نخستین 200 خط.
Atas saran mendiang ayah...
Aku awalnya menjadi pencuri.
Tapi kemudian aku sadar mencuri bisa membuat tanganmu dipotong.
Atau kakimu dihancurkan dengan palu.
Atau digantung... seperti ayahku.
Jadi aku berhenti mencuri dan melakukan hal terbaik berikutnya.
Aku bergabung dengan gereja.
Bukan jadi pendeta, meski prospeknya bagus.
Tidak.
Sebagai pelukis, seorang seniman.
Aku bisa melakukan semuanya. Malaikat, iblis, perawan, dan biarawati.
Melukis bokong malaikat bukan cara yang buruk untuk mencari nafkah.
Dan aku bahagia.
Lalu segalanya berubah.
Bukan hanya untukku... tapi untuk semua orang.
Orang kaya, miskin, semua orang...
Anak ini, Lorenzo, dia selalu bermasalah, selalu menguji keberuntungannya.
Lorenzo penjudi, seorang pemenang, tapi keberuntungannya mulai habis.
Kali ini dia menang melawan orang yang salah.
Gerbino De la Ratta.
Mereka bertengkar, kau tahu. Dan Gerbino sulit menerima kekalahan.
Sangat sulit.
Gerbino De la Ratta akan kesal karena kehilangan kaus kaki kotor.
Begitulah orangnya.
- Turun ke sini dan bertarunglah. - Supaya kau bisa melukai pipiku?
Aku akan mempercantik wajahmu, keparat, tapi aku terlalu tampan.
Kau berikutnya.
Masuklah ke lumpur, tempat asalmu.
Kenapa dia masih hidup, Andreuccio?
Sudah kubilang, aku ingin dia mati.
Lorenzo De Lamberti bukan yang pertama yang menyukai Pampinea Anastasi.
Meski dia yang terakhir mengakuinya.
Gadis terkaya di kota, Pampinea tidak terlalu dimanja...
Hanya saja terlalu dimanjakan.
Gadis kaya yang malang.
Tapi itu sebelum wabah. Tidak sekarang.
Segalanya telah berubah.
Bahkan bagi Pampinea.
Lorenzo, cepat!
Gerbino menunggumu di rumahmu.
Dia takkan berhenti sampai kau mati.
Pergilah dari sini. Sekarang!
Setelah melukis bokong 14 malaikat, aku masih menunggu bayaran.
- Apa kau sudah memberitahunya? - Dia masih tidur.
Tunggu di sana.
Di sana.
Wabah. Sial sekali nasibku.
Sepertinya kita tidak akan dibayar.
Pulanglah. Kerjamu selesai di sini.
Lalu aku mendengar suara.
Ayo bergabung dengan kami. Pendeta, tentu!
Mereka punya segalanya!
Makanan, uang.
Dan tentu saja, kunci biara.
Semua biarawati cantik itu.
Desas-desusnya Gerbino De la Ratta kurang perkasa di bawah sana.
Kau tahu, tidak ada yang terjadi di balik celananya.
Lucu, karena kupikir dia pria paling brengsek di kota.
Pampinea.
Aku turut berduka.
- Terima kasih. - Ini tragedi.
Wabah ini...
mengerikan
mengerikan...
tragedi.
Apa yang akan kau lakukan sekarang, Pampinea?
Aku berjanji menikah dengan Count Dzerzhinsky.
Dia sedang dalam perjalanan dari Rusia untuk menikahiku.
Terima kasih atas bantuanmu.
Pampinea.
Sebelum meninggal, ayahmu memintaku melindungimu.
- Dari apa? - Harta warisannya.
Dia terlilit utang. Banyak utang, bisnisnya gagal.
Pada siapa? Pada siapa dia berutang?
Pebisnis. Pedagang. Tapi aku sudah melunasinya.
Kau?
Itu yang disebut sebagai pinjaman jaminan.
Ayahmu meminjam uang dariku untuk melunasi utangnya...
dengan jaminan rumah ini dan semua asetnya yang lain.
Semua ini. Tak ada satu pun yang miliknya lagi.
- Jadi milik siapa sekarang? - Milikku.
Kecuali kau membayarku atas uang yang dia pinjam.
Kau tak perlu khawatir, Pampinea, aku di sini untukmu.
Ayahmu dan aku sudah membahas ini sebelum dia meninggal, dan dia setuju.
- Setuju soal apa? - Bahwa kau harus menikah denganku.
Aku sudah dijanjikan menikah dengan Count Dzerzhinsky!
Pernikahan itu diatur dengan buruk. Ayahmu bilang sebelum dia meninggal...
dia lebih memilih aku.
Pampinea, aku setia padamu.
Menikahlah denganku.
Aku siap menuruti perintahmu.
Bolehkah aku mencium tanganmu?
Itu selalu jadi masalah, bukan? Kau tahu. Teokrasi.
Dia seharusnya melakukan sesuatu, itu tidak memakan biaya, bukan?
Hei kau! Ke mana arah jalan ini?
- Kau penasaran apa yang kulakukan? - Tidak, tidak juga. Tidak.
- Temanku. - Ada apa dengannya? Apa dia mabuk?
- Tidak... Coba tebak. - Apa dia mati?
Tepat! Tebakan yang bagus!
"Aku mati, sudah tamat..."
- Tolong katakan, ke mana arah jalan ini? - Aku akan beri tahu jawabannya...
karena kau takkan pernah menebaknya dan kita akan berdiri di sini seharian.
- Itu yang kupikirkan. - Jalan ini menuju ke...
Tunggu dulu... Suster Suci dari Hati yang Berdarah.
Biara. Apa yang dia lakukan di biara?
Apa yang dia lakukan di biara? Kami beri petunjuk.
- Dia bekerja di sana sebagai... - Tukang kebun?
Tepat lagi! Sangat cerdas.
- Apa mereka butuh tukang kebun? - Apa kau punya keahlian khusus?
Itu bukan pertanyaan menjebak, dia punya keahlian khusus.
- Seperti apa, mati? - Tidak. Tebak. Ayo, tebak!
- Aku tidak tahu. Mana mungkin aku tahu? - Jangan kotor-kotoran.
- Lalu apa, apa?! - Ow, bersama-sama!
- Ayo, beri tahu aku! - Dia tuli dan bisu.
Tuli, jadi dia bisu. Sudah kubilang, dia punya keahlian.
Tuli dan bisu bukan keahlian. Itu cacat.
Baginya tidak. Dah!
Halo! Aku yakin kau penasaran apa yang...
Langsung dari surga.
Dia tampan.
Kuat.
Lihat dia, dia...
tampan.
- Apa dia terluka? - Aku tidak tahu.
Apa menurutmu kita harus melepas bajunya untuk melihat apa ada tulang patah?
Kurasa kita harus...
hanya untuk memastikan.
Dari mana kita mulai?
Giliranmu.
Mulutnya. Cium mulutnya.
Suster?
Ibu, dia hidup.
Dia tak bicara apa pun, Ibu. Kami yakin dia tuli dan bisu.
Apa kau bisa mendengar?
Apa kau... bisa bicara?
Sebuah mukjizat.
Seorang malaikat. Dia jatuh dari surga.
Bawa dia ke kamar mandi.
Bersihkan dia.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Pampinea Anastasi merasa butuh teman.
Filomena!
Apa kau memberitahu yang lain?
Kita akan bertemu di gereja.
Baiklah semuanya. Gadis di depan, pria mundur.
Quino, aku tak menyangka melihat kau di sini, harus kukatakan.
Kau boleh bicara, tapi kau tidak boleh bicara banyak.
Tidak masalah, aku yakin kau punya cukup banyak hal untuk dikatakan.
- Ini gadis yang ingin kau nikahi? - Tak sabar rasanya.
Aku bisa melahapnya hidup-hidup.
Ayahku punya rumah di pedesaan. Sebuah vila.
Kita bisa pergi ke sana untuk menghindari wabah.
Bagus... ayo pergi.
Keinginan terakhir orang tuaku adalah aku harus menikah dengan Count Dzerzhinsky.
Pernikahan akan berlangsung di vila itu.
Kalian semua jadi tamu.
Pampinea. Ini pernikahan yang diatur, ya?
Mungkin kau harus mencobanya dulu. Setidaknya lihatlah dulu.
Melissa!
Itu penghinaan terhadap janji kesucian Pampinea.
- Kita semua perawan di sini. - Ya, tapi ada yang lebih perawan dari lainnya.
Bicara untuk dirimu sendiri.
Aku lebih baik mati daripada melepas keperawananku sebelum menikah.
Aku selalu mengira kau menyukai Lorenzo.
Ada apa ini?
Apa yang kalian lakukan di sini, kalian semua?
Berdoa.
Kami berdoa untuk yang meninggal.
Siapa pun dari kalian yang berpikir meninggalkan kota bisa sangat berbahaya.
Pulanglah. Kalian semua, seperti anak baik.
Aku mengenali dua orang ini. Mereka teman Di Lamberti.
Mungkin kita harus berjalan-jalan.
Aku tahu seharusnya aku tutup mulut.
Apa peduliku?
Bahkan jika dia akan membunuh mereka.
Lalu aku mendengar suara-suara sialan itu lagi.
Tutup mulutmu! Tutup mulutmu! Tutup mulutmu...
Tutup mulutmu!
Oh, persetanlah! Aku selalu punya mulut besar.
Kau! Kalian semua, pergi.
Ambil pedangmu dan pergi dari gereja!
Ini Gerbino De la Ratta.
Tak ada yang berani bicara begitu padanya.
Ini rumah Tuhan, dan aku bicara dengan suara-Nya.
Siapa kau?
Aku pelayan Tuhan. Aku bicara dengan suara-Nya.
Kau mengenakan salib Tuhan. Kapan terakhir kau mengaku dosa?
Wabah yang berjalan di jalanan kita, mencuri jiwa kita.
Ini kiamat.
Lihat wajahmu lagi,
Aku akan mengambil darahmu dan mengirimmu pada penciptamu.
Gerbino!
Apa dia mati? Lorenzo Di Lamberti?
Jika aku jadi kau, aku akan menganggapnya mati.
Aku belum pernah bicara omong kosong seperti ini seumur hidupku.
Terima kasih Tuhan jadi pendeta..
Apa ini dia?
Kupikir kau bilang bisa mendapatkan kereta.
Ini Paman Bruno.
Dia tidak terlalu cerdas tapi dia sangat kuat.
No comments yet. Be the first to leave one.