نخستین 169 خط.
Gelanggang Takano?
Gedungnya besar,
tapi di sana belum ada mesin penjual otomatis.
Tidak satu pun?
Jika kita berhasil memasangnya, apa Lonron mendapat hak eksklusif?
Bisakah kau menekel tugas penting ini?
Saru tidak cukup berpengalaman.
Apa kau sanggup, Sarukawa?
Ya. Serahkan kepada saya.
Level kepedasan Gelanggang Takano adalah…
Apa?
GELANGGANG TAKANO
Jangan bilang Gelanggang Takano adalah…
Dojo karate.
Kelihatannya, ini cukup terkenal.
Beberapa atletnya maju kejuaraan dunia.
Karate? Apa pun kecuali karate.
Osu !
Wah, kerennya!
Mereka benar-benar berseru " osu ", kau lihat?
Pak Sarukawa, bukankah ini bidang keahlianmu?
Kau ikut tim pemandu sorak saat kuliah, 'kan?
Tim pemandu sorak dan karate sama sekali tak sama!
Baiklah. Tapi aku yakin kau tak akan kesulitan.
Omong-omong, Ryosuke, berapa level kepedasan klien ini? Satu?
Mungkin dua, 'kan?
Lima.
Seni makanan pedas.
Ini adalah jalan menuju katarsis melalui makanan pedas.
Di dunia makanan pedas, tak ada hidangan yang lebih baik
daripada keberanian menghadapi kesulitan
tanpa takut gagal.
Ayo!
Itu Ketua Oyamada.
Dirasakan!
GELANGGANG TAKANO
Hei. Kakimu.
- Ada yang bisa kami bantu? - Ya…
Terima kasih telah menemui kami.
Saya dari Tim Pemasaran Lonron Tokyo.
Nama saya Kenta Sarukawa.
Saya ke sini untuk memperkenalkan produk baru kami.
Saya dengar di dojo ini tak ada mesin penjual otomatis.
Apakah mungkin
untuk memasang mesin penjual otomatis kami di sini?
Mesin ini bisa digunakan agar semuanya terhidrasi selama latihan.
Kami menolak.
Apa?
Di dojo kami,
hanya air mineral yang boleh diminum selama latihan.
Kenapa begitu?
Anda punya masalah dengan cara kami?
Tidak, tidak sama sekali.
Osu !
Osu . Saya pergi.
Apa Anda tak ingin mencoba sedikit saja minuman ini?
Minuman olahraga kami sangat ideal untuk latihan karate.
Anda tahu apa tentang karate?
Hentikan omong kosong ini jika Anda tak tahu apa-apa tentang karate.
- Jangan istirahat! - Osu !
Apa ada hal lain?
Tidak. Kami akan pergi.
Cepat!
Permisi.
Mengerikan sekali Pak Tua itu!
Dia melihat muridnya tanpa menoleh.
Apa dia punya mata di belakang?
Kita menyerah saja untuk yang ini.
Setuju… Tunggu, sudah menyerah? Kenapa?
Jujur saja, aku benci karate.
Panjang ceritanya.
Oh, begitu. Ada apa memangnya?
Berbagai alasan…
Kenapa tak mau bilang kepadaku?
Bukankah kita teman?
Aku tak paham sama sekali pelajaran hari ini.
Tadi memang sulit.
- Bisa bantu aku? - Ya.
- Sungguh? - Ujian sebentar lagi.
Take…
Apa yang kau lakukan dengan pacarku?
Apa? Yumi adalah pacarku.
Apa katamu?
Sudah, hentikan.
- Di luar saja? - Apa?
Aku bertanya apa ini mau diselesaikan di luar?
- Osu ! - Osu .
Apa-apaan…
Lalu Yumi akhirnya berpacaran dengannya.
Sejak saat itu, aku benci karate atau orang yang berlatih karate.
Mereka terlihat menakutkan, pukulan mereka keras, dan dojonya bau.
Lagi pula, apa artinya " osu "?
- Di sini. - Apanya?
Manajer menyuruh kita
untuk mencoba restoran yang membuatnya penasaran.
Ini dia restorannya.
Selamat datang.
Sudah kuduga kalian di sini.
Tak akan kubiarkan kau mengalahkanku.
Bu Okochi juga penasaran dengan tempat ini.
Sudah kuduga.
Ryosuke, soal tadi rahasia, ya.
Aku tahu. Duduklah.
Bersulang.
- Bersulang. - Ya!
Pak Sarukawa, ada apa?
Aku sedang malas makan makanan pedas hari ini.
Alasan payah seperti itu tak diterima di tim kita.
- Ini sayuran Sichuan. - Terima kasih.
Silakan.
Bagaimana Gelanggang Takano?
Soal itu…
Selesaikan cerita
yang kita bahas tadi. Bagaimana akhirnya dengan Yumi?
Ryosuke! Awas kau, ya!
Oh, itu rahasia, ya?
Soal apa ini? Kedengarannya menarik.
Bukan apa-apa.
Hei, Saru, jangan merahasiakan dari kami.
Terima kasih telah menunggu. Inilah Lembah Neraka Tahu Mapo.
Permisi.
Sepertinya enak sekali.
Akhirnya! Aku sudah lama ingin makan ini.
- Ini menu spesial mereka. - Ini dia.
Tentu, kami memesan yang paling pedas.
Level 60.
Permukaannya tertutup cabai.
Kuah merah membara mendidih seperti magma.
Ini benar-benar neraka.
Ini mustahil.
- Syukur atas berkat ini. - Mari makan.
Permisi.
- Ini tahu maponya. - Terima kasih.
Itu tahu mapo biasa?
Aku selalu memesan menu standar saat mencoba restoran baru.
Syukur atas berkat ini.
Alasan payah seperti itu bisa diterima?
Diam dan makanlah.
Iblis. Ada iblis di mangkuk neraka ini.
Iblis sedang menungguku
untuk menjejakkan kakiku ke dalam.
Ini terlalu menakutkan.
Pak Sarukawa, apa kau takut?
Tentu saja tidak.
Mari kita coba.
Iblis.
Terima kasih sudah menunggu. Ini nasi dengan minyak cabai.
Silakan.
Minyak cabai ini luar biasa.
Makanlah nasiku.
Bagaimana dia bisa begitu menikmatinya?
Begitu rupanya.
Kuning telur ini membuat rasanya jauh lebih ringan.
Kenapa aku tak menyadarinya dari tadi?
Apa?
Itu tak mengubah apa pun!
Terima kasih sudah menunggu. Ini cah parenya.
Aku sudah menunggu ini.
- Ini lumpianya. - Baik.
Sausnya di sini, ya.
- Baik. - Permisi.
Ayo, Teman-teman.
Ini kelihatan lezat.
- Ini. Ambillah. - Terima kasih.
Hei?
Hei, kau belum makan sama sekali.
Itu tidak benar.
Kenapa kau takut-takut?
Jangan ragu. Santap saja.
No comments yet. Be the first to leave one.