نخستین 155 خط.
Ya.
Dia bilang tak sempat lihat wajahnya.
Tak ada yang terluka.
Begitu, ya?
Kalau terjadi sesuatu, tolong hubungi kami.
Kau tak apa-apa?
Rikuo.
Katanya belakangan ini lagi banyak maling.
Besok pagi polisi bakal selidiki lebih lanjut.
Sebaiknya kau kunci pintu, lalu...
Rumah orang tuamu jauh, tidak?
Jauh.
Aku percaya kalau kau orang yang amanah.
Kau tak bakal tinggalkan cewek sendirian dalam situasi kayak begini, 'kan?
Ya, deh.
Asyik!
Aku bakal tidur di sini.
Pinjami aku selimut saja.
Tapi besok pagi aku langsung pulang.
Aku ambil dulu.
Anu...
Terima kasih sudah mau datang.
Apa boleh buat.
Kau boleh masuk ke kamarku, kok.
Aku pulang, nih.
Ini di mana?
Ah, sudah bangun.
Aku bikinkan sarapan, nih.
Haru.
Tidurmu nyenyak?
Kalau kau sampai sakit,
nanti aku yang rawat, deh.
Jangan sungkan, ya.
Wah, sarapan yang biasa ada di buku resep.
Harusnya kau bilang, "Kelihatannya enak!" meski sebenarnya itu cuma di bibir saja.
Tahu begini harusnya aku belajar masak lebih giat lagi.
Kayaknya aku harus minta diajari sama Bu Shinako, deh.
Oh ya, belakangan ini kau ketemu Bu Shinako?
Ah, ya, kadang-kadang.
Mumpung lagi bicarakan Shinako, apa aku kasih tahu sekarang saja?
Eh, Haru.
Apa?
Eh...
Boleh pinjam kamar kecil?
Aku kenapa, sih?
Berita Rukun Tetangga: Januari 1) Tersangka perampokan tertangkap. 2) Tentang keamanan kebakaran.
Haru, katanya maling itu sudah tertangkap, lo.
Kelihatannya begitu.
Waktu itu aku panik banget sampai tak tahu harus apa.
Aku harus berterima kasih sama polisi.
Tinggal sendiri itu memang enak,
tapi kalau ada kejadian begitu, rasanya jadi tak tenang, ya?
Sudah jadi!
Kue cokelat spesial Haru!
Bagaimana?
Haru gagah banget, ya?
Aku harus banyak belajar darimu.
Akhir-akhir ini rasanya banyak banget yang meledekku.
Memangnya "gagah" itu pujian buat cewek, ya?
Enak.
Kalau begitu, aku permisi.
Besok aku sudah mulai kerja.
Kita bakal bisa sering bertemu tidak, ya?
Mungkin aku bakal lebih sibuk.
Banyak yang harus dikerjakan, sih.
Malam ini mau makan ikan kembung goreng?
Boleh.
Wah, ini beda banget.
Semoga kau suka.
Selamat makan.
Makanan bakal terasa lebih nikmat kalau dimakan bareng, ya?
Kayak mimpi saja.
Ada-ada saja, deh.
Halo, dengan Morinome.
Rou?
Ya.
Tahun ini tak ke mana-mana.
Ya, begitu.
Eh?
Tadi ada yang kasih ikan gede banget.
Aku bingung ikannya mau diapakan.
Aku mau kasih padamu saja, terserah nanti mau dimasak apa.
Kenapa? Tak mau?
Bukan begitu.
Habis kuantar, aku bakal langsung pulang, kok.
Rasanya cara omongmu kayak beda.
Lagi ada tamu?
Tak ada siapa-siapa, kok.
Ya.
Ya, aku tunggu.
Apa sebaiknya aku pulang saja?
Maaf.
Sebentar lagi Rou ada ujian,
jadi, untuk saat ini mending hubungan kita dirahasiakan dulu dari dia.
Ya, kalau dia sampai tahu bakal ribet, sih.
Dah.
Maaf banget.
Hari Minggu nanti aku ke kontrakanmu.
Jangan ke mana-mana, ya?
Siap.
Mbak Kyouko, aku pesan dua donat spesial Haru.
Totalnya 630 yen sudah termasuk diskon pegawai.
Ini.
Aku kasih bonus kopi.
Terima kasih!
Memangnya ada orang yang beli makanan yang dia buat sendiri?
Cinta itu terlahir dari juru masaknya.
Kurasa kebanyakan bumbu cintanya daripada bumbu masaknya, deh.
Jangan ganggu kebahagiaan orang, dong.
Kalau begitu, tolong sampaikan ke Rikuo untuk sesekali mampir, ya?
Duh.
Oke, sampai nanti.
Makanannya lezat banget.
Dari tadi bilang begitu terus.
Padahal aku cuma bikin masakan rumahan.
Kalau terlalu dipuji, rasanya malah kayak disindir, deh.
Tidak, kok! Aku cuma tak tahu harus bilang apa lagi.
Sejak pertama kenal,
aku selalu berpikir kalau kau kurang bisa mengekspresikan diri dengan kata-kata.
Aku kesannya begitu, ya?
Mau aku bilang hal yang sedikit jahat?
Kau sering minta titip absen, minta bantu bikin laporan,
lalu minta bangunkan setiap mau ujian...
Kurasa dari semua orang yang kukenal, kau yang paling pemalas.
Sekarang kan sudah tidak lagi, jadi, jangan terlalu dipikirkan.
Mau aku bikinkan bekal sebagai hadiah?
Tunggu dulu!
Aku senang banget sih, tapi yang kau bilang tadi bikin aku kepikiran.
Aku mau berterima kasih karena kemarin dia sudah menolongku.
Aku tak bikin susah, 'kan?
Aku cuma mau kasih ini terus pulang.
Kalau tak ada di kontrakan, kutaruh di gagang pintunya saja.
Sip.
Kalau begitu, aku tunggu bekalnya, ya?
Ada permintaan khusus?
Anu...
Aku belum siap untuk ini.
Maaf.
Ah, aku juga minta maaf.
Tak perlu mengantarku, kok.
Sekarang kan lagi tak aman.
Jangan terlalu dipikirkan.
Terima kasih.
Kebetulan banget.
Bu Shinako juga lagi ada perlu sama Rikuo?
Oh.
Ternyata begitu, ya?
Selamat, ya.
Dari awal kan kau sudah menyukainya.
Ternyata selama ini kau terus berhubungan sama Rikuo.
Itu curang.
Apa pun yang kukatakan sekarang, rasanya percuma saja, ya?
Padahal sejak awal aku sudah tahu kalau bakal begini.
Aku juga tahu kalau perasaan manusia itu bisa berubah.
Haru.
No comments yet. Be the first to leave one.