نخستین 127 خط.
Selamat malam.
Ternyata aku bisa datang.
Maaf kalau agak telat.
Tak masalah. Silakan duduk.
Kau duduk di sini saja, silakan.
Aku ambil kursi dulu.
Si bocah itu baik-baik saja?
Tak tahu, deh.
Apa itu foto waktu tahun pertama?
Jadi kangen.
Ya, itu bisa dibilang buku fotomu, sih.
Kau diam-diam memotretku, ya?
Yang penting fotonya bagus, 'kan?
Baiklah, ayo kita bersulang.
Sip! Aku menang!
Aku mau bikin kopi dulu.
Bantu dong, Uozumi.
Oke.
Aku mulai serius, nih.
Nah, ini.
Ini kalung yang tadi kaukasih.
Aku bungkus ulang.
Nanti kau kasih ke Shinako, ya.
Tapi...
Kau tak bawa hadiah yang lain, 'kan?
Karena aku yang kasih, jadinya ini bukan barang terkutuk lagi.
Ah, tapi tolong jangan kasih tahu Shinako, ya?
Semangat!
Maaf sudah merepotkan.
Meski agak cepat, Selamat Tahun Baru.
Terima kasih.
Ini ada bingkisan.
Kalau sudah sampai rumah, dimakan, ya.
Jangan kebanyakan berpikir, buruan kasih hadiahnya.
Aku jadi tak enak.
Santai, semoga kau suka sama bingkisannya.
Aku bantu doa dari sini.
Terima kasih.
Maaf bertamu sampai larut malam begini.
Tak masalah.
Taka juga senang kau bisa datang.
Lain hari mampir lagi, ya?
Ya.
Aku kembali.
Mas Kuma?
Dah.
Sudah mau pulang?
Ya. Lain waktu aku akan mampir lagi.
Mbak tak apa-apa?
Maaf, aku lagi banyak pikiran.
Kepikiran Mas Kuma, ya?
Tadi suasananya agak canggung, sih.
Dia lagi ada masalah keluarga.
Kayaknya bakal pulang kampung ke Kyushu.
Dia tak tinggal di sini lagi?
Belum tahu.
Padahal dia baru lulus ujian masuk kampus, tapi kayaknya tak diambil.
Sayang banget.
Ya, mau bagaimana lagi?
Menjadi dewasa itu
berarti harus lindungi banyak hal. Begitulah hidup.
Padahal jelas-jelas si mbak lagi sedih.
Sebelum tahun baru nanti bakal turun salju tidak, ya?
Tak tahu, deh.
Kalau di Tokyo biasanya turun sekitar Februari.
Aku suka salju, tapi tak kuat dingin.
Kalau aku daripada panas, mendingan dingin, deh.
Tak terasa tahun ini sudah mau berakhir saja.
Aku suka masa- masa begini ini.
Kenapa?
Menjelang akhir tahun, semua hal terasa kayak mau diatur ulang.
Aku lebih suka malam tahun baru daripada hari tahun barunya.
Waktu tahun berganti, rasanya membosankan.
Wah.
Kalau aku biasanya bereskan kontrakan sekalian renovasi.
Setiap tahun selalu begitu.
Eh, masa?
Terima kasih sudah antar pulang.
Ya.
Dadah.
Ya.
Anu, Shinako...
Apa?
Anu...
Sini tanganmu.
Buatmu.
Eh? Tapi aku tak siapkan apa-apa.
Tak masalah.
Jangan terlalu dipikirkan.
Aku kurang tahu kesukaanmu.
Semoga kau suka.
Boleh kubuka?
Boleh.
Wah, manis banget!
Kalung biduri bulan, ya?
Terima kasih. Aku suka banget.
Sip.
Kau yang pilih ini?
Maaf.
Sebenarnya aku dipaksa beli itu sama senior yang baru ditolak.
Kayaknya itu tak etis, ya?
Eh?
Tidak.
Barusan terdengar kayak kau banget.
Aku tak bisa bayangkan kau lagi pilih aksesoris buatku.
Ditambah saat kasih ini ke aku, kau kelihatan canggung banget.
Terima kasih banget, ya.
Rasanya aneh juga.
Soalnya selama ini aku belum pernah kasih hadiah ke cewek, sih.
Kalau begitu, sampai jumpa tahun depan.
Uozumi.
Aku tak jadi pulang ke Kanazawa.
Jadi...
Mau malam tahun baruan bareng?
Malam ketika aku ditolak Shinako.
Habis itu jatuh dari sepeda.
Kalau tak salah, di sini, ya?
Hidup itu memang tak bisa ditebak.
Selamat Natal.
Kau lagi apa?
Aku bawakan donat, nih.
Sejak kapan kau menunggu di sini?
Sini, pegangan sama aku.
Kalau duduk di situ terus, nanti kedinginan.
Akhirnya bisa bertemu.
Selama ini aku menahan kangen banget.
Lepaskan!
No comments yet. Be the first to leave one.