نخستین 185 خط.
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
MEMPERSEMBAHKAN
MEMPERSEMBAHKAN
MEMPERSEMBAHKAN
MEMPERSEMBAHKAN
MEMPERSEMBAHKAN
MEMPERSEMBAHKAN
kekejaman dengan udara bertekanan rendah
seijaku to haritsumeta kuuki ha
kuembus napasku dan mendengarnya
iki wo nonda oto kikoeru kurai
meminta sesuatu lebih dari yang lain
dare yori mo nani yori motomete
dengan tatapan yang tetap sabar
manazashi ni yadoru hirihiri to
semuanya, depan dan belakang, cinta yang berputar
zentai souden hyouri ittai meguri ai
semuanya sudah terhapus dalam kegelapan
kittahatta de issun saki ha yami no naka
timbal balik, benar-benar tercampur, tanpa arti
isshin ittai konzen kanzen wake mo naku
menunggu meriahnya tepukan tangan
hakushu kassai matteimashita
masa keemasan
ougon no jikan
mengatasi, harmoni mengatasi keputusasaan
koero koero koero koero gyakuten hisshi no Harmony
alunan, di bawah alunan harmoni
hoero hoero hoero hoero kyuutenchokka no Harmony
tenang saja, ku takkan kehilangan hidupku
agero ikiba wo nakushita kobushi wo
berjalanlah melalui waktu sampai kita terlelap
toki wo kakenukete moetsukiru made
Gulungan Ninja Uap: Pemandian Air Panas Pembangkit Orang Mati !!
Gulungan Ninja Uap: Pemandian Air Panas Pembangkit Orang Mati !!
Gulungan Ninja Uap: Pemandian Air Panas Pembangkit Orang Mati !!
Mbak Mirai!
Apa Mbak pernah dengar ada pemandian air panas
di mana kita bisa bertemu dengan orang yang sudah mati?
Bertemu orang yang sudah mati?
Bertemu dengan orang yang sudah mati itu...
Mana mungkin bisa dilakukan.
Bisa!
Aku berjalan sejauh ini hanya untuk bertemu dengan mendiang ibuku.
Hal seperti itu tak bisa dipercaya.
Awalnya aku juga berpikiran begitu.
Tapi aku pun berpikir tak ada salahnya dipastikan dulu.
Apa pun yang terjadi aku ingin bertemu dengan ibuku.
Bukankah kau sendiri juga ingin bertemu dengan ayahmu?
Tapi aku
tak bisa melakukannya.
Begitu, ya.
Maaf ya, sudah dulu.
Benar, aku punya misi!
Bisa!
Aku berjalan sejauh ini hanya untuk bertemu dengan mendiang ibuku.
Mana mungkin bisa.
Awalnya aku juga berpikiran begitu.
Tapi aku pun berpikir tak ada salahnya dipastikan dulu.
Apa pun yang terjadi aku ingin bertemu dengan ibuku.
Bukankah kau sendiri juga ingin bertemu dengan ayahmu?
Tatsumi!
Mbak Mirai?
Sepertinya aku akan ikut denganmu.
Kalau kau sendirian berbahaya, 'kan?
Aku mengkhawatirkanmu.
Terima kasih banyak!
Sebenarnya, kalau sendirian aku pun juga belum siap mental.
Kalau begitu, ayo kita segera berangkat!
Katanya kita hanya bisa temui orang mati saat malam hari saja.
Baiklah.
Benar, ini juga bagian dari misi penyelidikan.
Di samping itu, selama aku kembali sebelum pagi hari...
Aku menggambarnya berdasarkan rumor yang tersebar.
Aku tak yakin apa ini sudah benar apa belum.
Entah kenapa, suasana tempat ini berbeda dengan saat siang hari.
Padahal tadi begitu ramai, tapi sekarang terasa begitu sepi, ya.
Suasananya benar-benar berbeda, jadinya terasa ngeri, ya.
Hanya spanduk, kok.
Bikin kaget saja, aku ini penakut banget, lo.
Tapi reaksi yang tadi masih belum seberapa dibandingkan Paman Guy.
Itu lo, di malam saat kita dihebohkan hantu.
Dia muncul!
Dia benar-benar heboh, lo!
Tapi yang lebih mengerikan...
Di ruangan yang katanya ada penampakan prajurit berzirah,
Paman Kakashi yang tertidur pulas jauh lebih mengerikan daripada lihat hantu.
Benar juga, sih!
Mbak Mirai, apa kau haus?
Ya, sedikit.
Harusnya di sekitar sini ada mata air.
Mari minum air di sana.
Itu dia!
Wah, hangatnya!
Silakan, Mbak Mirai.
Terima kasih!
Kudengar, dengan minum air ini selagi berjalan
orang-orang Negara Uap pun jadi sehat.
Begitu, ya.
Rasanya seperti besi.
Aku kurang tahu soal itu.
Meski terlihat begini, aku ini juga ninja, lo.
Kalau kau bertemu ibumu, apa yang akan kau bicarakan dengannya, Tatsumi?
Aku
ingin minta maaf.
Sebenarnya, di hari sebelum ibuku meninggal,
kami bertengkar mengenai hal sepele.
Aku tak ingin mengalah
dan tak bicara dengannya sepanjang hari.
Lalu, di saat aku ingin minta maaf di rumah sakit,
keadaan ibuku jadi memburuk.
Tak lama kemudian...
Karena itulah...
Aku ingin minta maaf.
Begitu rupanya.
Bagaimana denganmu, Mbak Mirai?
Ayahmu adalah seorang ninja, 'kan?
Beliau gurunya Paman Choji itu, 'kan?
Beliau pasti seorang ninja yang hebat, ya.
Semua orang memang bilang begitu,
tapi aku tak pernah bertemu dengannya, jadi, aku kurang begitu tahu.
Kalau malam ini kau bertemu dengannya, apa yang ingin kau bicarakan dengannya?
Ada banyak hal yang ingin kubicarakan dan kutanyakan padanya.
Misalnya, "raja" apa yang harus dilindungi seorang ninja?
Itu kuis yang diberikan oleh guruku, sih.
Tapi katanya itu berasal dari ayahku.
Sayangnya, aku tak tahu apa jawabannya.
Ah, kalau tak salah kau juga tanyakan itu pada Paman Choji, ya.
Tapi yang lebih penting dari itu semua,
aku ingin bertanya, kenapa dia mati duluan, sih.
Ya, itu bukan termasuk pertanyaan, sih.
Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan bersama ayahmu?
Benar juga, ya.
Ayah!
Mbak Mirai?
Ah, maaf!
Ada apa?
Bukan apa-apa.
Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, Ayah!
Kalau begini, kita tak bisa melintasinya, ya.
Sepertinya di sekitar sini juga tak ada jembatan.
Kupikir kita sudah di arah yang benar.
Mari menyeberang di sini.
Tenang saja, ikutilah aku!
Tunggu, Mbak Mirai, tunggu aku!
Nah, giliranmu, Tatsumi!
Mbak Mirai!
Aku tak bisa melakukannya!
Maaf, maaf!
Ayo, berpeganganlah.
Kita seberangi bersama!
Bersiaplah, Tatsumi!
Kita berhasil!
Mbak Mirai, terima kasih banyak!
Maaf sudah tinggalkanmu, ya.
Nah, ayo kita pergi!
Hebat!
Mbak Mirai keren sekali!
Karena kau cantik, kau pasti sangat terkenal, 'kan?
Itu tak benar!
Aku menyukai Mbak Mirai!
Kalau tak ada Mbak Mirai, aku pasti takkan pernah sampai ke tempatnya.
Selama kita bersama, tak ada yang perlu ditakutkan, ya.
Ya!
Lo?
Ada jalan bercabang.
Padahal di peta hanya ada satu jalan.
Lewat yang mana, ya?
Ya.
Anu...
Maaf karena aku sudah kagetkan kalian.
Aku kaget.
Mungkinkah, kalian ingin ke pemandian air panas agar bisa bertemu dengan orang yang sudah mati?
Apa kau juga?
No comments yet. Be the first to leave one.