نخستین 200 خط.
Diterjemahna neng: NDASERUAG
-- Selamat Mendeleng ---
Berdasarkan kisah nyata...
Ashgabat, Turkmenistan
Istanbul, Turki, Saat Ini
Dasar bajingan...
Memang kenapa?
"Seorang pria Istanbul telah didakwa dengan penganiayaan...
karena menyerang tunangannya sebulan sebelum pernikahan mereka...
disebabkan tunangannya mengenakan pakaian olahraga ketat di tempat umum.
Peristiwa sial terus berlanjut. Selang beberapa lama, pemuda itu
datang ke kantor eks tunangannya dan mengusulkan rekonsiliasi.
Ketika usulannya ditolak wanita muda itu...
dia menghujani tempat itu dengan peluru, menggunakan pistol ayahnya."
Dasar bajingan...
Benar-benar buajingan sejati.
Ungkapan yang lucu, bukan?
- Pengucapannya sambil manyun. - Apa?
"Buajingan".
Pipi digembungkan dan bibir dimonyongkan membentuk huruf "U".
- Pelafalannya memuaskan. - Ya. Aku juga suka saat mengucapkannya.
Selamat datang, Pak Baris!
- Selamat datang! - Baris: Apa kabar semuanya?
- Baris: Bagaimana kabar kalian? - Baik.
Aku lanjut. Sampai ketemu.
Halo, selamat datang. Apa kabar?
Yonca: Kurang begitu baik.
Selamat datang.
- Yonca: Cuaca panas sekali. - Rambutmu terlihat bagus.
Yonca: Sampai nanti.
Baris: Sayara.
Apa kabarmu?
- Aku tidak melihatmu seharian. - Terima kasih.
Ya Sayara, aku bermaksud berbicara denganmu.
Kamu lihat kami ada banyak pelanggan wanita...
bahkan lebih banyak daripada pelanggan pria.
Ada permintaan yang tinggi untuk les bela diri
dari para pelanggan wanita kami akhir-akhir ini.
Tapi, instruktur kita umumnya lebih seperti...
Personal Trainer, kamu tahu lah. Aku sudah memikirkannya.
Tiba-tiba terlintas di benakku, kenapa tidak kamu saja?
Maksudmu?
Kakakmu bercerita sedikit tentangmu padaku.
Kakakku?
Apa yang dia katakan?
Kalau dulu kamu di sekolah di Turkmenistan,
tidak ada yang berani macam-macam denganmu.
Dia bilang kamu memenangkan banyak turnamen saat masih muda.
Kamu tak pernah cerita hal itu padaku.
Aku tidak akan bohong...
Dengar...
aku telah memeriksa kamera CCTV beberapa kali...
Olahraga pagimu keren sekali.
Gerakanmu luwes seperti seorang atlit bela diri.
Jadilah instruktur di sini. Siapa pun bisa mengepel lantai, kan?
Maksudku... kamu tidak perlu melepas syal atau apa pun.
- Jika itu masalah bagimu... - Tidak, ini bukan soal itu.
Aku...
- Sudah berjanji pada ayahku. - Apa?
Aku sudah berjanji pada ayahku.
Untuk apa?
Untuk tidak pernah menggunakan apa yang kupelajari darinya.
Astaga.
Kenapa begitu? Aku tidak memintamu untuk menggunakan keahlianmu pada siapa pun.
Aku meminta apa kamu bersedia mengajari mereka yang membutuhkannya? Kamu tahu?
- Sampai jumpa lagi, pak. - Sampai jumpa lagi.
- Sampai jumpa, Pak. - Sampai jumpa.
Yah... Tidak ada gunanya memaksakan jika kamu tidak mau.
Aku hanya berpikir mungkin kamu sudah bosan mengepel lantai di sini.
Tapi sudahlah. Mungkin kita bisa bicara lagi lain waktu.
Ya?
Selamat malam.
Pak Baris!
Ya?
Selamat malam.
Yonca: Ayo.
Aku datang untuk menjemputmu.
Sayara: Kamu juga punya kuncinya?
Ya. Aku punya.
- Sayara: Kok bisa? - Yonca: Apa maksudmu kok bisa?
Sayara: Kamu tidak bekerja di sini.
Bukankah aku yang mencarikan pekerjaan ini untukmu?
- Terus? - Terus?
Kita sangat dekat dengan Baris.
Dia mempercayaiku. Dia memberiku kuncinya.
Tapi kenapa? Apa yang kamu lakukan di sini?
Sayara. Ada apa?
Apa kamu sedang bad mood?
Kenapa kamu kesal? Apa masalahnya?
Kenapa kamu memberi tahu Baris tentang ayah kita?
Sayara!
Kamu benar-benar sudah memberitahunya.
Dengar...
Kupikir ini bagus untukmu.
Kamu jadi bisa melakukan apa yang paling kamu sukai dan bahagia.
Hanya itu saja.
Daripada menyapu lantai seharian di sana...
Aku tahu aku bukan kakak perempuan yang sempurna.
Ayolah, jangan mulai. Tolong.
Bukan itu, tapi...
Sungguh...
Oke, oke, aku diam.
Sudahlah.
Ada apa?
- Ada apa? - Sayara, aku lupa sesuatu di gym.
Aku akan segera kembali. Tunggu di sini!
Sebentar!
Sayara, aku hanya mau ngambil sesuatu yang terlupa. Tunggulah.
Apa kamu gila?
Jaga bicaramu kalau bicara dengan kakakmu!
Apa kamu gila, kakak?
Semua orang di gym membicarakanmu. Kamu sadar tidak?
Kamu tahu situasi yang telah kamu ciptakan buat kita?
Sayara, lepaskan lenganku! Lepaskan!
Apa-apaan?!
Yonca?
Dasar pelacur!
- Yonca, berhenti! - Lihat aku!
- Lihat aku, kataku! - Apa yang kamu lakukan?!
- Apa yang kamu lakukan?! - Lepaskan aku!
Sialan, lepaskan dia!
Gül!
Kamu tidak apa-apa? Coba lihat wajahmu!
Coba lihat!
Kamu mematahkan hidungnya, dasar jalang gila!
Apa kamu tidak malu ngentot dengan pria beristri yang punya anak? Dasar jalang!
Hei, Yonca!
Cukup! Sialan, aku akan membunuhmu!
Tenang!
Sudah cukup! Demi Tuhan!
Gül...
Orang gila macam apa kamu ini?
Kamu menjadi psikopat hanya karena kita ngewe beberapa kali?
Berapa kali hal ini terjadi?
Berapa kali?
Orang-orang membicarakan kita, pelacur!
Apa kamu tak punya harga diri?
Martabat pun tidak?
Bukankah sudah kukatakan sedari awal?
Aku bilang aku punya keluarga.
Kubilang mustahil ada apapun di antara kita, kita tak bisa jadi kekasih.
Istriku tidak cemburu padaku,
kamu siapa sih sampai berani memata-mataiku, jalang?
Karena istrimu tidak tahu seperti apa dirimu sebenarnya.
Dengar...
Jangan telepon atau kirim pesan lagi padaku.
Jangan datang ke tempat gym ini. Apa kamu mengerti?
Pergi sana!
Oke. Aku akan pergi.
Lalu apa yang akan kamu lakukan?
Apa kamu bisa bersikap kasar ke gadis lain yang kamu kentotin, seperti padaku?
Diam! Diam!
Apa gadis lain mengizinkanmu memukulinya sepertiku?
Hapus nomorku dari ponselmu.
Tinggalkan kunci gym. Dan enyahlah dari hidupku.
Jangan pernah meminta sepeser pun lagi dariku. Mengerti?
Kamu jangan coba-coba...
Ya?
Apa? Kamu mau apa? Memang kamu mau apa, jalang?
Kamu mau apa?!
Akan kukirimkan video kita kepada istrimu.
Demi Tuhan, jika kamu melakukan itu...
aku akan membunuhmu, Yonca.
Sumpah, aku akan membunuhmu.
Dan aku juga akan memberitahu ayahku.
Kami akan bilang itu bunuh diri.
Tidak seorang pun bisa berbuat apa pun...
Akan kukirim ibumu dan adikmu kembali. Mendeportasi mereka.
Mereka bisa makan kotoran, aku tak peduli.
Kamu mengerti?!
Kenapa kamu menangis, dasar psikopat?
Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan!
Dasar jalang terkutuk.
Ya, ini salahku. Ini salahku.
Aku telah melindungimu selama ini. Ini salahku.
Sedang apa kamu?
Oke, aku minta maaf.
Mari berbaikan.
Pergilah ke neraka, Yonca.
Aku benar-benar minta maaf, Baris... Plis.
Plis, apa?
Mari kita berbaikan.
Apa kamu seorang maniak, jalang?
Ya. Itu benar! Kamu tidak tahu?
Kamu mematahkan hidung gadis itu, Yonca.
Oke, aku juga minta maaf soal itu.
Minta maaf? Dia akan menceritakannya kepada semua orang sekarang!
Oke...
Kalau begitu, hukum aku.
- Apa? - Hukum aku.
Seperti biasanya.
Pukul aku lebih keras.
Cambuk aku. Buat aku menangis.
Patahkan lenganku, patahkan kakiku. Pukuli aku.
Kakak...
Ayo, Kak, kita pergi.
Sampai jumpa besok, Baris.
Aku benar-benar minta maaf atas kejadian malam ini.
Aku kehilangan akal sejenak.
Aku mencintaimu.
No comments yet. Be the first to leave one.