نخستین 200 خط.
Aku tidak sempat memperkenalkan diri dengan benar.
Namaku Eun Bang Wool.
Aku sudah mengetahui namamu.
Jika begitu, sebaiknya aku juga memperkenalkan diri.
Namaku
Cheon Gang Ja.
Begitu.
Apa kamu mempunyai anak?
Aku tidak mempunyai anak.
Maksudmu kamu tidak menemuinya?
Tidak, aku tidak pernah mempunyai anak.
Kenapa kamu bertanya?
Aku hanya ingin tahu.
Aku harus segera menghaluskan ini.
Namanya benar, tapi katanya dia tidak punya anak?
Dugaanku benar.
Aku tidak tahu alasan dia dan ayahku berpisah,
tapi dia meninggalkan kami.
Katanya tidak pernah melahirkanku. Seolah-olah aku tidak pernah ada.
Aku tidak menyangka akan seperti ini saat memintamu menanyakannya.
Sekarang apa rencanamu?
Aku bisa apa?
Tidak ada gunanya mengatakan
bahwa aku anaknya, dia menganggap aku tidak ada.
Mungkin ini jauh berbeda dari prasangkamu.
Mungkin dia tidak mengatakannya karena itu sangat menyakitinya.
Aku tidak pernah memikirkan itu.
Jika kamu mengatakan bahwa kamu anaknya,
dia mungkin akan jujur.
Saat dia bilang tidak pernah punya anak,
aku merasa sangat dikhianati.
Aku tidak ingin bicara dengannya setelah itu.
Kenapa kamu tidak melakukan tes DNA untuk mendapatkan hasil yang akurat?
Sebaiknya jangan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Tidak.
Aku tidak mau berusaha mencari orang yang tidak menganggap aku anaknya.
Apakah ubinya belum matang?
Benar, aku harus memeriksanya. - Ya.
Astaga, ayo kita lihat.
Astaga.
Kenapa Byeol mengikuti Ibu terus seharian ini?
Aku penasaran.
Dia seperti itu
sejak bertemu dengan ibunya Pak Dirut akhir pekan kemarin.
Kenapa?
Entah apa yang dikatakannya,
tapi Byeol bilang dia seram, dan tidak mau melihat dia lagi.
Dia menangis di rumah malam itu.
Dia menangis?
Entah apa yang membuatnya sedih,
tapi dia mengikuti ibu kalian sejak hari itu.
Aku belum bertemu dengan dia langsung,
tapi aku bisa tahu dia jahat dari perbuatannya kepadaku.
Saat Bang Wool menikah nanti,
apa mereka akan tinggal bersama?
Keluarga seperti mereka selalu tinggal bersama.
Jika sekarang sudah jahat, Bang Wool nanti akan diperlakukan tidak baik.
Bukankah sebaiknya kita mempertimbangkannya lagi, Ayah?
Ayah tidak mengira ini serius saat ibumu cemas.
Tapi kini ayah menjadi cemas
setelah melihat reaksi Byeol.
Astaga.
Ubinya sudah matang.
Cobalah masing-masing satu.
Apa yang kalian bicarakan? Kalian tampak sangat serius.
Kami sedang membicarakan ibunya Pak Dirut dan Byeol.
Jangan membicarakan dia. Dia seram.
Byeol, dia tidak seseram yang kamu pikirkan.
Dia cukup ramah bagi orang yang menjalankan perusahaan besar.
Kamu belum pernah bertemu dengan dia. Jangan sok tahu.
Dia tidak ramah.
Sejujurnya,
aku penata riasnya. - Apa?
Maksudmu kamu sudah mengenalnya?
Kamu sangat dekat padanya selama ini,
tapi tidak pernah menyinggung namanya kepadaku.
Aku tidak pernah sempat menceritakannya kepadamu.
Apanya tidak sempat? Kita selalu bersama!
Kamu seharusnya meminta bantuan dia saat aku dipecat.
Aku sudah meminta bantuan Chae Rin.
Kamu harus meminta dia langsung, bukan melalui Chae Rin.
Kalau begitu, aku harus bilang bahwa aku kakak iparnya Bang Wool.
Aku malu mengatakannya.
Dia tidak menerima Bang Wool.
Rasa malumu tidak penting dibandingkan kenyataan
bahwa aku dipecat dari acara itu.
Karena itu, aku meminta bantuan Chae Rin.
Chae Rin juga bertanggung jawab atas kembalinya kamu.
Masalah itu selesai setelah Pak Dirut pergi dari rumah.
Maksudku, ada beberapa alasan di balik itu.
Kamu mengatakan hal baik tentang dia
karena orang tuaku ada di sana, bukan?
Pimpinan itu tidak normal, bukan?
Dia bahkan menampar Bang Wool di depan Byeol.
Dia tidak pernah bermasalah denganku.
Dia cukup ramah.
Dari sikap Byeol,
aku bisa melihat dia kasar kepadanya.
Aku kasihan kepada Byeol.
"Mereka melewati sebuah desa
dan beberapa orang petani beristirahat di bawah pohon."
Kamu mengantuk?
Ya, Paman.
Baik, kemarilah.
Baiklah.
Kamu mengantuk?
Sang Cheol.
Ya, masuklah.
Apa dia tertidur?
Dia baru saja tertidur.
Pasti merepotkan harus menjaga dia di hari liburmu.
Aku merasa tidak sempat menjaganya setelah memulai pekerjaan baru.
Aku dengar dari ayah mertuamu
bahwa Byeol terus mengikuti Ibu.
Aku juga khawatir.
Aku terus mengatakan hal baik soal Pimpinan kepadanya,
tapi tampaknya dia tidak bisa melupakan kejadian itu.
Apa Pimpinan bersikap kasar hari itu?
Dia agak ketus.
Kurasa itu karena Byeol melihat aku ditampar.
Dia pasti trauma karena itu.
Bagaimana jika kamu meminta mereka lebih sering bertemu?
Terlalu berlebihan jika aku meminta dia menyayangi Byeol.
Kurasa sebaiknya mereka tidak bertemu
sampai Byeol melupakan kejadian itu.
Jujur saja, aku tidak tahu harus bagaimana.
Masuklah.
Permisi, Pak Dirut.
Apa Anda sibuk?
Tidak, ada apa?
Kenapa Anda sangat sopan kepadaku?
Benarkah?
Aku bingung
apa aku harus mengatakan ini kepada Anda.
Katakan saja.
Begini,
ini ada di tempat sampah dari kamar Pimpinan.
Aku hampir saja membuangnya.
Tapi sebaiknya tidak kubuang.
"Mari kita semua berteman"
Jangan mengatakan bahwa aku yang memberi tahu Anda.
Aku merasa lebih baik setelah spa.
Ibu harus sering mengajakku ke sana.
Astaga.
Ibu kira kamu pergi. Kapan kamu pulang?
Kenapa Ibu membuang ini?
Apa? Byeol memberikan ini kepada Ibu.
Terserah ibu mau membuang atau membakarnya.
Anak ini berusaha berteman dengan Ibu lebih dahulu.
Jika Ibu merasa sudah dewasa,
jangan membuang usahanya jika tidak mau menerimanya!
Ibu juga menyulitkan dia hari itu.
Bukankah berlebihan jika Ibu membuang ini?
Kamu mungkin menyukainya karena menyukai Bang Wool.
Bukankah berlebihan meminta ibu untuk menyukai dia juga?
Ibu tidak perlu menyukainya, tapi jangan buang usahanya!
Selagi kita membahas ini, ibu sangat benci melihatmu
bertingkah seolah-olah kamu ayahnya pada hari itu.
Ibu.
Bagaimana jika kamu punya anak setelah kalian menikah?
Ibu harus hidup bersama dua anak yang berbeda ayah.
Ibu hanya akan memedulikan cucu ibu.
Ibu benci membayangkan dia berkeliaran di rumah ini!
Ibu sudah tahu dia punya anak saat memberiku izin.
Sudah seharusnya Ibu menerima dia saat menerima Bang Wool!
Tidak seperti kamu, ibu bisa melihat semua
yang akan terjadi nanti begitu melihat anak itu.
Kenapa Ibu terburu-buru menyimpulkan masa depan?
Apa mereka tidak akan punya anak setelah menikah?
Kenapa kamu tidak paham?
Aku berniat membesarkan mereka seperti anakku sendiri.
Kamu arogan.
Jangan seyakin itu untuk hal yang belum pernah kamu alami.
Dia akan membuatmu kesal begitu kamu punya anak.
Selain itu, sebaik apa pun kamu kepadanya,
kamu tidak pernah bisa menjadi ayahnya.
Apa dia tidak akan merasa diabaikan setelah agak dewasa?
Kenapa Ibu rumit sekali?
Kakak tidak terpikirkan itu, tapi Ibu ada benarnya.
Pantas saja, Ibu tampak murung hari itu.
Astaga, itu berita bagus bagi departemen kami.
Kami akan mencari waktu agar Nona Han tampil di acara itu.
Ya.
Nona Han, selamat.
Mereka memintamu menjadi juri tetap di "Top Chef King".
Astaga. Benarkah?
Tadi telepon dari Tim Komunikasi.
Perusahaan menginginkanmu, jadi, kamu harus menerimanya.
Baik, Pak.
Selamat, Chae Rin.
Terima kasih.
Sudah kuduga kamu akan menjadi juri tetap saat menonton acara itu.
Selamat.
Aku merasa tidak enak
karena seperti merebut posisimu.
Jangan begitu.
Kamu pernah tampil di acara itu mewakili aku,
tapi kamu mendapatkan posisi ini karena kerja kerasmu.
Bagaimana pengobatanmu?
Ya, aku semakin membaik.
No comments yet. Be the first to leave one.