نخستین 199 خط.
Aku pun tak tahu bagaimana caranya balas semua kebaikanmu padaku.
Tapi meskipun begitu, aku tetap ingin jalani hari-hari bersamamu.
Hari itu, di saat Zen kembali ke istana,
seperti biasa dia pun ucapkan, "Sampai nanti."
Ucapannya buat hatiku tenang.
ZainuddinAri mempersembahkan
perjumpaan yang sulit diterka
hajimari sore ha aimai
namun semua titik temu terkesan rapi
kirei ni narabetai keredo
sebenarnya ada kata yang khusus hanya untukmu
hountou ni tsutaetai kotoba dake
namun semuanya tertutup dan terbelenggu
kanamihotsurete ienai
perlahan kutarik napas
yukkuri suikomi
berdoa agar harapan baikku kan terus berlanjut
yasashii kibou ga zutto tsudzuku you ni
apa kau bisa lihat tempat ini?
mieru kana kono basho ni iru koto wo
apa tanda penunjuk di jariku bisa menuntunku padamu?
yubisaki ni egaita michishirube todoku kana
kuyakin di kala ku tertawa hari ini
watashi ha kyou wo waraeru you ni
dirimu pun kan tersenyum esok
anata ha ashita hohoende kitto
itulah harapanku
kitto ne
Cerita
Selamat Tinggal Perjumpaan
Wah, ramai sekali.
Semuanya kelihatan senang.
"Hari Kunjungan Istana"?
Apa itu?
Pembukaan bagian tertentu di dalam istana kepada publik setiap beberapa tahun sekali.
Wah.
Ada banyak acara-acara menariknya juga, lo.
Meski begitu, kita, para ahli herba, tetap bekerja seperti biasa.
Tapi, kalau pekerjaannya sudah agak longgar, kalian boleh ikut ke sana, kok.
Ya, dengan senang hati!
Acara begini pas sekali untuk Zen.
Area di sana dibuka untuk umum dan sedang banyak pengunjungnya, Nn. Shirayuki.
Silakan lewat sini.
Oh, Nn. Shirayuki.
Pa-Pangeran Zen?
Meski hari ini sangat sibuk, tapi tolong jaga ketertiban, ya!
Ba-Baik!
Serahkan pada kami!
Duh, aku baru saja mau bilang begitu!
Apa kau juga langsung tahu kalau ini aku?
Ya, dari suaramu.
Tapi, kenapa kau pakai seragam penjaga?
Mumpung ada waktu, jadi aku sekalian berkeliling awasi keadaan istana.
Bisa lihat kegiatan para pegawai istana sekaligus warga yang datang berkunjung,
adalah kesempatan langka yang jarang kudapatkan.
Kau selalu saja begitu, tapi jangan sampai kena marah, ya.
Lalu, Shirayuki, aku pun berharap bisa bersama denganmu
berdua saja.
Berdua-
Ada yang jatuh.
Oh! Ti-Tidak apa-apa, kok!
Kalian terlalu cepat munculnya.
Apa kami ganggu Anda, Tuanku?
Halo, Shirayuki.
Zen, kami mencari-carimu, lo.
Ya, benar.
Meski ada bagian istana yang tak dibuka untuk umum,
tapi kau tetap harus batasi "petualangan"-mu.
Maaf deh, kalau aku mondar-mandir sendirian.
Tadi Mitsuhide sampai kelewat panik, lo.
Obi, tak perlu dibahas lagi.
Kiki, apa aku masih punya waktu.
Ya, sedikit.
Begitu, ya.
Kalau kau, Shirayuki?
Oh, ada.
Nah, pas sekali.
Bagaimana kalau kita berlima pergi melihat-lihat acara di istana?
Selamat datang! Silakan mampir!
Wah, ada banyak penjaja makanan juga, ya?
Mereka sengaja didatangkan ke istana hari ini.
Oh, ada arak juga.
Minumnya nanti saja, ya.
Cepat! Cepat-
Aduh.
Kalau lari jangan lupa lihat ke depan, ya?
Semakin banyak pengunjung berdatangan.
Ya, sudah hampir jam makan siang, sih.
Lo? Kenapa Nona pakai hijab?
Ya, tergantung tempatnya,
tapi dengan begini, bisa lebih mudah berjalan di keramaian.
Begitu, ya.
Benar juga, soalnya rambut Nona sangat mencolok.
Oh? Seperti ada yang baru dimulai di sana.
Kira-kira apa, ya?
Ayo kita lihat.
Apa sebelumnya nona pernah terancam bahaya?
Oh. Wajar saja kalau dia menyembunyikannya.
Orang-orang di sekelilingnya dulu memang bodoh.
Mereka tak mengerti keindahannya.
Shirayuki.
Ya?
Di hari itu, aku mendengarnya dari Zen.
Kiki, Obi, Mitsuhide.
Mulai dari sini, aku ingin tapaki jalan bersama dengan Shirayuki di kerajaan ini.
Itulah harapan yang kusampaikan padanya.
Lalu, jawabannya?
Dia terima uluran tanganku.
Benarkah?
Syukurlah.
Zen bilang, ke depannya dia ingin tapaki jalan bersama denganmu.
Kau pun menginginkannya, 'kan?
Tentu saja.
Bagus, berjuanglah.
Kami selalu ada untuk kalian.
Tentu!
Oh!
Lo? Di mana Obi?
Oh.
Selesai!
Pemenangnya adalah Nanaki!
Tuanku, aku menang, lo!
Lihat, ini hadiahnya.
Kenapa kau malah seenaknya sendiri, sih?
Lagian, siapa juga "Nanaki" itu?
Kalau untuk turnamen begini, lebih keren pakai nama samaran, 'kan?
Terserah kau sajalah.
Terlepas dari kerennya, tapi aku jadi penasaran dengan ketangkasanmu, Obi.
Mitsuhide, kapan-kapan mau sparing melawanku?
Oh, boleh!
Zen, sudah waktunya.
Ya.
Kalau begitu, sampai nanti.
Ya.
Obi, tolong jaga Shirayuki, ya.
Ayo kita juga ikut lihat penampilan dari tuanku nanti.
Penampilan Zen?
Tapi, sebelum itu, Nona...
Ini untukmu.
Ini hadiah memenangkan turnamen.
Hiasan rambut dari kerajaan seberang.
Nanti jangan lupa pamerkan kepada tuanku, ya.
Pangeran Izana!
Pangeran Zen!
Pangeran Zen terlihat lebih berwibawa.
Wah. Seperti lihat orang lain saja.
Pangeran!
Zen, apa jalan pikiranmu sudah berubah dari sejak itu?
Tentang apa?
Tentang apa yang ingin kaulakukan bersama gadis itu ke depannya.
Kakanda, apa dibahasnya memang harus sekarang?
Ya.
Tentu saja, aku sudah memikirkan.
Bagaimana kami ke depannya nanti.
Zen.
Terkadang kita bertemu dengannya di istana,
dan habiskan waktu seperti tadi.
Kehadiranmu saat di sampingku masih bisa kurasakan di telinga maupun tanganku.
Tapi, di dalam istana ini, jarakku denganmu masih sangat jauh.
Meski begitu, kau selalu...
Tugasmu sudah selesai, ya.
Setelah ini kau mau apa?
Enaknya bagaimana, ya?
Ryuu!
Apa Anda tahu di mana Shirayuki?
Memangnya ada apa?
Ada seseorang yang terluka!
Apa engkau coba mengujiku?
Tidak, bukan begitu maksud saya!
Lalu, mengapa engkau berkata begitu?
Di hari bahagia seperti ini, engkau sangatlah lancang!
Saya hanya ingin Anda tahu yang sebenarnya!
Aduh, duh, duh.
Dia salah melangkahi anak tangga.
Obat penahan sakit!
Apa kau punya obatnya?
Aku masih harus tampil setelah ini!
Apa?
Makanya-
A-Aduh!
Aduh, duh.
Tulangmu patah.
Kalau terus dipaksakan, akan lama sembuhnya, Mbak.
Tak mungkin!
Sial!
Padahal pentas ini bertujuan agar aku bisa diizinkan masuk ke istana,
dan buat para pangeran jatuh hati padaku!
Nah, katanya begitu.
Bukankah kau hanya ingin uang bayarannya saja supaya bisa beli kostum baru?
Tentu saja! Aku ini kan aktris!
Aku ingin berpentas kenakan kostum indah,
dan memopulerkan namaku ke seluruh penjuru Clarines!
Duh, ya ampun, memalukan sekali aku.
Tidak, menurutku keren, kok.
Shirayuki.
Ya.
Rambut merah?
Pertama-tama, kami kompres dulu lukamu.
Apa kau bisa jadi pemeran pengganti?
No comments yet. Be the first to leave one.