نخستین 200 خط.
SERIAL NETFLIX
KOMPETISI TARI REMAJA KOREA
SATU HARI LALU
Li-sa…
LI-SA-KU
Apa ada teman yang dekat dengannya saat latihan?
Siapa pun yang mungkin tahu ke mana dia pergi?
Ada teman yang selalu merekamnya saat latihan.
- Namanya… - Lee Ju-yeong?
Ya. Sepertinya benar.
Apa dia datang?
Tadi aku melihatnya, sekarang tidak tahu di mana.
Baiklah. Terima kasih.
Sayang…
IBU, LI-SA-KU
Aku akan cari lagi.
Kau menggambar seseorang karena kau mencintai orang itu.
Sepertinya aku melihat paman itu di sana.
HYEON-SEONG
Aku sudah hubungi Ju-yeong. Li-sa bersamanya.
Jangan khawatir.
Kau dengar aku?
Hui-ju. Sekarang kau di mana?
Hei, tunggu!
Astaga.
Tunggu! Pelan-pelan!
Baiklah.
Kupikir sudah melarikan diri sebisaku,
tapi aku di sini lagi.
EPISODE 8 KITA, DI SINI LAGI
- Kau lapar? - Ya.
Aku akan buatkan sup lobak. Tunggu.
Di mana Woo-jae?
Dia pergi pagi ini. Ada urusan katanya.
Tanpa bilang padaku?
Kau tidur lelap. Dia tidak mau membangunkanmu.
Dia membiarkanmu tidur.
Kalau begitu, aku mau tidur lagi.
FAVORIT WOO-JAE
WOO-JAE
Ju-yeong, kau di sekolah?
Aku mau minta tolong.
Sudah jelas itu milik pribadi.
Kenapa kau naik?
Mau mati?
Mungkin seharusnya aku tak menarikmu.
- Tidak. - Atau…
Apa Hae-won menyuruhmu mengawasiku?
Tidak.
Aku tidak tahu kau di sana.
Kali ini pun kebetulan?
Mungkin bukan.
Mungkin aku berpikir
bisa bertemu kau di sana.
Jika itu karena perkataanku kemarin…
Semoga kau bahagia kali ini.
“Semoga bahagia kali ini."
Apa sebelumnya kami tidak bahagia?
Tidak usah dipikirkan.
Sebenarnya aku tak peduli dengan kalian.
Sekarang pun begitu.
Aku khawatirkan diriku, bukan anakku yang tak pulang semalaman.
Kita akan sering bertemu karena proyek.
Aku harap tidak seperti ini.
Mohon kerja samanya, Pak Seo.
Itu hanya kesalahan sekali, bukan masalah besar.
Itu masalah besar.
Aku selalu jatuh di bagian itu.
Aku malah jatuh karena hanya memikirkannya.
Li-sa.
Jangan menghabiskan waktu untuk kesalahan.
Jika kau tahu, berarti kau bisa lebih baik jika berusaha memperbaikinya.
Kesalahanmu adalah lari dari orang-orang yang mengkhawatirkanmu.
Ibu keluar dari pagi karena mengkhawatirkanmu.
- Ibu? - Ya.
Dia pergi ke rumah Ju-yeong. Kalian tidak bertemu?
Li-sa.
Kau yang paling berharga bagi ibu.
Itu yang harus kau tahu.
Lepaskan. Ibu basah.
Walau seperti menuang air ke racun,
lihatlah, sudah tumbuh besar.
Aku akan masak sup pereda mabuk untuk ibumu.
Ditambah bawang putih yang banyak.
Kapan ibumu akan berubah?
Kau tidak bisa hidup tanpanya, ‘kan?
Baiklah. Lakukan sesukamu.
Tidak mudah menghalangi perasaan orang.
LEE JU-YEONG MENGIRIM FOTO
Hae-won! Gu Hae-won!
DIREKTUR AN HYEON-SEONG
NOMOR TERBATAS
Ponselmu terus bergetar, tapi aku tak bisa menemukannya.
Kau meninggalkan ponselmu?
Benar juga.
Kau punya dua ponsel? Kenapa?
Ponsel untuk kerja. Ini untuk urusan proyek yayasan.
Sudah tidur?
Ya. Tapi masih merasa kurang enak badan. Aku pulang dahulu.
Jangan lupa jemput Li-sa di ruang latihan.
Baiklah.
- Aku pulang dahulu. - Ya.
Punya dua ponsel berarti dia selingkuh.
Apa bisa minta tolong orang itu
untuk mengecek riwayat panggilannya? Mengecek apakah dia jujur.
Bisa, tapi apa kau yakin?
Lebih baik tahu daripada curiga.
Bagaimana jika itu benar?
Menurutmu? Tentunya aku harus berpura-pura.
Lalu, untuk apa?
Tidak tahu sama sekali dan berpura-pura itu beda.
Benar. Jika kau berpura-pura, tidak ada masalah.
Kau harus hidup dengannya sampai tua.
Banyak yang harus kau lepaskan jika bercerai.
Tidak mungkin wanita itu, ‘kan?
Wanita itu bukan wanita biasa.
Mungkin dia ingin balas dendam.
Walau dia akan menikah?
Bukankah dia sudah menikah?
Dia belum mengadakan pesta.
Untuk apa berpesta sekarang?
Dia sengaja menunjukkannya padamu?
“Dia milikku. Jangan sentuh dia lagi."
Seperti itu.
Tidak ada gunanya. Untuk apa aku kembali ke neraka itu lagi?
Kau sudah pulang?
Jangan pergi tanpa bilang.
Aku tak mau membangunkanmu.
Aku kira kau pergi lagi.
Maaf.
Beristirahatlah.
Tak ada guna bergantung padanya.
Artinya kau masih berharap.
Kau harus melepasnya agar bisa hidup.
Dia bukan sesuatu yang bisa kulepas.
Karena akulah…
yang terbuang.
Ho-su, ayo pulang.
Terima kasih, Ibu.
Ya. Kalau kau tahu, pijat kakiku.
Kakiku membengkak.
Di mana Li-sa?
Dia menuju ke sini bersama ayahnya, dari ruang latihannya.
Dia sudah berani kabur.
Tidak. Dia izin pada ayahnya untuk menginap di rumah temannya.
Kau tak bisa mendidik anak karena tidak dididik dengan benar.
Menyerah jika tidak bisa. Serahkan pada ahlinya.
Li-sa sensitif karena ujian masuk sekolah sebentar lagi.
Makanya, serahkan pada ahlinya.
Didikan orang tua hanya untuk orang miskin.
Ini nyaman.
Kau pintar bekerja dengan tangan.
Pijatanmu lebih baik dari yang lain.
Seharusnya kau bekerja sesuai kemampuanmu.
JEONG HUI-JU
Tolong hati-hati.
Semua lukisan ini sudah…
Semua sudah diputuskan di awal pameran.
Ada pembeli yang ingin lebih cepat menerimanya, jadi, ada yang sudah dikirim.
Siapa yang membeli karya itu?
Aku suka karya itu.
Aku penasaran akan dipajang di mana.
Kenapa suasananya begini?
Berikan padaku.
Selamat atas suksesnya pameran kali ini.
Sayang sekali waktu persiapannya sedikit.
Tapi semua berjalan lancar berkatmu.
Kau tahu seri ini akan masuk
ke kantor pusat baru Grup Yangjin, 'kan?
Aku akan atur agar dipamerkan di lokasi terbaik.
Baiklah.
Masalah itu dibahas nanti saja.
Maaf.
Aku memanggil kalian untuk membaca ini sebelum bertemu Pak Woo Jeong-hyo.
Terima kasih sudah menerima proyek ini demi Woo-jae.
Terima kasih.
Mari mulai dengan putih.
Aku punya hitam di sini. Lembayung dan ungu di sini.
Aku akan memakai sedikit hitam untuk menghasilkan abu-abu.
Aku akan memberi sentuhan pada ungu itu,
jadi, aku bisa dapat semacam abu-abu keunguan…
Kenapa?
Aku tak paham sama sekali.
Walau tidak mengerti, tetap bisa dipahami. Itulah lukisan.
Aku egois. Merebut kesempatanmu.
Tidak masalah walau terlambat.
Aku masih muda.
Aku tidak mau membuatnya terlalu gelap. Aku tidak ingin ada badai di sini.
Dan aku menyuruh murid-muridku memberikan sedikit bentuk di sana untuk memulai…
Ho-su.
Tidurlah.
INI AKAN MEWAKILKAN BAYANGAN DALAM AWAN
Aku memang tertarik dengan proyek Pak Woo.
Aku tak melakukannya untuk orang lain atau menolongnya.
Pak Woo Jeong-hyo akan langsung ke sana.
Lebih baik kita berangkat bersama.
Aku akan antar ke galeri lagi.
Baiklah.
Ini Pak Woo Jeong-hyo.
Dia Bu Jeong Hui-ju.
No comments yet. Be the first to leave one.