang pasti sudah mengantar mobilnya ke sana
dan memarkirnya di halaman depan.
Kalian harus berbagi.
Untuk kabar baik lainnya,
ayah mengirim yang lain untuk tinggal bersama kalian.
Yang lain apa maksud Ayah?
Selain kalian,
ayah punya putri lain.
Apa? - Apa?
Apa ini komedi situasi?
Maaf. - Namanya
Lingzhi.
Tunggu. Kapan dia lahir?
Benar.
Setelah melakukan tur penjualan jamur dari Meksiko,
ayah bertemu ibu Jeesun.
Lalu ayah pergi ke Inggris.
Begitulah ayah bertemu ibu Truffle.
Seusai urusan di Inggris, ayah harus kembali ke Thailand
untuk menemui ibumu, Moopah.
Tapi ayah singgah ke Tiongkok sebelum pergi ke Thailand.
Ayah tidak berhenti bahkan saat singgah?
Penerbangan ditunda cukup lama.
Jadi,
jagalah adik baru kalian.
Dia akan datang dari Tiongkok pekan depan.
Sayangi dia seperti kalian saling menyayangi.
Sudah dahulu, ya.
Sampai jumpa. - Ayah!
Ayah! Siapa anak yang lain? - Ayah.
Halo? - Kenapa Ayah tutup teleponnya?
Ayah. - Halo?
Dia menutup teleponnya.
Adik baru.
Kurasa bagus ada anggota lain
yang datang untuk tinggal di rumah kita.
Dari tatapan kalian, mungkin tidak bagus sama sekali.
Nyaman?
Kami bertiga saja sudah kacau.
Orang lain akan membuat segalanya kacau balau.
Selain itu, hanya ada tiga kamar tidur.
Kenapa aku harus berbagi dengan orang lain? Ini salah.
Mudah saja.
Biarkan dia memakai kamarmu. - Biarkan dia memakai kamar kalian!
Tidak mau!
Kamarmu saja. Kamu anak bungsu.
No comments yet. Be the first to leave one.