نخستین 200 خط.
UNCLE
[Cerita di drama ini adalah fiktif. Jika ada kesamaan, itu hanya kebetulan.]
J. King Oppa!
J. King!
J. King! J. King!
Oppa! Aku di sini!
Diterjemahkan oleh Nung
Tidak pernah kusangka gadis beanie itu adalah kau, Sonsaeng-nim.
Boom!
Kau ingat aku memberikan syalku?
Tidak dingin? Nanti kau bisa flu!
Terima kasih!
Ingat? Aku masih menyimpan syal itu.
Daebak! Warbyazah!
Jadi, kau membuat dua, satu disimpan dan satunya lagi diberikan padaku?
Ya.
Lihai banget ih!
Itu gantungan kunci couple! Kau penggemar sejati!
Kenapa kau tidak bilang dari awal?
Kalau tahu aku penggemarmu, katanya nanti kau akan kabur.
Aku tuh malu. Toh aku gak punya penggemar lagi.
Tapi, kenapa kau masih jadi penggemarku?
Banyak artis terkenal di luar sana.
Saat aku melihat J. King mendapat juara pertama,
itu memberiku banyak kekuatan.
Itu membuktikan hasil tidak mengkhianati usaha.
Berkat J. King, aku bisa mewujudkan impianku menjadi guru.
Jadi, sekarang giliranku mendukungmu menjadi seorang penyanyi,
supaya memberikan kekuatan kepada lebih banyak orang, selamanya.
Selamanya? Kau akan menjadi milikku...
Bukan milikku, tapi selamanya menjadi penggemarku?
Tentu saja, aku akan jadi penggemarmu dan berada di sisimu, selamanya.
Selamanya...
Hei, Jae-seo, jam berapa di New York sekarang?
Ya, aku sudah pulang kerja.
Kau tidak bisa pulang bulan ini?
Kau pasti sangat sibuk, ya. Apa boleh buat?
Liburan? Tidak tahu, apa aku bisa pergi.
Tentu saja, aku juga merindukanmu.
Beanie, beanie, beanie.
Gadis beanie adalah bu guru, bu guru adalah gadis beanie.
Bu guru beanie.
Kebetulan macam apa ini? Benar-benar takdir!
Tunggu...
Itu artinya...
Gantungan kunci couple berusia 12 tahun.
Wow!
Lihai!
Pergerakan mulus Hwa-eum... Gadis lihai.
Hah? Ke mana, ya?
Apa ada di mobilku?
Dia mirip sepertimu.
Nak, ayo cepat tidur.
Mau tidur, kok. Matikan lampunya.
Selamat malam.
UNCLE
Rentenir memperkeruh masalahku dengan istriku...
dan pada akhirnya kami bercerai.
Dan aku mulai ketergantungan alkohol setelahnya.
Beraninya kau berbohong padaku dan belajar musik!
Lepas!
- Apa? Pembelajaran MIDI? - Ibu, ini salahku.
- Ji-hoo tidak salah! - Seret dia ke dalam!
Ji-hoo... Ji-hoo! Lepaskan!
Ji-hoo!
Musik itu konyol!
Kau ingin menjadi badut seperti pamanmu?
Atau bunuh diri seperti kakekmu?
Halo, bu, aku direktur pembelajaran MIDI.
Kudengar Ji-hoo tak bisa lagi bergabung dengan kami.
Aku khawatir karena catatannya liriknya terlihat mengkhawatirkan.
Ibu.
Tidak, tidak...
Tidak, Ji-hoo.
Ada apa, Ibu? Apa Ibu mabuk lagi?
Selagi aku mabuk untuk menghilangkan rasa sakit...
Putraku sedang sekarat.
Setelah 12 tahun,
Kuputuskan untuk melarikan diri.
Kelihatannya enak.
Dengan ini, saya menunjuk penggugat sebagai wali yang sah.
Lewat sini.
Ini, uang saku.
Aku tidak mau minum lagi.
Aku sudah sembuh sekarang, tolong biarkan aku pergi.
Kau masih kesulitan tidur.
Aku hanya khawatir, itu saja.
Neneknya mungkin datang mencarinya.
Seharusnya aku tak ke sini sejak awal.
Tak bisakah setidaknya kau memberikan ponselku?
Kami sedang berbicara dengan keluargamu.
Jangan khawatir, dan fokus pada rehabilitasimu.
Sonsaeng-nim, putraku tak bisa melakukan apa pun tanpak diriku di rumah.
Kami tak pernah terpisahkan, dia memiliki kecemasan akan perpisahan.
Kurasa kau lah yang memiliki kecemasan akan perpisahan.
Apa?
Jika kau tak bisa menjaga diri, bagaimana kau akan menjaganya?
Putraku sendirian, tanpa ibunya!
Semoga ini membantu.
Untuk ibuku tercinta, yang kurindukan.
Bu, aku baik-baik saja belakangan ini.
Aroma ibu.
Paman benar-benar sibuk belakangan ini.
Itu karena dia menjadi Blue Bird.
Kamu sudah makan? Sudah minum obat?
Hentikan. Blue Bird tidak melakukan ini.
Tidak apanya. Aku harus membantu dalam segala hal, 'kan?
Pakaianku menunjukkan selera fashion yang tak lekang oleh waktu.
Jadi aku gak bisa dikalahkan!
Hei, kamu tahu?
Ini pertama kalinya aku jadi pemimpin.
Siapapun yang lihat juga tahu.
Kau lihat surat tugas resmi yang kubingkai?
Paman sengaja menyimpannya di sebelah sarapanku.
Tunggu! Kau mau ke mana?
- Aku fotoin aku dulu. - Selfie aja sih.
Gak, feel -nya beda.
Fotoin yang banyak ya, yang bagus!
Dia selalu bertingkah lebay.
Tidak ada keamanan yang tidak lebay.
Paman lebih sering ke sekolah daripada aku.
Dia pergi ke setiap pertemuan ayah.
Dan semua pertemuan ibu juga.
Ayo kita gantung. Di atas sini.
Kami tidak bertengkar lagi, jadi, jangan khawatir.
Meskipun dia masih buruk dalam segala hal.
Oh, benar! Setiap akhir pekan,
aku mengikuti pembelajaran MIDI di tempat les punya temannya paman.
Bayar aku? Kau tak punya kartu kredit?
Cukup bayar dengan cicilan bunga kecil saja!
Gak bisa gitu!
Bisa-bisanya seorang musisi ngomong kayak gitu.
Kotor banget! Kacamu harus dibersihin sampai kinclong!
Udah dong, nanti malah ada goresan!!
Dan, Ibu, akhirnya aku...
bergabung dengan ekskul orkestra.
Aku senang sekali, akhirnya aku bisa bermusik seperti keinginanku.
Aku ingin Ibu mendengarku suatu hari nanti.
Dia hebat tanpa adanya aku.
Bikin aku sedih jadinya.
Akankah Atlet Wang Joon-hyeok mencetak gol kemenangan?
- Dia menembak! - Tidak gol!
Akankah Atlet Wang Joon-hyeok bisa mencetak gol lagi?
Tidak gol. Tidak gol. Tidak gol...
Hei, aku tidak bia melakukan segala macam hal dengan benar.
Lihat.
Biasanya orang...
bisa melakukan ini...
Seharusnya tidak sulit...
Seharusnya berhasil, tapi aku tidak bisa...
Aku yang paling berbakat sekaligus tidak berbakat.
Jangan makan itu! Dasar jorok!
Kotor? Apanya yang kotor? Ini?
Hei kau...
Cium ini. Baunya kayak tai ayam.
- Tolong hentikan! - Kau menciumnya, 'kan?
Aku hanya mencoba meningkatkan kekebalan tubuhmu,
Aku seperti manusia ginseng! Aku super sehat.
Sepertinya kau jadi lebih sehat, itu semua berkat bantuanku.
Benar, 'kan? Tidak fobia kotor lagi?
Paman, tulis surat untuk Ibu.
Gak usah!
Kalau gak bisa, tulis saja begini.
"Aku tidak akan menyebabkan masalah..."
- Tulis itu. - Heh!
Kalau aku nulis surat, itu bisa jadi puisi.
Aku seorang penyair abad pertengahan di kehidupanku yang sebelumnya.
Kau bisa mendengar suara harpa dan burung bernyanyi saat aku mulai menulis.
Mau kutulisankan puisi untukmu?
Paman nangis?
Astaga... Aku terlalu fokus.
Aku terlalu emosional saat menulisnya...
- Aw, geli banget! - Apa? Lihat dong!
- Paman nulis "aku mencintaimu?" - Buat apa nulis "i love you" ke kakakku?
Paman menulis sangat mencintainya, 'kan?
- Lihat dong! - Gak mau!!
- Aku mau lihat! - Jangan lihat-lihat suratku!
Aku tahu Paman menulis "aku mencintaimu!"
- Lihat dong! - Gak boleh!
Berhenti!
Aku selalu sendiri, menghabiskan waktu, menunggumu.
Sekarang aku bisa mengisinya dengan menghabiskan waktu bersama Ji-hoo.
Selain itu,
aku senang Ji-hoo tidak tahu kesepian yang kulalui saat itu.
- Kau sedang apa? - Astagfirulloh!
Aku menyiapkan hadiah kejutan untuk penggemar beratku!
Kenapa kau datang sepagi ini?
Apa itu untukku?
Kau sudah memberiku ini.
Itu untuk kaki bu guru yang berharga.
Tanaman ini untuk menghilangkan debu halus di udara.
Jangan disiram ya, aku yang akan menyiramnya sendiri.
Aku adalah penggemar yang sukses.
Kau terlalu baik, yang aku lakukan hanya menerima saja.
Aku terkenal dengan fan service yang bagus.
Dan tunggu! Ada fan service lagi...
Kejutan!
Aku tahu betapa penasarannya kau tentang pakaianku.
Apa? Ah, ya.
Akan kutunjukkan fotonya padamu, dari berbagai angle.
No comments yet. Be the first to leave one.