نخستین 200 خط.
Streaming Film dan Series Netflix disitus IDLIX
SUBTITLE MANDARIN BERWARNA PUTIH
PERSEMBAHAN NETFLIX
Kakekmu meninggal saat usia Ayah satu tahun.
Nenekmu berjuang membesarkan Ayah sendiri,
tetapi usai kehilangan pekerjaan, dia tak sanggup menghidupi Ayah lagi.
Dia meninggalkan Ayah bersama buyutmu yang tinggal di sawah padi,
sementara dia mencari pekerjaan agar kami bisa bersama lagi.
Ayah merindukan nenekmu.
Ayah kesepian tanpanya.
Sangat kesepian hingga terkadang
Ayah melihat hal-hal karena ingin.
Ibu?
Ayah?
Ibu?
Ayah! Ibu!
Ini aku!
Ibu!
Ibu!
Nek! Aku melihat Ayah dan Ibu!
Itu bukan mereka.
Ayo bantu aku mencari mereka.
Sudah, dengarkan Nenek.
Masuk ke lemari.
Inspeksi.
Siapa yang tinggal di sini?
Aku tak bisa bahasa Mandarin, hanya Taiwan.
Kau harus belajar Mandarin.
Itu aturannya. Itu bahasa yang kini dipakai.
Aku akan memeriksa.
Siapa yang tinggal di sini?
Hanya aku dan suamiku.
Di mana dia?
Di sawah, bekerja.
Sudah puas?
Aku harus berbenah.
Yakin tak mau menawarkan kami makan siang?
Hei.
Ayo. Pergi.
Pembangkang masih bersembunyi. Mereka bisa di mana saja.
Berterimakasihlah kepada kami.
Kau boleh keluar.
Mereka mau apa?
Kuomintang kini berkuasa. Kita harus mematuhi aturannya.
Kau tak terdaftar di sini.
Jangan bilang kau tinggal bersama kami.
Boleh aku mencari Ayah dan Ibu lagi?
Yang kau lihat itu hantu.
Bukan. Mereka di sawah di dekat sini.
Aku berlari menghampiri mereka, tetapi aku jatuh...
Sudahlah!
Ayahmu sudah meninggal. Berkhayal tak akan membuatnya hidup lagi.
Juga tak akan membuat ibumu dapat kerja di sini.
Namun...
aku merindukan mereka.
Jangan menangis.
Nenek beri tahu ibumu saat dia seusiamu.
Menangis itu percuma.
Kau harus kuat. Jangan sampai orang melihatmu menangis.
Mengerti?
Mau menangis?
Maaf aku agak terlambat.
Aku tak tahu Ayah di Taiwan sampai Bobby memintaku jemput Ayah.
Bagaimana perjalanan Ayah?
Lancar.
Hei!
Mau ke mana?
Ada apa? Kenapa diam saja?
Nenek bilang aku banyak bicara.
Tak apa. Tak akan kuberi tahu.
Siapa namamu?
Pin-Jui. Kau?
Yuan.
Kau sedang apa dengan ember itu?
Aku ingin mengambil air dari sungai.
Mau ikut?
Baiklah.
Namun, kalau kita balapan.
Curang! Kau lari lebih dahulu!
Untuk sejenak, Ayah melupakan rasa sepi.
Yuan dan Ayah menghabiskan tahun berikutnya bersama.
Itu salah satu momen paling bahagia dalam hidup Ayah.
Setelah nenekmu dapat kerja dan Ayah kembali ke kampung,
Ayah mengira tak akan bertemu dia lagi.
Namun, beberapa tahun kemudian, takdir turut campur.
Ayo menari lagi.
Aku ingin keluar mencari udara segar.
Mungkin saat aku kembali.
Dia cantik.
Sedang apa dia denganmu?
Kami bertemu saat kecil, saat aku bersama kakek nenekku.
Dia baru pindah ke sini, dan itu terjadi begitu saja.
Beberapa pria memang beruntung.
Jika punya gadis seperti itu, cepat lamar dia.
Orang tuanya tak akan merestui. Mereka kaya.
Aku anak miskin dari desa.
Kalau begitu, bahagialah bersamanya selagi bisa.
Sepertinya.
Kurasa kau akan menyukai ini.
Dari mana kau belajar menari?
Film.
Film apa?
Film Amerika.
Suatu hari nanti, aku akan ke sana.
Akan kuajak ibuku.
Dia tak perlu bekerja lagi.
Aku boleh ikut?
Tentu saja.
Dengan siapa lagi aku berdansa di sana?
Mungkin Faye Dunaway.
Lupakan. Tak usah ikut.
Kau hanya akan menghalangi aku dan Faye.
Aku lapar. Mau beli makanan?
Ayo kita ke Yuelu.
Tidak. Terlalu mahal.
Tak apa. Aku yang bayar.
Aku tak mau kau begitu.
Aku ingin mengajakmu ke tempat spesial.
Kita ke Yuelu.
Tak ada alasan lagi.
Kau orang paling egois yang pernah aku temui.
Halo. Pernah ke sini sebelumnya?
Ya, sering.
Benarkah? Kalau begitu, sudah tahu menunya.
Harga di sebelah kanan.
Tentu, kami selalu ke sini.
Aku kaget kau tak mengenali kami.
Baik, kalau begitu. Mau pesan apa?
Kami akan mulai dengan ikan goreng...
dan juga pare...
lalu semangkuk sup mi daging.
Baik. Terima kasih.
- Itu saja? - Itu saja.
Cepat, ya?
Yang benar saja.
Dia pikir kita tak mampu bayar? Beraninya menilai kita.
Namun, apa dia salah?
Tidak juga.
Mereka tak sopan dengan kita semalaman.
Ayo kita jaili.
Tidak. Kau bicara apa?
Hitungan ketiga, kita lari keluar pintu.
Jangan, yang benar saja.
Siap-siap. Satu, dua, tiga!
Hei! Kembali, dasar kurang ajar!
Kau gila.
Aku ingin semalaman bersamamu, tetapi aku harus pulang.
Kenapa aku tak boleh melihat rumahmu?
Rumahku terlalu mewah.
Kalau lihat, kau akan menginginkan aku karena uangku,
bukan ketampanan dan pesonaku.
Kau dari mana saja?
Kukira Ibu tidur.
Ibu berpura-pura.
Ibu mendengarmu masuk.
Kau dari mana saja?
Di luar bersama teman. Tidurlah, Bu.
Kau yang tidur. Besok kau harus bekerja.
Ibu juga. Ibu harus istirahat,
atau Pak Li akan memarahi Ibu lagi besok.
Itu karena Ibu harus berhenti bekerja untuk membantumu!
Ibu baik-baik saja sebelum kau bekerja di sana.
Ya, kita berdua sepakat bahwa kita tak suka Pak Li.
Dia menjijikkan.
Ibu pernah melihatnya makan bakpao babi dari tempat sampah.
Ayah tak cuci piring sebelum pergi.
Aku bisa bantu.
Tak apa, tak usah.
Nanti Ayah cuci.
Aku turut berduka soal Nenek.
Terima kasih.
Ayah tak apa-apa?
Aku tahu ini masa sulit bagi Ayah,
tetapi aku berharap Ayah cerita soal pemakaman itu.
Itu upacara kecil.
Dia nenekku.
Kau tak begitu kenal. Kau tak pernah berkunjung.
Terakhir kali kau ke Taiwan
saat Ayah mengajakmu dan adikmu saat masih kecil.
Benar.
Itu perjalanan yang sangat jauh.
Ayah juga tahu kau sibuk bekerja.
Ayah jarang cerita tentang Nenek.
Seperti apa Nenek.
Ayah yakin tak mau aku bantu cuci piring?
- Ya. - Cuma sebentar.
Tak apa.
Terima kasih tumpangannya.
Salam untuk Eric.
Baiklah.
Nenek dan Ayah bekerja di pabrik setiap hari.
Pekerjaannya berat.
Terkadang, Ayah tak yakin apa Ayah bisa melewati hari.
Cepat! Kenapa lama sekali?
Maaf.
Kau tidak mabuk, 'kan?
Tidak.
Apa karena gadis?
Tidak.
Dasar perayu.
No comments yet. Be the first to leave one.