نخستین 200 خط.
"Seri Drama Coupang"
"Kim Soo Hyun"
"Cha Seung Won"
ONE ORDINARY DAY
"Penjara Utara"
Pak Kim.
Malam itu.
Apa Anda
membunuh
Nona Hong Guk Hwa?
"Membangun Masyarakat yang Taat Hukum Melalui Reformasi Murni"
Entahlah.
Saya tidak tahu lagi.
Apa maksudnya?
Apa itu artinya ada kemungkinan Anda membunuh Nona Hong?
Pak Kim, tolong jawab pertanyaan jaksa.
"Episode 7, Transformasi"
Hong Guk Hwa. Kau membunuhnya, bukan?
Bukan aku.
Terserah. Itu tidak mengubah fakta
kau harus duduk di pengadilan
dan memberikan alibi untuk waktu kematiannya.
Hei. Kubilang bukan aku.
- Bedebah! - Bedebah!
- Sial! - Sial!
Kurasa kau mencoba melibatkanku,
tapi aku bukan orang bodoh.
Aku tidak akan tertipu olehmu.
Hei!
Hei, tangkap bedebah ini atas percobaan pembunuhan.
- Sekarang! - Astaga.
Letakkan itu, dan kita akan bicara. Ayo. Letakkan.
Aku polisi.
- Hei. - Sial.
Jika terlambat semenit saja,
kau akan mengadakan pemakaman untukku sekarang.
Mengebut dalam hujan hampir membunuhku.
Apa itu?
Apa lagi menurutmu? Kau pikir aku tidak bawa senjata?
Beraninya dia melempar kapak.
Dia pikir dia Apache?
Kau sungguh merepotkan.
Ya, Pak Shin.
Hai, Nona Seo. Bagaimana hasilnya?
Kau berhasil mengajari Jaksa An beberapa hal lagi?
Bagaimana denganmu? Apa semua baik-baik saja?
Nona Seo.
Kau terdengar kesal. Apa yang terjadi?
Kurasa aku mengacaukan semuanya.
Seharusnya aku menghentikannya dengan cara apa pun.
Apa maksudmu?
Apa yang terjadi?
Maafkan aku.
Begini,
meski kau membawaku ke ruang sidang,
hasilnya akan sama.
Kau dan Nona Seo sudah melakukan yang terbaik.
Jangan terlalu khawatir, ya?
Mereka tidak mendapatkan bukti baru dengan memeriksamu.
Tidak ada yang berubah.
Kurasa aku melihat jarinya bergerak.
Apa?
Guk Hwa.
Awalnya, aku tidak ingat pernah melihatnya.
Namun, aku banyak memikirkannya
dan kurasa aku ingat melihat jarinya bergerak.
Kau salah.
Pisau menusuk lehernya,
juga jantung dan paru-parunya. Dia tewas di tempat.
Kalaupun jarinya bergerak,
itu disebut "rigor mortis".
Biasa terjadi pada pembunuhan sadis.
Aku harus kembali ke selku.
"Tata Tertib"
Hei, lupakan saja.
Tidak apa-apa. Kau punya aku.
Astaga.
Sial.
Astaga, yang benar saja.
"Sewa Pengacara Shin Joong Han Hanya dengan 300 Dolar"
Siapa yang mencoret-coret wajahku?
Ini bahkan tidak mau hilang.
"Perceraian, Hak Asuh Anak, Pembagian Aset, Warisan"
"Yoon Hyo Jung"
Teman sekamar
korban. Lalu...
Um Ki Jong.
Terlibat secara seksual
dengan korban.
Tidak.
Lee Chul Ho.
Sebelumnya dihukum atas kejahatan yang sama.
Tunggu.
Sial.
"Lee Chul Ho, sebelumnya dihukum atas kejahatan yang sama"
Sial.
Sial...
Kudengar kau bilang tidak tahu saat di ruang sidang.
Awalnya, kau bersikeras tidak ingat apa pun.
Sekarang, kau tidak tahu kau membunuhnya atau tidak?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Ini yang aku ingin tahu.
Mungkin kau ingat yang terjadi, tapi hanya ingin
percaya bahwa kau tidak membunuhnya.
Bangun!
Bangun!
Perhatian!
Rapikan seragammu.
Hei, kau.
Jadi, Kim Hyun Soo, si bodoh itu, memang membunuhnya.
Bedebah itu.
Setelah berpura-pura tidak bersalah.
Kembali ke posisi!
Dia bilang, "Saya tidak tahu."
Apa menurutmu itu bisa ditafsirkan sebagai pengakuan bersalah?
Dia bisa bersikeras bahwa dia tidak mau memberikan kesaksian palsu
saat dia sungguh tidak yakin.
Namun, benar kebanyakan hakim secara tidak langsung akan mengartikannya
sebagai pengakuan bersalah.
Banyak yang berspekulasi bahwa kejaksaan
- akan meminta hukuman mati. - Hei, Nak.
- Habislah kau. - Untuk Kim Hyun Soo,
- tersangka dalam kasus ini... - Lalu bagaimana sekarang?
Kejahatannya cukup keji.
Itu artinya jaksa bisa meminta hukuman mati.
Sepanjang kasus ini, kejaksaan
telah mengambil sikap pantang menyerah.
Dasar bocah bermuka dua. Benar, bukan?
Tentu saja.
"Kembangkan Moralitas untuk Hidup yang Lebih Sehat"
"Jaga ketertiban"
Baik. Aku akan menghubungimu.
"'Kim Hyun Soo Mengaku? Hukuman Mati Bisa Diberikan'"
Jangan terlalu khawatir.
Tiga puluh tahun akan berlalu tanpa kau sadari.
Omong-omong,
siapa yang memakai ponsel lipat jelek seperti ini sekarang?
Kau setuju, bukan?
"Area Terlarang"
"Rehabilitasi"
Haruskah permainannya sesulit ini?
- Sial. - Kembalikan ponselku.
Sial, aku kalah.
Berandal.
Bagaimana kau bisa membuktikan bahwa ini milikmu?
Aku tahu kau mencurinya, Berengsek.
Apa?
Berengsek?
Kembalikan!
Kembalikan?
Dasar kau...
Berandal.
Aku menantangmu untuk membantah lagi.
Aku tiba-tiba kehilangan selera makan.
- Ayo pergi. - Menyebalkan.
Sial.
Adang dia, sial.
"Jaga Ketertiban"
Baik, bagus.
Ayo. Tunjukkan caranya.
Lebih kuat lagi. Bergoyanglah dengan serius.
Dorong seperti ini.
Apakah sesulit itu? Coba saja.
Bagus!
Bagus sekali.
Bagus.
- Di sini. - Bagus!
"Ada Harapan untuk Lembaran Baru"
Aku butuh bantuanmu.
Duduklah.
"In dubio pro reo."
"Nemo praesumitur malus."
"Jika ada keraguan, ringankan terdakwa"
"Praduga tidak bersalah"
Ini tato pertama yang kubuat saat usiaku 20 tahun.
Saat itu, aku kutu buku yang gemar membaca.
Aku terjebak dalam kasus penyerangan dan difitnah.
Tidak ada yang memercayaiku.
Sepertimu, aku mencoba semua yang aku bisa.
Aku bahkan mencoba bunuh diri.
Di ambang kematian, aku mendapat pencerahan.
Bahwa aku memegang kunci kebebasanku.
Untuk bertahan hidup,
akulah yang harus berubah.
Pilihan ada padamu, Hyun Soo.
"Jika ada keraguan, ringankan terdakwa"
"Praduga tidak bersalah"
"Wanita yang dahulu kucintai"
"18 panggilan tidak terjawab"
Kenapa berantakan sekali?
Kau tahu ini alasanku menceraikanmu.
Kenapa kau datang tanpa pemberitahuan?
Aku menelepon dan mengirim pesan lebih dari sepuluh kali.
"Tanpa pemberitahuan"?
Aku kemari bukan karena mencemaskanmu.
Aku ingin bicara denganmu sebelum pemeriksaan saksi.
Lihatlah.
Tentu, terima kasih.
Kau tahu, soal Kim Hyun Soo...
Aku tahu dia asma, tapi apa dia mengidap penyakit lain?
No comments yet. Be the first to leave one.