نخستین 200 خط.
SERIAL NETFLIX
Sayang.
Sepertinya kau
mengenalku.
Maaf.
Kukira kau orang yang kukenal.
Aku merasa bersalah tidak bisa mengenali orang.
Jadi, aku terbiasa pura-pura kenal.
Maaf. Aku pasti membuatmu salah paham.
Ayo masuk. Aku sudah tak sabar ingin melihat karyamu.
- Ayo, Woo-jae. - Baik.
Di mana Seo Woo-jae?
Woo-jae yang kau dan aku kenal…
Dia sudah tidak ada.
Seo Woo-jae yang itu sudah mati.
Awalnya, aku juga tidak percaya.
Gu Hae-won… Bukan.
Bu Gu.
Apa yang sedang kau rencanakan…
Kode telepon negara 353.
Aku mencarinya di seluruh Irlandia dengan nomor itu.
Selama itu, dia berbaring di rumah sakit.
Syukurlah ada yang membayar biaya rumah sakitnya.
Aku mencari tahu ke sana-sini. Kau tahu di mana ujungnya?
Tim Layanan Sosial Akademi Taerim.
Sekarang katakanlah.
Apa yang terjadi pada Woo-jae?
Sebentar. Lihat-lihat saja dahulu.
Baiklah.
Apa ada masalah?
Walau sering menunjukkan karyaku pada orang lain, rasanya belum terbiasa.
Kalau terbiasa, tidak lahir karya yang bagus.
Benar juga. Kalian sudah berkenalan? Dia Gu Hae-won.
- Dia istri Seo Woo-jae… - Aku tahu.
Dahulu…
Aku pernah belajar melukis dari mereka berdua.
Kalian guru dan murid?
Aku malu mendengar itu.
Dia menjadi seniman sukses, sementara aku hanya membuang waktu.
Respons untuk karya Seo Woo-jae bagus.
Apa sudah terjual?
Belum ada yang beli.
Aku tak mau menurunkan nilainya walau ini penjualan pertamanya.
Sepertinya butuh waktu.
Itu bagus.
Bagi seniman, seni itu prioritasnya. Setelah itu uang.
Benar.
Tunggu sebentar.
Kau bisa bicara begitu karena karyamu laku terjual?
Mumpung sudah datang, lihat-lihat saja.
Walau aku tak menyambutmu.
Kau pasti tidak tertarik dengan apa yang kuketahui.
Ini maksudmu saat kau bilang Seo Woo-jae sudah mati?
Menyebut orang di depanmu mati.
Sepertinya kau bisa mengatakannya.
Benar.
Bagiku dia orang yang pernah mati.
Kau terkejut, 'kan? Pada awalnya, aku juga begitu.
Apa yang kalian lakukan di sana?
Ya, aku naik sekarang.
Woo-jae, ayo pulang. Aku lelah.
Ayo.
Kali ini pun responsnya bagus.
- Pelan-pelan. - Bagaimana menurutmu?
Ya, karya kali ini luar biasa.
Itu kabar baik.
Terima kasih.
Tidak perlu khawatir.
Dia merawat karyamu dengan baik.
Apa yang sedang kau dan Bu Gu obrolkan di belakang sana?
Apa?
Tentang suaminya.
Aku baru tahu suaminya di bidang ini.
Kau sudah tahu?
Tidak. Aku tak tahu mereka akan datang walau tak diundang.
Benar juga.
Walau dia datang karena suaminya, tapi dia berani datang meski tahu itu pameranmu.
Dia luar biasa.
Bukan luar biasa, tapi tak tahu malu.
Buat apa berbicara dengannya?
Aku hanya penasaran.
Suaminya agak aneh.
Katanya itu efek kecelakaan.
Kau dengar kecelakaan apa?
Kalau kau sangat penasaran, tanya saja pada Bu Gu.
Hati-hati.
Putar balik di depan saja. Pelan-pelan.
Apa yang kau pikirkan?
Lukisan Bu Jeong.
Itu hanya lukisan,
tapi terdengar suara.
Bagaimana mungkin keluar suara?
Sungguh. Ada suara dari dalam lukisannya.
OBAT PENENANG
Terima kasih.
Kenapa? Ada apa?
Bukan apa-apa.
Aku menjatuhkan ini.
Ho-su baru tidur.
Maaf.
Ada pesan dari kurator.
- Dia akan datang? - Ya.
Walau ini galeri baru, ini kesempatannya mengurus pameran pasti tak mau dilewatkan.
Intuisinya bagus.
Dia menulis katalog sendiri dan bisa membantu kita.
Apa kita memilih dengan tepat?
Namun,
bukankah kau harus memberi tahu Pemimpin?
Walau kau anggap ini pameran terakhirmu dengannya,
tapi dia belum tahu kau membawa kuratornya.
Kurator berpindah galeri itu biasa.
Bilang saja dahulu.
Walau tahu, tapi saat itu terjadi…
Manusia mudah merasa dikhianati.
Baiklah. Terima kasih sudah membantuku.
Aku tidak membantumu. Aku ingin kita sukses bersama.
Tidurlah dahulu. Ada yang harus kukerjakan.
Baiklah.
SURAT DOKTER
SEO WOO-JAE BEDAH SARAF
DUGAAN ASTROSITOMA
AN MIN-SEO
- Ya. - Bu Jeong.
Setelah sesi tanda tangan, ada sesi tanya jawab
dengan pengunjung sekitar 30 menit.
- Halo. - Terima kasih.
- Siapa namamu? - Ji Won-u.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Selanjutnya, silakan.
Siapa namamu?
Seo Woo-jae.
Aku akan potretkan.
Silakan berdiri di sana.
PAMERAN SOLO UNTUK UNDANGAN JEONG HUI-JU
Akan kupotret. Satu, dua…
HAE-WON
Ada telepon dari seseorang bernama Hae-won.
Tolak saja. Aku bisa telepon lagi.
Satu, dua, tiga.
Kita semua punya jendela di dalam hati.
Tetap berada di dalam atau membukanya dan keluar.
Itu pilihan kalian semua.
Jika ada pertanyaan untuk Bu Jeong atau…
Silakan maju ke depan, Pak Seo.
Beliau seniman yang mengadakan pameran bulan lalu. Namanya Seo Woo-jae.
Aku penasaran.
Lukisan itu.
Di mana lokasi pemandangan ini? Aku penasaran.
Itu hanya padang rumput. Kenapa kau ingin tahu lokasinya?
Anginnya terlihat sejuk.
Apa mungkin…
Itu tempat yang aku tahu.
Tidak mungkin. Itu imajinasiku.
Kami menerima pertanyaan selanjutnya.
Ya, orang di belakang. Silakan.
PAMERAN SOLO UNTUK UNDANGAN JEONG HUI-JU
Di mana dia?
Di mana Gu Hae-won?
Aku datang sendiri.
Maaf.
Sepertinya aku membuatmu tidak nyaman.
Kau baik-baik saja?
Permisi. Boleh berfoto denganmu?
Ya.
Terima kasih untuk hari ini, Bu Jeong.
Mau makan bersama?
Maaf. Aku mau mencari udara segar dahulu.
Hui-ju juga tahu?
Kau memanggilku karena ini?
Kenapa seleramu selalu kampungan?
- Ibu! - Dia guru bermasalah itu, ‘kan?
Bukan membereskannya, kau malah bermain dengannya.
DIREKTUR UTAMA PARK YEONG-SEON
Ayahmu membeli tiket-tiket ini
meski hampir tak bisa berjalan.
TIKET DARI SEOUL KE ULSAN
Bahkan di usianya yang sudah 70-an,
dia tak bisa melupakannya dan ingin bertemu dengannya.
Dia sampai berlutut dan memohon kepada perawat
untuk membawanya ke sana.
Kurang ajar.
Jangan pura-pura tidak tahu.
Aku ibumu yang bertahan dengan keparat itu selama 40 tahun.
Walau kau anakku, tak ada maaf jika kau selingkuh.
Kekhawatiranmu tak akan terjadi. Jangan khawatirkan aku.
Hati-hatilah dengan orang yang menunjukkan itu.
Bagaimana galerinya?
Semua lancar.
Lancar atau tidak, laporkan semuanya.
Hui-ju adalah pelukis. Dia akan urus…
Namun, dia buta tentang bisnis.
Kau pikir melukis dan berbisnis itu sama?
Jika berinvestasi, dapatkan sesuai nilainya!
- Hentikan perkataan itu. - Memangnya apa?
Dia ke Inggris untuk bertemu Li-sa dan menetap tiga tahun.
Kau di sini dan mendukungnya selama itu!
Apa dia bertemu Li-sa?
Dia malah belajar di Irlandia…
Aku baru ingat.
Ho-su lahir di Irlandia, ‘kan?
No comments yet. Be the first to leave one.