نخستین 200 خط.
Kau mau lepas tangan dari proyek ini?
Mereka tak bisa seenaknya mengubah tenggat.
Kita punya kontrak. Ini masih jauh dari uji beta.
Itu akan menyulitkan kita.
Hampir semua misi masih memiliki bug. Kami butuh masukanmu, Tim!
- Tim, kau dengar? Kau harus… - Secara teknis, itu bukan…
- Kau dengar kami? - Sialan.
- Ayolah. Halo? - Kami membutuhkanmu.
Kami butuh umpan balik.
Tiga hal yang kau sukai dariku.
Matamu, hatimu, dan bintik di wajahmu.
Bak langit malam penuh bintang.
Aku suka tawamu.
Saat kau tertawa, aku merasa bahagia.
Halo.
Kau pandai menceritakan kisah-kisah hebat
meski itu hanya soal gim komputer.
Lihat, kau ada di dalam sini.
Aduh! Sial.
Tim?
Kau baik-baik saja?
Hei!
Jangan kagetkan aku seperti itu.
Maaf.
Kau baik-baik saja?
Ya, semuanya baik-baik saja.
Sini, kutunjukkan sesuatu.
Aku masih harus bertelepon.
Hei, Anton.
- Hei. - Halo.
Seharusnya sudah selesai.
Lalu pastikan kolega Anda tak terus menabrak kamera pintu.
Hei, Tn. Friedman.
- Renovasinya hampir selesai? - Sudah saatnya, 'kan?
Ada kebakaran besar di HafenCity. Beritanya ada di mana-mana.
Terima kasih atas kesabaran Anda selama tiga bulan ini.
Kini, semua akan jadi jauh lebih baik.
Ya, semoga saja. Selamat malam.
- Selamat malam. - Malam.
Mau makan piza?
- Sayang, aku masih harus bertelepon. - Sebentar saja.
Baru kuambil dari bengkel.
Oke.
Jalan-jalan terakhir sebelum semuanya dimulai!
Paris?
Apa maksudmu?
Jika berkendara sepanjang malam, kita bisa sarapan di Café de Flore.
Terus melaju saja, ke mana pun itu.
Awal yang baru.
Awal baru kita.
Aku sudah berhenti kerja.
Aku harus beranjak, Tim.
Begitu pun kau.
Jika tak sekarang, kita takkan memulainya.
Ya, aku sudah berjanji. Pasti kutepati.
Tapi aku tak bisa berhenti kerja begitu saja.
Liv, gim ini adalah…
Gim ini sangat penting bagiku.
Bisa kapan-kapan saja?
Ya, bisa.
Maaf, ini harus kuangkat.
Perilisannya dimajukan. Kau sudah tahu, 'kan?
Liv?
Liv?
Aku akan pergi tanpamu.
Dan takkan kembali.
- Serius? - Kau takkan pernah berubah.
Tunggu. Apa? Kau mau meninggalkanku?
Itu maksudmu? Atau…
Apa itu?
Entahlah.
Aku mau keluar.
- Ini bukan ulahku. Mana mungkin… - Aku mau keluar!
Aku pun tak tahu ini apa. Ini keras sekali.
Halo? Sial! Halo?
Tim?
Kurasa ini berkaitan dengan renovasi.
Halo!
Lakukan sesuatu! Astaga…
Halo?
PEMILIK GEDUNG
Ada orang di luar? Bisa dengar aku? Halo!
TIDAK ADA JARINGAN
- Kau dapat sinyal? - Apa?
Kau dapat sinyal?
Wi-Fi-nya terputus.
Sial, semuanya terputus.
- Kau mendapat sinyal? - Tidak.
Ini bukan serat karbon.
Ini bukan granit cair.
Jenis material apa ini?
Tak masuk akal. Susunannya, ukurannya yang berbeda-beda…
Kenapa dibangun seperti itu?
Kau arsiteknya.
- Mau aku yang coba? - Minggir!
Baiklah.
Itu juga ada di tangga.
Bagaimana bisa satu gedung tertutup bata dalam semalam?
Tenanglah!
Halo?
- Hei! - Hai!
Kalian baik-baik saja?
Hei! Kalian tahu apa yang sedang terjadi?
Kami tak bisa menghubungi pemilik gedung ini. Gagal terus.
- Sama! - Sial. Aku mau uangku kembali.
Aku pakai duluan.
Sayang, itu ide buruk.
- Jangan. - Di sana juga tertutup dinding hitam?
Ya, Bung.
Apa pemilik gedung mau membunuh kita?
Sial!
Sial!
- Sial! - Ya sudah, kau pakai saja.
Kalian melihat sesuatu tadi malam?
Tahu bagaimana kejadiannya?
- Apa petunjuk? - Tak ada.
Saat kami terbangun…
itu sudah ada.
Material… itu.
Kita akan mati di sini, 'kan?
Kalian tak sendirian. Semua akan aman.
Semua akan baik-baik saja.
Sial.
Sial.
Sayang? Masih ada sisanya, 'kan?
Sialan! Berengsek!
Tak perlu cek kulkas.
Pasti ada solusi sederhana.
Kita harus mencoba segalanya, seperti di dalam gim.
Kita tak sedang di salah satu gim komputer murahanmu!
"Salah satu gim komputer murahanmu"? Apa maksudmu?
Aku tak bisa.
Kenapa kau menyudutkanku?
Kita bisa terkubur hidup-hidup di sini. Paham, 'kan?
Kita berada di gedung yang tertutup bata di tengah kota!
Tinggal menunggu sampai ada yang sadar!
Di gedung yang seluruhnya ditutupi dengan terpal proyek!
Kita bisa saja pergi kemarin andai kau tak…
Katakan.
Tak penting.
Lagi pula, kita sudah berpisah.
Oke, mantap. Kau menghindar lagi?
Terima kasih sudah bicara baik-baik!
Berengsek!
Maaf. Aku tak bermaksud begitu.
Kau mau?
Lihat.
Sekarang bagaimana?
Medan magnet terkuat ada di empat titik ini.
Keempatnya berbentuk persegi.
Mungkin ada cara untuk berinteraksi atau semacamnya.
Apa yang kau lakukan?
Mencoba berinteraksi.
Wah.
Itu bukan ide yang bagus. Menunduk!
- Kau baik-baik saja? - Ya.
Astaga.
Oke.
Maaf.
Sudah selesai?
Ya.
Makasih.
Terima kasih.
Tolong bilang padaku itu akan hilang besok.
Aku bisa mati di tempat sialan sini!
- Aku mau keluar! - Hei!
- Hei! - Kalian butuh bantuan?
- Jangan! - Aku mau keluar!
- Astaga… - Hei!
Halo?
Halo?
Kami masuk, ya? Oke?
Hei. Hei…
Kau terluka?
Hei. Kau baik-baik saja?
- Ayo. - Aku…
Aku telah…
Dia…
Ayo pergi dari sini.
Jangan ganggu dia!
Jangan ganggu dia!
Berengsek!
- Coba saja sentuh dia sekali lagi! - Hentikan!
Apa yang kau lakukan?
Kalian sudah gila? Dia bahkan tak menyentuhku!
- Tapi kau berdarah! - Itu darahnya!
Apa?
Aku mau memukul dinding itu, tapi malah tak sengaja mengenai dia.
Dia takkan pernah menyakitiku. Mengerti?
Takkan pernah.
Aku paham maksud kalian baik, tapi…
Kami hanya agak kebanyakan memakai obatnya. Paham, 'kan?
Dia hanya ingin membantu.
Perlukah begitu?
Sampai dia sadar saja.
Kau baik-baik saja?
Kau bagaimana?
Ini, pegang.
Kutinggal sebentar.
Maaf. Untuk semuanya.
No comments yet. Be the first to leave one.