نخستین 200 خط.
t e r j e m a h a n m a h s u n m a x
Okamura, berhenti.
Sudah kubilang namaku Okada.
Maaf.
Okada, perhatikan langkahmu.
Uh?
Masih disemen.
Seperti biasanya.
Kita sudah terlambat dari jadwal yang semestinya.
Kamu menambah beban kerja kita.
Maaf.
Maaf tidak akan mempercepat kerjaan
Dasar kebiasaan.
Anak itu tanggung jawabmu.
Maaf.
Dasar.
Selalu saja bilang "maaf".
Apa kamu sungguh menyesal?
Wajahmu tak nampak menyesal.
Maaf.
Aku lahir dengan wajah begini.
Dasar.
Pak Ando...
Aku sangat menyesal.
Bukan masalah besar.
Ditambah, aku payah soal pekerjaan ini.
Aku tidak berguna.
Jangan meremehkan diri sendiri.
Ini bukan cuma pekerjaan...
Aku punya sesuatu yang lain di pikiranku.
Sesuatu yang lain?
Pak Ando.
Apa kamu punya hobi?
Tidak.
Apa kamu punya pacar?
Tidak.
Jadi apa yang kamu lakukan setelah pulang kerja tiap hari?
Bagaimana denganmu, Okamura?
Namaku Okada.
Hidupku menyebalkan.
Aku pulang, makan, lalu tidur...
hidupku terbuang sia-sia.
Tak punya hobi.
Dan tak punya pacar.
Dan itu membuatku merasa kacau.
Kamu tidak merasa begitu?
Merasa tak puas.
Ayolah, Okada.
Tidak ada orang yang puas.
Orang perlu ketidakpuasan untuk terus maju.
Ini adalah dorongan semangat dalam kehidupan, kamu tahu?
Tak ada orang pernah berkata "aku puas".
Tak ada masalah denganmu.
Jangan menyiksa diri.
Nah, Okamura, aku turut prihatin kamu merasa seperti itu.
Namaku Okada.
Pak Ando, yang kau katakan itu begitu dalam.
Tidak sama sekali.
Jadi kau juga harus berjuang dengan ketidakpuasan itu? / Tidak
Hidupmu tidak sia-sia? / Tidak.
Hidupku tak sia-sia sepertimu.
Tapi kau bilang kau tidak punya hobi.
Jadi apa yang kau kerjakan?
Aku hidup tiap hari demi cinta.
Kau bilang kalian jodoh?
Berhentilah menolah-noleh.
Ini dia.
Dia yang di dekat kasir.
Minum air lagi?
Tak usah.
Pak Ando, lupakan saja.
Lupakan? Mengapa?
Makhluk muda dan cantik seperti itu.
Dia diatas levelmu.
Gadis itu adalah tujuan hidupku.
Dan kau tahu bagaimana rasanya kehilangan tujuan seseorang.
Sungguh.
Kalian "memang jodoh."
Maaf.
Si rambut pirang itu kesini lagi.
Dia selalu disitu.
Hanya duduk di situ.
Dia menatap "malaikat kecil"ku dengan tatapan mata itu.
Apakah itu Morita?
Kau kenal dia.
Kurasa aku kenal.
Orang seperti apa dia?
Kami belum pernah saling bicara, aku tidak tahu.
Bicaralah padanya.
Sungguh, kurasa aku tidak...
Bagaimana jika dia punya niat buruk pada malaikat kecilku?
Tentu, tapi.
Kamu Morita 'kan?
Aku Okada.
Kita dulu teman sekelas di SMA.
Rupanya kamu Okada, wow, sudah lama sekali.
Gayamu benar-benar sudah berubah.
Gaya rambut yang bagus.
Apa aku terlihat aneh?
Sebaliknya, itu cocok denganmu.
Apa kau keberatan?
Silahkan.
Kamu sering datang ke kafe ini?
Tidak.
Rekan kerjaku disana bilang dia sering melihatmu.
Dia mungkin mengira aku orang lain.
Mungkin.
Bisakah kita bertukar nomor telepon?
Tentu.
Mungkin kamu mengira dia orang lain.
Aku positif yakin dia.
Kita perlu menyelidiki secara menyeluruh.
Menyelidiki? Yang benar saja.
Bagaimana caramu ingin menyelidiki Morita?
Bukan si rambut pirang itu.
Kita menyelidiki malaikat kecilku.
Kenapa dia?
Apa kau tak merasa dia bisa saja dalam bahaya?
Bukankah lebih baik bisa mengetahui tentang keadaannya?
Dan kamu akan ketahuan sebagai penguntit.
Bukan aku, kamu yang menyelidiki.
Jangan bercanda.
Aku tak bisa melakukannya, dia kenal wajahku.
Ayolah.
Aku memintamu.
Sekedar ingin tahu kalau-kalau dia melihat seseorang.
Tapi tadi kau bilang ini soal bahaya.
Aku memintamu.
Aku akan mengerjakan tugasmu di tempat kerja hari ini, kau berutang itu.
Begitulah caramu memainkannya.
Pak Ando.
Sudah jelas, aku tidak bisa.
Tentu, aku mengerti perasaanmu.
Kuberitahu, aku tidak bisa.
Kumohon, Pak Ando, aku harus menolaknya.
Maaf.
Apa yang kamu lakukan di situ?
Kamu yang datang kemarin 'kan?
Ya.
Orang berambut pirang itu menyuruhmu ke sini?
Tidak sama sekali.
Sungguh.
Ya.
Aku tidak bertemu dia selama bertahun-tahun.
Aku bahkan tidak mengenalnya dengan baik.
Apa itu benar?
Kamu pikir dia...
Maaf?
Tidak, bukan apa-apa.
Morita sudah melakukan sesuatu?
Dia itu seperti penguntit.
Apa?
Dia datang ke kafe ini selama satu bulan.
Sejak saat itu...
aku merasakan banyak kejadian aneh.
Kejadian aneh?
Pelecehan rutin di telepon.
Kiriman paket dan surat menghilang dari kotak suratku.
Wow.
Mungkin itu bukan perbuatan Morita.
Aku melihat dia berkeliaran di lingkunganku.
Tidak cuma sekali.
Benarkah?
Jadi tolong...
bisakah kau jauhkan dia?
Itu...
Tapi apa yang akan kukatakan padanya?
Kamu tidak bisa?
Bukan berarti aku tidak bisa.
Nah, aku ingin menanyakan sesuatu.
Apa itu?
Apa kau punya pacar?
Apa?
Mengapa kau menanyakan itu?
Gini, itu... jika kamu punya pacar...
dia akan lebih persuasif pada Morita.
Aku tidak punya siapa-siapa.
Benarkah?
Namaku Okada.
Siapa namamu?
Aku Abe Yuka.
Nona Abe.
Bukankah sudah kubilang? Bajingan itu, dia tidak akan melepaskan gadis itu begitu saja.
Telpon si rambut pirang.
Aku tidak bisa menelponnya.
Aku tidak bisa bilang padanya: "Hei Morita, berhentilah menguntit."
Tentu saja kamu bisa.
Sudah kubilang aku tidak bisa.
Kamu tidak membantu.
Mulai sekarang kita akan pergi ke sana setiap hari.
Apa aku harus ikut?
Tentu saja.
Ah, benar, aku sudah tanya dia kemarin.
Dia bilang dia tidak punya pacar.
Benarkah?
Ya.
Tak mungkin.
Apa Morita datang hari ini?
Tidak, dia tidak datang.
Aku menelpon dia beberapa kali.
No comments yet. Be the first to leave one.