نخستین 200 خط.
Tubuh manusia penuh dengan sistem.
Sebagian melindungi.
Yang lain menutrisi
atau menggerakkan kita.
Namun, ada satu sistem yang mengendalikan semua sistem lain.
Mungkin itu juga yang membentuk jati diri kita.
Sistem saraf.
Sederhananya, ia memahami dunia dan mengatur cara kita meresponsnya.
Haruskah kita melompat?
Lari?
Makan?
Merinding?
Menangis.
Itu membuat semua keputusan spontan itu dan juga menciptakan emosi,
ide, dan memori.
Secara keseluruhan, ini mesin luar biasa yang tak pernah berhenti bereaksi.
Kita akan menjelajahi alam semesta menakjubkan
yang hidup di dalam tubuh kita,
demi mengungkap sistem yang menjadikan kita manusia.
BEREAKSI
Ia berada di dalam tengkorak dalam kegelapan total.
Zat putih keabu-abuan seberat 1,36 kg.
Dengan konsistensi seperti tahu.
Mengandung lebih daripada 80% air dengan sedikit lemak dan protein.
Otak.
Pengendali misi tubuh manusia.
Serta sistem saraf.
Ia bertanggung jawab atas reaksi kita terhadap segalanya.
Otak adalah kekuatan pemrosesan sejati.
Terhubung ke jaringan raksasa saraf dan serat
yang bekerja sepenuhnya sinergis
untuk mengubah data
menjadi aksi.
Terutama saat hidup mendatangi kita dengan cepat.
KOTA NEW YORK
Nama saya Iman James, berusia 29 tahun, dan saya petinju amatir.
Tak ada banyak olahraga yang menantang sistem saraf seperti tinju.
Coba pikirkan.
Dalam sepersekian detik,
kita harus memproses gerakan lawan dan bereaksi.
Jika tak cukup cepat, kita pasti akan kesakitan.
Namun, meskipun aksinya tampak sengit di luar tubuh,
rangkaian aksi yang lebih cepat terjadi setiap saat di dalam tubuh,
Sistem saraf terdiri dari sel khusus yang disebut neuron
yang mengirim sinyal secepat ratusan kilometer per jam.
Neuron adalah blok bangunan otak.
Mereka bagian yang membuat kita berpikir.
Memutuskan.
Membayangkan.
Melihat atau mendengarkan.
Neuron tak seperti sel lain.
Kebanyakan sel padat dan bulat.
Namun, neuron lebih mirip akar bunga
dengan cabang untaian ke segala arah yang terhubung ke neuron lain
agar bisa menyalurkan informasi.
Ada seratus miliar neuron di dalam otak
dan jutaan lagi menjalar di seluruh tubuh.
Namun, yang membuat mereka cerdik
adalah kita bisa melatih sel ini untuk melakukan hampir apa saja
yang dalam prosesnya, mengubah jati diri kita.
Semua orang bisa bertinju.
Pada satu titik, kita harus menepis keraguan diri itu.
Begitu menerimanya, kita berpikir, "Terserah aku akan menjadi apa."
Saya guru matematika dan kesehatan di SMP dan SMA.
Saya menjadi guru karena ingin memenuhi
kebutuhan hidup anak-anak, mendorong mereka menjadi lebih baik.
Saya ingin murid tahu mereka mampu apa saja.
Banyak orang berasumsi
petinju berasal dari kehidupan masa lalu yang keras.
Bahwa kita harus sangat kasar, bahkan mungkin marah.
Saya tak pernah terlibat perkelahian fisik saat kecil.
Saya mulai bertinju untuk turunkan bobot saat kuliah.
Saya jatuh cinta pada olahraga ini.
Saya senang setiap memukul sesuatu.
Rasanya seperti endorfin sepanjang waktu.
Itu yang membuat tinju sangat memabukkan.
Tinju tak hanya soal mendaratkan pukulan.
Itu memerlukan ketangkasan mental ekstrem.
Semua itu dimulai dengan penglihatan.
Semua yang kita lihat dimulai sebagai satu hal.
Cahaya.
Saat partikel cahaya memasuki mata lewat lubang hitam di tengah…
ia menuju ke dinding belakang bola mata
tempat ia mengenai jaringan tipis
yang disebut retina.
Retina punya jutaan penerima kecil yang bernama sel batang dan sel kerucut,
yang menyerap partikel cahaya yang masuk
dan menjadikannya hal yang bisa digunakan otak,
listrik.
Sinyal listrik ini menyebar ke saraf optik dan otak.
Impuls itu bagaikan kode Morse
dan otak mengambil kode itu lalu mengubahnya menjadi realitas.
Jumlah kompresi data
yang terjadi antara retina dan saraf optik
adalah jumlah kompresi data terbesar yang pernah kita lihat dalam biologi.
Itu ada di sini, di mata kita.
Setiap detik,
mata mengirim 10 juta denyut ke otak
dengan kecepatan 434,5 km/jam.
Lalu dengan sama cepatnya, otak harus bereaksi.
Jadi, petinju melihat pukulan datang.
Informasi itu masuk ke otak…
lalu terjadi percakapan.
"Haruskah aku mengelak atau memukul?"
Seperti semua keputusan, ini soal menimbang pilihan.
Mungkin petinju itu ingat pernah dipukul.
Atau mungkin ini pengalaman baru.
Apa pun itu, dalam sekejap, otak membuat keputusan.
Sejumlah neuron mulai memberi sinyal.
Neuron di otak berkomunikasi melalui listrik
dan melepaskan zat kimia.
Di ujung sel, ada sinapsis,
yaitu ruang kecil di antara neuron.
Jadi, neuron pertama melepaskan zat kimia
yang terdeteksi oleh neuron kedua
yang kemudian meneruskan aktivitas listrik itu.
Bisa dibilang itu perpaduan antara badai petir dan badai kimia.
Otak kita mengirim impuls baru ke seluruh tubuh,
memicu otot yang tepat
untuk bereaksi.
Pada latih tanding pertama, saya bersumpah nyaris mati.
Itu tiga ronde dua menit
dan itu dua menit terpanjang di hidup saya.
Itu berat dan saya banyak dipukul,
tapi saya tahu apa yang harus saya latih dan itulah inti olahraga ini.
Salah satu hal terhebat otak adalah kemampuannya beradaptasi.
Dengan sedikit latihan.
Petinju itu seperti mayoritas atlet,
melakukan gerakan yang sama berulang kali.
Makin sering kita melakukannya,
otak makin belajar.
Lalu itu disandikan ke memori otot.
PJ adalah pelatih saya sejak 2015.
Memukul bantalan dengan PJ sangat membantu kesiapan saya
dalam mengatur waktu, bertahan, pergerakan kaki, dan kombinasi.
Yang ingin kami capai adalah kesempurnaan.
Jelas, itu tak benar-benar ada,
tapi jika tak berjuang untuk itu, lalu apa gunanya?
Makin kita melatih sesuatu,
otak kita makin banyak berubah.
Itu disebut neuroplastisitas.
Sistem ini cukup fleksibel.
Setiap neuron di otak
bisa membuat hingga 10.000 koneksi dengan neuron lain.
Koneksi itu berubah
mengikuti kebiasaan kita.
Saat petinju belajar gerakan baru,
jalur koneksinya hanya sementara.
Ditempa oleh zat kimia di sekitar neuron.
Namun, seiring dia berlatih
dari hari
ke hari,
perubahan zat kimia itu menjadi struktur.
Seiring waktu, neuron akan berubah bentuk dan posisi.
Saat jalurnya kian kukuh,
koneksi antarbagian otak menguat.
Dibandingkan awal saya bertanding,
kini saya sudah lebih tenang di ring.
Meski dipukuli, reaksi saya tak berlebihan.
Saat saya bertarung, waktu terasa cepat.
Saya bahkan tak perlu berpikir,
tapi secara naluri, saya bergerak menghindari pukulan itu.
Itu begitu mudah saat pikiran dan tubuh bersatu.
Saya takjub oleh betapa mudahnya otak kita beradaptasi.
Dengan melatih hal yang mau dikuasai, kita akan kian mahir.
Kita membuat kerangka saraf
untuk tingkatkan kemampuan pada tugas tertentu.
Mekanisme transmisi hal tersebut, yang kita sebut potensi aksi,
dari satu neuron ke yang lain,
adalah dasar dari cara informasi dikirimkan dalam tubuh kita,
dasar perhitungan,
dan dasar memori dalam pikiran kita.
Memori adalah sekelompok neuron yang memiliki percakapan yang akrab.
Saat belajar keahlian baru, kita membentuk memori yang lebih kuat
soal cara menyelesaikan tugas itu.
Keahlian yang perlu penggunaan otot seperti melempar bola ke dalam keranjang,
bermain piano, atau mengikat sepatu,
bisa terkunci di memori kita seumur hidup.
Karena itu muncul ungkapan, "Seperti mengendarai sepeda."
Namun, memori lain, seperti wajah dan nama,
bisa kian memudar karena kita kurang memerlukannya.
Neuron kita lupa cara membuat koneksi itu.
Ada satu cara agar memori cenderung bertahan.
Itu saat ada emosi kuat yang melekat padanya.
Bahkan, emosi dan sistem saraf berjalan beriringan.
Sistem saraf tak hanya bertanggung jawab memproses emosi kita,
tapi juga menentukan reaksi kita.
Namun, terkadang emosi begitu kuat hingga membebani sistem.
Dengan konsekuensi yang bisa fatal.
CIALES, PUERTO RIKO
Setiap berita berkata badai akan datang, saya kembali teringat masa lalu.
Kata mereka, badai itu belum pernah terjadi.
Ternyata benar.
Karena itu sampai pada titik
ketika angin dan segalanya membuat saya agak putus asa
dan saya panik.
Itu mengerikan.
Nama saya Magaly Rodriguez, tinggal di Ciales, Puerto Riko.
Kami mengikuti jalur Badai Maria
yang menghantam Puerto Riko.
No comments yet. Be the first to leave one.