نخستین 200 خط.
Baiklah. Ini dia.
Bagaimana perasaanku tentang kembalinya Magic Johnson?
- Young Buck. - Aku?
Rekor terbaik di liga sejak dia tak ada.
Aku di sini untuk mendukung Paul.
Apa dia akan memengaruhi kekompakan tim?
Apa aku terlihat gugup?
Ini basket.
- Ini tak sulit dipahami! - Aku tak sabar.
Kekompakan apanya?
Young Buck.
Tentu saja dia akan memengaruhi kekompakan tim.
Maksudku, dengan cara yang baik.
Tanya para pemain.
Mereka antusias.
Apa yang kukatakan?
Kubilang Magic kembali, Sayang.
Baiklah. Ayo!
Ayo! Lewati dia!
Kepung dia, Kapten!
Baiklah.
Oper padaku!
Sial.
Astaga.
Apa yang kau lakukan?
Mau menerima bola. Memang kelihatannya seperti apa?
Earvin, biarkan Norm menanganinya untuk saat ini...
Sementara kau biasakan diri dengan sistem barunya.
Ya, baiklah.
Baik.
Earvin tampak agak kacau.
Paul mengubah strategi serangan.
Dia akan terbiasa.
Lututnya baik-baik saja?
Aku akan mengawasinya.
Ayo!
- Kau lihat ini? - Apa, Chones?
- Persetan Boston. - Itu baru satu pertandingan.
Kita tertinggal empat poin dari Phoenix, kita bisa mengejar.
Ya, jika bisa.
Dia menabrakku.
Jika terus begini, cederaku akan lebih parah daripada dia.
Seseorang seharusnya memberitahunya strategi kita...
Sebelum membiarkannya bermain.
Dia akan tahu.
Mari tetap berpikir positif.
Persetan kau.
Kau ini tak sadar diri.
Kau bicara apa?
Apa yang kalian tertawakan?
Bukan apa-apa.
Yang benar saja, Coop.
Ya, kau seharusnya melihatnya bermain boling tempo hari.
Dia hebat karena warna kulitnya sama dengan bola.
Mungkin bersepupu.
Memang sepupu.
Jika bolamu tak masuk parit...
Mungkin kau akan masih punya uang.
Beri tahu dia, Kapten.
Paul, dengar, ini permintaan yang besar.
Dia baru sembuh dari cedera.
Sekarang harus belajar sistem baru.
Kau tahu, Pat?
Yang lain bisa menerima sistem baru dengan baik.
Ya, mereka punya waktu.
Dia tidak.
Playoff tinggal sebulan lagi.
Kita butuh Magic kembali beraksi di posisi ofensif, Paul.
Kita bisa pakai lagi Sistem tahun depan.
Aku punya kabar untuk kalian.
Gelar juara ada dalam tanganku.
Mari lihat bagaimana Celtics bisa menandinginya.
Apa yang kau bicarakan?
Aku bicara soal David Thompson.
David Thompson. Si Skywalker.
Aku bicara tentang lompatan setinggi 127 cm...
Bisa melayang di udara seperti elang...
Dan 73 poin dalam satu pertandingan.
Tim ini akan bisa melaju ke final...
Untuk lima tahun ke depan.
Lima tahun!
Tunggu. Dia bisa dibeli?
Kau pikir aku bodoh, Pat?
Tentu saja.
Aku menyuruh Elgin mencari pemain di Denver...
Dan dia menemukan bongkahan emas.
Tampaknya dia tak sabar untuk keluar dari tim lamanya...
Dan mencapai keberhasilan.
- Dia bisa jadi bintang ketiga. - Ya.
Dia bisa menembak di saat genting.
- Dia aset yang bagus. - Beri tahu dia, Pat.
Dia...
- Dia berkualitas All-Star! - Dia berkualitas All-Star.
- Apa yang harus didagangkan? - Itu bagian terbaiknya.
Nixon.
- Yang benar saja. - Sungguh!
Dia benar. Kita tak akan mendagangkan Norm.
Kita tak akan dagangkan Norm. Prestasinya bagus.
Ini musim terbaiknya.
Dia yang memimpin tim ini selama Magic tidak ada.
Sudahlah.
Saat itu Magic tak ada, tapi kini Magic sudah kembali...
Dan mereka berdua akan bersaing memperebutkan bola.
Atau kita jual dia.
Jual dia selagi harganya tinggi.
Pat, kemarilah. Tolong yakinkan dia.
Ya, ayolah, bujuk dia.
Dia tidak salah.
- Ya. - Norm memang bagus.
Baiklah, terkadang.
Kau tahu, Thompson pemain kelas dunia.
Kelas dunia.
Musim ini dipertaruhkan, kita perlu pemain lain seperti itu...
Untuk melakukan tembakan terakhir.
Benar sekali.
Aku akan memeriksanya.
Kau akan memeriksa...
Lihat.
Itu hasilnya.
Kami sudah memeriksanya. Kami sudah menyelidiki baik-baik.
- Dia sudah siap. - Itu bagus.
Aku punya tim yang sudah kompak.
Jika kumasukkan pemain baru, aku bisa mengacaukannya.
Aku tidak akan melakukan itu tanpa melihatnya sendiri.
Mengerti?
Tapi aku menghargai usahamu, Jerry.
Tenggat pertukaran pemain dua pekan lagi.
Dari hari ini? Bagus.
Aku akan memberimu jawaban.
Terima kasih, Jerry.
- Astaga. - Pat.
Lain kali, jika punya pendapat, katakan kepadaku dahulu.
Mengerti? Itu tidak terlalu sulit.
Baik, Pak.
Pat, apa yang terjadi?
Hei.
- Hei, apa? - Kau tak bisa masuk begitu saja.
Ini salahku.
Apa pun yang mereka lakukan...
Tidak masalah selama aku tidak menyakiti perasaan mereka.
Tim Jeanie sedang berusaha meraih gelar.
Ya.
Aku melihatnya lagi dalam mimpiku semalam.
Jeanie?
Bukan, Honey.
Rupanya wanita itu.
Ya, wanita itu.
Biar kuberi tahu, itu mimpi yang bagus.
Tolong jangan ceritakan detail cabulnya.
Mimpinya sama sekali tidak cabul.
Itu bukan tentang seks.
Tapi lebih baik.
Kami berlari di pantai di Santa Monica...
Seperti saat aku masih kecil...
Saat ibuku dan aku baru tiba di sini...
Dan aku bisa berlari di pantai itu selama berjam-jam.
Sebelum ini.
Ya, sebelum semuanya.
Sudah lama aku tidak merasa seperti itu.
Kami, aku dan Honey...
Hanya berlari dan tertawa...
Begitu bebas.
Indah sekali.
Apa?
Mimpi...
Hanyalah mimpi.
Aku pernah bermimpi menjadi astronaut.
Entahlah, Claire.
Aku seorang pria.
Jika menyangkut kehidupan, aku mengikuti instingku.
Aku punya firasat tentang ini.
Ya, kau merasa ingin menidurinya lagi.
Maaf, ingin memeluknya.
Pernah berpikir dia sudah melupakanmu?
Kurasa hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.
Magic Kembali! Habis Terjual!
Kau gugup malam ini?
Magic, bagaimana lututmu?
Baik.
- Kau ingin kalahkan Larry di final? - Tentu.
- Magic, bagaimana rasanya kembali? - Hebat.
Menikmati kehebohan di sini?
- Ya, ini sangat menyenangkan. - Bagaimana kerja sama tim?
Sama seperti dulu.
Menurutmu Lakers bisa menang lagi?
Akan kami coba.
Pemulihanmu berjalan lancar?
- Tentu saja. - Ada saran untuk lawanmu?
Sebaiknya kalian berhati-hati.
Kau tak kesal tak jadi pemain inti?
Ya, apa pendapatmu tentang Norm di nomor satu?
Tidak apa-apa, begitulah seharusnya.
Tapi hanya untuk saat ini.
Apa penyesuaian yang harus dibuat rekan timmu?
Tidak ada. Semua orang tahu Magic.
Magic, lihat ke kamera.
Magic, senyum.
Kau dapat kartu ucapan lekas sembuh dari Larry Bird?
Ya, dia mengirim leprechaun cokelat.
Kapten, apa pendapatmu tentang kembalinya Magic?
No comments yet. Be the first to leave one.