نخستین 200 خط.
Sialan. Rambutku berantakan.
Delapan menit, enam belas detik. Kenapa lambat sekali?
Aku menikmati perjalanannya.
- Kau mengemudi seperti nenekku. - Bawa dia ke pekerjaan kita berikutnya.
Kau yang mau itu. Aku melihat bagaimana kau memandangnya.
Lain kali, kau yang di tengah, Reno. Aku terjepit.
Dan terlalu takut dia menyentuh anakonda-ku.
- Anakonda? Bukan itu yang kudengar. - Hah?
- Orang bilang lebih mirip jari. - Siapa yang bilang?
- Entahlah. Orang-orang. - Apa kabar, Paus?
Payudaramu bertambah besar. Kupikir kau diet.
Vio, abaikan orang-orang ini. Ikutlah denganku ke Senegal.
Bermimpilah.
Hei! Apa-apaan?
Apa masalahmu?
Tidak seburuk itu, kan?
Si bodoh itu bereaksi berlebihan.
Aku harus mengantar ibuku ke salon.
Aku keluar juga.
Jaga dirimu, oke?
- Pagi, Nenek. - Selamat pagi.
- Panas sekali di sini. - Dari mana kau?
Keluar dengan teman-temanku.
Kau sudah tidur?
Aku akan meletakkan di sini, oke?
- Kau sudah tidur? - Aku akan pergi sekarang.
Ambil camilannya dan tidur.
Kau semakin kurus dari hari ke hari.
Kau semakin cantik.
A L I H B A H A S A K U D A L U M P I N G
Air panasnya berfungsi lagi, Nek.
Air panasnya. Sudah bisa.
Laki-laki dari lantai tiga yang memperbaikinya. Dia malaikat.
Malaikat dari lantai tiga.
Kau mengoleskan putih telur ke rambutmu?
- Aku baru mandi. - Ah.
Apa cerita baru Can Yaman and Açelya?
Mereka bertengkar, mereka berbaikan, mereka putus…
- Seperti minyak dan air, ya? - Ya.
Mereka akan bercinta di akhir pekan.
- Atau sebelumnya. - Atau sebelumnya.
Itulah yang mereka lakukan.
Aku akan keluar, oke?
Oke.
- Haruskah aku membelikanmu sesuatu? - Susu.
Oke. Aku akan kembali nanti.
Hei. Bagaimana kabarmu?
- Apa kabar, Pedrito? - Mengambil kopi.
- Kau sangat lelah tadi malam. - Aku seperti kena kutuk.
Aku tahu. Aku melihatmu.
- Pirang! - Sampai bertemu.
Apa kabar?
- Jangan mulai denganku. - Ada apa dengan rambutmu?
Jangan sentuh rambutku. Kau tidak boleh sentuh rambutku.
Hei, aku sudah memberitahumu. Kau ingat Francesca?
Yang dari El Raval dengan rak besar dan tindik lidah berwarna pink.
Aku bertemu dengannya beberapa hari lalu. Kami minum, dan suasana jadi sangat panas.
Kau mengenalku, kawan.
Aku membawanya ke kamar mandi, mendudukkannya di wastafel, menarik roknya,
memasukkan jariku ke dalamnya, dan aku merasakan sesuatu yang keras.
Aku takut sejarah terulang kembali.
- Bagaimana kabarmu, Dandy? - Baik.
Reno, kudengar kau ada di bar bersama Candy.
Dia datang dengan sedikit extra,
Kapan?
Selasa.
Selasa?
Tidak. Aku bersama ibumu, Putri Salju.
- Menyingkirlah. - Berengsek.
Apa yang dia lakukan padaku? Aku tidak mengerti.
Suatu malam di Space,
dia mengikutiku ke kamar mandi dan menendangku.
Aku mendorongnya menjauh.
Yo, Josito!
Dia mengedipkan mata padaku, tiba-tiba, aku menyadari apa itu.
Dia juga punya tindik di klitorisnya.
Aku tidak tahu harus bermain dengan tindikannya atau klitorisnya.
Apa yang akan kau lakukan?
Aku jatuh cinta, kawan. Aku naksir berat.
Dengarkan lagu yang kutulis ini. Kau akan terpesona.
Ya.
Yo, Francesca kau membuatku berputar, aku tidak bohong.
Saat kau tidak ada, aku ingin meringkuk dan mati.
Kenapa kau tertawa? Perempuan itu enak dipandang.
Saat aku bersama putriku, Waktu terasa cepat berlalu.
- Bagaimana menurutmu? - Membosankan.
Aku butuh ubi dan mentimun untuk sup ibuku.
Semuanya baik-baik saja, nyonya.
Punyaku lebih besar… dan lebih tebal.
- Selamat sore nona. - Hai.
Dia sangat anggun. Seperti supermodel.
- Dia terlihat familiar. - Aku kenal?
Dia selebriti lokal?
- Keluar dari sini. - Halo. Test.
Kasir yang paling cantik yang pernah kulihat.
Kau juga, sayang.
Selamat siang.
Ayo!
Jelek sekali!
Coba lagi. Siap-siap.
Bagus! Itu dia!
Lagi. Ayo.
- Luar biasa! - Kalian bersenang-senang?
Astaga.
- Kau akan membuatku dipecat. - Kami tidak melakukan apa pun.
- Kami sudah berperilaku baik. - Tentu.
Tangkapan bagus.
Ayo pergi.
Kau harus dibayar untuk memakai seragam itu.
Ya, tolol.
- Dan aku terlihat sangat bagus memakainya. - Terus katakan itu pada dirimu sendiri.
- Kau belum bekerja sehari pun dalam hidupmu. - Apa itu kerja?
Tunggu, tidak. Salahku.
Aku punya fotomu dengan seragam pembersih jalan berwarna kuning itu.
Pakaian Minion. Tapi itu bukanlah pekerjaan sungguhan.
- Lihat siapa yang bicara. - Hati-hati, atau aku akan mengunggahnya.
Lihat siapa yang bicara. Si paling artis.
Hei. Kau akan lihat. Aku akan punya studio sendiri suatu hari nanti.
"Suatu hari nanti, bla, bla, bla." Apa maksudmu studio?
Aku adalah Banksy masa depan.
- Ayo. Ayo pergi. - Berengsek.
Banksy masa depan? Kau lebih mirip Wanksy.
Hari ini di Global Street Artists, kami menampilkan bakat-bakat baru.
Dia menggunakan nama Tres. Mungkin itu Three Musketeers
atau Three Graces.
Atau tiga orang bijak.
Dia dipuji sebagai Banksy Spanyol.
Kapan kau akan mengajariku?
Kau takut aku lebih baik darimu?
- Aku tidak ingin kau jadi kotor. - Tentu.
Kau tidak malu merusak properti umum?
Kau melakukannya pada dinding rumahmu?
- Hei! - Uh-oh, ada security. Hampir selesai?
Hei kau!
Ayolah!
Kami hanya memperindahnya.
- Kau tidak menyukai seni? - Ayo.
Lihat. Para Minion.
Ayo pergi dari sini.
Pergi!
- Kami sudah mendengarmu. - Dasar kau.
- Kami akan menelepon Polisi! - Tentu saja tukang mengadu!
Polisi sewaan sialan!
Kapan kau akan mengajariku?
Kau takut aku lebih baik darimu?
- Aku tidak ingin kau jadi kotor. - Tentu.
…baik ketinggian, kedalaman,
maupun makhluk lain tidak akan memisahkan kita dari kasih Tuhan
dalam nama Kristus, Tuhan kita.
Lalu apa yang harus kita katakan mengenai ini? Jika Tuhan di pihak kita, siapa yang bisa melawan kita?
Dia yang tidak menyayangkan anaknya sendiri tapi menyerahkannya untuk kita semua,
bagaimana mungkin dia tidak memberikan kita segala sesuatu yang lain bersamanya?
Siapa yang akan mengajukan tuntutan pada orang pilihan Tuhan?
Tuhanlah yang membebaskan kita.
Siapa yang akan mengutuk?
Apa aku tidak dapat pelukan?
Kita bisa mengganti waktu yang hilang.
Dalam nama Bapa, anak, dan Roh Kudus.
Kawanku!
Aku khawatir.
- Apa kabar? - Baik.
Aku merindukanmu. Kupikir kau pergi.
Aku? Mustahil.
Vio, lihat siapa itu! Aku akan ambil bir.
Bagaimana kabarmu?
- Baik. Aku baik. - Ya?
- Kenapa kau tidak menjawab teleponku? - Maaf.
- Aku tidak tahu harus berkata apa. - Kau tidak merindukanku?
Tentu saja.
- Aku juga merindukanmu, bodoh. - Ya?
Lihat dua hal ini.
Jika pacarnya muncul, Reno dalam masalah.
- Lihat! - Kau membuatku liar.
- Aku tidak bisa mengatasinya. - Astaga.
- Hei, Casanova! - Aku tergila-gila padanya.
- Aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. - Hei, Barbie!
Kau orang yang bicara dengan kemeja bowling itu. Pantat gemukmu mirip Homer Simpson.
Lihatlah Francesca. Dia punya sesuatu yang istimewa.
Ya. Payudaranya bagus.
- Kau tahu dia punya pacar, kan? - Terserah.
Aku tidak cemburu. Kami akan ke Space hari Sabtu.
- Kami diundang? - Tentu.
- Oke. - Lihat, ini hari ulang tahunnya.
Aku ingin memberinya sesuatu yang istimewa. Seperti tas Chanel.
- Apa yang lucu? - Tidak ada.
- Itu hadiah yang bagus, kan? - Ya. Itu obat bius.
- Masalahnya, aku bangkrut. - Maka belikan dia boneka binatang.
- Ya. - Francesca adalah seorang ratu.
Aku tidak bisa membelikannya boneka beruang.
Itu sebabnya aku membuka toko perhiasan di Badalona.
Kupikir kita bisa melakukannya.
- Tidak, Reno. - Ya kita bisa.
Kubilang tidak.
Tidak mungkin. Ini terlalu cepat.
- Untuk apa kau menghabiskan uangmu? - Lihat ini.
Pembuatan Grill.
- Apa itu, Reno? - Gigi 24 karat.
- Apa? - Aku tidak terlihat jika kau memakai itu.
- Ini. - Sangat norak.
Aku merindukanmu, brengsek.
No comments yet. Be the first to leave one.