نخستین 200 خط.
Hari Kelima
Hai. Selamat pagi, Wahai Sang Cahaya.
A-Alcor!
Benar. Aku Sang Penduka, Alcor.
Kenapa kau ada di sini?
Soalnya, tak ada yang menyuruhku pulang.
Apa aku mengganggu, Sang Cahaya?
Hari Kelima Goncangan Hari Kamis
Tak ada teh hijau ya, Sang Cahaya?
Ya-Yang kupunya hanya kopi.
Begitu, ya?
Tapi kau sudah repot-repot memberiku ini, jadi akan kuminum.
Septentrion juga minum teh?
Yamato mengajariku ini saat dia masih kecil.
Inilah yang manusia lakukan ketika mendiskusikan sesuatu.
Yamato bilang itu?
Alcor, apa hubunganmu dengan Yamato?
Sepertinya, kita ini dulu berteman.
"Dulu"?
Saat dia baru lahir pun, dia memiliki berbagai kemampuan dan pilihan.
Terlahir dengan kekuatan besar,
kupikir dia pasti akan membuat keputusan yang tepat.
Kau tak berpikir begitu lagi?
Sayangnya dia tak mengakui kemampuannya yang lain, dan menentukan pilihan terlalu cepat.
Pilihannya Yamato itu apa?
Untuk mengawasi manusia-manusia berbakat.
Dunia di mana yang kuat memimpin.
Itu sebenarnya tak buruk juga.
Tak buruk, apanya?
Yang berbakat dan yang lemah...
Siapa yang berhak menentukan itu?
Tampaknya Yamato Hotsuin bisa melakukannya.
Dia tak punya keragu-raguan terhadap manusia lain.
Aku tak bermaksud untuk setuju atau keberatan pada pilihan yang telah manusia buat.
Tapi bersikap keras kepala dan menyangkal kemungkinan adalah pemikiran yang salah.
Itu tak indah.
Jadi, kami sebaiknya memikirkan jalan lain?
Mungkin saja begitu?
Hibiki.
Kau terlahir dengan kekuatan dahsyat.
Aku tak pernah menginginkannya.
Itulah yang namanya bakat.
Mau atau tak mau itu tak ada bedanya.
Sekarang pun, kau terus mengkhawatirkannya.
Selama kau masih bisa berpikir, kau akan menemui pilihan.
Pasti ada jalan yang lebih baik.
Kopi memang pahit, ya.
Jadi kau bisa mengecap rasa juga.
Mau tambah gula?
Ayo coba.
Aku lebih suka yang ini.
Terima kasih, Hibiki.
Itu hanya hal sepele, kok.
Berkat kau, aku jadi memiliki pilihan untuk menyesuaikan rasa minuman ini dengan seleraku.
Hibiki, itulah yang namanya kemungkinan.
Hei, Alcor.
Kau tetap tak bisa membantu umat manusia?
Aku mekanisme yang diciptakan oleh Polaris.
Aku tak bisa menentang secara langsung.
Beginilah wujudku.
Benar juga, ya.
Yang bisa kulakukan hanyalah mengawasi.
Jadi, karena itu kau berada di ruanganku?
Ke mana lagi aku harus pergi?
Aku tak tahu.
Kau tak tahu, ya?
Apa yang kaulakukan selama ini?
Aku selalu berduka.
Karena aku tak bisa melakukan apa pun.
Aku ini mekanisme yang memiliki perasaan.
Sebenarnya aku ini apa?
Alcor.
Kalau kau bukan musuh kami
dan tak akan mengganggu kami, kau boleh tetap di sini.
Tampaknya sudut pandangmu padaku agak berubah.
Ya.
Kalau diberi waktu untuk bicara, siapa pun pasti begitu.
Pengertianmu telah mempererat hubungan kita.
Aku senang, Sang Cahaya.
Sebenarnya Septentrion itu apa?
Tapi, jangan sampai kau ketahuan oleh orang lain.
Kalau ada yang tahu Septentrion ada di sini,
akan terjadi peperangan.
Akan kupastikan tak ada yang tahu.
Semoga saja.
Hibiki, kau sudah bangun?
Shijima, ketuk dulu!
Lupa, biarkan sajalah.
Jadi, apa yang akan kita...
Halo, para manusia.
Ini...
Di-Dia...
Tunggu, Nitta!
Tolong dengarkan!
Ta-Tapi...
Hibiki! Itu laki-laki aneh yang waktu itu, 'kan?
Daichi, tenanglah.
Sekarang apa?
Kau datang untuk membunuh Hibiki? Iblis terkutuk!
Sudah kubilang, aku bukan iblis.
Septentrion?
Kelihatannya begitu.
Kaki tangannya para penyusup?
Jadi, dia bukan manusia?
Ya.
Sebenarnya pemikiran "musuh" dan "sekutu" itu tergantung pada sudut pandang kalian.
Alcor, kau diam saja.
Kenapa?
Malah tambah runyam.
Begitu, ya?
Begini, dia bukan musuh yang harus kita kalahkan.
Kurasa.
Itu benar.
Alcor, kau diam saja.
Begitu, ya?
Serius?
Kalau kau memang berkata begitu...
Tapi bagaimana dengan yang lain?
Hanya kita saja yang tahu.
Aku tak mau ini sampai bocor ke orang yang tak bertanggung jawab.
Ya.
Daichi juga, sampai kau bisa membuat keputusan sendiri,
maukah kaupercayakan saja dulu padaku?
O-Oke.
Hibiki, kau sangat bijak, ya.
Kau ini bodoh, ya?
Entah kenapa, kalian berdua cukup dekat, ya?
Anu...
Ada apa, Io Nitta?
Eh...
Itu... Kau sedikit melayang.
Oh, benar juga.
Aku suka kelepasan.
Kau ini memang bukan manusia, ya?
Alcor, kaki manusia itu menyentuh tanah.
Kalau kau bilang begitu, akan kuturuti.
Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat.
A-Aku tak apa.
Apa dia benar-benar tak apa? Si laki-laki merah itu...
Kita harus bertahan dulu.
Berjalan di tanah itu sulit juga, ya.
Apa dia ini benar-benar Septentrion, ya?
Be-Benar.
Kaki kanan atau kaki kiri,
aku jadi mencemaskan kaki mana yang harus kulangkahkahkan dulu.
Kalau itu, menurutku yang mana saja boleh...
Keputusan... Kemungkinan...
Tak ada yang jelas juga, ya.
Kita harus memilih jalan yang tepat dan tak tergesa-gesa.
Tapi...
Dalam situasi ini, siapa yang bisa menentukan mana yang benar?
Tinggal tiga lagi.
Lalu, segala yang ada di dunia tak berguna ini akan berakhir.
Lalu, semuanya akan dimulai.
Dunia yang selayaknya.
Hai, Ban sayang!
Kujo. Mulutmu lancang, ya.
Kalau begitu, Nona Ban.
Itu malah lebih lancang? Apa sih?
Jangan berwajah seram begitu.
Itu menyia-nyiakan wajah cantikmu.
Malah lebih aneh kalau ada orang sepertimu yang tersenyum di saat begini.
Di saat beginilah, sangat penting untuk tertawa.
Dengan apa yang terjadi di Nagoya itu, sayang sekali, ya.
Kau tak perlu mengkhawatirkannya.
Ban, kau tak boleh kehilangan harapan.
Memangnya siapa?
Kami sudah sampai.
Ada apa ini?
Makoto, hanya kami berdua saja yang dipanggil?
Terima kasih.
Kami akan membutuhkan kekuatan kalian untuk misi selanjutnya.
Misi?
Septentrion kelima akan muncul sebentar lagi.
Musuh!
Lalu? Ini harus aku dan Airi saja, ya?
Benar.
Terkadang, kalau ingin mengutus iblis tertentu,
itu membutuhkan bakat orang-orang tertentu.
Berkat data yang didapat dari pemeriksaan kemarin,
kami tahu kalian berdualah yang paling cocok untuk misi ini.
Nakalnya.
Jadi kalian memeriksa kami tanpa memberi tahu alasan yang sebenarnya?
Itu tak perlu.
Mengalahkan musuh dengan tanganku sendiri sebenarnya sesuai dengan gayaku.
Jadi, kami harus apa?
Apa aku sedang diawasi?
Tepatnya bukan begitu.
Hanya saja, kami tak bisa membiarkanmu pergi.
Tapi sudah hampir waktunya.
Apa kalian tak apa-apa tetap di sini?
Waktu?
Untuk apa?
Masa lalu dan masa depan.
Semuanya telah ditakdirkan oleh Tuhan.
Kenapa hanya Hinako dan Airi yang menyerang,
sementara kami semua tetap bersiaga?
Septentrion kelima, Alioth, akan muncul di ionosfer.
Iblis-iblis yang kalian gunakan tak bisa menyerang sejauh itu.
Ionosfer?
No comments yet. Be the first to leave one.