نخستین 110 خط.
Pertandingan ini menarik sekali ini.
Iya. Entar malem bola mana lawan mana sih, Mas?
Nanti malam, Jerman vs Polandia kan?
Haha, bayar dulu! Udah ngoceh aja!
Hutangnya kan belum dibayar!
Hutang yang kemarin belum dibayar, mau taruhan?
Kalau nanti malam Jerman yang menang, aku bayar hutang kalian semua!
Buat bayar angsuran motor kali tuh, dari jaman dulu!
Ya tuh, bensinnya sudah diisi belum?
Waaupun motorku jelek, tapi itu sudah lunas.
Memangnya kalian, motor angsuran!
Itu pemberian Mamaku di Siantar!
Kayak keris pakai warisan, Gar!
- Sarjana kok ngojek? - Sekolah tinggi-tinggi, kasian emak lo, Gar!
- Mas, jalan, mas! - Woi, Mas Bule!
Bule, sini!
- Bisa bahasa Inggris? - Bisa, bahasa Inggris, bisa.
Bisa bantu saya? Saya sedang mencari rumah ini, tempatnya di Kebab Joran.
Kebocoran? Kebocoran yang di sana.
Bisa saya bantu, Pak?
Tahu tempat ini?
Oh ya, saya tahu tempat ini.
Kamu tahu?
Ya saya tahu, mungkin saya bisa membawa Anda kesana.
Bisa bantu saya mencari taksi? Saya juga bisa bahasa Inggris.
Jangan taksi, nanti macet, ini Jakarta. Kita biasa pakai ojek.
Nama saya bukan Jack.
- Bukan, sopir motor! - Coba tunjukan.
Ini sangat aman.
Oh, benarkah? Kau yakin?
Harus aman, kamu punya helm?
Ya, saya punya. Tunggu sebentar.
Saya punya helm, tenang saja!
Ini helm bagus!
Tidak, tidak bersih! Harus yang bersih!
Tunggu sebentar!
- Eh, helm gue! - Pinjem sebentar, pelit amat lu!
Tunggu, saya pertama kali melakukan ini. Sebelumnya tidak pernah, kau harus hati-hati!
Hah? Oh, jangan khawatir, Pak! Ini sangat aman!
Yes, Mas Londo!
- Sebentar. - Aku pulang bawa uang!
- Jadi nama kamu siapa? - Günther.
- Sunter?! - Günther!
- Bunder? - Güntherrr, dengar gak?
Ya, ya, Gunter.
Ya, panggil saya apa saja yang kamu mau. Nama kamu?
- Togar. - Gokart?
- Togar! - Toll guard (penjaga tol)?
- Togaaar! - Tol Karl?
Halah, suka-suka kau lah!
Maaf, disini agak susah terdengar. Banyak mobil, tidak mudah.
- Senang berkenalan denganmu. - Ya, senang berkenalan denganmu juga.
- Tadi kamu bilang apa? Kebocoran? - Kebab Joran.
Kebab Joran? Tidak ada Kebab Joran di Jakarta.
Benar, Kebab Joran. Tadi saya sudah tunjukan gambarnya!
Ini.
- Ya, tapi perhatikan jalannya! - Ya, ya.
Bukan, Kebab Joran, Pak! Kebayoran!
Ya, apapun lah.
Kebayoran apa Kemayoran?
Kebacoran.
- Kebayoran? - Ya, ya.
Ngomong dong kau, ah! Saya tahu tempatnya!
Ya, bagus. Antar saya kesana.
Kenapa kamu mencari rumah itu, Pak?
- Sebenarnya itu rumah saya. - Oh, rumahmu?
Dulu rumah keluarga saya, ayah dan ibu saya tinggal disana 20 tahun yang lalu.
Waktu itu, saya masih 5-6 tahun.
Sekarang saya mau kesana lagi untuk foto, seperti nostalgia.
Ah, baiklah.
Sepertinya macet, Pak. Sangat macet!
Iya, banyak kemacetan.
Bakal lama nih, Pak!
- Stiker apa itu? Tokek? - Apa?
- Stiker apa itu? - Oh, ini bahasa Indonesianya cicak.
Belum pernah dengar. Tapi pernah lihat di hotel saya.
Cicak itu simbol tradisi saya.
Oh ya? Artinya apa?
- Simbol tradisi saya. - Kamu dari mana?
- Saya orang Batak dari Medan, Sumatra Utara. - Saya tidak tahu.
Ibu saya selalu berkata, “Hei, Togar, jadilah seperti cicak!”
Tapi kamu tidak terlihat seperti cicak.
Ini hanya simbol, Mister.
Cicak itu maksudnya kamu harus bisa hidup dimana saja.
- Ya, bahkan di Jakarta ini ya? - Betul.
Biar saya tebak, kamu dari Jerman kan?
- Bagaimana kamu bisa tahu? - Saya tahu logatmu dari Youtube.
Kamu lihat saya di Youtube?
Oh, bukan. Saya lihat wawancara pemain bola Jerman di Youtube.
Oh, oke. Saya terdengar seperti mereka?
Kamu suka sepakbola?
Tidak terlalu, saya tidak terlalu jago waktu masih kecil.
Alamak! Kamu harus nonton sepakbola Jerman!
Ya, tentu saya nonton. Kami kan juara dunia, tentu saya bangga.
- Kamu tahu Osil? - Özil? Ya saya tahu, sangat jago.
Mesut Özil adalah pemain yang sangat hebat.
Punya skill, mata bagus, ganteng, seperti saya.
- Kota asalmu dimana? - Saya dari Aachen, kamu tahu?
Aachen?
Ah, saya tahu! Habibie, Habibie!
- Tidak, saya tidak punya bayi. - Bukan, Habibie! Dulu dia presiden saya.
Saya tidak tahu. Sekarang dia presiden?
Bukan, itu dulu sekali. Dia dulu sekolah di Aachen.
Dulu dia sekolah di sana? Wow, pasti orang yang sangat pintar ya?
Ya, sangat pintar, cerdas, dan hebat.
Dia pasti sangat pintar kalau dulu sekolah di sana, karena universitas kami sangat bagus di Jerman.
Macet. Kapan kita akan sampai di sana?
Macet, Jakarta selalu macet.
- Iya betul, kota Jakarta ya. - Jakarta kota yang ramai.
Saya harus cari jalan lain. Saya akan cari jalan lain.
No comments yet. Be the first to leave one.