نخستین 200 خط.
THE WIND WILL CARRY US
Sebuah film karya Abbas KIAROSTAMI
Di mana terowongannya?
Sudah kita lewati.
Kapan?
Waktu kau tidur.
Di mana?
Sudah kelewatan, dekat Biston sana.
Kita tersesat.
Baca alamatnya biar tahu ini di mana.
Berapa kali lagi mesti kubaca?
Selepas persimpangan, kita ambil jalan berkelok.
Ini jalan berkelok itu.
Kita sedang melaluinya.
Setelah jalan ini, menuju turunan.
Nanti di sana ada satu pohon besar.
Banyak pohon di sana.
- Setelah itu, apa? - Tidak ada apa-apa.
Aku tahu di sana ada apa. Tak ada apa-apa.
- Tak ada apapun? - Ada jalan dekat pohon.
Kuberi tahu ada apa di sana.
"Di dekat pohon ada jalan setapak, hijaunya melebihi mimpi-mimpi Tuhan."
Setelah pohon ada apa? Baca alamatnya.
Katanya ada sebuah pohon tinggi.
Banyak pohon di sisi bukit.
Pohonnya sangat tinggi?
Ya, katanya tinggi sekali.
Pasti tampak berbeda dengan pohon lainnya.
Satu pohon? Di sana banyak pohon.
Semua pohon itu ada di bukit.
Begitu yang tertulis di sini.
Menurutku kita tak akan sampai manapun.
Itu.
Di sana, lihat, satu pohon sendirian!
- Mana? - Di atas sana.
Aku melihatnya...
Besar sekali pohonnya! Lihat itu.
Dia benar.
Jahan, lihatlah.
Mana?
Telat, kau harus lihat dari atap mobil...
...tapi kau tetap tak bisa melihatnya.
Atau lewat jendela belakang kalau mau memutar kepalamu.
Besarnya!
Sudah lewat pohon yang sendirian.
Dan banyak pohon lainnya.
Ada dua lagi di atas sana. Indahnya!
Menurutku, kita ke arah dua pohon yang sendirian itu.
Akan membantu kalau kita tanya seseorang.
Jangan khawatir, kita akan temukan seseorang.
Bisa tanya ke mereka.
Pelankan sedikit.
- Mungkin kita tak temukan siapapun. - Pasti ada.
Ini lahan pertanian, pasti ada orang kerja.
Kita harus bertanya.
Jangan khawatir, kita akan temukan seseorang.
Aku lihat sebuah titik hitam di kejauhan.
Di sana. Dia tak bisa dengar kita.
Tunggu, biar aku tanya dia.
Tanya orang itu.
Tanya dia.
Halo, Bu.
Halo, salam.
Bagaimana cara ke Siah Dareh?
200 yard setelah persimpangan, belok ke kiri.
Terima kasih. Sampai jumpa.
Lihat, di balik bukit.
Tunggu sampai kita lewat pohon itu. Lihat di kejauhan.
Lihat ke bukit.
- Siah Dareh ada di sana? - Ya, di sana.
Katanya: "Di kaki gunung."
Halo, mengapa kalian terlambat?
- Mengapa kalian datang telat? - Kau menunggu kami?
- Benar. - Siapa yang menyuruhmu menunggu?
Pamanku.
Oh, pamanmu namanya...
Tn. Hashemi Masti.
Desamu benar-benar jauh...
Tak sejauh itu!
Tidak jauh? Apa pendapatmu tentang desamu?
Aku tinggal di sini sejak lahir. Aku hapal desaku.
Berarti kau tuan rumah kami?
Iya.
Haruskah belok kiri di sini?
- Berarti kau menunggu kami? - Iya.
Sejak pukul 2 siang.
Aku menunggu sejak pulang sekolah.
Pamanku bilang:
"Teman-temanku datang, jemput mereka."
- Dia bilang alasan kami datang? - Ya.
Kau harus merahasiakannya.
- Tentu. - Anak baik.
Kalau ada yang tanya, bilang saja kami mencari harta karun.
Ide yang bagus.
Kalau ada orang tanya, jawab saja kami mencari harta karun.
Bayangkan, aku tanya padamu:
- "Apa yang mereka cari di sini?" - Harta karun.
Itu bisa jadi masalah.
Tidak akan.
Desa yang sangat indah!
Ya, indah sekali.
Kalian sembunyikan desa ini dengan baik.
Kami tidak menyembunyikannya!
Leluhur kami membangun desa di sini.
Memang mereka yang membangun!
Mereka membangun seperti ini agar tak dicuri orang.
Menurutmu, kenapa mereka membangun desanya di sini?
Karena aku belum di sana.
Berarti, sebelumnya kau tak ada di sini?
Apa kau pindah ke sini baru-baru ini?
Kupikir mobil ini bermasalah.
Mogok.
Mobilnya tak kuat menanjak.
Panel penunjuknya mati.
Ya, mobilnya terkendala.
Farzad, keluar.
- Adakah air di dekat sini? - Ada, sebelah sana.
Keluar, Kawan-kawan. Cek mobilnya.
Cari tahu apa masalahnya.
Apakah mobilmu rusak?
Mobil kami? Nyawanya melayang.
Artinya?
Tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Sebuah mobil itu seperti manusia.
Dia juga butuh istirahat dan memulihkan dirinya.
Nyawanya melayang. Kepanasan.
Bisa diperbaiki?
Bisa, nanti hidup lagi.
Jangan terlalu banyak tanya, nanti aku ikut mati juga...
...di tempat setinggi ini.
Aku lupa bukuku.
- Apa? - Aku kelupaan bukuku.
Jangan khawatir, nanti dibawakan sama yang lain.
Aku punya tugas.
Sebentar lagi mereka datang bergabung dengan kita.
Aku harus belajar.
Kusuruh mereka supaya bawa bukumu.
Aku harus belajar biar dapat nilai bagus.
Menyebalkan...
Ali, bawakan buku anak ini.
Di mana?
Di atas dasbor.
Orang-orang selalu lewat sini?
Tidak, banyak jalan lain.
Ini salah satu yang paling susah.
Ini bukan jalan utama.
Lalu di mana jalan utama itu?
Jalannya sangat jauh. Yang ini lebih dekat.
- Itu alasannya kita lewat sini? - Betul.
Tunggu, kenapa kamu tergesa-gesa?
Lebih baik perlahan kalau jalan!
Itu maumu.
Oke, tapi bukankah kau penunjuk jalan?
Kau merasa térganggu ?
Bukan térganggu , tapi "terganggu"!
Terganggu?
Belum, tapi kalau kau tak diam, aku akan terganggu sebentar lagi.
Selamat datang, Insinyur.
Halo.
- Kami merasa terhormat. - Kami yang merasa terhormat.
Akhirnya.
Selamat datang.
Ini salah satu kamarnya.
Apa katanya?
Kalau yang ini terlalu kecil, masih ada kamar lain.
Terima kasih, kami hanya menginap beberapa malam.
Anggap saja rumah sendiri.
Ini kamar mandinya.
Kamar tidur...
Bagus. Terima kasih.
- Mana rumah wanita tua itu? - Siapa?
- Perempuan yang sakit itu. - Maksudmu Malek?
Iya, Nak.
Dia tinggal di sana.
Kau bisa melihatnya dari atap.
- Lewat mana? - Sini.
- Bisa kita lihat dari sini? - Bisa.
Lihat jendela yang biru itu?
Yang mana?
Sebelah sana, dekat wanita yang duduk di tangga.
Tak bisa lihat banyak hal dari sini.
Ayo naik sedikit lagi, akan kuperlihatkan.
- Lewat mana? - Lewat sini.
Ayo.
Farzad.
Mengapa tak kau bawa mangkuk sopnya?
Akan kukembalikan.
Aku perlu.
Siapa wanita itu?
Yang di sebelah sana?
Bukan, tetangga sebelah.
Mim Khamman.
Apa artinya itu?
Bibiku dari pihak ayah.
- Halo, Insinyur. - Halo, kau baik-baik saja?
- Bagaimana keluargamu? - Sehat semua.
- Siapa itu? - Ibuku.
- Kau sehat? - Sehat, terima kasih.
Kau adiknya Tn. Hashemi?
Dia mengirim salam.
No comments yet. Be the first to leave one.