نخستین 192 خط.
Antartika.
Benua paling terpencil, kejam dan dingin di bumi.
Tak pernah ada manusia yang turun ke kedalaman laut di sekitarnya...
sampai sekarang.
Kedalaman laut menantang untuk ditelusuri, seperti halnya ruang angkasa.
Kita lebih tahu tentang permukaan Mars dibanding tahu tentang
bagian-bagian terdalam laut kita.
Kini kita bisa menyelami kedalaman yang tak terpetakan ini untuk menemukan
rahasia di baliknya.
Ditenggelamkan di samping dinding gunung es di bawah laut,
kita memasuki dunia yang tak kenal ampun.
Perairan ini adalah yang terdingin di bumi.
Semakin turun ke bawah, tekanan meningkat tanpa henti.
Dan cahaya dari atas menghilang.
Tapi, luar biasanya...
ada kehidupan di sini.
Kita mungkin menyangka bahwa, di kedalaman lautan kutub,
takkan ada yang hidup.
Tapi faktanya kami temukan kehidupan di sini dalam jumlah yang terbayangkan.
Kekayaan berlimpah ini juga tak sebatas pada perairan Antartika.
Arus membawa kekayaan ini masuk ke dalam hampir setiap samudera
di seluruh dunia.
Yang mengherankan, di kedalaman laut,
ada lebih banyak kehidupan dibanding semua tempat lain di bumi.
Sinar matahari meredup dan laut kian gelap.
Di Pasifik ini, di kedalaman 200 meter,
kita memasuki sebuah dunia asing.
Zona Temaram -
laut di kesuraman abadi.
Ada mahkluk-mahkluk aneh di sini.
Seekor pyrosome.
Tabung jeli sepanjang dua meter, mewaspadai pendatang di atas -
seekor hiu koboi.
Hanya sedikit cahaya yang tersaring di bawah sini.
Kelangsungan hidup di sini berarti memanfaatkan setiap kilasan terakhir.
Seekor ikan todak.
Matanya sebesar bola tenis,
membantunya melihat dalam senja abadi ini.
Seekor cumi-cumi,
tapi yang satu ini hanya hidup di sini.
Mata kanannya tampak permanen menghadap bawah.
Tapi mata kirinya jauh lebih besar dan terlatih menghadap atas untuk mendeteksi
siluet mangsa yang berenang mendekati permukaan.
Tak heran julukannya "cumi bermata juling."
Dan bahkan lebih aneh.
Ini adalah barreleye...
ikan berkepala transparan
yang dipenuhi jeli sehingga bisa melihat ke atas melalui tempurungnya.
Kini kita tahu, Zona Temaram adalah tempat perlindungan yang luar biasa
bagi 90% ikan di laut.
Hanya di malam hari, kawanan besar ikan lentera bermigrasi ke permukaan
untuk memakan plankton kecil.
Di siang hari, mereka kembali ke bawah sini.
Cumi-cumi raksasa,
panjang dua meter dan bobot 50 kilo.
Seperti kebanyakan cumi, mereka pemburu yang rakus.
Jumlah mereka hingga ratusan.
Mereka menemukan sekawanan ikan lentera,
bersembunyi di kedalaman 800 meter, di lepas pantai Afrika Selatan.
Tentakel mereka dipersenjatai dengan pengisap kuat
untuk menangkap mangsa.
Dan jika tak ditemukan lagi ikan lentera...
mereka beralih ke satu sama lain.
Cumi-cumi ini menangkap ikan yang lebih kecil dalam tentakelnya.
Untuk menyembunyikan tangkapannya dari cumi lain,
ia melepas tabir gelap berupa tinta hitam.
Tapi kemudian, cumi yang lebih besar menantangnya...
dan merampas tangkapannya.
Zona Temaram adalah tempat berburu kesukaan cumi raksasa.
Mereka jarang masuk lebih dalam...
memasuki dunia kegelapan abadi di bawah...
Zona Tengah Malam.
Dua pertiga mil dari permukaan, di luar jangkauan matahari.
Sebuah kehampaan raksasa yang gelap gulita,
Lebih luas dari gabungan seluruh habitat lain di dunia.
Ada kehidupan di sini...
tapi tak seperti yang kita ketahui.
Mahkluk asing menghasilkan tampilan cahaya yang mempesona.
Hampir semua hewan perlu menarik pasangan dan mengusir pemangsa.
Bahasa cahaya ini bertebaran di sini, sehingga sinyal-sinyal ini
mungkin bentuk komunikasi yang paling umum
di seluruh planet.
Tapi masih sedikit yang kita ketahui tentangnya.
Para pemburu menerangi diri, dan tindakan itu
menarik mangsa yang penasaran.
Ini adalah ikan bertaring.
Ia memiliki gigi terbesar untuk ikan seukurannya.
Ada sensor tekanan di seluruh kepala dan tubuhnya, yang bisa mendeteksi
apa pun yang bergerak di air sekitarnya.
Ini ikan Zona Tengah Malam yang paling rakus.
Tapi mangsa menggunakan cahaya sebagai pengalih.
Umpan berupa tinta bercahaya.
Di bawah sini, dalam kegelapan ini...
hewan-hewan hidup di luar aturan waktu yang berlaku.
Praya dubia pada dasarnya hidup abadi.
Mereka berkali-kali mengkloning diri...
sebagian tumbuh lebih lama dari paus biru.
Di bawah sini salju turun.
Puing awan organik yang terus perlahan turun dari atas.
Ini adalah makanan, dan seluruh jenis penyaring makanan bergantung padanya.
Ubur-ubur...
dan teripang laut yang lembut.
1% salju laut yang terlewatkan oleh mereka
pada akhirnya mengendap di dasar laut.
Selama jutaan tahun salju ini membentuk lapisan lumpur
setebal satu mil.
Ini dataran kosong yang menutupi setengah permukaan planet kita.
Alas di kedalaman laut awalnya mungkin tampak tak ada kehidupan...
tapi ini rumah bagi penghuni lumpur yang unik.
Kodok laut.
Ia predator penyergap bermulut sangat besar...
dan kesabaran yang tiada batas.
Ikan ini telah hidup di sini begitu lama
sehingga siripnya berubah menjadi sesuatu yang lebih berguna.
Kaki.
Kaki ini membantunya bergeser tempat di dasar laut.
Gurita flapjack.
Ia mengapung di atas permukaan lumpur sambil mengayak lumpur
untuk mencari cacing.
Tapi ia bisa melesat jauh saat ada tanda bahaya.
Seekor hiu sapi besarnya menyamai hiu putih.
Ia belum makan selama setahun penuh.
Ia berpatroli di atas dataran lumpur dengan energi minimum.
Di atas sana, bangkai besar paus sperma perlahan membusuk.
Ini akan jadi keuntungan besar bagi hewan-hewan di kedalaman.
Makanan seberat 30 ton.
Akhirnya, bangkai itu mengendap di dasar laut...
dan keberadaannya segera terdeteksi.
Hiu sapi memiliki indera penciuman tajam.
Hanya 25 menit sejak kehadiran bangkai paus itu...
seekor hiu sapi menemukannya.
Tiap gigitan melepas darah dan terbawa arus.
Kabar keberadaan makanan itu menyebar cepat.
Muncul dua ekor lagi hiu sapi yang kelaparan.
Dalam 12 jam,
ada tujuh hiu besar yang saling berdesakan berebut gigitan.
Tak ada yang bersiap untuk mundur.
24 jam kemudian, sepertiga bangkai sudah lenyap.
Pendatang pertama melahapnya rakus sampai benar-benar kenyang.
Sepotong daging ini cukup untuknya bertahan selama setahun.
Kini, tim pembersih telah tiba.
Kepiting laba-laba membawa karang di kaki belakang mereka,
mungkin sebagai perisai tubuh sementara.
Di sini ada pula kepiting batu.
Mungkin mereka mendeteksi bangkai nyaris secepat hiu...
tapi mereka tak bisa bergerak cepat.
Sebulan berlalu, lebih dari 30 spesies pemulung membersihkan sisa-sisa terakhir yang bisa dimakan.
Tapi kini para pemulung menarik perhatian predator mereka sendiri.
Scabbardfish, biasanya berenang tegak,
memungut mereka satu persatu.
Sebagian gigi paus telah copot saat kerangkanya mulai berantakan.
Empat bulan kemudian, tak ada yang tersisa selain beberapa tulang.
Tulang-tulang ini bahkan adalah makanan...
bagi sesuatu.
Cacing zombie.
Mereka menggali ke dalam tulang dengan menyuntikkan asam...
agar mencapai sejumlah kecil lemak yang masih tersisa di situ.
Mungkin butuh beberapa dekade, tapi pada akhirnya
tulang terakhir akan hancur
dan keseluruhan 30 ton bangkai ini akan didaur ulang.
Jatuhnya paus adalah oase sementara di gurun dasar laut.
Tapi di sini pun ada oase permanen.
Gundukan bebatuan di atas lumpur
menyediakan tempat berlabuh bagi karang kedalaman-laut.
Sejauh 3,5 mil ke bawah,
spesies karang di kedalaman berjumlah lebih banyak
dibanding terumbu karang tropis di perairan dangkal.
Tanpa cahaya matahari,
mereka hanya mengandalkan makanan yang terbawa arus.
Dan mereka hanya menumbuhkan sehelai rambut dalam setahun.
Tapi sebagian dari mereka bisa hidup selama 4.000 tahun.
Seperti halnya kerabat mereka di perairan dangkal,
mereka pun menyediakan rumah bagi semua jenis hewan lain.
Salah satu yang tumbuh di antara karang adalah spon paling cantik.
Ini adalah keranjang bunga Venus.
Spon-spon ini memiliki penumpang.
Udang.
Ada banyak predator di terumbu karang,
jadi udang-udang itu beruntung.
Udang jantan dan betina ini tersapu ke dalam spon
saat mereka masih berupa larva kecil,
bersama dengan partikel-partikel kecil makanan yang dilahap spon.
Mereka saling bertemu dan sejak itu berada di sini.
Kini mereka tumbuh dewasa
dan betina mengandung telur.
Saat menetas, larva akan berenang keluar melalui dinding spon.
Tapi kedua udang ini takkan pernah pergi.
Mereka tak bisa.
Mereka kini terlalu besar untuk keluar lewat jalan masuk mereka,
dan tak diragukan lagi, mereka bisa hidup lebih lama di sini
dibading jika mereka berkeliaran di terumbu tanpa perlindungan.
Tapi bagaimana hewan paling sederhana dari segala hewan, spon,
No comments yet. Be the first to leave one.