نخستین 200 خط.
Senang bertemu kalian. Saya Pengacara Bong Sang Pil.
Apa?
Siapa itu?
Apa yang dia lakukan di sini?
Ini broker yang menghubungkan pembunuh bayaran...
dengan orang yang menghasut pembunuhan Walikota Lee Young Soo.
- Apa? - Benarkah?
Ayo pergi, Hakim Cha.
Serius?
Siapa pria itu?
Maaf soal yang tadi,
Hakim Cha Moon Sook.
Aku tidak ingat mengundangmu hari ini.
Pusat pesta biasanya tamu yang tidak diundang.
Kenapa kau merusak acara pembukaan ayahku?
Aku tahu kau ingin menghabisi Woo Hyung Man dengan persidangan...
dan menjadikan An Oh Ju sebagai walikota dengan kekuasaanmu.
Tapi itu takkan pernah terjadi.
Kau mencoba menjebakku atau apa?
Selama aku bisa berdiri di pengadilan,
orang yang tidak bersalah tidak akan terbunuh lagi...
oleh hukum.
Baik.
Kau sangat mirip...
dengan Jin Ae.
Sama-sama berani dan ceroboh.
Jangan pernah...
kau menyebut nama ibuku.
Apa kau pikir...
kau orang pertama...
yang berhadapan denganku?
Aku akan...
tunjukkan akhir dari itu.
Untuk pertama kalinya.
Dasar gila!
Dia pasti sudah tidak waras.
Bisa-bisanya dia merusak acara sepenting itu?
Ya. Pertama, aku akan interogasi broker tersebut.
Baik.
Jaksa Kang.
Kami siap memulai interogasi.
- Maaf, Ibu. - Iya.
Yeon Hee, cobalah buat perasaan Hakim Cha membaik.
Si brengsek itu.
Yah...
Broker takkan mengatakan apa pun...
yang bisa membahayakan kita.
Begitu banyak pembunuh bayaran, yang bahkan tidak kau kenal dulu,
menutup mulut mereka selamanya.
Dari mata dan lubang hidung mereka ke telinga mereka,
mereka rela menutup semua lubang di tubuh mereka...
dan melompat ke air atau ke rel kereta...
dan berakhir di dunia lain.
Mereka semua melompat hingga mati secara sukarela.
Itu karena kau beruntung.
Kuyakin kau sudah dengar,
tapi aku tahu kenapa si brengsek Bong Sang Pil muncul.
Dia ingin melacak orang-orang yang membunuh ibunya.
Dia jelas ingin membalas dendam pada mereka.
Dia memang anaknya Jin Ae.
Dia jadi pengacara lalu muncul.
Dia mendatangiku dengan ceroboh, jadi aku bertanya-tanya siapa dia,
dan ternyata...
Dia ingin membalas dendam atas kematian ibunya sejak 18 tahun lalu.
Anak yang berbakti.
Semua orang merasakan hal yang sama tentang orang tua mereka.
Jangan meremehkan sentimen macam itu.
Astaga, Hakim Cha.
Kau sangat memahami orang-orang rendahan seperti kami.
Disebut apa itu? Kau seperti Guan Yin, Dewi Belas Kasih.
Aku sudah lihat...
patung ayahmu di pengadilan tadi.
Itu tampak seperti saat dia masih hidup.
Sekilas, aku kira dia hidup kembali.
Kupikir...
hari ini...
aku harus membawamu ke tempat istimewa.
Tolong izinkan aku.
Aku harus membawamu ke sana di saat seperti hari ini.
Ya, kurasa ini tugasku.
- Astaga, Pengacara Bong! - Sudah. Hentikan, kalian.
Tadi kau begitu berani.
Di depan hakim yang kuat itu, Cha Moon Sook...
- Kau seperti ini! - Seperti ini!
Itu menakjubkan.
Jangan berlebihan.
Itu bukan apa-apa buat dia.
Itu momen paling menegangkan dalam hidupku sejauh ini.
Sungguh petualangan yang dinamis!
Jangan terlalu bersemangat.
Itu bisa membahayakan kita.
- Aku akan bicara dengan Jae Yi. - Hakim itu sudah dapat pelajaran.
Oh, mau ke mana?
- Kita mau... - Semuanya!
Ayo pesan ayam goreng dan bir.
- Ayam goreng dan bir! - Ayam goreng dan bir!
Kupikir kau mengincar An Oh Ju untuk membuktikan Woo Hyung Man tidak bersalah.
Tapi kenapa targetmu...
Hakim Cha sekarang, bukan An Oh Ju?
Ayahnya Hakim Cha, Cha Byeong Ho.
Dia bekerja sebagai hakim selama 37 tahun di Giseong.
Dia menggunakan hukum sesuka hatinya.
Dia seperti raja yang maha kuasa.
Uang, kuasa,
dan kepercayaan masyarakat Giseong pada ayahnya...
semua diwariskan padanya.
Seperti katamu, Hakim Cha punya segalanya.
Kenapa dia ingin membuat seorang pria seperti An Oh Ju menjadi walikota?
Untuk memiliki lebih banyak.
Dan An Oh Ju dengan senang hati...
mengotori tangannya dengan darah demi dia.
Kau pikir aku percaya dengan teorimu itu?
Tidak mempercayainya...
tidak mengubah kebenaran, Jae Yi.
Silahkan masuk.
Ayahmu dan aku...
sering makan di sini dulu.
Bagiku, tempat ini lebih berarti...
daripada rumah.
Kursi ini. Dia selalu duduk di sini.
Ayahku suka seondaeguk?
Aku kaget.
Dia makan supnya sendiri,
dan juga nasinya.
Dia selalu memakannya terpisah.
Dia orang yang sangat mulia, kau tahu.
Dia selalu makan dengan rapi.
Kau mungkin punya...
lebih banyak kenangan dengannya daripada aku.
Tidak, tidak benar. Tidak sama sekali.
Kau putrinya, dan aku hanya pelayannya yang setia.
Kau tahu,
aku hanya dengan setia mematuhi perintahnya,
itu saja.
"Oh Ju."
"Bisakah kau melakukannya?"
Dia menanyakan pertanyaan itu berkali-kali.
Dan tiap kali dia menanyakan itu, aku tidak pernah,
tidak bahkan sekali,
mengatakan aku tidak bisa.
Di negara ini,
uang dan hukum bisa membuat segalanya jadi mungkin.
Seperti yang kau tahu,
aku punya uang. Benar, kan?
Dan kau tahu cara menggunakan hukum, jadi...
Dasar kurang ajar.
Beraninya kau memanfaatkan ayahku...
untuk mencoba menghasutku?
Kau mencoba makan denganku di meja yang sama?
Kau harus menjilati minuman yang tumpah di atas meja.
Kau hanyalah objek yang kuwarisi dari ayahku.
Apa yang kau pikirkan? Kau mungkin merasa kau memiliki Giseong...
di telapak tanganmu karena kau mencalonkan diri sebagai walikota.
Aku...
lupa tempatku...
untuk sesaat.
Hakim Cha, tolong...
maafkan aku...
sekali ini saja.
Barusan kau minta aku memaafkanmu?
Satu-satunya orang yang bisa kumaafkan...
di dunia ini...
adalah diriku.
Kapan kau akan memberitahunya?
Dia setia pada Cha Moon Sook, tidak tahu yang dia lakukan pada ibunya.
Melihat itu membuatku bertanya-tanya...
apa aku harus memberitahunya.
Dia harus lihat dulu warna asli Cha Moon Sook.
Tanpa itu,
dia takkan percaya aku.
Itu tidak akan mudah.
Dia sudah seperti ibu baginya.
Dia akan meninggalkan Cha Moon Sook atau aku.
Dia memilih diantara keduanya.
Kukira Manager Ha...
hanya bagian dari balas dendammu.
Tapi sekarang, kupikir dia...
lebih seperti potongan terakhir dari puzzle...
yang melengkapi rencana balas dendammu.
Ibu.
Ibu.
Ibu.
Ibu.
Ibu.
- Ibu. - Jae Yi.
Ibu.
Jae Yi.
Jae Yi. Kenapa kau di sini?
Ibuku. Tolong cari ibuku.
Di sini dia banyak mengambil foto.
Jae Yi.
Aku akan mencari ibumu.
Jangan khawatir.
Ya?
- Kau di sini. - Hey.
Ayah beli apa?
Aku beli beberapa sayuran.
Ayah mau masak apa?
Jae Yi.
Bisa kita bicara sebentar?
No comments yet. Be the first to leave one.