نخستین 200 خط.
Properti ini besar.
Ada dua rumah.
Mereka kaya raya.
Harus bekerja berapa lama agar bisa membeli tempat seperti ini?
Lupakan, Inspektur. Hari ini, kita harus cari petunjuk lain.
Kenapa kau mengungkit masa lalu?
Kasusnya sudah ditutup.
Namun, setelah istrimu meninggal,
terjadi kasus pembunuhan serupa.
Benar.
Jadi, kami ingin menanyakan informasi lagi darimu.
Informasi apa?
Kau mencurigaiku lagi?
Kau tahu
betapa sedihnya aku
saat istriku meninggal?
Aku tak mau membicarakannya.
- Aku tahu… - Kurasa aku sudah menegaskannya.
Sudah cukup.
Kalian boleh pergi.
Keluarlah sendiri.
Kita tak dapat informasi berguna.
Ya, kurasa dia sangat marah dengan kejadian itu.
Tidak apa-apa, Inspektur.
Aku akan memikirkan cara lain.
Halo, Fab.
Periksa pelat nomor ini.
Saat aku dan Nuch berkencan,
aku melihat mobil Vellfire putih
mengikutinya.
Di belakang mobil,
ada stiker yang bertuliskan "Warm Up".
Ya, Fab?
Baiklah. Terima kasih.
Pelat nomornya palsu.
Ini juga, Inspektur.
Inspektur.
Ini noda darah.
- Aku akan minta forensik memeriksanya. - Baik.
- Astaga! - Inspektur!
Hei! Kemari!
Hentikan!
Letakkan pisaunya.
Jika tidak, kutembak.
Bicaralah baik-baik, Cantik.
Letakkan pisaunya!
Itu tidak baik.
Aiyada…
Hei.
Dia polisi.
Whan.
Ini akan menjadi karya terbaik kita.
Apa makanannya enak?
Lezat.
Sudah kubilang
kau pandai memasak.
Masakanmu selalu membuatku terkesan.
Kalian pasti sering makan bersama.
Benar. Rumahku dekat dengan Tanwa,
jadi, sering mampir.
Senang kalian bertetangga.
Bagaimana kasus Sanae?
Butuh bukti untuk mendiskreditkan saksi penggugat.
Kau ingin cari bukti yang memberatkanku?
Aku juga saksi dalam kasus ini.
Pekerjaanmu akan sulit.
Kau yang menemukan jasadnya?
Kau sedang apa di sana?
Aku sedang menyelidiki.
Aku menyelidiki kasus pembunuhan tanpa jasad yang kukatakan waktu itu.
Aku menemukan jasad yang disembunyikan Sanae di sana.
Satu kebetulan lagi.
Mungkin seperti katamu,
itu pasti takdir.
Secara hukum,
jika tidak ada jasad,
ini hanya akan dianggap kasus orang hilang, 'kan?
Bagaimana menurutmu, Dokter?
Topik yang bagus untuk dibahas saat makan.
Mari makan.
- Ya, Inspektur? - Fab, Aiyada…
- Ada apa dengan Aiyada? - Dia…
Halo? Inspektur?
Ada apa dengan Aiyada?
Halo, Inspektur? Halo?
Ada masalah?
Nanti saja bertanyanya. Cepat lacak lokasi terakhir
ponsel inspektur.
- Tidak diangkat. - Ada apa ini?
Ini rumahnya.
Seharusnya dia di sini.
Kurasa rumahnya kosong.
- Hei, ini penerobosan. - Hei.
- Masa bodoh. Aku tak peduli. - Hei.
- Perlahan. - Ayo.
Hei, Inspektur.
Inspektur.
- Inspektur. - Bagaimana?
Dia masih bernapas. Cepat panggil ambulans.
- Baiklah. - Inspektur.
- Inspektur. - Fab.
Ini ponsel Aiyada.
Fab.
Aiyada diculik.
Jangan khawatir, Inspektur. Aku akan mencarinya.
- Nakorn, temani inspektur. - Baik.
AMBULANS
- Bagaimana? - Di mana pemilik rumahnya?
Dia tak ada di rumah.
Hanya ada kakaknya yang tinggal di samping.
Seorang polisi ditikam hingga kritis
dan satu lagi menghilang.
Mobil adikmu tidak ada.
Aku tak tahu apa-apa.
Berhentilah bilang tak tahu apa-apa.
Ini serius. Kau tak tahu rencana adikmu?
Jika terjadi sesuatu kepada temanku,
aku akan mencarimu.
Kubilang aku tak tahu.
Kami sudah lama tak bicara.
Jika adikku menimbulkan masalah,
itu bukan urusanku. Kau polisi.
Tugasmu menangkapnya.
Baiklah. Berikan nomor ponsel adikmu.
Tidak punya.
Bagus sekali.
Tunggu sampai kutangkap adikmu.
Aku akan kembali mencarimu.
Sudah dari tadi.
Aiyada masih belum ditemukan.
Belum ada kabar.
Aku mencemaskannya.
- Minumlah teh hangat sebelum pergi. - Baiklah.
- Baiklah. - Nikmatilah.
Terima kasih.
Terima kasih.
Secangkir teh nikmat penutup sempurna
untuk makanan yang lezat ini.
Beethoven, Simfoni No. 9 .
Kau tahu kutukan simfoni kesembilan?
Setelah Beethoven selesai
menggubah simfoni kesembilannya, dia meninggal.
Lalu, dunia musik klasik dikutuk.
Sejak saat itu, tak ada komponis yang bisa menyelesaikan simfoni kesepuluhnya.
Benar.
Mereka meninggal usai menggubah simfoni kesembilan.
Omong-omong, kenapa sembilan?
Sembilan manik itu.
Satu manik untuk setiap jasad yang dibuang.
Belum ada yang menyelesaikan
simfoni kesepuluh mereka?
Entah mereka berdua atau siapa pun pembunuhnya,
tidak akan ada pembunuhan kesepuluh.
Itu perlu dipikirkan.
Belum pasti.
Kelak,
seseorang mungkin melewati nomor sembilan.
Kutukan hanya mitos yang menyebar dari mulut ke mulut.
Benar.
Aku juga menantikan simfoni kesepuluh.
Ya?
Dok, Aiyada diculik.
Kapan?
Oleh siapa?
Apa aku akan telepon jika tahu?
Di mana kau? Aku segera ke sana.
- Akan kukirim alamatnya. - Baiklah.
Ada apa?
Aiyada diculik.
- Aku harus pergi. - Aku ikut. Mungkin aku bisa membantu.
Aku juga akan ikut.
Baiklah. Ayo, berangkat.
Aku yang menyetir.
Mari potong jalan lewat belakang untuk menghindari kemacetan.
Baiklah.
IGD
Siapa keluarga pasien?
Aku ayahnya.
Pisau menusuk organ dalamnya.
Dia butuh operasi darurat.
- Dia akan baik-baik saja, Dokter? - Aku belum tahu.
Aku belum bisa memastikannya.
Kami harus melakukan laparotomi untuk menilai kerusakan pada organnya.
- Selamatkan putraku, Dokter. - Baiklah.
Letnan,
semua bukti sudah kukumpulkan.
Baik, terima kasih.
Hei.
Akhirnya kau datang.
Sudah baca informasi yang kukirimkan?
- Letnan Aiyada sudah ditemukan? - Aku tak akan di sini jika sudah.
Sudah menanyai pemiliknya?
Sudah. Kurasa pelakunya adiknya.
Aku kirim orang untuk mencari Aiyada, tapi belum ada kabar.
Aku sudah kehabisan akal.
Hei, kami mengandalkanmu sekarang.
Aku akan menanyai kakak pelaku.
Apa yang kau inginkan dariku?
Bukankah sudah kutegaskan?
Jika adikku berengsek,
No comments yet. Be the first to leave one.