نخستین 200 خط.
Goddess of Marriage
.: Diterjemahkan oleh Baalthazar :.
Ayah, biarkan aku hidup.
Ayah, aku... penjara,
Jangan penjara, ayah, tolong aku.
Mengapa kau begini padaku ayah?
Lalu mengapa kau melakukan hal tak berguna?
Ayah, apa itu keinginanku? Maksudku politik.
Jika kau di politik, kau harus melakukan pendekatan,
kau perlu menyuap juga, bukankah kita membutuhkan banyak hal?
Bagaimana ayah tega... seperti awan di langit yang cerah,
... seperti langit yang cerah, bisakah aku terus berpolitik?
Mengapa tetap ayah lakukan jika ayah sudah tahu?
Mengapa kau begini padaku ayah? Ayah, sungguh?
Tetap saja dalam situasi ini, yang terbaik adalah kau masuk.
Ayah, apa kau benar-benar akan begini?
Ini benih yang kau tabur. Kau menuainya sekarang.
Aku tidak mau.
Apa?
Aku yang menabur benih, tapi ayah menyuruh adik ipar menuainya.
Apa yang bisa kulakukan jika ayah mengatakan ini sekarang?
Jika aku aku menyuruhmu diam dan masuk, maka lakukanlah.
Aku tidak mau!
Keparat!
Ya, aku benar-benar putra ayah, tapi aku tidak mau melakukannya.
Aku Wakil Presdir Grup Sinyoung dan Anggota Konggres.
Aku tidak melakukannya untuk kenyamanan hidupku.
Demi kebaikan grup, maka masuklah.
Itu Grup ayah.
Apa?
Maksudku, terdengarnya seperti ayah akan memberikannya padaku.
Aku juga tahu aku bukan penerus ayah.
Jika ayah benar-benar peduli pada grup,
pilih salah satu pegawai pekerja keras yang melayani ayah,
dan ayah masuk!
Apa? Keparat...
Pokoknya, kata-kata hari ini, aku akan berpura-pura tidak mendengarnya.
Aku pergi.
Kau, tidak mau berhenti?!
Mengapa tidak ada jawaban?
Sudah kukatakan serahkan informasi 'tubuh'nya untuk mempercepat penyelidikan.
Di luar faktanya aku membocorkan lokasi 'tubuh'nya,
kau membiarkannya lepas, tapi sikapmu sepertinya...
kau tak tahu malu, itu maksudmu?
Apa maumu?
Tidakkah kau mengenalku baik, tujuanku.
Kupikir kita memiliki tujuan yang sama,
Nam Mi Ra akan segera tertangkap,
Dan meski dia ditangkap, jika kami tidak punya datanya, penyelidikan hanya akan separuh efektif.
Jadi kita tinggalkan bagian tengahnya dan langsung ke bagian akhir,
tentu saja jika kita punya tujuan yang sama.
Aku tidak tahu.
Aku tidak pernah berkata aku memilikinya.
Kau terlalu berani.
Kau tidak punya apa-apa tapi kau meminta tunjangan cerai yang sangat besar?
Mengapa kau seperti ini, sesama pemain?
Aku akan menunggu.
Tolong hubungi aku.
Silakan.
Terima kasih
Untuk apa?
Tapi tidak ada yang datang menjemputmu?
Ya, begitulah. Terima kasih.
- Berhati-hatilah. - Ya.
[Lelucon penulis: Tulisan di gedung mengacu pada kebiasaan kuno, meninggalkan manula di kuburan hingga meninggal]
Ibu mertua, hari itu karena aku terlalu gugup,
Aku mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan pada ibu.
Sekarang lepaskan amarahmu,
dan kembalilah ke rumah.
Ya, ibu mertua.
Benar. Ibu Min Jung, mari kita pulang sekarang.
Kami juga memahami perasaanmu.
Apa mungkin kau mengatakannya karena itu keinginanmu?
Kau juga, karena kami disana, lelah dan tidak nyaman,
dan tertekan, makanya kemarahanmu meluap.
Seperti bukan kau yang biasanya,
kami tahu betul.
Ayo cepat pulang.
Pulang, kemana kita pulang?
Duduk diam di sana.
Aduh, mengapa kau seperti ini?
Kau. Karena kau datang dan berlutut,
mengatakan kata-kata tidak dengan hatimu, menurutmu aku akan pulang?
Meski aku akan segera mati,
aku tidak bisa hidup dengan menantu bermulut kasar sepertimu.
Mengerti?
Ibu mertua, mengapa kau bilang begitu?
Lalu, berkata jangan pulang jika kau tak mau,
tidak berkata kasar, lalu apa?
Itu karena ibu berkata tidak beruntung dengan menantu,
dan apa kau pikir aku tinggal di rumahmu karena keinginanku?
Itu yang kau katakan, apa yang harus kulakukan?
Jadi karena ibu tidak beruntung dengan menantu, tidak ada yang bisa kulakukan,
tapi ada yang bisa kulakukan, soal ibu tidak mau pulang ke rumah,
jadi pulanglah.
Apa ada yang lainnya?
Apa?
Jadi maksudmu, keadaan kami yang tidak mau pulang,
kau hanya mendengar permintaan kami, begitu?
Dengar. Hentikan sekarang juga.
Oh ibu mertua, bukan itu maksudku.
Diam dasar wanita kasar!
Beraninya kau meminta maaf pada ibu mertuamu,
tapi tidak mampu menahan untuk tidak membantah,
dan berbicara sinis setiap ada kesempatan!
Ibu mertua, apa katamu barusan?
Kubilang kau wanita kasar! Kenapa?
Ibu mertua. Aku punya putri akan segera menikah.
Aku juga punya cucu yang akan segera menikah.
Kau, apa kau tahu berapa usiaku?
Lalu apa ibu tahu berapa usiaku?
Maksudku, kita menua bersama dalam keadaan yang sama, apa bisa ibu menyebutku wanita kasar?
Apa?! Menua bersama dalam keadaan yang sama?
Ya, begitu adanya.
Maksudku, benar-benar anak ini?!
Sayang, hentikan.
Kita pulang saja sekarang.
Aku tidak akan pulang.
Jika kau ingin pulang, kau pulang saja sendiri.
Aku tidak sanggup hidup bersama menantu yang berbicara kasar pada ibu mertuanya.
Aku tidak akan pernah tinggal bersamanya!
Tidak akan pernah!
Baik, terserah saja.
Apa ibu pikir aku takut karena ibu tidak mau pulang?
Aku sudah lelah dengan ibu yang terus seperti ini.
Menurut ibu aku akan mengalah sekarang?
Aku sudah bertambah tua dan tidak mau dihina dan mendengarnya lagi.
Jadi jika ibu tidak mau pulang, tinggal saja disini sesuka ibu, semoga sehat selalu dan panjang umur.
Astaga, benar-benar, panas sekali.
Apa katamu?!
Benar-benar, aku tak mengerti.
Apa? Aku wanita kasar?
Bagaimana dia bisa memaki seperti itu tanpa malu.
Ya ampun, aku...
Ya ampun, aku tak tahu mengapa sangat sulit, benar-benar...
Ya ayah. Ada apa?
Begini,
aku datang untuk pernikahan Min Jung.
Mengapa ayah datang begitu awal?
Oh, ayah akan menjenguk seorang teman juga, jadi ayah datang sedikit lebih awal.
Teman apa, siapa?
Bong Gil.
Paman Bong Gil?
Ya. Jadi ayah harus ke rumah sakit nanti.
Apa tidak ada orang di rumah?
Kau tidak mengangkat telponmu dan begitu juga menantu Noh.
Jadi ayah naik taksi ke rumah.
Oh, begitu?
Tapi ayah, ada orang di rumah.
Siapa?
Ji Hye di sana.
Kenapa Ji Hye?
Ji Hye agak sakit.
Apa?
Ayah.
Kenapa ayah tidak menelepon, bagaimana ayah sampai ke sini?
Menelepon, minggir.
Kau tidak membiarkan ayah masuk?
Oh, ya. Ya, berikan padaku.
Ini berat.
Minum tehnya, ayah.
Baiklah. Kita minum.
Ayah dengar kau sakit.
Ya.
Sakit di sebelah mana?
Tidak terlalu.
Apa kau sakit parah?
Tidak, ayah.
Lalu kenapa kau di sini?
Jika tidak parah, kau seharusnya beristirahat di rumah mertuamu.
Mengapa kau ke sini, tinggal dengan keponakanmu yang sudah dewasa?
Bagaimana dengan Menantu Kang?
Dia pergi dari rumah?
Sekretaris Jang tadi datang,
dan membawa semua barang-barang Tae Jin.
Berkata jika dia tetap tinggal di rumah, ayahnya akan memasukannya ke penjara,
dia tidak mau pulang
tapi tinggal di hotel.
Anak bodoh.
Bodoh atau tidak,
Bagaimana kau tega memasukkan anakmu ke penjara?
Apa kau suka anakmu mendapat gelar
mantan narapidana?
Bukankah itu sebabnya aku tidak mengijinkan dia berpolitik?!
Apa gunanya kata-kata itu sekarang!
Aku menentang sepenuhnya memasukkan Tae Jin ke penjara.
Jika Tae Jin masuk penjara, aku akan mati menggigit lidahku!
Apa kau ingat kata-kataku beberapa waktu lalu?
Kata-kata istri Grup Min Sung
pada suaminya,
saat putranya akan masuk ke penjara.
Dia berkata, daripada putra kita yang masih muda, kau masuklah ke penjara!
Aku berpikir sama.
Jadi jika kau tidak mau masuk penjara, cari pengganti lainnya.
Pengganti apa?
Yang berbuat masuk ke penjara supaya tidak memperumit keadaan.
Semisal begitu, apa kau pernah melihat kejadian seperti itu di lingkungan ini?
Aku,
seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya.
Kau bisa berbuat sesukamu, tapi tidak ini.
No comments yet. Be the first to leave one.