نخستین 200 خط.
PSIKIS SOSIAL MENGAJARKAN PELAJARAN PENTING
ORANG-ORANG BERTINDAK BUKAN DIKARENAKAN KARAKTER MEREKA
MELAINKAN SITUASI YANG SEDANG MEREKA ALAMI
STANLEY MILGRAN (1974) PSIKIS SOSIAL
RIO DE JANEIRO, 1997
Rio De Janeiro memiliki lebih dari 700 permukiman kumuh.
Sebagian besar didominasi oleh pengedar narkoba, dilengkapi persenjataan lengkap.
Mereka membawa AR15, Pistol-UZI, HK dan yang lainnya.
Di seluruh dunia, senjata macam itu digunakan buat berperang.
Di Rio, senjata tersebut digunakan buat tindak kriminal.
Peluru 7.62 bisa menembus mobil layaknya terbuat dari kertas.
Sungguh tidak masuk akal di kota seperti ini...
...Kepolisian masuk ke permukiman kumuh hanya untuk menegakkan hukum.
Polisi juga punya keluarga. Mereka takut mati.
Ke arah mana sekarang? / Lewat sini, cepat!
Kejadian ini tak terelakkan.
Geng dan Polisi keduanya punya kesepakatan.
Lagi pula, tak ada yang mau tewas dengan percuma.
Para babi sudah datang, Marcinho!
Mereka mau mengambil bayaran mereka.
Fumaca, berikan uangnya. Kalian berdua, lindungi!
Di Rio, batasan kepentingan...
...ditentukan antara keputusan dua pihak, para pengedar dan para polisi korup.
Tak ada sangkut pautnya dengan kejujuran.
Ketika polisi jujur pergi ke daerah kumuh...
...hal buruk terjadi.
Mereka masih di dalam mobil? / Kau lihat Fabio?
Kau tak perlu menggunakan senjata! / Kau mau aku tak bersenjata?
Keluar! Pergi!
Kau lihat Fabio? / Tenang!
Kau melihatnya?
Kau melihat mereka? / Tenang!
Ada apa, Oliveira? Kenapa kembali lagi?
Di mana uang kami?
Sial!
Ada apa?
Tunggu!
Astaga... / Kau melihat Fabio?
Tenang, Bung. / Apa? Beritahu aku!
Di Rio, setiap polisi harus memilih.
Menjadi korup dan berpaling ke arah kejahatan.
Atau memeranginya.
Malam itu, Neto dan Matias memilih pilihan yang sama...
...denganku, 10 tahun yang lalu.
Mereka memilih berperang.
Astaga! Siapa yang kau tembak?
Siapa yang kau tembak? / Ayo! Cepat pergi!
Keparat! Siapa yang menembaki? / Ada dua polisi!
Celaka!
Mereka lewat sini!
Celaka!
Mereka mau main-main dengan kita?
Kacau!
Lari!
Sial! / Kita kalah jumlah!
Tembak terus! / Habislah kita!
Neto dan Matias tak bisa berbuat apa-apa.
Polisi biasa bukan dilatih buat berperang.
Peluruku mau habis!
Fokus semuanya! Berhati-hatilah.
Banyak warga di pesta itu.
Kita harus berhati-hati. Mungkin ada beberapa polisi.
Aku bukan sekedar polisi.
Aku perwira BOPE, satuan khusus di Rio.
Siapa yang kenal jalanan Babilonia? / Aku.
Baik, kau yang memimpin. / Kami akan lewat jalan utama.
Teorinya, kami memang bagian dari sistem kepolisian.
Prakteknya, kami sangat bertolak belakang.
Simbolnya menunjukkan siapa kami.
Seragam kami bukan biru, melainkan hitam.
Tak boleh ada yang masuk! Tak satupun!
Semuanya tetap di sini!
BOPE selalu dihubungi saat regu lain dalam kesulitan.
Beginilah yang selalu terjadi di Rio.
Dikiranya kami mau masuk begitu saja?
Aku Kapten Nascimento. Pemimpin Alpha BOPE.
Aku telah berperang cukup lama. Aku sudah bosan.
Follow me on Instagram : @izzahgfr
6 BULAN SEBELUMNYA
Sayang, aku maunya menemanimu, tapi aku harus bertugas.
Kau dengar detak jantung bayi kita? Aku mau mendengarnya.
Kencang, dan berdegup cepat.
Aku harus kembali bertugas, Sayang.
Jangan khawatir, aku akan menaruhnya di pemanggang.
Aku sayang kamu juga.
Entah siapa yang paling kubenci, pengedar atau polisi korup.
Apa kabar, Pompeu?
Kau bawa senjata? / Ya.
Regu Kepolisian punya sekitar 30.000 anggota.
Dengan jumlah sebanyak itu, mereka bisa membasmi perdagangan narkoba.
Tapi mereka tidak ditunjang dengan perlengkapan lengkap, dan gajinya rendah.
Orang seperti itu tidak peduli.
Aku dengan senang hati menembak mereka.
Yang mana Kapten? Katakan saja.
Polisi bangsat itu.
BOPE hanya punya 100 anggota.
Setiap senjata yang ditemukan, tiga senjata lagi terjual di jalanan.
14, biarkan mereka bertransaksi. Kita akan menghadangnya setelah selesai.
Kalau kutembak, mungkin aku bakal mengenai polisinya.
Keduanya? / Tentu.
Tembak saja.
Bagiku, orang yang membantu mereka sama buruknya.
Kuakui, aku gampang emosi.
Hidupku makin rumit tiap harinya.
Pagi. / Pagi, Sayang!
Biar kubawakan... / Duduk, biar aku saja.
Tidak, aku harus pergi, Sayang. Aku masuk pagi.
Kau baru sampai malah pergi lagi?
Aku susah tidur semalam. / Bagaimana bayinya?
Saat kucemas, dia seperti tahu. Aku juga tidak gemukan.
Aku harus bagaimana?
Kalau tahu seperti ini, aku tidak mau hamil.
Dah!
Tunggu, setidaknya makan roti lapisnya. Beto!
Dalam peperangan, harus ada selalu yang dikorbankan.
Dan saat sudah sampai puncaknya, saatnya untuk keluar.
Di sinilah di mana Neto dan Matias punya gambarannya.
Kapten Fabio, Kepala Peralatan.
Kapten Oliveira, Kepala Distirk 3.
Mereka memulai perang yang sama, di daerah mereka sendiri.
Aku juga terkesan di hari pertama.
Selamat datang, Letnan!
Mulai sekarang, kalian dibawah perintahku.
Tiap harinya, aku bersama anggotaku akan mengevaluasi kalian.
Aku merasa terhormat berdiri di depan kalian semua...,
...yang bukan saja bagian dari keluarga besar, melainkan petugas-petugas terbaik.
Neto dan Matias mempercayai semuanya.
Mereka polos. Tapi aku butuh orang seperti mereka.
Sebetulnya, aku butuh orang yang punya otak...
...dan satu lagi, kegigihan.
Akan lebih baik jika punya keduanya sekaligus dalam satu orang.
Tapi siapa bilang hidup ini mudah?
Tugasmu di sini, Neto.
Apa ini bengkel mobil? / Ya, ada masalah?
Bisakah aku ditempatkan yang lain? Aku tak tahu apa-apa soal mobil!
Ada 46 mobil dan 12 motor.
Kita membutuhkan semuanya berfungsi.
Kapten! / Istirahat.
Keduanya asistenmu.
Mobil 249 beres hari ini. / Akhirnya, Tiao!
Tapi kami masih menunggu suku cadangnya. Makanya kuambil sebagian dari yang ini.
Tapi itu masih baru! Kau mau memisahkannya?
Masih ada suku cadang yang bagus. Aku sudah memperbaiki 2 mobil.
Terserah, Tiao! Tak masalah bagiku.
Ini petugas baru.
Pak! / Letnan!
Istirahat. / Kalian juga.
Makan dulu roti lapis, kopi, atau minum. / Aku tidak lapar.
Segera selesaikan, aku mau mobil ini selesai hari ini.
Tanpa suku cadang? / Masa bodoh. Harus bisa.
Neto tipe orang impulsif, bertindak tanpa berpikir.
Matias kebalikannya, kebanyakan berpikir sebelum bertindak.
Kalian lihat tumpukan berkas ini? Semuanya kasus yang belum selesai.
Di tangan Neto, habislah mereka.
Di tangan Matias, ini semua layaknya statistik.
Ini Letnan Matias, bos baru kalian.
Siap bos! / Letnan, asistenmu.
Kopral Bruno dan Prajurit Machado, kalian harus perbaiki radionya.
Dan merapihkan berkas? / Ya, Pak.
Mejamu di sebelah sana. / Maaf, Bos.
Beritahu jika kau butuh sesuatu. Lanjutkan.
Keduanya tak punya keahlian sepertiku.
Tapi, salah satu dari mereka harus menggantikanku.
Perhatian semuanya.
Matias pintar dan pekerja keras.
Di Brazil, negro miskin dianggap sebelah mata.
Tapi Matias tidak peduli. Dia mau jadi pengacara.
Makanya, dia mendaftarkan diri di sekolah hukum terbaik di Rio.
Kelompok empat! Lalu, pilih salah satu dari ini.
Aku ingin kalian menjelaskan Foucault.
Kita cuma bertiga, butuh satu lagi.
Merupakan sebuah kebanggaan buat polisi ikut dalam aktifitas seperti ini.
Matias sangat naif. Pikirnya belajar hukum bakal membantunya menegakkan hukum.
Dia mengira polisi dan pengacara punya misi yang sama.
Aku akan menyerahkannya, Profesor pasti takkan menyadarinya.
Akan tetapi, untuk menjadi bagian dari reguku, dia harus realistis.
Kelas Sosiologi? / Ya, siapa namamu?
Andre. / Nama panjang?
Andre Matias, ada apa? / Kau masuk kelompok kami.
Aku akan jelaskan lagi. "Discipline and Punish" oleh Foucault.
Hai, aku Maria! Itu Dudu dan Roberta.
Jika kau seorang perwira BOPE, harus menetapkan batasan tertentu.
Kalian tahu, Pope bakal mengunjungi Rio?
Dia ingin menetap di Rumah Uskup.
Daerah itu sangat dekat dengan daerah kumuh Turano.
Kita harus mengamankan kedatangannya agar beliau merasa kerasan.
Turano adalah zona perang!
Aku rela membayar Hotel Copacabana buat dia.
Aku sudah berusaha meyakinkan Gubernur...
...bahkan Tuhan pun takkan bisa mengubah keinginan Paus.
Dia hanya menetap semalam.
Tak ada bunyi senjata sekalipun, kita punya waktu 3 bulan.
Kita akan beroperasi malam hari. / Kau yakin?
Jika kita beroperasi tiap malam, mereka akan mengantisipasi dan membunuh kita.
Akan ada banyak korban tewas! / Nascimento!
Kita mulai besok. Jelas semuanya?
Ya, Pak. / Kalian boleh bubar.
Memang bukan salah Paus, tapi beliau sudah kemari dua kali.
Bukannya dia sudah tahu keadaan di sini?
Tak seorangpun Politisi yang menginginkan Paus tertembak di kota mereka.
No comments yet. Be the first to leave one.