نخستین 200 خط.
Murat, ini sudah siang!
Murat, bangun atau aku akan memotong janggutmu!
Murat, jangan bercanda...
HARI PERTAMA 3 OKTOBER, 2001, BREMEN
masih memiliki arti khusus bagi Jerman,
meskipun kita merayakannya hari ini di bawah bayang-bayang tanggal lain.
9/11 telah menunjukkan pada kita
bahaya dan ancaman yang dihadapi kebebasan...
Murat lupa membawa ponselnya.
Sayang, kau tahu dia di mana?
Mungkin Attila tahu.
- Kau tahu Murat di mana? - Menurut Ibu di mana?
Tempat biasanya.
Ibu, telepon!
Angkat!
- Kemarin aku lihat Murat. - Kalau tadi malam?
- Dari Murat, dia di Frankfurt! - Murat?
Frankfurt? Pergi!
Murat, di mana kau? Makan siang sudah siap.
Hah?
Apa?
Tunggu, dia terlalu berisik.
Katakan lagi, kau di mana, sayang?
Kau melakukan apa?
Tidak, Murat, kau harus pulang sekarang! Aku melarangmu!
Murat, jangan! Kumohon!
Pulanglah, kondisi ayahmu kurang baik.
Sungguh, aku janji.
Tanya saja pada Cem.
Murat?
RABIYE KURNAZ VERSUS GEORGE W. BUSH
Kita harus bilang kita ingin belajar Alquran.
- Lalu? - Keluarkan kerudung.
Kak, kau gila?
Masukkan lagi.
Kau sudah gila, ya? Apa yang kau rencanakan?
Kau tahu orangnya?
Dia selalu bicara tentang perang di masjidnya!
- Sudah sampai. - Tinggalkan pisaunya atau aku tidak ikut!
Lakukan saja yang disuruh, kau lebih muda dariku.
Bisa tidak kau berhenti bilang begitu?
- Jangan berdebat denganku! - Ayo!
- Tapi janji kau tidak akan teriak. - Oke, aku janji.
Kelas untuk perempuan dan anak-anak tiap hari Selasa dan Kamis.
Apa kau bisa bahasa Arab?
Belum.
Kalau begitu datanglah ke Quran 1 di hari Selasa.
Ada pertanyaan lain?
Itu...
Aku mau Murat kembali.
Aku ibunya Murat.
Murat yang mana?
- Maksudnya... - Murat Kurnaz.
Dia selalu di sini.
Maaf, aku tidak kenal dia.
Dan Sedat? Sedat Bilmen? Kau juga tidak kenal dia?
Tidak.
Aneh, kau ada di rumahnya kemarin. Murat juga.
Kau merencanakan perjalanan, kata istri Sedat.
- Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. - Jangan bohong!
Ini salahmu mereka pergi ke Karachi!
Tolong tenang.
Minta dia untuk pulang.
- Kenapa aku? - Karena kau yang membawanya ke sana!
Kenapa aku mau melakukan itu?
Ini, telepon dia. Kau tahu di mana dia.
Apa sekarang aku jadi konsulat?
Kuberi kau waktu tiga hari! Tiga!
Lalu aku akan pergi ke kantor polisi
dan melaporkan kalau kau sudah mencuci otaknya
mempengaruhinya lalu membawa dia ke sana.
Ayo!
Kak...
Ayo kita ke polisi.
Kenapa? Murat belum melakukan apa-apa.
Belum.
Jangan membuat sesuatu terjadi!
Aku kan cuma bilang!
Dia bukan anggota Taliban.
- Tapi dia kelihatan seperti Taliban. - Dan kau kelihatan seperti apa?
Seperti penata rambut Jerman.
Lucu sekali.
Itu parfum baru?
Aku suka.
HARI KE-5
Benar, itu dia. Itu Murat.
- Yang kanan? - Iya.
Yang satunya adalah temannya, Sedat.
Mereka mau pergi ke mana?
Sayangnya kami tak punya video lain lagi.
Apa yang bisa kau lakukan?
Apa kau bisa pergi menjemputnya? Kumohon.
Dia sudah pergi lima hari, dan belum menelepon sekali pun.
Sebentar.
Polisi federal mengatakan ada dua orang warga negara Turki yang menuju ke Karachi.
Apa putramu orang Turki?
Sudah kukatakan padanya berkali-kali, "Rumah adalah di mana perutmu kenyang,
buatlah paspor Jerman." Lalu dia bilang, "Baiklah, minggu depan."
Tertulis di sini salah satunya sudah ditangkap
dan berada dalam penjagaan di Hanover.
Alhamdulillah, ayo jemput dia.
Ditangkap?
Karena ada utang yang belum dibayar, namanya Sedat Bilmen.
Kelihatannya putramu terbang ke Karachi.
Bagaimana aku bisa membawanya pulang? Allah!
Dia sendiri di sana.
- Apa kalian punya kerabat di sana? - Kami? Jelas tidak, kami orang Turki!
Lalu apa yang dia lakukan di sana sekarang?
Dia ingin belajar Alquran.
Istrinya akan datang dari Turki bulan Januari.
Dia ingin memperkuat keyakinannya sebelum itu.
Jadi dia menganggap agama penting?
Belakangan ini dia tergila-gila dengan islam.
Kami tidak seperti itu, tapi dia selalu ada di masjid,
dan dia menumbuhkan jenggot.
- Penuh? - Iya.
Masjid mana? Abu Bakar?
- Iya. Imamnya sangat tidak sabaran. - Abdul Faraq?
Jadi Anda kenal dia?
- Rabiye, diam. - Dia mencoba menolong kita.
Tidak!
Kau tahu apa lagi yang tertulis di sini?
Petugas di bandara ingin membantu mereka berdua
lalu menghubungi saudara Sedat
untuk menanyakan apa dia mau membayarkan utangnya.
- Anda tahu dia menjawab apa? - Tidak.
"Aku tidak mau melunasi utangnya.
Dia cuma ingin ke Afghanistan dan melawan orang Amerika."
Apa?
Hari ini aku akan mengalahkan Murat!
Dia pikir begitu!
Bocah lancang!
Dia sangat bersemangat, ya, Cem? Tapi kau juga.
Sekarang waktunya tidur. Waktunya tidur.
Kau punya fotomu sendiri?
Untuk apa?
Agar kau selalu bersamaku.
Kenapa kau tidak bilang apa-apa?
Bagaimana aku tahu dia akan pergi besoknya?
Allah! Kalau saja kau bilang.
HARI KE-92 JANUARI 2002
Rabiye?
- Ya? - Kalau kecepatanmu hanya sebegini,
tidak akan ada efeknya.
Ini kurang cepat?
- Kurang, Rabiye. - Baiklah.
Apa kau perlu bantuan? Bagus sekali.
- Berapa kecepatanmu? Enam? - Iya.
Kalau begitu aku mau kecepatan tujuh.
Apa ada gelar griya di sini?
Katanya ada anggota Taliban yang tinggal di sini?
Apa? Harusnya aku tahu tentang itu.
Apa Anda ibunya? Apa Anda tahu putra Anda ada di Kandahar?
Murat? Kanda-apa?
Kandahar, Afghanistan. Bagaimana menurut Anda?
- Bu Kurnaz, putra Anda dipenjara. - Apa? Kenapa?
- Apa Anda bisa memberi tahu... - Cukup!
Aku tidak tahu apa-apa!
Aku Rabiye, Ibu Murat.
Akan kujawab pertanyaan kalian.
Tapi satu-satu.
Dan jangan injak tanamanku!
- Maaf - Astaga!
Lihat, Ibu masuk koran!
"Anggota Taliban dari Bremen"?
"Matanya merah karena menangis dan tangannya gemetar
Rabiye K., 44, masih tak bisa memahami apa yang telah dilakukan putranya."
- Ibu? - Apa?
Aku tak pernah bilang begitu!
Si jurnalis wanita sangat baik,
dia bilang dia punya anak seumur Cem.
Tidak lagi, kau dengar? Tidak akan pernah lagi!
Dan aku baru 43!
Jangan bicara dengan orang lain!
Tidak dengan media, tidak dengan polisi!
Apa yang akan terjadi pada Murat, Ayah?
Kalau dia tak melakukan hal buruk, tak akan terjadi apa-apa.
Baik.
HARI KE-120 FEBRUARI 2002
- Semoga harimu menyenangkan. - Terima kasih.
Sedat?
Bodoh!
Ini salahmu!
Kau yang mempersuasinya. Sekarang kau di sini dan dia...
- Kau bicara apa? - Apa kau tahu Murat ada di mana?
Kukutuk kau!
Setidaknya bilang kalau kau menyesal!
- Bu Kurnaz! - Ini salahmu!
- Apa? - Kau terlalu bergantung padanya.
- Beraninya kau! - Dia harus pergi.
Murat sudah sebulan dipenjara gara-gara kau!
- Tenang! Hei! - Tenang? Bagaimana bisa?
Apa apa?
Bu Kurnaz?
Marc Stocker, saya jaksa wilayah yang ditugaskan untuk kasus putra Anda.
Jaksa wilayah, bagus.
- Apa Anda bisa mengembalikan Murat? - Ikut saya.
Anda orang penting, 'kan? Kalau Anda bilang pada mereka...
Tidak sesederhana itu. Silakan duduk.
Kenapa tidak? Murat tidak melakukan apa-apa.
No comments yet. Be the first to leave one.