نخستین 200 خط.
Aku membenci banyak orang.
Di Kota Annam yang kutahu,
banyak orang yang berpura-pura jadi orang.
Belakangan ini karena kota dalam proses perkembangan,
banyak orang yang jadi gila demi hasrat pribadi.
Misalnya Walikota Annam, Park Seong Bae.
Bisa dibilang kota Annam digenggam sepenuhnya oleh orang ini.
Kaum oposisi tentu takkan berdiam diri saja.
Perang terus sepanjang hari, tiap hari.
Dan aku... berada di pihak orang yang menang.
Walikota kami kembali memanggilku secara rahasia.
Bajingan itu memanggilku untuk melakukan sesuatu untuknya.
Bukan aku, sungguh itu bukan aku.
Lalu siapa ini?
Ayahmu?
Kau sungguh masih anak sekolahan?
Aku sekolah di SMP Anpyeong, kelas 3.
Pegang!
Mendekatlah!
Baca kalimat ini!
Ini aku.
Aku minta maaf.
Sidang kali ini aku tidak bisa hadir sebagai saksi.
Apa yang pernah kubeberkan pada polisi,
semuanya karanganku sendiri.
Tolong sampaikan pada polisi aku minta maaf.
Bagus! Mantap jiwa! Aku sayang padamu.
Walikota Annam Park Seong Bae yang dituduh melanggar UU Pemilu
Agustus tahun lalu didenda 3,5 juta Won sehingga hampir menyebabkan jatuhnya harga saham.
Hari ini divonis tidak bersalah dan bursa saham kembali normal.
Dalam sidang kali ini yang harusnya dihadiri oleh saksi,
namun pagi tadi tiba-tiba menolak hadir di persidangan.
Sekarang mari kita dengarkan pendapat dari Walikota Annam.
Walau pengadilan memvonisku tidak bersalah,
tapi jaksa menuntutku saat mereka tidak punya bukti ataupun saksi.
Masuk akal, kah?
Menurutku ini sangat merugikan reputasi dan harga diri 480 ribu penduduk Annam.
Benar!
Tolong minggir sedikit.
Walikota mau lewat.
Tn. Jaksa, maaf telah menyusahkanmu.
Kau tahu kenapa saksi menolak hadir?
Menurutmu? Mungkin dia merasa bersalah karena berbohong di sidang sebelumnya?
Mendadak telpon dan bilang tidak ada yang ingin dia sampaikan.
Ada apa?
Kalian pikir hukum itu candaan saja?
Dan kau pikir bisa berbuat sesuka hati pada hukum?
Ternyata jaksa bisa juga mengancam orang.
Kau tidak perlu mengurus imejku, biar kuurus sendiri.
Hentikan!
Brengsek, apa yang kau pegang?
Banyak orang yang melihat.
Diam!
Kau menyelidiki pasar Minseon?
Sekarang sudah tahun berapa? Kalian masih memakai otot dalam menyelesaikan masalah?
Apa katamu?
Tolong minggir, Walikota mau lewat.
Park Seong Bae! Park Seong Bae!
Kalau kau berhenti, dan aku merindukanmu bagaimana?
Kau tidak merasa aneh harus pakai jas tiap hari?
Justru harus terlihat aneh.
Hyeongnim, kalau begitu jangan ragu.
Tidurlah!
Loyalitas.
Bukannya kusuruh kau telpon kalau Lee Min Seob sudah tiba di Filipina. Kenapa tidak telpon?
Bajingan itu tidak mau ke Filipina. Aku hampir membunuhnya agar mau masuk pesawat.
Jadi dia sudah tiba kemarin, kan?
Hari ini baru berangkat.
Aku menunggu ia sadar sedikit.
Hari ini?
Kau ganti sesuka hatimu?
Biar aku yang urus, Hyeongnim.
Hyeongnim, kau harus percaya padaku.
Berdiri tegak! Berdiri dengan baik!
Kau pikir yang kau lakukan itu hebat?
Dasar bodoh! Sialan!
Kau apa?
Sampah.
Bersihkan hidungmu!
Awasi Lee Min Seob, paham?
Hei, mau kau hitung satu-satu?
Bukankah kusuruh kau tunggu di luar?
Orang yang mau berhenti besok...
Kau akan tahu sendiri saat menyembunyikan diri.
Kenapa kemari?
Hei Jakdaegi, belakangan ini kau masih sering ke Filipina?
Bisnisnya sudah lama selesai. Buat apa kesana?
Tundukkan kepalamu kalau bicara denganku, Bangsat.
Hyeongnim, kenapa kau begitu?
Walikota Park baik-baik saja?
Ha?
Keparat, jangan kau habiskan sendiri.
Aku tahu semua apa yang kau kerjakan.
Apa maksudmu?
Saksi sidang itu...
bukankah dia ditahan oleh orang ini?
Kau mengganggu urusan jaksa. Kau tahu itu melanggar hukum, kan?
Hyeongnim! Hyeongnim!
Dengar dulu penjelasanku.
Tidak ada untungnya bagiku jika dia kutangkap.
Karena itu lepaskan dia dulu.
Banjang-nim, loyalitas.
Apa itu?
Sabarlah!
Biar aku yang kejar.
Hei! Hei! Seon Mo!
Sial!
Moon Seon Mo!
Sialan! Kenapa kau tiba-tiba muncul, brengsek?
Sial!
Kabur ke mana dia? Jangan sampai tertangkap.
Sembunyi di mana dia?
Jakdaegi!
Jakdaegi!
Jakdaegi di mana kau?
Dasar bajingan.
Bangsat sialan, cepat sembunyi!
Dasar pecandu.
Kim Kyeong Min ada di sini. Cepat tangkap dia!
Kau kambuh, ha?
Sudah ketemu?
Seon Mo.
Keparat ini adalah pecandu?
Cepat pergi, kampret!
Jangan bergerak!
Seon Mo, jangan seperti itu.
Singkirkan dulu senjatamu.
Kalau kau masih bergerak, akan kutembak.
Singkirkan dulu senjatamu!
Kalau kau masih bergerak, akan kutembak.
Dasar sial!
Seon Mo, kau...
Dasar goblok! Sialan!
Hei! Hei! Hei, Seon Mo!
Sial, hari ini tidak ada hal yang berjalan lancar.
Brengsek.
Yang satu mau memukulku, satunya lagi mau menangkapku.
Bangsat!
Sialan!
Kalau masih juga bergerak, aku kutembak!
Lihatlah!
Pistol kosong bisa membunuhku?
Ini ada pelurunya, bangsat!
Jangan bergerak! Akan kutembak!
Jangan! Hei! Jangan bergerak!
Tembak saja! Ayo tembak!
Banyak bacot, sialan!
Hei! Hei! Tunggu!
Jangan hubungi 119?
Tertangkap? Brengsek!
Bagus.
Hyeongnim!
Hyeongnim, dengar penjelasanku!
Penjelasan apa?
Jakdaegi urusanmu, uang urusanku. Begitu, kan?
Seon Mo, mau kuberi sedikit?
Lepaskan!
Sialan!
Bajingan kau!
Kenapa aku dimaki-maki terus?
Kenapa? Aku tidak boleh memakimu?
Keparat!
Bajingan, kenapa? Memangnya aku kenapa, ha?
Aku hanya ingin menjauhkanmu dari perbuatan yang salah. Apa salahku?
Do Kyeong, kudengar selama ini kau selalu membantu Walikota Park membereskan masalahnya.
Kenapa aku tidak boleh mengambil uang ini?
Kau boleh tapi aku tidak?
Uang ini untuk Jakdaegi, kenapa kau ambil?
Ok, minggir!
Seon Mo, jangan takut.
Harus dilaporkan, Hyeongnim.
Bukankah harusnya dilaporkan?
Kan? Do Kyeong? Harus dilaporkan, kan?
Kau mau mati?
Kau bercanda?
Dasar gila!
Lepaskan!
Kenapa memukul Seon Mo?
Brengsek!
Hentikanlah! Bajingan!
Sialan!
Cukup! Brengsek! Hentikan! Hentikan!
Hentikan!
===ASURA===
Awalnya kau bilang tidak tahu kalau Hwang Banjang akan ke sana.
Tapi, Hwang Banjangnim bilang mau melakukan investigasi.
Menurutku ini sangat aneh.
Aku juga heran mengapa bisa seperti ini.
Begitulah polisi. Sangat tidak ingin punya catatan kriminal.
Sudah kukatakan, situasinya mendadak jadi aku bisa apa?
Ulangi lagi dari awal!
Ulang lagi?
Ini yang terakhir.
Setelah menerima telepon, aku langsung menjawabnya.
Kau tahu kan bagaimana orang yang sedang memakai narkoba? Mana mungkin punya pikiran yang waras?
Karena takut dia berbuat aneh, aku langsung kesana menemuinya.
Di mana ini?
Kau membunuh polisi?
Bangsat!
Cukup! Hentikan!
No comments yet. Be the first to leave one.