نخستین 195 خط.
ZainuddinAri
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
Episode 17
Ya, aku sudah masuk Islam.
Tapi aku dikalahkan oleh hawa nafsu sejak bertahun-tahun.
Dan aku tak memerhatikan apa yang terjadi di sekitar Mekah.
Dan mereka menghalang-halangiku dari berbagai arah.
Kehidupan pun masih seperti sedia kala.
Dan orang-orang seperti Uthbah bin Rabi'ah,
Abu Hakam, Walid bin Mughiroh, Umayyah bin Khalaf, Ash bin Wail,
Abu Thalib, Umar bin Khattab dan utusan orang Quraisy, serta para musuh-musuhnya.
Bilal membawa bendera perang dan melawan tuannya.
Khalid bin Walid, pemimpin kaum Quraisy dan pemilik takhtanya.
Amr bin Ash diplomat Quraisy, dan aku...
Dan aku, Abu Sufyan, Sakhar bin Harb bin Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf,
adalah pemimpinnya kaum Quraisy, tanpa ada yang menentang.
Ke mana hari-hari itu menghilang? Ke mana?
Lalu aku menjadi kejam, dan semuanya berubah.
Waktu silih berganti, aku tak tahu di mana aku.
Aku tak paham dengan yang kulihat dan tak paham dengan diriku sendiri.
Dan kau...
Kau bukanlah apa-apa. Kau tak menunjukkan kepadanya.
Kau tak memberi manfaat apa-apa.
Di mana kau, Uthbah bin Rabi'ah?
Aku menangisimu sekarang, sebab bagaimana kalau kau masuk neraka?
Bukankah kalian lihat bahwa Allah sudah bukakan bagi Rasulullah tanah dan negaranya, yang akan ditempatinya.
Kaum ansar, mau apa kalian?
Kaum ansar yang lain juga berbicara seperti itu.
Dan Rasulullah mengetahuinya, lalu menegurnya:
"Berlindunglah kepada Allah, wahai kaum ansar.
Kehidupan ini adalah hidupmu, dan kematian adalah matimu."
Saudaraku, Abu Hudzaifah.
Bagaimana keadaanmu, Saudariku?
Aku sudah masuk Islam.
Aku tahu. Semoga Allah menetapkan hatimu dalam Islam.
Dan menghapus semua bekas-bekas zaman jahiliah.
Abu Sufyan yang sudah menunjukkan jalan ini.
Ini saudara kita, Salim, apa kau mengingatnya?
Bagaimana tidak, kau sudah mengangkatnya jadi anakmu.
Allah sudah menakdirkannya, tapi, doakan orang tuanya, Saudariku.
Aku tuannya dan ia tuanku juga, tak ada yang bisa memisahkan kecuali kematian.
Atau mengumpulkan kita dalam mati syahid.
Bagus sekali, Salim, sang penghafal Alquran.
Siapa?
Bukalah, Ayah.
Abu Jandal.
Seperti inikah ayah kepada anaknya sesudah perpisahan itu?
Ia adalah musuhku kalau bersahabat dengan Muhammad.
Meskipun ia anakku.
Ia sudah pergi dari tempat ini.
Marilah kita pergi kepada Rasulullah, Ayah.
Aku masuk Islam, lalu ia akan membunuhku, sebagai balasan terhadap perbuatanku?
Rasulullah akan menjamin keamananmu.
Jangan takut kepadanya!
Kau sudah melakukannya? Kau mendapatkan perlindungan darinya?
Abdullah, kau juga mendapatkan perlindungan darinya?
Tak apa-apa, Ayah.
Demi Allah, Rasulullah saw. sudah memberi janji pada para sahabatnya
agar tak menyalahgunakan amanah, dengan berkata:
"Barang siapa bertemu dengan Suhail bin Amr,
maka jangan kauhalang-halangi untuk melihatnya.
Karena Suhail mempunyai kedudukan yang mulia.
Orang seperti Suhail pasti akan menghargai Islam.
Jeddah
Sofwan, Abu Wahab! Sebentar, tunggu!
Sofwan.
Pergilah dariku, beri apa yang aku minta dari sahabatmu, Abu Bakar.
Aku ingin menjadi penolongmu. Aku datang kepadamu karena kau orang baik.
Kau punya kekuasaan, kau punya kemuliaan, dan aku akan memberimu keamanan.
Maka kembalilah kepadanya denganku, siapa tahu Allah memberimu hidayah.
Bagaimana aku bisa percaya padamu, padahal kau sudah melakukannya padaku sebelumnya.
Imamah: Jubah
Ini adalah Imamah Rasulullah yang ia pakai ketika memasuki Mekah.
Ia menyuruhku membawa ini sebagai tanda bahwa aku jujur.
Allah menyayangimu, jangan kauhancurkan dirimu.
Aku lihat kau keluar ke tempat seperti ini
lari dari Rasulullah karena akan membunuhmu.
Biarkan aku seperti ini.
Ke mana kau akan lari, Wahsyi?
Orang-orang sudah kembali dari pelarian seperti ini
dan tunduk di hadapan Rasulullah, menyatakan masuk Islam.
Dan aku ingin kau melakukan hal itu juga.
Aku bukan seperti mereka, aku sudah membunuh Hamzah, paman Muhammad.
Dan aku tak punya keturunan yang bisa menjagaku dari perbuatan ini.
Rasulullah sudah membuang jauh tradisi jahiliah yang mengagungkan ayahnya.
Adapun tentang pembunuhanmu terhadap Hamzah,
ia adalah nabi yang tak mengenal balas dendam.
Ia juga sudah mengampuni Hindun binti Uthbah tentang kejadian Hamzah.
Bergabunglah dengannya sebelum terlambat. Aku berkata begini karena menyayangimu.
Pikirkanlah baik-baik.
Mau pergi ke mana, musuh Allah? Pembunuh Hamzah.
Ayo kita bawa kepada Rasulullah untuk mendapatkan balasan atas perbuatanmu.
Jangan ganggu, ia dalam penjagaanku. Aku akan membawanya kepada Rasulullah.
Kau tak mau menyambut sepupumu, Ikrimah?
Kau selalu diterima, Abu Sulaiman.
Selamat datang rombongan muhajirin,
seperti yang dikatakan Rasulullah saat kau menemuinya.
Kalaupun Rasulullah bilang aku pengungsi, ia pun berkata yang sebenarnya.
Rasulullah bukan orang yang suka mencela dan menghina siapa pun.
Kau sudah lihat sendiri betapa senangnya ia saat kau memeluk Islam.
Syaifullah (Pedang Allah): Julukan Khalid bin Walid
Selamat datang, Syaifullah.
Seperti inilah sekarang orang-orang memanggilmu?
Sesembahan ini tak ada akhirnya.
Pada akhirnya, seperi inilah hasilnya.
Bukankah kau sudah masuk Islam
dan Rasulullah menerima dan memaafkan perbuatanmu terdahulu.
Ia bertanya padaku bagaimana aku membunuh Hamzah.
Apa kau tak lihat wajahnya berubah dan berkata,
"Kalau kau bisa menjauh dariku, maka lakukanlah."
Jangan kaubuat beban perkara ini, jangan kau melihat ke belakang,
tapi pandanglah masa depanmu.
Jangan khawatir, aku akan semangat untuk ke depannya.
Sekarang berarti Islammu sudah sempurna.
Berterima kasihlah kepada Ummu Hakim
yang sudah membawamu masuk Islam bersama Rasulullah.
Kalau tidak, pasti kau sudah binasa.
Mungkin aku telah mengenal kebenaran beberapa waktu ini.
Yang membuatku begini adalah kebanggaan dan hormatku pada ayah.
Aku merasa kalau jadi seorang muslim berarti aku bersaksi bahwa ia adalah Abu Jahal.
Aku pun juga berpikir begitu tentang ayahku, Abu Mughirah,
karena ayat-ayat Alquran berbicara tentangnya.
Tapi memikirkan itu pun tak menyelamatkan nenek moyang kita dari neraka.
Tak ada lagi nasab di akhirat kelak.
Aku membunuh Hamzah, agar aku bisa bebas.
Dan orang-orang Quraisy memandangku sesudah itu sebagai hamba sahaya.
Aku tak bisa duduk di bangku mereka, tak didengarkan pendapatku
dan tak makan dalam wadah yang sama.
Dan barangkali nanti aku mendengar mereka, itu anaknya Zubair bin Mat'im,
dan ketika aku masuk Islam mereka akan berkata:
"Ia pembunuh Hamzah, ia keluar dari suatu kelompok
tapi akan masuk ke kelompok lain lagi."
Sampai kapan?
Apa aku ditetapkan sampai akhir zaman dalam keadaan terhina dan terbuang?
Seperti unta yang tak bertuan.
Kapan aku bisa diterima layaknya orang biasa?
Kau pembunuh yang terlaknat. Kau menjadikanku pembunuh.
Barangkali kau bisa mengeluarkanku dari keadaan ini seperti halnya kau menjerumuskanku.
Kalian semua berkumpul saat ini di tempat ini dalam keadaan Islam.
Sedangkan dulu kalian berkumpul seperti ini dalam keadaan musyrik.
Yang membedakan adalah keimanan dan kesyirikan.
Hingga hati dan jasad kalian berkumpul dalam agama yang benar
maka pujilah Allah atas hidayah-Nya.
Umar, aku menyesali perbuatanku dulu.
Jangan putus asa dengan yang sudah terjadi,
tapi bangunlah semangat yang akan datang.
Banyak sekali orang berbuat baik dan berbangga-bangga dan akhirnya binasa.
Dan betapa banyak sekali orang yang dulunya melakukan kejelekan
kemudian menyesal dan terus memperbaiki diri
hingga akhirnya termasuk orang-orang yang masuk surga lebih dulu.
Indah sekali untaian kata-katamu, Umar. Beruntung sekali kaum yang kaupimpin.
Dan sekarang kita tahu, bahwa kau mengorbankan diri untuk kita.
Maka ketika kami membunuhmu, sesungguhnya kami sedang membunuh diri kami sendiri.
Segala puji bagi Allah yang sudah menolongmu dan membebaskan kami dari kemusyrikan.
Suatu kemenangan bagi kami karena sekarang kami muslim.
Hal ini hampir menjadi kenyataan, dan semua orang Arab akan masuk Islam,
padahal mereka pengikut Quraisy.
Apa yang membuatmu menangis, Umar?
Padahal Islam sudah hampir jaya, seperti yang Salim katakan.
Aku takut, kalau yang kulakukan ini bukanlah menyempurnakan Islam, tapi sebaliknya.
Insya Allah rasanya nikmat.
Rasulullah sudah menjanjikan hal baik, kenapa ada rasa cemas?
Agama, Asma'.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
QS. Al-Maa'idah: 3
Pada hari ini sudah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي
dan sudah Kucukupkan kepadamu nikmatKu,
وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
dan sudah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.
Orang-orang Quraisy sudah masuk Islam,
dan sesudah perang Hunain orang-orang Tha'if juga masuk Islam,
dan kabilah-kabilah dari berbagai penjuru, datang ingin membaiatkan diri masuk Islam.
Dan Allah menurunkan ayat,
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
QS. An-Nashr: 1-3
Apabila sudah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya.
Sesungguhnya Ia adalah Maha Penerima taubat.
Maka sempurnalah agama ini, lengkaplah risalahnya dan berakhirlah wahyu dari Allah.
Maka sudah sempurna dalam diri Rasulullah sendiri.
Lalu Abu Muwaihibah, pembantu Rasulullah, memberitahuku ucapannya ketika di Baqi',
khotbah Rasulullah pada hajinya yang terakhir.
"Wahai manusia! Dengarkan nasihatku baik-baik."
"Karena mungkin aku tak dapat lagi bertemu kalian semua di tempat ini
No comments yet. Be the first to leave one.