نخستین 95 خط.
Diterjemahkan oleh <>batterd<>
SEE THE SEA
Apakah aku bisa bicara dengan Pak Noyer? Terima kasih.
Halo. Paul Noyer, ya.
Ini istrinya.
Mbak tahu ke mana aku bisa menghubunginya?
Aku sudah coba dari kemarin ...
Iya, aku mengerti.
Kalau bertemu dengannya tolong hubungi aku, ya.
Dia punya nomor aku.
Terima kasih.
Ada orang?
Aku sedang mencari tempat menumpang sebentar di pulau.
Maaf, ya, ini bukan hotel.
Ya, tapi mbak punya teras lapang...
Tunggu, anak aku di bak mandi.
Ini anak mbak?
Oh ya jelas, mbak! ini anak aku.
Siofra.
Jadi maksud aku tadi, mbak kan punya teras lapang.
Mungkin aku bisa kemah di sana saja.
Ini lahan milik suami aku, mbak. Dia lagi pergi. Aku harus tanya dulu.
Kapan suami mbak pulang?
Aku belum tahu juga, dia sibuk kerja di Paris.
Tempat kemah sudah penuh,
mbak kan punya tanah lapang, mbak juga hanya berdua dengan anak...
Aku tidak akan mengganggu, kok.
Masih menyusui?
Dia sudah pakai botol sekarang.
Sudah berapa umurnya?
10 bulan.
Silakan dipasang saja tempat kemahnya di sana.
Terima kasih, aku janji takkan mengganggu mbak.
Berapa lama kau mau menetap?
2 atau 3 hari.
Sore.
Kulkas aku penuh.
Tidak enak rasanya kalau kau makan sendiri di sini.
Kau mau makan malam di dalam, ga?
Boleh.
Oke.
Aku ke dalam rapi-rapi dulu.
Anggurnya mau ditambah?
Jangan terlalu formal, lah, mbak.
Oke.
Kau dari mana?
Aku kerja mengasuh di seberang pulau.
Terus aku bosan, mau cari suasana baru,
jadi aku ke sini. Di sini sunyi, tidak banyak orang.
- Kau sering jalan-jalan? - Itu sekarang kerja aku.
Aku engga tahan kalau berlama lebih dari 4 hari.
Sendirian?
Aku ga suka berkelompok.
Emangnya kau ga takut?
Aku yang takutin, mbak.
Lucu ya.
Aku dulu seperti kau.
Saat aku masih merantau di Paris,
Aku bosan terus ikut-ikut numpang kendaraan
dengan kawanku yang juga gila.
Jadi, kami di Tunisia,
jalan kaki sepanjang jalanan.
Tiba-tiba, malam surut.
Semuanya gelap.
Kami pun mulai kedinginan.
Kami dengar serigala mengaum begitu di hutan.
Kami sampai ketakutan, tersesat, orang sekitar juga tidak ada, kosong.
Tiba-tiba kami mendengar lonceng.
Terus ada yang lewat di kaki kami.
Dan ternyata domba. Dan juga penggembalanya.
Jadi kami tanya deh apakah ada tempat penginapan.
Dia mengajak kami
ke tempatnya.
Kami diajak ke rumahnya. Saat itu masih sangat gelap.
Dia bawa kami ke ruangan yang besar.
Di mana-mana bantal kursi.
Itu pun gelap banget di sana.
Dia mengunci kami di dalam terus pergi.
Kami pikir, dia pergi memanggil kawan-kawannya.
Mereka bakal datang dan perkosa kami!
Jadi...
kami dengar langkah kaki...
kami engga berani berkutik...
kami semua pegangan, hampir engga bernafas.
Dia buka pintu.
Dan dia sendiri.
Terus dia beri aba-aba untuk mengikutinya.
Kami ikut tanpa sepatah kata.
Tiba-tiba, di depan kami
ada ruangan penuh lilin.
Dan di mejanya...
penuh hidangan seperti sedang lebaran!
Ada sop kepala domba di panci besar.
Dua istrinya dan semua anaknya juga di sana.
Jadi kami duduk dengan mereka dan makan sampai subuh.
No comments yet. Be the first to leave one.