نخستین 185 خط.
Oh, selamat malam.
Kalian tahu, ini datangnya sepertinya agak mengejutkanku.
Aku dulunya berpikir semua meja biliar itu lonjong.
Aku rasa itu hanya benar di Hollywood.
Cerita kita malam ini akan jadi agak cenderung berbeda.
Ini sebuah kisah misteri dan intrik dalam sebuah kereta kilat antar benua.
Itu berjudul...
Judulnya sepertinya aku lupa. Itu...
Kau menjatuhkan kiumu.
Judul drama malam ini itu Pas Jalan.
Terima kasih banyak.
Chyrus Collection
Masuk. Masuk.
- Permisi, tiket, tolong. - Oh, ya.
Tiket, paspor...
surat pas jalan dari Presiden Stoska.
Kalian takkan membacanya?
Ini memberitahukan semua tentangku, dan kenapa aku di negara kalian.
Aku tahu dengan baik sekali kenapa kau di sini, Nona Prescott.
Kau menulis artikel tentang negara kami buat surat kabar Amerika...
dengan persetujuan Presiden Stoska sendiri.
Aku bawa salinan suratnya di sini.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Gerbong makannya sudah buka.
Kau menikmati kunjunganmu kemari?
Ya, aku merasakan waktu yang menakjubkan. Aku sudah melihat setiap kesopanan.
Aku sedih kau akan tinggalkan kami begitu cepat.
- Kau akan sampai Furtburg tengah malam. - Tengah malam?
Kemudian kau akan lanjut ke Jerman Barat.
Keretanya bakal dicek benar-benar sepenuhnya di perbatasan...
tapi kupikir kami bisa atur kau terganggunya sesedikit mungkin.
Sungguh mengagumkan.
Kau bawa map militer, foto area-area terlarang...
- dokumen resmi? - Tidak.
Ini bakal memberitahukan petugas bea cukai di perbatasan...
kopermu sudah diperiksa...
dan kau takkan mengalami kesulitan untuk membukanya.
- Terima kasih banyak, baik sekali dirimu. - Sama-sama, nyonya.
Oh, Jan Gubak. Aku tak tahu kau di kereta.
Aku bepergian dengan menyamar, Kamerad.
- Begitu. - Petugas?
Siapa namanya? Dia salah satu bintang film kalian?
Oh, bukan, nyonya. Dia pahlawan nasional besar kami.
Dia pastinya populer. Tadi di stasiun sana...
ada kerumunan orang mengelilinginya. Anak-anak...
Kau tahu, dia kapten tim nasional sepak bola kami.
Itu dia yang memenangkan kami kejuaraan dunia tahun kemarin di Swiss.
Begitu.
Dia sebenarnya dianggap pemain sepak bola terbesar yang masih hidup hari ini...
bahkan menurut komentator olah raga kapitalistis kalian.
Mohon permisi, aku ingin minta tanda tangan buat anakku.
Oh, ya.
Selamat malam, Nona Prescott. Sampai ketemu di perbatasan.
Selamat malam.
Masuk.
- Nona Prescott, boleh aku masuk? - Ya, masuk.
Kau mau biarkan pintunya terbuka?
Ya, itu mungkin ide bagus.
Aku selalu merokok terlalu banyak ketika aku lagi kerja. Duduk.
Kau reporter Amerika yang menulis tentang negara kami?
Ya, aku tepat di tengahnya sekarang.
Aku lihat fotomu di surat kabar...
bersama Presiden Stoska, di teater balet, mengunjungi Memorial Perang kami.
Kau punya banyak pakaian.
Biasa-biasa saja, menurutku.
Kau punya banyak stoking juga, dan banyak pakaian dalam?
Hmm?
Apa kau bilang?
Aku ingin membeli sepasang stoking.
Atau mungkin rok dalam atau apa...
bila kau cukup berbaik hati menjualnya padaku.
Kau tahu, aku hampir tak berpikir itu bakal pantas buatmu.
Itu bukan untukku. Kau tahu, aku dalam perjalanan ke Munich...
di mana adikku di rumah sakit.
Aku ingin membelikan dia sesuatu sebelum menaiki kereta...
tapi semua toko tutup. Aku lupa itu hari libur nasional.
Makanya sekarang aku bawa 300 Kronen di sakuku...
dan tanpa kado buat adikku Zinka.
Tak bisa kau membelikan dia sesuatu di Munich?
Tapi aku bakal tak bawa uang di Munich.
Kau tahu, kami hanya diperbolehkan membawa 100 Kronen ke luar negeri.
Dan bila aku bawa lebih banyak...
maka aku harus tinggalkan ke petugas bea cukai sampai kembalinya aku.
Ya, aku lupa regulasi ketat perbatasan kalian.
Oh, ya, aturan, regulasi...
izin, dan kuesioner.
Begitulah sepenuhnya pemerintahan, untuk membuat kehidupan kami lebih sulit setiap hari.
Aku suka kejujuranmu, tapi...
tidakkah kau berpikir itu berbahaya mengkritik pemerintahanmu?
Oh, aku tahu. Semua orang terus memberitahukanku untuk terus menutup mulutku.
Tapi aku tidak takut.
Tidak selama aku kapten tim nasional sepak bola.
Sekarang, bagaimana dengan transaksi bisnis kita?
Oh, ya. Mari lihat apa yang dijual hari ini.
Rok dalam bekas, syal...
Sempurna. Sepasang stoking baru. Ekstra tipis.
Ini bagus sekali.
Berapa?
Itu bakal buatmu mengeluarkan...
satu foto dirimu dengan seragam sepak bolamu...
dengan inskripsi:
"Buat Mary Prescott. Terima kasih buat stokingnya."
- Siapa namamu? - Gubak. Jan Gubak.
Aku akan kirimkan fotonya.
Tapi itu masih menyisakanku 200 Kronen untuk dihabiskan.
Aku tahu. Kau tamuku buat makan malam malam ini.
Oke?
Oke.
- Sekarang? - Sekarang.
Dan di sinilah aku, dengan satu menit untuk bermain dalam pertandingan...
dan skornya 3-3.
Aku menemukan sebuah celah antara senter Argentina dan kiri dalam.
Melihat dua gelandang tengah Argentina maju...
aku dengan cepatnya mengoper bola ke kanan luarku...
Kemudian Dugovitch, dia membawa bolanya ke garis 11 meter.
Tapi dia terlalu jauh. Makanya dia mengoper bolanya balik ke Jan.
Dia tahu kejuaraan dunia tergantung pada gerakan dia berikutnya.
Dia tak mengambil resiko sama sekali.
Dia mengarahkan bolanya dengan kepalanya ke gawang...
masuk ke jaring bersama bolanya.
Sekarang pertandingan ini berakhir, boleh aku garami dagingku?
- Maaf. Tentu saja. - Terima kasih, madam.
Izinkan aku perkenalkan diriku. Profesor Mihajl Klopka.
- Apa kabar? Namaku Mary Prescott. - Aku tahu namamu, madam.
Setelah kunjunganmu ke Presiden kami, kau seterkenal seperti Kamerad Gubak.
Kalian berdua bakal memberiku kehormatan besar...
bila kalian mengizinkanku membelikan kalian minuman habis makan malam.
Terima kasih, kami sudah minum minuman kami.
Dengan seizinmu, Kamerad, boleh aku sedikit berbincang...
dengan pengunjung terkemuka kita dari Amerika?
Aku mengkhususkan pada penelitian medis.
Aku dalam perjalanan ke Munich untuk menghadiri konvensi...
di mana kami bakal mendengar laporan tentang vaksin polio barumu.
- Oh, ya. - Makan malammu bakal jadi dingin.
Terima kasih, Kamerad, tapi aku sudah makan cukup.
Tentu saja, kami sudah menemukan vaksin melawan polio bertahun-tahun lalu.
Oh, benarkah?
Kenapa kau kelihatan begitu terkejut?
Kau tak percaya kami punya serum seperti itu?
Tentu saja aku percaya kalian, tapi...
bila kalian punya serum ini selama ini...
kenapa kalian tak membagikannya ke negara-negara lainnya?
Pikirkan tentang nyawa-nyawa yang bisa kalian selamatkan.
Aku sepenuhnya sependapat denganmu, madam...
tapi untuk waktu yang lama itu bukan kebijakan kami.
Aku pastinya berpikir itu baik mengetahui dua negara kita...
akan mulai memahami satu sama lain lebih baik.
Kupikir ini saatnya kita membuka perbatasan kita...
pikiran kita, dan hati kita.
- Bisa kita pergi, Nona Prescott? - Ya.
- Senang sekali berkenalan denganmu, Profesor. - Kehormatan itu sepenuhnya milikku.
Mari kita jangan buang-buang waktu.
- Apa kau bilang? - Berapa lama kau tinggal di Munich?
Oh, hanya semalam. Aku pergi besok lusa ke London.
Bagaimana kalau makan malam besok malam?
Baiklah, bila kau izinkan aku yang mengajakmu.
Aku akan. Aku akan jadi sangat miskin di Munich.
Pukul 8:00 di Hotel Vier Jahreszeiten.
Ini nama rumah sakit di mana Zinka berada.
Zinka Gubak.
Bila mereka harus turunkanku dari kereta di perbatasan...
- kau kunjungilah dia lalu ceritakan apa yang terjadi. - Tapi...
kenapa mereka harus turunkanmu dari kereta?
Karena ini.
Ini kepunyaan ibuku.
Sejak dulu kala, waktu kami kaya.
- Jamnya cantik. - Ya.
Kami tak diperbolehkan membawa barang berharga ke luar negeri.
Tapi Zinka butuh uang buat operasi.
Mereka kemungkinan takkan menggeledahku terlalu teliti.
Tapi bila mereka menanggalkan pakaianku, aku bakal ditangkap.
Menanggalkan pakaianmu? Mereka takkan lakukan itu.
Itu sudah dilakukan cukup sering.
Itu mengerikan.
Kenapa kau sembunyikan dalam sepatumu?
Aku sudah memikirkan semuanya.
Sepatu yang paling aman.
Furtburg!
Siapkan paspor, surat-surat identitasnya.
- Biar aku bawa jam itu. - Tidak, tidak. Aku tak bisa.
Berikan padaku.
Dengar, aku takkan memiliki resiko sama sekali.
Aku bawa surat pas jalan dari Presidenmu. Kau lihat stiker itu?
Itu artinya koperku takkan dibuka.
Tapi tak ada jaminan untuk itu.
No comments yet. Be the first to leave one.