هماهنگ با نسخه‌های زیر

아는건ㆍ별로 없지만ㆍ가족입니다 👨‍👩‍👧‍👧 MyㆍUnfamiliarㆍFamilyㆍE03ㆍNEXT
ناشر nungstagram
03. Manual translate | 01:12:44 dan versi HDTV NEXT ada iklan durasi 01:14:58 | Sampaikan kritik dan saran ke IG @nungstagram_ atau Twitter @nurqodriah | Kalau suka dengan subtitle ini, jangan lupa rate good-nya ya. Terima kasih 🙂

برچسب‌ها

other
تاریخ انتشار: 2020-06-10
تعداد دانلود: 22
مخصوص ناشنوایان: No

پیش‌نمایش زیرنویس Indonesian

نخستین 200 خط.

Si Bos...

punya tunangan yang akan dia nikahi.

Kau tahu kan, seberapa kecilnya industri penerbitan ini.

Ada orang dari kantor pusat yang bilang padaku...

kalau Si Bos tinggal dengan seorang wanita di Amerika.

Dan mereka sudah bersama selama... 9 tahun.

Pokoknya, karena dia sudah di Korea, dia akan menikah di sini.

Duh! Gak nyangka nih Si Bos!

Omonganku barusan, sebelah mana bagian lucunya?

Ya gitu deh.

Kau anggap aku lelucon ya?

Karena aku sering bergosip...

dan bicara asal-asalan, di hari Senin pagi seperti ini?

Aku ini wanita yang pernah dicampakkan, 9 tahun lalu.

Jadi, aku masih trauma.

Onni seperti menabur garam diatas lukaku.

Itulah kenapa aku hanya bisa tertawa.

Tra-u-ma! Auugggghhh!!

Aduh! Dasar mulut emberku yang tak ada akhlaq! Maafkan aku Eunhee :(

Dia memang seorang "Mas Fakboi".

Tapi kelasnya sudah selesai.

[Aku akan mampir ke kantormu. Ayo kita makan siang bersama.]

(Aku akan mampir ke kantormu. Ayo kita makan siang bersama.)

Aku bertanya...

karena aku takut kalau nanti membuat kesalahan... Tapi...

apakah anak sulung kita...

mengetahuinya?

Eun Joo?

Apa yang dia tahu?

Anyong haseyo.

- Anyong haseyo. - Anyong haseyo.

Kalau aku...

bukan Ayah kandungnya.

apakah dia tahu?

Eun Joo tidak mengetahuinya.

Kita...

sudah sepakat, untuk tidak membahasnya lagi, selamanya.

Maafkan aku.

Aku hanya takut kalau aku berbuat salah.

Apa saja yang Anda lakukan sampai bisa jadi begini?

Tapi sepertinya kita bisa mengejar deadline-nya.

Ada apa jam segini pulang ke rumah?

Kau mau pergi?

- Ya, anak sulungku. - Telpon saja dulu.

Ayah.

Ya.

Ayah baik-baik saja? Sudah boleh pulang?

Ya, tentu saja.

Tidak usah khawatir. Ayahmu ini baik-baik saja.

Nanti malam aku akan ke rumah.

Bagaimana dengan Ibu?

Ibu... baik-baik saja?

Ya, baik-baik saja.

Apa Ayah sudah boleh pulang?

Ya.

Ayah, apakah masih berumur 22 tahun?

Sampai ketemu nanti di rumah.

Huuufff sepertinya masih 22 tahun.

Ibu, jangan masak apa-apa untuk makan nanti. Kita pesan Go-food saja.

- Baiklah. - Aku mau bicara dengan Ayahku yang masih muda.

Ibumu ada di sebelahku.

Tolong berikan ponselnya ke Ibu.

Aku datang.

Ibu pasti kelelahan, jangan repot-repot masak untuk makan.

Aku akan beli daging, nanti kita makan daging saja.

Ayah kan suka makan daging.

Baiklah.

Ayah! Selamat sudah boleh pulang!

Sampai ketemu nanti di rumah!

Ya, sampai ketemu nanti malam.

Ternyata laptopmu ketinggalan.

Padahal bilang saja padaku untuk membawakannya.

Pasti sudah banyak pasien yang mengantri.

Aku sudah makan siang lebih awal.

Sekarang aku bekerja, sebagai seorang freelance.

Saat ada klien yang sulit untuk dilayani,

kantor akan meminta bantuanku.

Sejak kapan?

Sudah lumayan lama.

Ternyata benar, kau tidak sedang menulis.

Tapi kenapa tidak bilang padaku?

Iya juga? Kenapa aku tidak bilang padamu ya?

Apa tidak akan telat?

Anu...

Klien yang ini memang agak ribet.

Dan aku sedang dikejar waktu.

Kita bicara nanti saja.

Apa ada yang bisa dibacarakan nanti?

Kalau kau mau bekerja, ya lakukan saja.

Karena alasan ini, makanya aku tidak memberitahumu.

Karena kau sama sekali tidak mau tahu urusanku.

Bukan...

Bukan hanya tidak mau tahu urusanku saja.

Kau sama sekali tidak mau dengan urusan di dunia ini.

Lama-lama kau tambah aneh.

Apakah dari dulu kau memang begini?

Melihatmu jadi sangat sensitif. Pasti benar kau sedang banyak pekerjaan.

Katanya sudah telat.

Ya, aku terlambat.

Sudah terlambat.

Sangat terlambat.

Aku tidak bisa pergi dengan perasaan seperti ini.

Daripada aku terlihat cemberut di depan klien-ku,

lebih baik selesaikan ini dulu dan datang agak terlambat.

Apanya yang harus diselesaikan?

Kau itu bukan orang yang tidak pandai mengendalikan emosimu.

Kau merahasiakan sesuatu dariku, kan?

Apa kurang pas kalau disebut sebagai rahasia?

Apa kau punya masalah yang tidak bisa kau beritahukan padaku?

Pasti ada.

Aku tahu, pasti ada.

Katakan...

Aku akan menolongmu.

- Menolongku? - Ya.

Lega rasanya.

Kalau nanti aku punya masalah yang bisa kau selesaikan saat itu juga,

akan kuberitahu nanti.

Apakah sebuah pertolongan dari keluarga, sangat mengganggumu?

- Cukup. - Menolongmu, aku batalkan.

Tapi aku akan mendengarkanmu.

Kau bisa katakan padaku, kapanpun.

Jangan lupa kalau malam ini, kita akan berkunjung ke rumahku.

Ayah, ayo naik.

Oh, aku akan naik dengan Ibumu.

Tunggu sebentar ya.

Ibu dimana?

Itu disana.

Ibu sedang menelepon.

Silakan naik.

Ayo naik.

Ibu telponan dengan siapa? Nuna?

Bukan.

Bukan Nuna, lalu siapa?

Memangnya yang Ibu telpon hanya kakak-kakakmu saja?

Bukan gitu...

Ibu telponan sama siapa, sampai membuat Ayah harus menunggu?

Magnae, Ayah bukan di kondisi yang sampai tidak bisa

untuk berdiri menunggu di pinggir jalan.

Pusat komunitas yang menelepon dan bertanya, kenapa tidak bisa hadir hari ini.

Pusat komunitas?

Memangnya pusat komunitas itu sekolah?

Kenapa sampai mengecek kehadiran seperti itu?

- Siapa yang ada di pusat komunitas itu? - Kalau Ibu bilang, memangnya kau tahu siapa?

Menyetir saja dengan hati-hati.

Pusat komunitas itu tempat untuk apa?

Tempat untuk belajar ini dan itu.

Suk-ssi belajar apa disana?

Belajar apaaaa???

Beritahu aku Suk-ssi, belajar apa disana?

Aku belajar sastra.

Suk-ssi memang suka membaca buku.

Juga pandai berbicara.

Aku pernah bilang, untuk coba membuat puisi.

Iya kan?

Suk-ssi belajar membuat puisi disana, iya kan?

Tolong jangan terus menerus memanggil aku "Suk-ssi".

Aku sudah lupa.

Kakak beradik tukang manyun.

Aku sangat ingin Suk-ssi bisa pakai baju ini.

Aku masih bisa belikan kalau harganya segini.

Atau nanti aku akan marah.

Si tukang manyun yang suka marah.

Aku mau Suk-ssi makan tiga sendok lagi.

Tadi makannya terlalu sedikit. Seperti burung yang mengacak-acak makanannya.

Makan sedikt lagi ya.

Si tukang manyun yang suka memohon.

Terlalu tebal, sampai tidak bisa dilipat.

Si tukang manyun yang berbangga hati.

Kenapa aku tidak boleh memanggilmu Suk-ssi, padahal namamu itu memang Suk-ssi?

Disini!

Kenapa ngumpet disitu?

Aku bukannya ngumpet,

tapi mau melindungi privacy-mu dari teman-teman kerjamu?

Gak apa-apa sih kalau sampai ada gosip...

Aku gak jelek-jelek amat, kan?

Ngapain kesini?

Jangan bilang... pesanku tadi membuatmu khawatir, sampai kau datang kesini?

Mas Fakboi memang beneran seorang fakboi, jadi aku harus...

aku harus khawatir, kan?

Ya makanya, ngapain kesini?

Buku tentang meditasi itu, kapan diterbitkannya?

Buku itu? Kami baru mulai membuatnya, kenapa?

Aku sudah membuat total 10 video promosi...

untuk di posting di sosmed, tapi aku belum dibayar sepeserpun.

Mereka bilang baru akan bayar, kalau sudah mulai promosi...

saat bukunya sudah diterbitkan nanti.

Itu pasti karena mereka tidak paham cara kerjanya.

Coba bicarakan lagi.

Aku sudah minta bayaran 30%-nya saja dulu,

tapi mereka keukeuh nanti saja kalau bukunya sudah terbit.

Aku jadi kesal dan akhirnya datang kesini menghampirimu.

Tapi amarahku mereda saat perjalanan menuju kesini.

Butuh berapa?

Mau apa tanya-tanya?

Mau aku pinjemin duit?

- Kenapa? - Memangnya kau banyak duit?

Aku bisa ambil pinjaman.

Kau masih tidak tahu apa-apa tentang uang.

Traktir aku saja.

Kalau kau gak ada ada duit, apa adikku juga gak akan digaji?

نظرات

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left