نخستین 200 خط.
SERIAL NETFLIX
Di episode sebelumnya…
Kita di Taebaek!
Ayo pergi!
Pemandangan sangat indah.
Menembus kabut!
- Hong-chul. Bagaimana kalau ke sauna? - Ide bagus.
Tapi kumohon, jangan menggosok. Tubuhku trauma digosok olehmu.
Enak sekali.
GEDEBUK
Astaga, Netflix.
Lapar, biar kudandani kau dengan keren.
Aku merasa diperhatikan semua orang!
Kau manis juga.
Kita akan berkemah. Aku sudah kirim semua perlengkapan.
Astaga.
- Sarang. - Astaga.
Luar biasa.
Malam ini, akan kutunjukkan kelezatan steik untukmu.
Ada tamu datang besok.
Temanmu akan mengendarai motor itu besok?
- Ya. - Siapa dia?
Nantikan saja.
Kapan temanmu datang? Aku penasaran.
- Temanku? - Itu Sarang.
- Ada Sarang. - Kenapa itu penting?
- Aku penasaran. - Ada aku di sini.
Kita akan bermotor bertiga hari ini untuk kali pertama.
- Astaga, Ro Hong-chul? - Kau datang.
- Astaga, Ro Hong-chul? - Kau datang.
Sudah datang?
- Halo. - Ha-nee. Selamat datang.
- Apa? - Pakaianmu terlalu terbuka.
- Kau sungguh tamu kami? - Hai.
- Astaga, warna baju kita sama. - Yang benar saja.
- Silakan duduk. - Tak apa-apa.
- Duduklah. - Kau saja.
- Kau butuh kursi? - Ya, jika ada.
Sebentar. Masih ada kursi yang kusimpan.
Kau pasti belum makan.
Ya. Tapi aku makan banyak kemarin. Rasanya masih sangat kenyang.
- Sungguh? - Aku makin gemuk.
- Hei. Baiklah. - Tidak. Kau tidak gemuk.
- Kau olahraga, jadi, tak apa ditunjukkan. - Tidak.
- Bagus. - Bukan itu.
- Penonton pasti senang. - Nanti…
- Astaga. - Kubuatkan makanan.
- Aku tak bisa memegangmu karena Tae-hee. - Aku…
- Bukan begitu. Aku… - Kerja bagus.
Aku memasak sejak pagi khusus untukmu.
- Astaga. - Namun, dimakan Hong-chul.
- Aku sedang tidak menjaga tubuh. - Apa?
Lihat wajahku. Tak menjaga tubuh.
- Sungguh? - Ya.
- Kau tetap cantik. - Astaga.
Senang mendengarnya.
- Hei. - Ada apa?
Kau tak pernah berhenti olahraga?
Aku rajin olahraga.
- Kau hebat. - Hanya itu.
- Hanya itu. - Ha-nee!
- Ya? Astaga. - Sudah siap.
- Apa itu? - Kursiku tersayang, untuk saat genting.
- Sudah siap. - Astaga.
- Apa itu? - Kursiku tersayang, untuk saat genting.
- Sudah kuduga. - Hong-chul!
Ha-nee.
- Netflix memang beda. - Aku tak percaya.
Dapat dari mana?
N dari Netflix. Seperti namaku.
- Selain kursi ini, - Ya?
- …motor juga merah seperti logo Netflix. - Ya!
Program ini cocok untukku.
Kau pernah bilang apa? Warga apa?
Kewarganegaraan global. Kosmopolitanisme.
- Ha-nee. Makanlah buah ini. - Baiklah.
- Aku yang mengupas. - Astaga.
- Namun, bajumu… - Buka mulutmu.
Terima kasih.
Kau tamu pertama kami.
Sekarang aku sadar. Biasanya dia yang memberiku makan.
- Kini, aku ingin perhatian padamu. - Setelah sekian lama…
Aku terlalu nyaman. Motivasiku menjadi hilang.
- Sungguh konyol. - Tapi aku bersemangat lagi.
- Benar. - Kita naik motor bersama nanti.
Kau tahu, aku begitu senang saat mendengar kalian berdua mengerjakan
- program ini. - Kenapa?
Karena kalian sangat berbeda,
rasanya sangat baru dan segar.
- Aku setuju. Itu bagus. - Benar.
Kalian juga pandai di depan kamera.
Itu alasan kami dekat.
Dia lakukan semuanya.
- Benar. - Jika sama-sama suka.
- Benar. - Dia tidak peduli dengan pekerjaan.
- Dia orang aneh. - Aku selalu bilang,
- "Katakan jika butuh bantuan." - Begitu.
- Tapi enggan kerja lebih dulu. - Jika dia butuh saja.
Karena itulah kalian menjadi teman dekat.
- Siapa? - Ya?
- Hei, lihatlah pakaiannya. - Tunggu.
Biasanya, wanita memukul dengan telapak tangan,
bukan kepalan tangan.
- Kami sedekat itu. - Dia lebih cocok
dipukul dengan kepalan tangan.
- Dia bisa menerimanya. - Menurutku, saat sampai di sungai nanti,
dia akan memukulmu dengan kepalan tangan.
- Hari ini cuaca panas, - Hei, apa maksudmu?
…jadi, kita main air.
- Aku suka itu. - Tidak apa-apa?
- Jika kau tak bawa pakaian, - Ya?
- Aku… - …dia punya banyak pakaian wanita.
- Benarkah? - Lihat saja.
Uniseks. Avant-garde.
- Kau nyaman dengan pakaianmu? - Ya?
Kenapa? Memangnya kenapa?
- Pakaian Ratu Inggris. - Begitu, ya.
- Bagiku, pakaian itu sangat bagus. - Benar, 'kan?
Kemarin, aku memberi pakaianku kepadanya.
Namun, dia masih belum cocok memakainya.
Kemarin aku pakai rok.
Harusnya kubawakan kaus kaki juga.
Kenapa tidak bilang? Pasti kubawakan.
- Sungguh? - Ya, aku pakai rok.
- Apa Tae-hee tahu? - Dia tidak tahu.
Aku benar-benar tidak cocok memakainya.
Benar, Tae-hee. Kalian tidak sepantar?
Dia lebih tua dariku. Dia selalu kira kami sepantar.
Tae-hee lebih tua tiga tahun.
- Begitu, ya. - Aku lebih tua satu atau dua tahun?
- Setahun. - Setahun, ya.
Kalau begitu, aku lebih tua empat tahun darimu.
Kau tahu, 'kan?
Meski enggan kau akui, kau tahu yang orang katakan tentang perbedaan empat tahun
di Korea, 'kan?
- Kulitmu sangat bagus. - Kau tahu…
- Benarkah? - Kau pandai memuji.
- Kulitmu bagus karena kau… - Bagus.
- …hidup sesuai keinginanmu. - Lindungi dirimu.
Kulitku bagus.
Meski kita tidak berteman dekat,
banyak yang bilang bahwa kepribadianmu baik.
Tidak juga.
- Selama aku hidup, - Ya?
…dua orang aktris yang paling tulus
adalah Kim Tae-hee, lalu Lee Ha-nee.
Sudah kuduga. Naluri untuk bertahan hidup.
Astaga.
Lalu, bagaimana pendapatmu tentang Hong-chul?
- Dia? - Aku penasaran.
Hari ini kita membuat kenangan bersama.
Katakan sejujurnya.
Aku suka kau. Negara kita butuh orang sepertimu. Itu pendapatku.
Kau tak perlu peduli pendapat orang lain.
- Kau melakukan hal yang kau suka… - Benar sekali.
…dan menemukan tempatmu di dunia.
- Itu yang penting. Ingin kubuktikan itu. - Ya.
Sebenarnya itu cukup menakutkan.
Hal menakutkan dan tidak mudah sama sekali.
Namun, kau sungguh melakukannya.
Kau inspirasi bagiku. Sungguh.
- Dia sungguh baik. - Kenapa?
Aku bisa merasakan kesungguhannya meski bibirnya bergetar.
- Benar, 'kan? - Sungguh. Aku serius.
Namun, ketahuilah.
- Dia tak bohong. Dia jujur. - Sungguh.
Jika tidak, aku pasti diam. "Ya, aku suka." Seperti itu.
Sifatnya mirip sepertiku. Jika tak suka, lebih baik diam.
- Aku Rain versi wanita. - Benar.
Dari penampilan luar saja,
- dia seperti adikku. - Benar.
Kalian terlihat akrab dan dekat.
Apakah dia menggambarkan tipe idamannya seperti dia?
Atau tak sengaja berakhir dengannya?
Siapa yang kau bicarakan?
Tae-hee.
- Sejak kapan kau panggil namanya? - Aku yang lebih dulu kenal dia.
- Kenapa bicaramu tidak formal? - Aku…
- Dia sensitif jika bahas istri. - Jawab.
- Jawab. - Dia sensitif. Cukup.
Tutup kakimu. Jangan buka kakimu.
- Rokmu terlalu pendek. - Lihat ini.
- Jadi… - Tidak terlihat.
- Harusnya begini. - Hei.
- Sebentar. - Terima kasih.
Ha-nee sampai memberikan jaket untukmu. Apa yang kau pikirkan?
- Bukalah kakimu dengan nyaman. - Nyaman sekali.
- Harus ditutup. - Benar.
- Supaya sopan. - Benar.
Menurutku, Tae-hee…
Dia pasti menyukai orang yang cerdas.
- Kau salah. - Benarkah?
- Dia suka pria aktif? - Dia…
- Kau sok tahu. - Tidak.
Tae-hee orang yang aktif.
- Sungguh? - Meski tampak tak begitu.
Kami bergabung ekstrakurikuler olahraga.
- Ekstrakurikuler ski. - Benar.
Dia berada di posisi depan
ketika bermain ski.
No comments yet. Be the first to leave one.