نخستین 200 خط.
Setiap jalan di New York berujung di sungai.
Selama sekian tahun pinggir sungai East River yang kotor berjejer rumah-rumah orang miskin.
Waktu itu orang-orang kaya, mendapati lalu lintas sungai itu begitu indah,
memindahkan rumah mereka ke arah timur.
Dan sekarang teras-teras rumah apartemen besar ini menghadap...
bawah ke jendela-jendela rumah orang miskin.
Ayo.
Enyah. Sana pergi.
- Hai, teman-teman. - Hai, Spit. - Hai, Spit.
Jadi dia bilang mereka ingin datang untuk melawan geng kita, tahu...
tapi mereka punya anak dengan kaki patah parahnya...
dan mungkin dia tak bisa ikut karena resiko buruk.
Makanya aku bilang ke dia untuk diam karena kita punya anak yang menderita TB.
Jadi itu buat kita imbang.
Hey, itu dengan kau aku bicara. Kau.
- Hai. - Hai, Spit.
Agak kepagian, kan?
Tak terlalu kepagian buat ayah untuk bersihkan minuman dari mulutnya.
Jadi aku bilang kita lawan mereka, dan Tommy pimpinannya...
jadi dia harusnya kemari untuk lakukan perkelahian dengan Tommy.
Siapa bilang Tommy itu pimpinannya?
Siapa bilang? Kami semua yang bilang.
- Dasar anjing! - Ada apa?
Aku bakal dorong kau ke sungai.
Ya? Coba saja.
- Jangan jadi anak sok jagoan. - 'Hey!'
Berapa kali aku harus bilang ke kalian?
Hey, lihat. Coba perhatikan baik-baik itu.
Hey, itu siapa?
Itu anak baru yang pindah di kompleks ini.
Kita bisa peras dia, huh?
- Ya. - Lalu caranya?
- Hey, Dip. - Hentikan.
Berapa lama lagi kami harus gunakan jalan masuk ini?
Maafkan aku, pak. Jalan satunya hendak diperbaiki beberapa hari lagi.
Ya, tapi aku tak bisa bawa mobilku lewat jalan ini?
- Tidak, pak. - Oh, tak apa.
Ini bukan tak apa.
Selamat pagi, pak.
Itulah yang kau lihat dari teras.
- Oh, mereka manis. - Ya, di kejauhan.
- Jangan khawatirkan hal ini. - Ayo.
Mereka awetkan dia seperti sesuatu yang sudah mati.
Hey, nyonya, dia bau?
Halo.
- Selamat pagi, Philip. - Selamat pagi.
Oh, baik.
Dengan Prancis, Philip, dengan Prancis.
Ya, nona.
Tommy.
Itu bakal merusak kainnya, itu akan jadi tak layak dipakai, mencuci lalu menyetrika terus-terusan.
Drina, aku tak butuh sama sekali kemeja.
Ada apa dengan ini? Aku terlambat.
Terlambat buat apa? Buat anak-anak nakal itu?
Buat bermain di jalan seharian?
Baiklah, jadi kau bakal terlambat, terlambat karena tidak bekerja.
Semua orang selalu bertanya apa yang kakakmu lakukan dengan mogok kerja.
Mereka bilang kau...
Lain waktu orang-orang itu menanyaimu buat apa aku mogok...
kau bilanglah demi uang yang bakal diterima olehku karena bekerja keras.
Itu tambahan $3.50 seminggu yang bakal kau peroleh dari jalan-jalan itu karena satu alasan.
Bila kau pikir ada di antara kami suka jalan sana kemari seharian...
bawa papan dan khawatirkan bagaimana kami akan makan hari berikutnya, kau gila.
Dan jangan kau ke mana-mana malu dengan apa yang kulakukan.
Baiklah. Oke.
Sesuatu pasti jadi masalah buatmu. Kau jadi begitu marah.
Selamat pagi. Panas, kan?
Akan jadi hari yang panas sekali.
Datangnya lebih awal tahun ini, bukan?
Tentu saja iya.
Drina, kau kemalaman semalam. Itulah kenapa Dave tak menunggu.
Dia tak tahu apa kau akan pulang atau tidak.
Aku tak begitu kemalaman. Hanya beberapa menit kemalaman.
Dia biasanya menungguku. Tapi sekarang...
Dia tak berarti sesuatu buatnya, tapi...
itu hanya mereka mulai bicara seperti suatu hari itu.
Kenapa kau tak bicara dengannya, Drina?
Aku tak bisa lakukan itu. Aku tak punya hak untuk itu.
Aku takkan bagaimanapun juga.
- Hey! - Baiklah.
Hai, kawan-kawan. Hai, Angel.
- Hai, Tommy. - Hai, Tommy. - Hey.
Itu anak baru yang pindah di kompleks ini, kan?
- Ya. - Ya. - Ya, si pemalas itu.
Hey, kau!
- Ya, kau. - Ayo!
- Ke sinilah! - Cepat!
Ayo, lekas kemari. Kami tak punya waktu seharian.
Hey. Kau anak baru yang pindah di kompleks ini, kan?
Ya.
- Namamu siapa? - Milton.
- Kau mau jadi anggota geng ini? - Ya, tentu.
Kau punya duit? Kau harus disahkan.
- Aku punya tiga sen. - Mana.
- Serahkan. - Ayo.
Jangan terus melawan. Berikan. Berikan.
- Ini saja yang kau punya? - Ya.
- Yakin? - Sungguh.
- Geledah dia. - Jangan berani-beraninya kalian...
Diam, kau.
Bila kau ingin jadi anggota geng, kau harus ada seperempat,
- paham? - Seperempat? Dari mana aku bisa dapat seperempat?
- Dari ibumu. - Dia tak bakal memberiku seperempat.
Kau tahu di mana dia simpan duitnya, kan?
Kembalikan tiga senku. Aku tak mau habiskan waktu sama kalian.
Diam, Moe.
Kembalikan tiga senku!'
Aku mau uangku kembali. Ayo.
Ayo, kembalikan tiga senku.
- Kau mau tiga senmu? - Ya.
Kasihkan tiga sennya.
Teman-teman, keluarkan itu! Lepaskan!
Hentikan berkelahinya! Menyingkirlah! Menyingkirlah, anak-anak!
Hentikan! Pergi dari sini!
Sana! Pergi dari sini!
- Tommy, kemari! - Enyahlah.
Sedang apa kalian, menyaksikan kehidupan di daerah kumuh?
Itu lucu? Kenapa kalian tak hentikan mereka?
Nyonya, kau menakutiku.
- Kau terluka? - Mereka mengambil tiga senku!
- Tommy! - Aku tak mengambilnya.
- Kau?' - Bukan aku. Jangan melihatku.
- Kau?' - Aku tak mengambilnya.
Ayo. Kembalikan padanya, Spit.
- Ya. - Ayo. Cepat.
- Oh, diam. - Aku bakal memukulmu.
Berarti aku bakal meninjumu agar itu buatmu tak begitu...
Tak ada wanita bisa menamparku lalu terbebas dari konsekuensinya.
- Kasihkan duit itu! - Buat apa?
- Kasihkan duit itu atau aku bakal menamparmu! - Ya?
Aku bisa lakukan perkelahianku sendiri. Aku tak butuh bantuanmu. Ayo.
Kasihkan padanya duit itu.
Ini. Ayo.
Kau kelihatannya anak baik. Menjauhlah dari mereka.
- Mereka tak baik. - Ya, bu.
Itu perkelahian bagus. Sayang sekali tak bisa dilanjutkan hingga selesai.
Anak-anak nakal.
- Kau suka? - Tentu, apa itu artinya?
Dia tak peduli apa itu artinya.
Dia melihatnya di Park Avenue, makanya dia berpikir bila dia memasangnya,
dia bakal dapat pelanggan dari para tetangga kaya kita.
Aku bergegas ke tempatmu semalam, tapi kau belum pulang.
Kay, Kay Burton dan aku pergi ke taman, mendengarkan musik.
Aku ingin kau ikut untuk berkenalan dengannya.
Aku kemalaman. Sangat kemalaman.
Siapa orang-orang paduan suara itu?
Aku tak tahu.
Yang pendek itu kelihatannya familiar.
Kami mengadakan pertemuan mogok kerja semalam. Kupikir aku sudah bilang padamu.
Aku beritahu Kay tentangmu...
bagaimana waktu kau kecil, dan aku pulang dari sekolah...
lalu memberitahumu semua yang aku pelajari hari itu.
Aku beritahu dia betapa gadis mengagumkannya dirimu dan betapa kerasnya kau bekerja.
Sudah.
Piket seharian berat buat sepatunya.
Kertas menjaganya dari kerusakan.
Ini mungkin menyelamatkan sepatunya, tapi berat buat kaki.
Aku tak lagi mengeluh.
Waktu aku memikirkan tentang orang lain yang mogok kerja...
kebanyakan dari mereka punya keluarga besar.
Aku hanya punya Tommy dan aku untuk dikhawatirkan.
- Ada apa, Drina? - Tak ada. Tak ada.
Bukankah itu sesuatu?
Kau harus lihat apa yang biasa dilakukan di sana.
Buat apa? Aku bahkan tak mau melihatnya sekarang.
Aku tak mau dengar kau mengatakannya setiap menit. Tak ada yang tahu kita, makanya diam.
- Hai, Dave. - Hai, T.B.
Ayo, Dippy. Mari lihat kau menyelam.
Oke, oke, aku akan menyelam.
Perhatikan aku, perhatikan. Aku akan menyelam. Seorang bajak laut!
Suruh seseorang mendorongmu ke dalam.
Aku akan menyelam. Aku akan menyelam. Tapi reaksi kepalaku aneh.
Menyingkirlah, biarkan aku sendiri. Aku akan menyelam.
Enyahlah dari sini.
- Hey, bocah. - Apa?
- Kau punya cukup keinginan untuk jadi jongos? - Tentu, ke mana?
Apa yang hendak kau lakukan? Aku saja.
418, lantai tiga, pintu kedua.
Bilang ke ibu di sana ada teman ingin menemuinya.
Oke. 418. Oke.
Aku tahu kau, kan?
Tidak.
- Kau... - Dia bilang tidak, kan?
Kau Martin. Baby Face Martin.
Namaku Johnson, jelas?
Johnson.
Tentu.
Dan namaku Dave Connell. Ingat aku?
Aku dulu jadi salah satu anggota geng anak di sini...Johnson.
Ya.
Ya, tentu.
Kau dulu bukan anak yang sangat nakal.
Masih bagus buat bibirmu tertahan?
Tergantung seberapa bagus kau buat tanganmu tertahan.
Jangan khawatir. Aku tak sedang mencari masalah.
Apa yang hendak kau lakukan padanya?
Tak ada. Tak ada selama dia diam.
Dan dia bakal diam.
Wajahmu sudah diperbaiki?
Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.