نخستین 200 خط.
PHOBIA 2
~ ANAK BARU ~
PEY '
Aku harus pergi. Paman Wat ada urusan lain.
Kalau ada apa-apa, beri tahu saja Yang Mulia.
Anakku, jangan takut.
Kau pelacur.
Ayah bilang kau adalah pelacur!
Itu sebabnya kau lari bersama pria itu.
Kau tak mau bersamaku.
Kau tak pernah mencintaiku!
Kau boleh katakan apapun yang kau mau,
mempercayai apapun dari ayahmu, atau menyebutku pelacur,
tapi jangan pernah katakan aku tidak mencintaimu.
Kalau saja dari awal aku membawamu,
semua ini tak akan terjadi.
Tak ada yang akan menemukanmu di sini.
Tee juga sudah melarikan diri.
Setelah semuanya mereda, aku akan kembali untukmu.
Oke, nak?
Itu, adalah pohon Nibung.
Sebangsa pohon palem..
Digunakan untuk menyelenggarakan ritual Hantu Lapar.
Acaranya tadi sore. Kau melewatkannya.
Kau pernah dengar tentang ritual Hantu Lapar?
Ritual yg menyajikan persembahan untuk Hantu Lapar.
Masyarakat di sini percaya mitos.
Kau tidak takut, kan?
Baguslah kalau tidak.
Besok bulan akan berkurang.
Lalu mereka akan pergi.
Letakkan kembali
Itu persembahan untuk Hantu Lapar.
Satu-satunya yang harus kau pegang adalah sepuluh ajaran Buddha.
Kita berpuasa pada saat ini.
Lepaskan!
- Sudah kulepaskan. - Apa maksudmu sudah...?
Kau ...
Segarkan dirimu, sekarang waktunya sarapan.
Apa yang terjadi?
Pohon Binung roboh. Ini pertanda buruk.
Pertanda buruk? Aku belum pernah mendengarnya.
Hantu Lapar akan terlahir kembali
dan dalam pertukaran jiwa akan dikutuk.
Hantu Lapar akan terlahir kembali.
Mau pergi ke mana?
Tinggallah semalam lagi sampai semua ini berlalu.
Tuan Suwat memintaku untuk mengurusmu.
Gua ini untuk meditasi Yang Mulia.
Terkadang biksu lain datang ke sini
merenungkan kesalahan mereka di masa lalu.
Aku tahu kau tak suka dipaksa.
Tidak ada yang suka.
Tapi kita harus menaati ajaran dan aturan.
Aturan menjauhkan kita dari melakukan hal-hal buruk.
Beberapa dosa sulit dimaafkan ketika kau mengakuinya.
Aku yakin kau mengerti.
Berdoa dan bermeditasi disini, akan membuat pikiranmu tenang.
Jangan peduli apa yang terjadi,
ingat bahwa yang kau lihat,
atau yang akan kau lihat, mereka ada tetapi mereka tidak nyata.
Kau harus mengukatkan diri dan tetaplah sadar.
MANTRA PERLINDUNGAN
Sekarang, ponselnya jadi, oke?!
Kau ini kenapa, Tee! Terakhir kali kau juga mengambilnya.
Sekarang giliranku!
Ini motorku, jadi, akulah bosnya!
Tapi aku yang melempar batu itu!
Hei, ada mobil.
Bersiaplah.
Oke, lempar yang benar.
Kau lihat itu? Hampir terbalik. Hei berhenti.
Iya iya...
Hei.
Pey, ponselnya milikku, oke?
Tai-lah...
Pa...
Pa...
Papa...! Papa!
Papa...! Papa!
Papa...! Papa!
Papa...! Jangan mati...! Papa!
Pa..!
Pa..! Pa!!
Pa..!!
Pa... Buka pintunya Papa...!!
Papa..!!
Papa..!!
Papa..!!
Papa..!!
Papa...! Pa...! Bangun!
Oh Tidak .. Tidak!
Tidak.. Tidak!
Tak ada yang bisa kita lakukan. Inilah karma.
Siapa itu?
Bangsat!
Siapa itu?
Halo.
Ma.. mama.
Mama..
Aku menyesal.
Mama kau mendengarku?
Mama... Aku minta maaf.
Halo. Mau bicara dengan siapa?
Mama...
Ma... Tolong aku.
Mama...
Mama...
Pa...
Papa... Aku minta maaf.
Pa...
Pa... saya minta maaf.
Papa...
Bagaimana perasaanmu sekarang?
Bosan.
Bukan, maksudku kakimu sudah mati rasa belum?
Oh, maaf.
Sepertinya sudah mati rasa kalau aku tak merasakan apa-apa.
Sekarang aku akan mencabut serpihan kacanya.
Hei, kau tidak perlu memberitahuku.
~ PENJAGA ~
Terima kasih.
Permisi.
Bukankah aku meminta ruang pribadi?
Ruangan ini sama saja.
Ranjang di sebelah sana rusak. Sudah lama tidak digunakan.
Dan yang sebelah sebelah sini,
pasien menunggu kunjungan terakhir oleh keluarganya.
Emm, keluargaku sudah dihubungi?
Kami sudah menghubungi keluargamu.
Mereka akan tiba di Bangkok besok pagi.
Oh. Terima kasih.
Pasien ini sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
Aku akan jaga di sini sampai jam 8 (malem).
Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja aku.
Oke.
Otak pasien telah berhenti-fungsi.
Dia masih hidup karena respirator.
Terserah keluarga, mau berapa lama lagi mereka ingin dia seperti ini.
Bisakah kami menjaga Guru kami satu malam lagi?
Beberapa muridnya belum tiba dari kampung.
Oke, beritahu aku ketika kau siap. Permisi.
Terima kasih.
Tuan Arthit!
Ada apa?
Tn Arthit, Tn Arthit.
Tn Arthit. Ada Apa?
Tn Arthit.
Tn Arthit.
Kau baik-baik saja?
Tenanglah.
Apa dia masih berbaring di situ?
Tentu saja. Dia tidak bisa bangun dan berjalan.
Dia masih berbaring seperti biasa.
Silakan tidur lagi.
Permisi, suster. Bisakah aku pindah ke ruangan lain?
Malam ini tidak bisa. Semua ruangan sedang full.
Besok dokter akan mengijinkanmu pulang. Jangan dipikirin.
Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan besertamu.
Santa Maria, doakan kami yang berdosa ini,
saat ini dan ketika kami mati.
Amin!
Salam Maria! Penuh rahmat! Tuhan besertamu!
Tolong! Tolong!
Tolong!
Tn Arthit. Tn Arthit! Apa apa?
Siapapun tolong bantu aku. Tolong!
Tenang. Harap tenang.
Orang tua di ranjang sebelah, dia bangkit.
Aku mau pindah ruangan. Lepaskan aku.
- Tenang. - Lepaskan aku!!
Aku mau pindah ruangan, sekarang..
Semua beres.
Tidur nyenyak tadi malam?
Oke, aku akan mencabut infusnya.
Goblok! Jangan sentuh aku!
~ B A C K P A C K E R S ~
Kenapa tak ada mobil yang berhenti?
Di sini mobil tak akan berhenti kalau kau cuma begitu.
Nah, ada mobil.
Lambaikan.
Berhenti. Berhenti...
Tuh kan. Apa kubilang.
Apanya yang lucu?
Lihatlah wajahmu.
Baik, sekarang giliranmu!
Ayolah jangan marah.
Untuk menumpang di negara ini,
Kau harus melakukan ini.
Hei, ada mobil.
Berhenti. Stop!
Tuh kan, berhenti.
Ayo cabut!
Kalian mau pergi ke mana?
Bangkok.
Ayo kita pergi. Jangan angkut mereka.
Oke, naiklah.
Terima kasih.
Uangnya?
Dua.
No comments yet. Be the first to leave one.