نخستین 175 خط.
Apa barusan itu?
Cepat pergi dari sini!
Tunggu! Dia mungkin akan menyerang kita lagi.
Jadi, kita harus bijimane?!
Memangnya tak ada jalan ke luar lain?
Mana kutahu, lah!
Sudah ada dua orang yang tewas, lho!
Jangan ada yang bergerak!
Dia akan menyerang lagi kalau kita bergerak!
m 0 0 l -2986.5 0 l -2986.5 -13.375 l 0 -13.375 b 3.375 -12.625 5.25 -10.625 5.25 -6.625 b 5.25 -3.375 4 0 0 0
Hunter No Sekai
Now Watching
Solo Leveling
Episode #02
Hunter No Sekai
Now Watching
Kunjungi:
Nona Joohee, Nona Joohee!
Yang tadi itu nyaris sekali.
Kalau Sung tidak sadar yang tadi, kita semua pasti terbunuh.
Eh?
Bukankah kau teriak karena tahu serangan tadi?
Bukan.
Aku hanya merasa ada bahaya ...
Pak Song, lenganmu!
Tak apa, masih bisa kutahan.
Apa kau bisa membantuku menghentikan pendarahannya?
Sebenarnya, lebih bagus jika aku meminta bantuan Nona Joohee.
Gadis ini sangat penakut.
Itulah alasan seorang Healer berperingkat B seperti dia selalu ikut Raid sederhana.
Aku pernah ikut Raid berperingkat B dua atau tiga kali.
Dia mungkin peringkat A, atau mungkin saja peringkat S.
Komandemen Kuil Cartenon yang tertulis di atas batu tadi ...
Pertama, "Hormatilah sang Dewa".
Kedua, "Pujilah sang Dewa".
Ketiga, "Taatlah kepada sang Dewa".
Mereka yang tidak mengikuti komandemen ini, tak akan bisa pulang hidup-hidup.
Pak Song.
Mungkinkah "Dewa" yang dimaksud di sana adalah dia?
Beberapa tahun lalu, muncul lorong bernama "Gate" yang tiba-tiba muncul,
dan menghubungkan dunia ini serta sebuah dimensi lain,
juga penyebab terjadinya banyak hal diluar nurul di seluruh dunia.
Munculnya para Hunter, orang yang membangkitkan kekuatan
adalah salah satu contohnya.
Para Hunter mengemban tugas untuk masuk ke dalam Dungeon
dan mengalahkan Monster yang ada di dalam sana.
Kekuatan yang seorang Hunter dapatkan tidak akan mengalami perubahan.
Lalu ...
Terkadang, ada pula Monster besar nan kuat
yang lebih dari sekadar menakutkan, menunggu mereka di dalam sana.
Sudah lihat itu?
Oh, video yang itu?
Kau ke mana saja?
Sebentar lagi kelasnya dimulai, lho.
Sebentar.
Kakaknya Jin-Ah itu seorang Hunter, 'kan?
Betul.
Yah, disebut Hunter juga sebenarnya hanya peringkat E.
Sepertinya dia juga kesusahan karena sering luka-luka.
Beberapa waktu lalu, tubuhnya sampai penuh perban.
Eh, kenapa tiba-tiba membahas itu?
Tidak apa-apa.
Aku pasti bisa melakukan semuanya lebih baik darinya.
Dia terlalu kuat jika ingin bertarung.
Jika semua sudah tenang, mari cari jalan keluarnya.
Meskipun kurasa tidak akan-
Aku tak mau mati begitu saja!
Padahal aku akhirnya menjalin kontrak dengan sebuah Guild besar!
Aku tidak mau mati di tempat ini begitu saja!
Apa yang kau lakukan?
Jangan bergerak!
Aku pasti bisa melakukannya. Soal kecepatan, aku lumayan percaya diri.
Aku pasti bisa pergi sebelum dia bisa menyerangku!
Sialan!
Itu berarti, dia bisa membunuh kita semua kapan pun dia mau.
Ya, semudah dia menginjak seekor serangga kecil.
Jika memang seperti itu, kenapa dia tidak langsung membunuh kita?
Dia tidak membunuh meski bisa melakukannya.
Ada yang membuatnya berbeda dengan monster lain yang langsung menyerang.
Pak Song, isi komandemen pertamanya tadi apa, ya?
Komandemen?
Yang pertama itu kalau tidak salah ...
"Hormatilah sang Dewa".
Dewa.
Dungeon ini memiliki sebuah aturan.
Kau mau apa?!
Jika prediksiku benar ...
Hoi, henti-
Mata itu.
Rupanya kau bukan sedang cari mati.
Semuanya! Ayo sujud di depan patung itu!
Eh? Sujud?
Bicaramu mulai melantur, ya?
Apa kau sadar sesuatu?
Ya.
Sepertinya dia tidak akan menyerang orang yang posisi kepalanya rendah.
Sesuai dengan komandemen "Hormatilah sang Dewa".
Kau yakin dengan ini, 'kan?
Ya, kurang lebih ...
Kalau begitu ...
Apa kita akan selamat dengan melakukan ini?
Dengan hal sesederhana ini?
Egh, wajahnya seram amat!
Ekspresi wajahnya berubah!
Dia tidak menyerang lagi.
Hei! Kalau sembarangan bergerak ...
Lihat, dia tidak menyerang kita lagi!
Apa semuanya sudah selesai sekarang?
Kita selamat?
Berhasil!
Kita selamat!
Kita bisa pulang hidup-hidup!
Tidak, belum.
Bukankah sudah selesai harusnya?!
Sung, selanjutnya apa?
Kau punya rencana, 'kan?
Aku tidak punya rencana apa-apa!
Tapi, aku merasa kalau kita tidak boleh melanggar komandemen itu.
Yang kedua adalah "Pujilah sang Dewa"!
Itu kuncinya!
Puji?
Memuji apa?
Serahkan padaku.
Aku pernah melakukan penelitian soal folkloristik.
Aku tahu beberapa kalimat yang digunakan untuk memuji Dewa.
Oh, Dewaku.
Penguasa yang menjaga perdamaian dunia.
Bagaimana reaksinya?
Rasanya gerakan patung itu jadi lebih lambat.
Berikanlah pencerahan kepada hati hamba yang lemah!
Tunggu, ini ...
Hamba hanya akan mengikuti kehendak-Mu ...
Itu bukan pujian untuk Dewa yang "ini"!
Kami akan menyembah dan memberi hormat kepada-Mu.
Oh, Dewa. Penguasa yang menjaga perdamaian dunia!
Bangsat!
Kabur!
Bahaya jika diam di satu tempat saja!
Menyebar!
Baik!
Nona Joohee, ayo lari!
Aku tidak mau mati di sini!
Keluargaku sedang menunggu di rumah!
Kalau sudah sampai sini, tidak akan apa-apa, 'kan?
Hoi, Pak Park, belakangmu!
Pak Park!
Pujilah sang Dewa, pujilah sang Dewa ...
Apa yang harus kami puji?!
Kelakuannya jauh lebih mirip setan!
Tapi, aku tidak bisa biarkan Nona Joohee sendirian.
Pasti ada petunjuk.
Tombak, kapak ...
Lenganku! Lenganku!
Palu, pedang, instrumen.
Instrumen?
Semuanya!
Berlarilah ke patung yang membawa instrumen!
Instrumen?
Dia ... memainkan musik?
Hei, patung yang membawa instrumen tidak akan menyerangmu!
Sialan.
Cepat mainkan instrumenmu! Cepatlah!
Jangan bilang, tidak boleh berdua, ya?
Nona Joohee, jangan bergerak, ya!
Jinwoo!
Sebelah sana!
Bukan yang itu!
Tidak!
Jinwoo!
Belum. Masih belum.
Masih belum!
Ternyata ini jawaban untuk "pujian" yang dia maksud.
Jinwoo! kau baik-baik saja?!
Ya, entah bagaimana.
Jinwoo.
No comments yet. Be the first to leave one.