نخستین 200 خط.
Goddess of Marriage
Episode 17
Ji Hye! Ji Hye!
Kau tidak harus pergi sekarang kau baru saja datang.
Jangan khawatir. Aku menikmatinya.
Aku sedang dalam suatu situasi sekarang.
Adik iparku berselingkuh, sehingga istrinya meninggalkan rumah. Kacau sekali.
Aku mengerti.
Aku mengerti semuanya jadi jangan khawatir.
Datanglah lagi dengan suamimu, oke?
Oke, aku pergi.
Tunggu, ini mobilmu?
Wow, sangat mencolok.
Jangan seperti itu kak.
Hentikan.
Apa masalahnya, ini pertama kalinya aku melihatnya jadi aku hanya bereaksi.
Aku iri.
Datang lagi.
Berhati-hatilah mengemudi.
Tentu.
.: Diterjemahkan oleh Baalthazar :.
Anda pesan apa?
Kopi saja.
Ya.
Hyun Woo, tunggu sebentar.
Apa kau mau pergi bukannya bekerja?
Aku sakit kepala, jadi aku ingin mencari udara segar.
Bisa kau selesaikan cetak biru Hotel Sinyoung lebih dulu?
Aku akan minum kopi dan kembali.
Kenapa dia bertingkah seperti ini?
Dia benar-benar orang yang aneh.
Terima kasih.
Haruskah aku mempertahankanmu, Ji Hye?
Jika aku mempertahankanmu, akankah pernikahannya batal?
Ji Hye, setelah kau pergi seperti itu,
aku mengunjungi perkebunan di mana kau dibesarkan.
Seseorang dari tempat yang luas dan indah
tidak akan bisa melakukannya.
Lakukan apa?
Membatalkan pertunanganmu.
Menyakiti hati orang tuamu.
Memiliki kekasih lain akan seperti menancapkan belati pada mereka.
Kau tidak bisa melakukan itu.
Ya?
Dimana kau? Di tempat kakakmu?
Tidak, aku sendirian.
Dimana?
Di sebuah kafe.
Kafe? Mengapa kau pergi ke sana?
Aku pergi ke rumah kakakku, tapi mertuanya ada di sana.
Jadi aku pergi setelah makan buah.
Aku hanya ingin minum kopi sendiri. Itulah sebabnya aku ke sini.
Aku akan segera pulang.
Baiklah, nikmati kopimu kemudian pulanglah.
Kau di kafe mana?
Mau kujemput?
Tidak perlu, aku hampir selesai.
Aku akan pulang sekarang.
Baiklah.
Hati-hati di jalan.
Aku ke rumah untuk bertemu ibu, tapi dia tidak ada di sini.
Dia pergi keluar bermain golf.
Aku akan menunggu di sini dan berbicara dengannya jadi berhati-hatilah.
Baiklah, sampai ketemu di rumah.
.: Diterjemahkan oleh Baalthazar :.
Mengapa kita bertemu begitu terlambat.
Aku membencinya.
Aku tidak bisa tidur selama beberapa hari ini.
Tapi aku telah memutuskan untuk menyudahinya.
Kau sebaiknya juga begitu.
Jika sulit, dan kau menganggapku orang brengsek yang kau temui di perjalananmu,
aku tidak akan membencimu.
Jika itu bisa meringankan ketidaknyamananmu,
Kau bisa mengingatku sebagai orang yang lebih buruk dari itu.
Dan aku akan baik-baik saja.
Jadi...
Aku mengerti maksudmu.
Kurasa kau datang untuk memberitahuku itu.
Baiklah. Aku mengerti maksudmu.
Aku tidak tahu begini jadinya.
Aku mengerti
.: Diterjemahkan oleh Baalthazar :.
Selamat datang kembali Nyonya.
Terima kasih.
Jika aku melakukannya dengan baik...
Aku tidak tahu mengapa aku sangat tidak beruntung.
Itu bukan keberuntungan, melainkan karena kau tidak berusaha keras.
Mungkin.
Jadi berusaha keraslah.
Bagaimana kabarmu?
Oh, siapa ini?
Bukankah kau menantu termuda?
Ya.
Kau baru datang dari suatu tempat?
Ya.
Menantu bungsu ini sangat sibuk.
Kupikir, karena ini hari Minggu jadi jika aku datang ke sini,
aku bisa mendapatkan pelayanan yang baik darimu.
Tapi kau begitu sibuk...
Ya...
Yah, itu bukan urusan kami.
Ibu mertuamu membiarkanmu melakukan apa saja.
Yah, bagaimanapun, setidaknya senang bertemu denganmu.
Nanti kita bisa makan malam bersama.
Ya.
Kami pergi dulu.
Ibu, bukan itu maksudku!
Tentu saja. Jangan menyangkalnya!
Bukankah kau datang hanya untuk membela istrimu
dan membujukku?
Sudah kukatakan aku tidak akan membiarkan itu, bukan?
Jika aku memberitahumu aku tidak akan membiarkannya, kau harusnya sudah mengerti.
Berapa kali aku harus mengulanginya, hah?
Apa yang kau...?
Oh, aku senang kau datang tepat pada waktunya.
Kemarilah dan duduk.
Kau tidak dengar? Cepat kemari dan duduk!
Ya, Bu.
Aku ingin kau jangan turut campur, sayang.
Aku ingin kau pulang ke rumah saja sementara aku berbicara dengan ibu.
Pergi, cepat! Jangan duduk!
Apa? Apa yang kau katakan?
Anak bengal! Apa maksudmu?
Apa katamu? Jangan duduk? Kau brengsek!
Anak brengsek!
Apa kau pikir aku membiarkanmu menikah untuk menyaksikan drama kekanak-kanakan ini?
Saat kau katakan kau menyukai putri seorang petani buah,
kupikir aku akan pingsan karena bingung,
tapi aku membiarkannya karena kau sangat menyukainya.
Setelah semua usahaku, apa yang kau katakan, anak tak tahu terima kasih?
Ibu! Ibu! Apa maksudmu?
Kau jahat, kejam, brengsek!
Kau brengsek!!
Ibu, tenanglah.
Lepas!
Apa kau mengajari suamimu menjadi seperti ini, hah?
Bersikap seperti ini terhadap ibu mertuamu, kau mengajarinya, kan?!
Benar?!
Ibu!
Kau brengsek! Kau brengsek! Kau brengsek!
Brengsek!
Ji Hye!
Ji Hye!
Ji Hye!
Tak masuk akal!
Lihat, di sana!
Asyik! Aku penasaran mengapa kau mengambil langkah itu?
Tolong pertimbangkan kembali.
-Di sini? -Yap
Silakan. Letakkan bidaknya.
Jendral.
Uh... Jendral ..?
Wah, jika kau begitu, ayah,
kita lihat... apa yang harus kulakukan?
Cepat dan mainkan. Kenapa kau lama sekali?
Tunggu sebentar, ayah. Mengapa terburu-buru?
makan itu!
Asyik! Kau terjebak!
Eh, bagaimana bisa begitu?
Itulah sebabnya kau harus mengatur strategi. Kau tidak bisa asal memakannya, ayah.
Apa kau ingin main sekali lagi, ayah?
Sekali lagi saja.
Hei, ibu Min Jeong! Bagaimana dengan Kal-mienya?
Kau mengerjakannya atau apa?
Seperti yang kau lihat aku masih mengerjakannya.
Mengapa kau ribut padahal kau melihatku sedang mengerjakannya?
Dipercepat, cepat, cepat selesaikan. Ibu mertuamu hampir mati kelaparan!
-Kenapa semua yang kau lakukan begitu lambat. -Ha?
-Hei Min Ji, aku yakin kau juga lapar, kan? -Ya.
Ya ampun.
Aku sangat lapar serasa punggung dan perutku menempel!
Bu, aku beli labu dan kerang yang kau minta.
Kau seharusnya tidak meneleponku di tengah-tengah pelajaran.
Lalu siapa yang bisa membantu jika bukan kau?
Apa ada orang di rumah ini yang membantu ibumu?
-Letakkan tasnya di sana. -Maju ke sana!
Apa?
Hei, tunggu dulu.
Kenapa menunggu?
Itu adalah tempat yang paling cocok!
Hey, ibu Min Jeong. Apa yang telah terjadi pada Kal-mie, hah?
Ibu mertuamu akan mati kelaparan! Di hari yang panas!
Ibu mertua, yang benar saja. Sabarlah sedikit.
Kenapa merengek seperti anak kecil?
Dalam cuaca sepanas ini, aku masih menumis ikan terinya
dan aku sedang menggiling mienya!
Kakak ipar! Kakak ipar!
Selamat datang, ayah Jang Woo.
Kita makan Kal-mie untuk makan siang hari ini, eh?
Tidak usah pedulikan Kal-mienya. Kakak ipar!
Ada apa?
Tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, kau pasti satu-satunya yang tahu dimana dia.
Dimana dia?
Siapa yang kau bicarakan?
Apa kau akan tetap seperti ini, kakak ipar?
Mengapa kau berteriak, hah?!
Lalu, aku bahkan tidak boleh berteriak?
Tentu saja tidak boleh!
-Mengapa tidak? -Karena ini adalah rumahku!
Jika kau ingin berteriak pulang ke rumahmu sendiri. Mengapa kau berteriak di sini?
No comments yet. Be the first to leave one.