نخستین 200 خط.
Inti dari hidup itu bukan komedi.
Melainkan tragedi.
Maksudku, nggak ada yang secara bawaan lucu
dari kenyataan hidup manusia yang pahit.
Oh, aku nggak setuju.
Filsuf justru bilang hidup itu absurd,
karena pada akhirnya, yang bisa kita lakukan cuma tertawa.
Harapan manusia itu konyol banget,
nggak masuk akal. Tapi...
Kalau kenyataan terdalam kita itu tragis,
maka pentas dramaku bakal lebih laku daripada milikmu.
Karena ceritaku menyentuh jiwa manusia dengan lebih dalam.
Ah, justru karena
tragedi menyentuh
bagian hidup yang paling menyakitkan,
orang-orang malah lari ke komediku...
buat pelarian.
Nggak, nggak, sebentar.
Tragedi itu menghadapi. Komedi itu kabur.
Lihat, maksudku...
Kalian ini,
apa sih sebenarnya yang sedang kita perdebatkan?
Apa kenyataan yang lebih dalam itu ada dalam komedi atau tragedi?
Siapa juga yang bisa menilai hal seperti itu?
Begini deh,
biar aku cerita sesuatu. Kalian nilai sendiri,
ini bahan untuk komedi atau tragedi?
Ini beneran kejadian, aku kenal orangnya.
Ceritanya begini, ada jamuan makan kecil.
Tuan rumah mau bikin terkesan salah satu tamu.
Tiba-tiba,
bel pintu berbunyi.
Tanpa diduga, seseorang muncul.
Laki-laki atau perempuan? Perempuan.
Aku akan ceritakan semua detailnya.
Kalian nilai sendiri: komedi atau tragedi?
Jadi, si tamu masuk, dan semua orang kaget,
terutama tuan rumah.
Ternyata si wanita itu punya masalah khusus...
Astaga, itu lucu juga sih.
Maksudku, dia nyelonong masuk tanpa diundang
pas mereka lagi makan.
Apa yang kamu ceritakan cocok banget buat komedi romantis.
Ya, karena kamu memang melihat dunia dari sisi komedi.
Tapi kamu melewatkan implikasi tragisnya,
semua kerumitan yang tersembunyi.
Nggak, aku justru melihat semuanya dari sisi yang sangat berbeda.
Aku lihat sosok yang sendirian,
seorang wanita yang mungkin baru saja turun dari bus.
Dia bawa koper kecil.
Mungkin dia sedang gugup mencari alamat.
Halo?
Siapa itu?
Halo?
Halo...?
Bisa saya bantu, Nona?
Saya mencari keluarga Springer.
Lantai paling atas.
Bagus banget.
Indah sekali.
Speakernya luar biasa.
Iya, kamu bisa dengar jelas
setiap detail kecil dari orkestranya. Hebat.
Ingatkan aku lagi kenapa aku nggak boleh minum white wine?
Setiap kali hamil, dia selalu nanya hal yang sama.
Ini "Concerto in D", kan?
Iya!
Wah, kamu emang jago soal Stravinsky.
Iya, musik ini cocok banget buat tema pertunjukan.
Lee?
Itu ide yang brilian.
Aku butuh bantuan buat sentuhan akhirnya.
Tolong ambilkan dua mangkuk besar ya?
Boleh kita makan sekarang?
Stok basa-basi manisku udah habis.
Gimana kabarnya?
Katanya sih aku cocok buat peran itu,
tapi si produser sialan maunya yang terkenal.
Aku nggak ngerti kenapa itu jadi masalah besar.
Padahal kamu bilang audisinya bagus,
dan juga bukan peran utama kan.
Waktu audisi pertama malah lebih bagus.
Pas dipanggil lagi, aku nggak tahu kenapa jadi aneh.
Dan aku tahu itu bukan peran utama, Laurel.
Dia nggak punya pengaruh, ya?
Mereka maunya nama besar. Aku bukan siapa-siapa.
Kamu juga kan nggak nikahin nama besar.
Tadi Sally bilang dia suka banget dengan tempat tinggal kalian.
Udah berapa lama tinggal di sini?
Baru enam bulan.
Masih belum selesai juga, sih.
Masih banyak yang pengen kami lakukan.
Kami furniturnya beli pelan-pelan,
karena semua tabungan habis buat beli apartemennya.
Tapi kamu harus akui kita nggak mungkin
terus tinggal di satu kamar.
Pianonya aja ngabisin ruang tamu.
Kita hidup di atas kemampuan.
Aku jadi cemas.
Tapi Laurel yakin Tuhan pasti mencukupi.
Mereka miskin, tapi bahagia.
Yang jelas, miskin.
Kamu kerja apa, Peter?
Aku pengacara. Ah.
Tolong, jangan ada lelucon ya.
Kamu rasa musiknya terlalu keras nggak?
Aku lihat kamu malam itu,
dengerin Mahler sambil nangis.
Kamu harus lihat dia. Jam dua pagi.
Dia lagi dengerin Mahler nomor dua,
air matanya ngalir terus.
Dia cantik banget waktu itu.
Aku pengen peluk dia. Uh-huh.
Tapi aku harus bangun pagi-pagi
buat syuting iklan deodorant, jadi...
Yah, paling nggak itu kerjaan, kan?
Oh, tadi kayaknya ada yang pencet bel deh.
Iya? Kamu dengar juga?
Jadi kalian semua kenal dari mana?
Apa hubungannya?
Aku dan Cassie temenan dari kecil.
Kami anak-anak kecil dengan rok kotak-kotak.
Ah, lucu juga.
Aku ketemu Lee di Northwestern.
Dia bintang teater, atlet ganteng.
Semua cewek ngejar dia.
Tapi Laurel yang dapet.
Melinda?
Hai.
Melinda?
Hai.
Melinda, hai.
Ya ampun.
Oh, Tuhan.
Cassie. Oh.
Aku... aku kaget banget.
Sini, biar aku bawakan ini.
Astaga, lihat dirimu.
Kamu kelihatan begitu...
Jangan.
Jangan bilang apa yang kamu pikirkan.
Aku naik bus, tahu?
Naik Greyhound sejak hari Selasa,
jadi pasti aku kelihatan kayak kapal karam Hesperus.
Bus? Dari mana?
Maksudku... ngapain kamu ke sini?
Aku sering pindah-pindah.
Aku harus terus jalan.
Keadaannya berkembang begitu cepat sehingga...
Nggak apa-apa kalau aku merokok?
Aku cuma...
nervous aja tiba-tiba nyelonong ke sini gini.
Kenapa nggak duduk dan makan bareng aja?
Ini Jack dan Sally Oliver.
Hai. Hai.
Aku Melinda Robicheaux.
Pakai nama belakang ibuku lagi.
Itu nama Prancis. Dia orang Paris.
Astaga, kamu kayak turun dari bulan.
Perlu aku ambilin kursi?
Aku butuh minum.
Sampanye atau white wine.
Tapi jujur aja, aku sekarang lebih suka single malt scotch.
Ada kenalan yang ngenalin aku.
Dan, hmm, sebenarnya aku harus bersihin diri dulu...
Tapi kalau bisa aku minta scotch satu gelas dulu aja.
Dan lihat diriku ini. Astaga. Aku butuh mandi air panas.
Iya, oke, silakan...
Permisi sebentar ya.
Silakan makan aja dulu.
Ini benar-benar di luar dugaan.
Bener banget.
Kamu nggak ada firasat dia bakal datang?
Dulu dia udah gila, sekarang juga masih gila.
Lihat tatapan matanya?
Dia baru turun dari bus, lho.
Tadi kamu nanya kita semua kenal dari mana, kan?
Melinda itu
musketeer ketiga kami.
Kami bertiga satu sekolah dulu.
Udah lama banget nggak dengar kabarnya.
Iya, dia lagi banyak masalah pribadi.
Dia pernah kirim surat, katanya mau ke New York
entah dari Chicago atau Indiana, aku lupa,
dan tanya bisa nggak dia numpang tinggal sebentar.
...entah dari Chicago atau Indiana, aku lupa,
dan tanya bisa nggak dia numpang di sini.
Laurel bilang oke.
Kalau aku sendiri, aku...
Ini bukan waktu yang pas buat bahas itu.
Kita makan aja, yuk, dan ganti topik.
Ya, emang mau gimana lagi?
Kita semua pernah kok temen atau saudara
datang-datang tanpa kabar dulu.
Ingat tante kamu yang...
Aku udah siapin tempat tidur.
Aku rapihin kamarnya, eh dia malah nggak datang seperti yang dijanjikan.
Jadi kami coba hubungi dia. Nggak ada jejaknya sama sekali.
Lalu dua bulan kemudian, tiba-tiba dia telepon
pas kita lagi ngadain pesta makan malam.
No comments yet. Be the first to leave one.