نخستین 200 خط.
Aku sangat merindukan tempat ini. Indah sekali. bukan?
Kau sangat membosankan dari semenjak di bandara.
Jangan begitu. Lihatlah, sekelilingmu, begitu hijau dan indah.
Benarkan, Ezgi? Lihatlah.
- Astaga dia masih menari tango. - Tango apa?
Lupakan tango.
Kita akan menari Horon Ezgi, sadarlah, Ezgi!
Pria yang sedang jatuh cinta! Cukup!
Baiklah. Semua akan baik saja.
Seharusnya begitu.
Sekarang membuatmu sedih, tapi nanti akan menjadi kenangan indah.
Coba pikir, kau menyalakan lilin...
...merayakan pernikahanmu yang ke-40 tahun, kau bilang pada Yesim...
...."Kau ingat? Aku baru ingin melamarmu tapi kau mengacaukannya...
...dengan menyinggung soal kakakku" lalu kau tertawa.
- Itu tak akan terjadi. - Kenapa begitu?
Karena aku tak akan merayakan hari jadi apa pun dengan lilin.
Kadang aku kasihan dengan Yesim.
Apa rencana B? Apa yang akan kau lakukan?
Aku akan bicara jujur pada kakakku.
Lakukan itu. Kau harus melakukannya.
Omong-omong, aku ingat saat Yalin tak bisa bicara.
Umurku masih panjang. Aku harus menghargainya.
Cinar!
Cinar!
Apa itu Habibe?
- Itu memang dia. - Cepat lari. Dia tidak bisa lari.
Bersama adiknya, Defne.
Hei! Tidak, enyahlah.
- Selamat datang. - Terima kasih, Habibe.
- Hei, Habibe. Kau tidak apa-apa? - Aku luar biasa.
Aku sudah terima salam darimu, Ayahku yang beritahu.
Aku sudah terima salam darimu, Ayahku yang beritahu.
- Aku sudah terima. Tenang saja. - Terima apa? Pergi sana.
Kau benar. Aku harus pergi.
- Jangan tertawa. Awas kau. - "Sudah kuterima. Tenang saja."
Nenek Pembe, selamat datang.
Hei, Habibe! Gadis ini manis sekali.
- Toprak, selamat datang. - Tahan, Habibe. Terima kasih.
Kenapa kau meninggalkan Cinar? Kembalilah padanya.
- Tidak. Dia menyuruhku pergi. - Dia mengusirmu?
Tidak. Maksud dia "pergilah, ada orang tua di sini...
...itu tidak sopan, jangan mendekatiku sampai aku menikahimu."
Dia sangat hati-hati sekali.
Jangan tertawa, awas kau.
Jangan kuatir, jika tak bisa menikahi Yesim, Habibe akan menikahimu.
Defne, hentikan atau kau akan tahu akibatnya.
Ayolah, dia sudah menunggumu dari sejak dia berusia 12 tahun.
Tunggu, Dafne. Jangan tertawa.
Aku akan temui yang lain.
Aras, kau sudah sampai?
Belum, mereka berhenti di semua tempat yang mereka lihat, kami belum sampai.
- Kau belum beritahu Defne, ya? - Aku belum beritahu dia.
Kakakku juga belum beritahu apa pun.
Baiklah, aku akan meneleponmu saat kami sudah di hotel.
Jangan menginap di hotel. Menginaplah bersama kami.
Kakakku menyuruh agar melarangmu menginap di hotel.
Dia sudah siapkan rumah di Surmene,...
...jika kau tidak mau menginap di rumah pedesaan.
Kami bisa menginap di rumah pedesaan, ya?
- Kami hanya tak ingin mengganggumu. - Kau tak akan mengganggu kami.
- Cepatlah, kami menunggumu! - Lebah! Tolong! Kakak!
Sebentar, Yesim sedang dikejar lebah.
Aku akan tutup teleponnya, sampai nanti.
Dasar cengeng.
Astaga.
Kakak, Ara sedang menuju kemari.
Mereka ingin menginap di hotel tapi aku melarangnya.
Tentu tidak. Mereka akan berbisnis dengan kita.
Mereka akan menginap di rumah di Surname, atau di sini?
- Mereka akan kemari. - Hei! Apa yang Aras lakukan di sini?
Nenek, ada pekerjaan di galangan kapal.
Mereka juga akan datang ke pernikahan Osman.
- Baiklah kalau begitu. - Ya.
Kita harus mengurus makanan dan yang lainnya,...
...ayo kita ke desa dan membeli sesuatu.
Ayolah, Toprak, aku tidak dengar itu.
Sudah kubilang, aku sudah mengurus semuanya.
Bagaimana kau bisa mengurus semuanya?
Nenek Pembe memberikan kuncinya pada Ibuku.
Saat dia bilang kau akan datang,...
...aku membersihkan rumahnya dan menyiapkan makanan.
Bagus, Habibe. Kau baik sekali.
Kau tak perlu repot-repot.
Ayolah! Aku tidak dengar itu. Aku sudah beri makan sapi di gudang.
Ayam dan induknya sudah ada di kandangya.
Aku sudah memotong rumput di sekitar rumah. Ya!
Sekarang sudah beres.
Ayo, masuklah ke rumah, mandi dan istirahat.
Aku sudah mengganti handuknya. Aku juga sudah menyiapkan mejanya.
- Ayo, cepat. - Ayo.
Apa dia mengundang kita ke rumah kita sendiri?
Benar. Kurasa dia terlalu menghayatinya.
Aku akan cekik dia sebelum malam tiba. Aku serius.
Ayolah, ayo.
Selamat datang. Selamat datang, tuan.
Apa kabar?
Meftune, selamat datang.
Selamat datang, sayang.
Terima kasih, sayang.
Selamat datang.
Selamat datang juga. Tapi, kau siapa?
- Aku Yesim. Kau siapa? - Aku Habibe. Cinar...
Astaga! Habibe, cepat pergi, jangan membuatku marah!
Aku mengerti. Jangan kuatir.
Dia mengusirku agar aku tidak menjadi pembicaraan orang.
Dia memang pria sejati.
Cinar? Siapa gadis itu? Kenapa dia genit sekali?
Yesim, bisa kau hentikan itu?
AKu sudah cukup mendengar suaranya, jangan mulai.
Ayo, silakan masuk.
Jangan.
- Selamat datang keluarga Aras. - Terirm kasih.
Apa kau membawa cucu-cucumu, Tn. Aras?
Hati-hati, ikatlah mereka dengan erat.
Nenek, bisakah nenek diam?
Apa yang aku katakan? Aku hanya tak ingin mereka tersesat.
Mereka bisa pulang sendiri, Ny. Pembe. Jangan kuatir
- Biarkan aku mencium tanganmu. - Lakukanlah. Kau sudah terbiasa.
- Apa yang nenek katakan? - Katanya aku sudah biasa mencium.
Astaga! Seharusnya kau katakan sudah terbiasa...
...dan menyukainya, dia harus berhenti.
Cinaar. Apa maksudmu?
Selamat datang, pria payudara.
Terima kasih, bisakah kita lupakan soal itu?
Lupakanlah, kami tak akan mengingatnya.
Mari, silakan masuk.
Jangan menunggu di pintu.
Dia gila seperti yang Anda bilang, Tn. Sureyya..
- Seperti ini: Chook, Kemarilah. - Ayo, Kemarilah.
Itu untuk kuda, nak. Katakan, "chook, chook."
Ezgi! Ada Deniz di belakangmu!
- Defne! - Baiklah.
Aku akan menyapa Gelincik dan Tosun.
Ini sungguh sebuah kejutan.
Cubit aku.
Aku akan lakukan yang lebih baik.
Selamat pagi, Turkey!
Masih memberi makan lembu?
Apa kabar kalian semua? Semoga baik saja.
Hei, Civan!
Tosun, berat badanmu turun? Hei, Gelincik.
Dia itu lembu, yang kau cintai itu ada bersamamu...
...kalian bersama-sama, itu bagus.
Perhatikan orang yang kau cintai. Hargai lembumu.
Lihatlah aku. Aku sendirian di puncak gunung ini.
Ya. Ada seseorang.
Civan, tutup telingamu.
Lagi pula, kau sama seperti kakakku.
Aku tak ingin kau berteriak juga.
Baiklah, jika kau tak akan teriak, dengarkan saja. Akan kukatakan.
Aku jatuh cinta dengan pria bodoh.
Aku sangat mencintai dia.
Toprak tidak tahu. Yalin memaksaku agar beritahu Toprak.
Yesim dan aku menyukai pria yang suka memaksa.
Menyuruhku agar beritahu kakakku, kakeknya.
Sekarang semua sudah tahu, jangan sampai ada yang tidak tahu.
Sekarang semua sudah tahu, jangan sampai ada yang tidak tahu.
"Kakak, kami menjalin hubungan, jangan macam-macam."
Tidak, aku tak akan beritahu Toprak,...
...aku sudah dapat pelajaran dari Cinar. Tidak akan kukatakan.
Tapi, kau tahu, betapa beruntungnya diriku.
Hari di mana dia akan beritahu Toprak, kami datang kemari. Kenapa?
Karena aku tidak boleh mati dulu,...
Umurku masih panjang.
Kekasihku pergi dengan tangan terikat.
Tapi, aku harus kuakui.
Aku ingin tahu jika aku membiarkannya bicara pada kakakku....
...agar kami tak berpisah sekarang.
Aku sangat merindukannya.
- Seberapa rindu? - Sangat.
Aku lepas kendali, bukan?
Aku tak bisa bedakan mana yang nyata dan mimpi.
Aku menderita skisofernia.
Dan aku tak menderita skisofernia.
Kau nyata. Kau di sini. Hei!
Kenapa kau ada di sini?
Baiklah, kau memanjat tangga darurat...
...dan datang ke kamarku, tapi bagaimana kau bisa datang...
...ke rumah nenekku?
- Apa kau sangat merindukanku? - Aku ke sini bukan untukmu.
- Lalu untuk siapa? - Untuk kakakmu.
Meski kau pergi, aku akan bicara dengannya.
Yalin! Kurasa kau salah mengatakan pepatah itu.
Kau akan pergi dan bicara dengan kakakku, meski dia berada di China!
Tidak, kau putus asa.
Aku rindu bicara denganmu, Aku memang putus asa, Defne.
Teman-teman, makanan sudah siap.
Cepat, sebelum ada tahu kalian tak ada di sana.
Tn. Sureyya, kau boleh duduk di sini.
Ayo Aras. Deniz, ayo. Yesim
Silakan duduk.
Yesim.
Permisi.
- Dia jatuh. Apakah sakit? - Habibe, sedang apa kau?
Hentikan.
Tentu saja kau jatuh, jika menatap Cinar seperti itu.
Tenangkan dirimu, sayang.
Habibe! Pulanglah! Kakak!
Dia harus pulang!
No comments yet. Be the first to leave one.