نخستین 200 خط.
KBS Drama Special 2022 Episode 4: Nineteen Otters
Subtitle Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Nung
Nineteen Otters
Apa aku mencuri...
atau menghancurkan barang-barang?
Ini hanya sebuah kondom.
Aku hanya mencoba untuk membeli kondom ini.
Tapi lihatlah mata itu.
Wanita itu menjambak rambutku.
Lihat ini.
Dia terus bilang kalau dia hamil anakku. Apa ini masuk akal?
- Hyungbu! - Jae-young.
Jadi...
Tunggu!
- Tolong lepaskan. - Lepaskan aku!
Apa yang aku katakan saat kau membuatku hamil?
Kau bilang kita akan tinggal bersama dan membesarkan bayinya!
Jae-young, ini semua salah wanita itu.
Kudengar kau menyuruh Ji-seon untuk tidak menyajikan minuman untukku.
Jika itu demi aku,
lalu kenapa kau harus dilahirkan?
Jae-young!
Tunggu! Jae-young. Oke, aku mengerti.
Ini.
Uang untukmu.
Kenapa?
Aku membelinya untuk digunakan bersama kakakmu.
Omong kosong!
Kim Min-young, si bodoh itu, bahkan tidak bisa bernapas karena dia akan melahirkan secara prematur.
Kenapa membutuhkan kondom?
Jangan memanggil kakakmu dengan namanya.
Kau bilang akan memutuskan wanita itu? Kau memintaku merahasiakannya.
Tapi kenapa kau membeli kondom?
Heh!
Kau benar-benar ingin melihat Kim Min-young mempertaruhkan nyawanya lagi?
Siapa yang membuatnya mempertaruhkan nyawanya?!
Maksudku aku hanya mencoba untuk memakai pelindung.
Nih, ambil.
Oke? Ambil.
Bajingan sampah.
Aku tidak bermaksud menguping dengan sengaja.
"Ayah Woo-gyu meninggalkan keluarganya."
"Ibunya pecandu alkohol gila."
Jika tak mau dengar rumor seperti itu di sekolah,
lebih baik kamu lupakan apa yang barusan kamu lihat, Seo Woo-gyu.
Bagaimana ini?
Sayang, apa yang harus kita lakukan setelah kau melahirkan nanti?
Saat aku melahirkan...
Berikan ini ke kakakmu.
Mana sini kakimu.
Enak, 'kan?
Hey, waktunya makan.
Aigoo!
Wah, apa ini?
Seharusnya suruh saja aku untuk memanggang dagingnya.
Terima kasih untuk makanannya.
Bacot!
Kau baru keluar setelah masakannya matang.
Aduh!
Sayang, kenapa keluar?
Kau pasti lelah.
Ayo masuk.
Aigoo, lihat, perutmu bergerak!
Lucunya!
Sini, aku pijat. Ayo kita masuk.
Nanti aku bawakan daging. Ayo, masuk dan istirahat.
Di sini.
Mana sepatumu?
Sampai kapan aku harus tidur di ruang tamu?
Sampai kapan mereka akan tinggal di kamarku?
Kenapa itu kamarmu?
Itu kamar kalian berdua.
Kalau mereka tak punya tempat tinggal, tinggal saja di rumah mertuanya.
Kakakmu sakit, tidak bisa ditinggalkan.
Maka dari itu, siapa suruh dia sakit?
Kalian tidak melakukan apa-apa di rumah.
Tapi tidak pernah lupa makan tiga kali sehari.
Jika kau makan sekarang,
kau ingin aku makan nasi dingin saat aku selesai mandi?
Apa kau tidak punya pikiran?
Bajingan gila.
Hei, sobat.
Tukar tempat duduk denganku di jam pelajaran berikutnya.
Hanya vape sekali pakai yang tersedia.
Rokok 3.000, alkohol 4.000.
Korek api 1.000.
Kafe Studi Geumtop, Loker 55.
Passwordnya 1115.
Harus bayar sebelum jam 8 malam. Boleh pakai kupon.
Barang tidak bisa dikembalikan.
Haish, ada satu yang kurang.
Ayang, duduk di sebelahku.
Aku sudah tukar tempat duduknya.
Apa? Siapa yang ngebolehin kamu tukar tempat duduk?
Ayolah.
Bangun!
Latihan ujian sebentar lagi.
Kalian itu kelas 12 'kan?
Gak mau kuliah?
Bangun.
Seo Woo-gyu.
Kau gila ya?
Waahh....
Ternyata di kelas kita ada anak nakal.
Berani sekali.
Beraninya kau membawa rokok ke sekolah?
Keluarkan tasmu.
Keluarkan tasmu!
Aku bilang keluarkan tasmu!
Ah... benar-benar...
Karena ini baru pertama kalinya, jadi kami tidak akan memberimu sanksi.
Kau harus melakukan pekerjaan sukarela di sekolah, dan untuk orangtuamu...
Apa bisa ini dirahasiakan dari ibuku?
Aku tidak akan pernah melakukannya lagi.
Kita lihat bagaimana sikapmu nanti.
Sepulang sekolah nanti, kau harus menulis surat permintaan maaf.
Kembali ke kelas sekarang.
Ya, Pak.
Tunggu.
Darimana kau mendapatkan rokok itu?
Dari toko.
Di rumahku ada toko kelontong.
Besok akan kuganti rokok yang dirampas tadi.
Maaf.
Apa itu sebabnya kamu mengakui kalau rokok itu milikmu?
Karena merasa bersalah padaku?
Kamu mengancamku.
Akan menyebarkan rumor tentangku.
"Ayah Woo-gyu meninggalkan keluarganya."
"Ibunya pecandu alkohol gila."
Jika tak mau dengar rumor seperti itu di sekolah,
lebih baik kamu lupakan apa yang barusan kamu lihat.
Aku juga minta maaf.
Seharusnya aku tidak mengganggu keluargamu.
Aku tidak peduli.
Lagipula itu memang fakta.
Tetap saja...
Meskipun fakta, bukan berarti itu tidak menyakiti hatimu.
Kalau aku sudah melukai hatimu, sudah seharusnya aku minta maaf.
Reason 3 bungkus.
Tadi kakakmu menelepon.
Pemilik KTP itu.
Jangan pernah datang ke sini lagi.
Permisi!
Apa kau tahu berapa banyak rokok dan minuman yang aku beli di sini?
Akan kulaporkan ke polisi.
Kakakmu bilang kau tidak bisa melapor karena orang tuamu mungkin akan memukulmu.
Aish!
Darimana kau mendapatkan rokok itu?
Dari toko.
Di rumahku ada toko kelontong.
Hyungbu.
Kemarin kau dapat masalah di toko kelontong mana?
Tempatnya jelek, mana bisa berjualan di sini.
Sudah lihat semuanya, 'kan?
Itu benar-benar uang gratis.
Jauh lebih menguntungkan daripada kerja paruh waktu.
Terus?
Ayo kerja sama.
Kamu yang menyediakan barang, aku yang menjual ke teman-teman.
Pembagiannya 8:2.
Aku 8, kamu 2.
Kalau aku tidak dapat 8, aku tidak minat.
Ini ilegal.
Siapa yang bilang itu legal?
Makanya, beri aku akses untuk ambil barang-barang dari sini.
Aku akan menaikkan penjualan tokomu.
Kenapa kamu melakukan ini?
Aku membuka jalan untuk hidup mandiri.
Aku menabung untuk pindah dari rumah tahun depan.
Kenapa?
Hei, bahkan anak di bawah umur diusir dari warnet setelah jam 10 malam.
Menurutku lebih mudah saat usia 20 tahun untuk pindah daripada usia 19 tahun.
Bukan itu yang aku tanyakan.
Kenapa kamu ingin pergi dari rumah?
Lalu kenapa kamu membawa-bawa formulir pembatalan itu?
Bukankah kamu juga ingin pergi karena muak dan lelah dengan segalanya?
Aku juga begitu.
Aku mau mengantar ini ke studi kafe. Mau ikut?
Aku tidak ikutan.
Dan...
Bawa saja barang ini.
Anggap saja ini untuk mengganti rokok yang dirampas wali kelas.
Hey...
Kamu tidak punya hati nurani sampai menjual minyak pelumas yang kedaluwarsa?
Pulang dan tidur di rumah.
Dan kurangi minummu.
Bahkan cara sok' mengguruimu pun mirip seperti si brengsek itu.
Setiap kali aku melihatmu, aku merasa jijik.
Membuatku ngeri.
Meskipun fakta, bukan berarti itu tidak menyakiti hatimu.
Kalau aku sudah melukai hatimu, sudah seharusnya aku minta maaf.
Bukankah kamu juga ingin pergi karena muak dan lelah dengan segalanya?
Aku juga begitu.
Nak, kau harus berkata jujur.
Ini tindakan kriminal.
Apa itu?
Sunbae, keluar!
Kita harus pergi.
Ada apa?
No comments yet. Be the first to leave one.