نخستین 200 خط.
"Satu, dua... jadi empat..."
"Satu, dua..."
"Kau begitu muda..."
Champak...
Sudah sering kubilang, jangan letakkan tempat tidur di depan tangga.
Aku selalu terluka tiap pagi saat ke kamar mandi.
-Selamat pagi, Papa. -Selamat pagi, Papa.
Sudah jam sembilan dan kau tidak membangunkanku?
Terlambat lagi, kau terlambat sekolah lagi.
-Aku terlambat ke kantor lagi. -Sudahlah, Papa.
Apa bedanya?
Polisi selalu datang terlambat, setelah semuanya selesai.
Begitukah? Siapa yang bilang begitu?
Itu yang selalu terjadi di film-film.
Dasar remote. Ini bukan film, ini kehidupan nyata.
Dalam hidup nyata, kita semua sangat berani.
Dan kita menghadapi semua rintangan dengan berani.
Papa kita pahlawan meski di dunia nyata, bukan?
Papa kita hebat!
Apa ini? Kau mengompoliku lagi.
Kenapa kau lakukan ini?
Papa, bukan Papa, aku mengompol di celana.
Tapi kau duduk di atasku, kan?
Ayo, cepat, kita terlambat sekolah.
Tapi Papa. Hari ini libur.
-Kenapa? -Ulang tahun kepala sekolah.
Kenapa tidak bilang dari tadi?
Begitukah?
Hei...
Kau pembohong.
Champak, apa kau mati? Angkat teleponnya.
Dasar bajingan, tidur seperti babi, bangun.
Kenapa tidak angkat teleponnya? Sudah berdering sejam.
Tidak lihat aku sedang di kamar mandi?
-Halo. -Halo?
Jam berapa kereta Frontier Mail berangkat?
Apa? Jam keberangkatan Frontier Mail?
Nyonya, ini rumahku, bukan loket informasi kereta.
Selesai.
Hei, ada batasnya untuk bersikap kurang ajar.
Jangan lampiaskan amarah orang lain padaku.
Dan aku tidak kurang ajar, kau yang kurang ajar.
Kau sudah menendangku dua kali sejak pagi.
Itu karena kata-kata saja tidak cukup untuk membuatmu paham.
Katakan sesuatu, kenapa kau tidak pergi dari sini?
Kau bilang kau akan tinggal di sini tujuh hari.
Hari ini sudah tujuh bulan.
-Sudah enam bulan. -Ya, ya. Aku tahu. Enam bulan.
Persetan dengan enam bulan, kau sudah di sini enam bulan.
-Pergi sana! -Aku akan pergi.
Produser sudah berjanji padaku. Aku akan tanda tangan lalu pergi.
Aku sudah mendengar "produser berjanji padaku"
selama enam bulan. Berapa lama aku harus menahanmu?
Apa masalahmu, kawan?
Aku tidak tinggal di sini gratis. Aku mengurus rumahmu.
Oh, benarkah?
Sejak kau datang, kau sudah membakar tiga selimut
dan dua bantal dengan rokokmu.
Kau mengubah semua cangkir, piring,
dan mangkuk jadi asbak.
Itu kesalahanmu. Kalau kau orang pintar,
belilah beberapa asbak dan taruh di rumah.
Kalau mau uang, bilang saja. Pernah aku bilang tidak?
Kenapa? Kenapa aku harus beli asbak?
Aku tidak merokok! Aku tidak merokok!
Tapi kau harus menyediakannya untuk tamu.
Champak!
Pukul aku! Pukul aku! Tembak! Tembak!
-Aku akan menembakmu hari ini. -Hei! Hati-hati!
Dengar, Champak. Aku setuju kita dulu berteman.
Kita dulu kuliah bersama...
-Tidak bersama, tidak bersama. -Biarkan aku menyelesaikan kalimatku.
Aku tahu kau menyelamatkanku dari perpeloncoan.
Tapi kau minta tiga ratus rupee untuk itu.
Berapa yang kuminta darimu? Lima ratus.
Berapa yang kau beri? Tiga ratus.
Dua ratus lagi belum dibayar.
Tapi apa gunanya?
Siapa yang akan membayar perpeloncoan dan omelan yang kau berikan padaku
selama enam bulan terakhir? Dan aku juga tidak menginginkannya.
Karena aku memutuskan tidak bisa menoleransi keberadaanmu di rumahku.
Ini rumahku.
Aku ingin sendiri di sini. Aku menghargai privasiku.
Kau tidak akan mendapatkan privasimu.
Kau polisi. Pelayan publik.
Dan pelayan publik tidak punya privasi dalam hidupnya.
Sekarang mereka akan punya.
Aku membawa kunci duplikat rumah ini.
Dan dengar, Champak. Saat aku kembali...
Bawa harmonium, drum, dan gitarmu, lalu pergi.
Dan kunci pintunya dengan rapat saat kau pergi.
Paham? Selamat tinggal.
Katakan sesuatu. Apa yang harus kupasak untuk makan malam?
-Pare atau labu siam? -Kau...
Aku tidak mau pare maupun labu siam. Paham?
-Haruskah aku pesan dari restoran? -Oh, diamlah!
Aku akan membunuhnya dalam baku tembak.
Dia sangat menyayangiku. Anak nakal.
PR berarti PR, Nak.
Kau ingin jadi penari, aku tahu itu.
Kau terus menari sepanjang hari, tapi kau harus belajar juga.
-Baik... Ada apa, pembohong kecil...
Kenapa kau tidak minum susunya?
Papa, bolehkah kuberikan susu ini untuk Dewa Ganesha?
Kenapa?
Keajaiban terjadi beberapa hari lalu.
Itu akan terjadi hari ini juga. Aku sayang Dewa Ganesha.
Papa juga sayang Dewa Ganesha, Sayang.
Tapi kau harus minum susunya sekarang.
Dia di sini...
Sekarang lihat. Deterjen beraksi.
Ayo, Javed...
Hei, ritsletingnya macet di sini.
Hati-hati, Javed.
Bukan milikku. Ritsleting anak ini macet.
Selalu saja ada sesuatu yang macet pada mereka.
-Aduh, Papa! -Sudah. Sudah. Santai saja.
Halo, Paman.
Hai.
Javed... ayo...
-Papa memanggilmu ke atas. -Papa memanggilmu ke atas.
Kenapa kalian berdua menyanyikannya? Ayo.
Ayo.
Masih macet dengan ritsletingnya? Javed...
Oh! Ada apa?
Tidak ada. Sepertinya aku salah langkah.
Kau tidak salah langkah.
Kau jatuh terguling di tiap anak tangga.
Kau... -Arun!
Maaf, Javed. Aku penasaran,
kenapa kau tidak masukkan mereka semua ke asrama?
Aku punya anak bukan untuk dimasukkan ke asrama.
Kenapa orang punya empat anak?
Bukan empat. Tiga. Salah satunya anak sepupuku.
Dia meninggalkan anaknya tiga bulan. Sudah tiga tahun belum kembali.
Kenapa tidak kau kirim balik saja?
Dia baru saja melahirkan dua lagi.
Aku berpikir untuk membawa mereka ke sini. Kau tahu aku suka anak kecil.
Apa seluruh keluargamu terus melahirkan anak?
Hei!
Kau tidak akan hidup kalau orang tuamu tidak
melahirkanmu.
Siapa yang kau tendang? Sini!
Dia sangat nakal belakangan ini.
Hei, polisi, turunkan aku, turunkan aku.
Kau akan paham saat kutampar sekali.
Jangan panggil aku polisi. Ayahmu polisi, mengerti?
Kenapa polisi ini ada di kepolisian?
Dia selalu memprovokasi kalian.
Orang tidak bicara seperti itu pada orang tua, Nak.
Papa. Dia ingin kita jauh darimu.
Kami tidak akan pergi ke asrama.
Tidak penting untuk pergi ke asrama.
Tapi kau tetap sekolah, kan?
Jaga adikmu. Pastikan dia makan tepat waktu.
-Paman, apa Paman polisi? -Ya, Nak.
-Apa yang Paman lakukan pada negara kita? -Hei...
-Temui aku di luar. -Hei... Kau...
Dasar gendut... dasar gendut... Sini kau...
"Aku akan datang ke Tuhan, merobek rompi..."
"Dewi, tolong aku... hancurkan atap."
"Oh yang bersama harimau, yang membawa cahaya...
Tunjukkan dirimu." Tolong ambil kaset ini.
Apa yang akan kulakukan dengan banyak kaset?
Pak, satu kaset berguna untuk Anda.
Sisanya, mau didengar atau tidak, beri ke pacarmu.
Siapa gadis bersama Javed ini?
"Lupakan 'halo', 'hai', lantunkan nama Dewi."
Cukup...
Apa kau pernah mencoba bernyanyi?
Pak, apa yang bisa kukatakan? Bisnis musik itu buruk.
Kalau tidak, aku sudah punya tiga atau empat kaset di pasar.
-Dengan Daler Mehndi. Mau dengar? -Begitukah? Tidak.
Tidak masalah.
Javed, siapa ini?
Siapa pemuda ini? Dia tampan.
Apa dia adikmu?
Ya, dia seperti adik sendiri. Dia belum menikah.
Kami sedang mencarikan gadis untuknya.
-Untuk mengurus rumah dan keluarganya. -Oh! Javed...
Oh, polisi...
Bolehkah aku datang mengurus rumah kosongmu?
Aku tahu 150 masakan Cina, Punjabi, dan Mughlai.
Dan aku tahu 200 kidung untuk sang Dewi.
-Tolong lepaskan tanganku. -Tidak mau!
Gadis dari Haryana, sekali memegang tanganmu
mereka tidak akan melepaskannya sampai
tangannya lepas dari sendinya.
Ya, kami mencari seseorang seperti ini...
-Lepaskan tanganku... lepaskan... -Sudah kulepas.
Apa ini?
Dia tersipu dan punya lesung pipi...
Seperti Ricky Martin, saat tersenyum.
"Satu dua tiga..."
"Hitung keajaiban sang Dewi."
"Satu dua tiga..."
-"Hitung keajaiban sang Dewi." -Apa ini? Ayo, Javed.
-Dia akan membuatku gila. Ayo. -Kau harus punya wanita seperti ini.
Pak, aku akan menemuimu minggu depan. Bawa Ricky Martin-mu.
Dia punya lesung pipi yang bagus.
No comments yet. Be the first to leave one.