نخستین 200 خط.
ZainuddinAri
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
Episode 6
Sebenarnya, belum ada yang bertahan seteguh dirimu
sementara kau adalah yang paling lemah di antara mereka.
Kita tahu kalau mereka hanya akan menyerah di bawah paksaan
saat mempertahankan keyakinan mereka.
Kau tahu, Muhammad memerintahkan untuk menyelamatkan nyawa mereka
selama di dalam hati mereka masih beriman kepada-Nya.
Kenapa kau tak berbuat seperti mereka?
Aku tak ingin tahu apa isi hatimu.
Yang kuinginkan darimu hanyalah ucapan lisan,
satu kalimat untuk didengar orang di sekitar kita.
Teguhkan dalam hatimu apa pun yang menyenangkanmu.
Aku pasti akan bersikap adil padamu. Bagaimana menurutmu?
Allah Maha Esa.
Kau bawa petaka buruk pada kami, Budak!
Ini yang kita lakukan dengan orang-orang bodoh ini!
Orang-orang bodoh mana yang kaumaksud?
Pengkhianat! Pengkhianat!
Pengkhianat! Pengkhianat! Pengkhianat!
Seolah-olah malah ia yang menyiksamu.
Benar. Kulihat orang-orang hari ini membandingkanku dengannya.
Entah kepada siapa mereka lebih bersimpati.
Ia tak takut mati. Sementara aku takut, kalau bertindak lebih jauh, ia bisa mati
sebelum menyerah padaku, itu akan jadi aib bagiku.
Kalau ia bertahan dan tak menyerah, aibku akan semakin besar.
Ia tak memberiku jalan keluar.
Seseorang tak akan cari jalan keluar dengan menyerah, kecuali ada yang disayanginya.
Hidupnya, kekayaan dan keluarga.
Kalau ia tak memiliki satu pun dari itu, ancaman atau siksaan takkan berguna.
Ia akan hadapi selama yang ia bisa, meski kalau itu berarti kematiannya.
Apa gunanya kuobati punggung dan dadamu kalau besok akan terluka lagi?
Katakan saja yang mereka mau, Bilal, dan bayangkan kalau sebaliknya!
Tak seorang pun yang bisa lihat apa isi hatimu.
Tidak, tak seorang pun yang akan tahu apa isi hatiku.
Ya, itu.
Lalu mereka akan mengira aku bersungguh-sungguh mengatakannya.
Dengan begitu, aku akan mengecewakan agamaku akibat perbuatan orang kafir, Umayyah bin Khalaf.
Tidak! Demi Allah, aku tak akan katakan apa pun.
Kujalani hidup sebagai budak, menerima dan mematuhi perintah. Tidak lagi!
Kalau begitu, matilah sesukamu! Kau benar-benar tak pantas dapat simpati.
Siapa yang meminta simpati? Kau yang lebih membutuhkan itu.
Terserah.
Aku yang gila, karena berusaha menolongmu.
Kenapa dari tadi kau diam saja?
Dasar bodoh! Dasar bodoh!
Kalau sudah jelas akan mati,
apa tak bisa mencari pedang untuk membunuh lalu dibunuh?
Siapa yang kaubicarakan?
Kau datang lebih awal hari ini. Matahari siang belum pada posisi terpanasnya.
Sekarang, Budak Kotor!
Ayah.
Sekarang, Bilal. Kau tahu, kami selalu berusaha baik padamu
sampai kau melakukan hal ini.
Aku majikanmu dan kau wajib mematuhiku.
Ya, Tuanku. Tapi Allah lah penguasa dari segalanya.
Aku datang bukan untuk berdebat tentang agamamu!
Baiklah. Kau takkan mengucapkan kalimat yang kuinginkan,
tapi aku tawarkan sesuatu yang belum pernah ditawarkan majikan mana pun pada budaknya.
Saat kita pergi hari ini, katakan di depan orang banyak kalimat yang artinya
tak meninggalkan keyakinanmu tapi juga tak bertentangan dengan agamaku,
yang menyenangkan kedua belah pihak. Bagaimana?
Aku sudah berusaha berkorban untukmu, Bilal. Lakukan hal yang sama hingga ada titik temu bagi kita.
Tak ada sesuatu di antara kebenaran dan kepalsuan, kecuali hal yang palsu.
Ketika kebenaran bergeser sedikit saja, maka tak bisa dikatakan kebenaran lagi.
Bukankah sudah kaudengar? Kau yang membuatku melakukan hal ini.
Si budak kini berada di posisi yang lebih tinggi dari majikannya.
Ia menolak untuk menyerah, tidak sedikit pun. Sungguh aib!
Bagaimana para raja kita pagi ini?
Itu tak pantas, kalau salamku tak dijawab dengan salam yang serupa.
Sumayyah!
Sumayyah!
Apa kegiatan Sumayyah hari ini?
Sudahkah ia menyisir rambutnya, pakai wewangian dan hiasan untuk menyenangkan suaminya?
Menurutmu bagaimana istrimu hari ini, Yassir?
Apakah ia menyenangkan untuk dipandang?
Kalau bagiku, aku sungguh senang dengan yang kulihat.
Kalau kau suka, kau bisa menceraikannya dan akan kubayarkan maharnya.
Dasar keji!
Ya, itu benar.
Sabarlah, Yassir sekeluarga. Seandainya dulu kalian masih budak!
Aku pasti sudah membebaskan kalian.
Tapi, seperti yang dikatakan Rasulullah "Sabarlah, Yassir dan keluarganya."
"Surga adalah tempat kita bertemu."
Allah Maha Esa.
Ia akan mati.
Yang mana?
Situasi ini telah menghasilkan kualitas terburuk dari manusia.
Dan yang terbaik.
Siapa yang mengira Bilal bin Rabah, budak Umayyah itu
bisa menunjukkan keteguhan dan penolakan sekokoh gunung?
Sungguh terbaring seperti itu, ia lebih kuat dan lebih mulia dari Umayyah, pemimpin Jumah.
Apakah itu akibat Islam?
Jangan bertanya yang jawabannya bisa mempermalukan dirimu.
Kau tak pulang, Ayah?
Di saat sudah sedekat ini?
Dekat dengan apa?
Dengan kematian, atau ia akan menyerah.
Apa ia dalam posisi seperti itu?
Bagaimana kau memahaminya, Abu Jandal?
Kesenangan apa yang didapat dari melihat orang yang sekarat?
Ini rasa ingin tahu, bukan kesenangan.
Mau ke mana?
Bagiku, ini bukanlah kesenangan maupun rasa ingin tahu.
Apa kau tak takut akan Allah dalam memperlakukan orang lemah ini?
Kau yang merusaknya dan membuatnya meninggalkan kami.
Jual ia kepadaku!
Kau akan menyelamatkan sekaligus menyingkirkannya.
Berapa banyak yang akan kaubayar?
Sebutkan harganya!
Tujuh... Empat puluh ons emas.
Kita sepakat. Akan kukirimkan uangnya malam ini.
Ia bukan milikku lagi.
Ia bukan milikku lagi.
Aku tak bertanggung jawab terhadapnya.
Ia bukan milikku lagi.
Apa kau sanggup berdiri?
Semuanya. Saksikan pernyataanku, aku telah membebaskan Bilal!
Ia adalah adik dan temanku. Tak ada yang bisa memisahkan kami kecuali kematian.
Betapa baiknya Abu Bakar!
Betapa baiknya Abu Bakar!
Demi Latta, ketika Abu Bakar membebaskannya, ia juga membebaskanku.
Betapa menderitanya aku karena budak itu.
Kini aku bebas dari rasa malu.
Berapa Abu Bakar membelinya?
Demi Latta dan Uzza, kalau Abu Bakar bersikeras membelinya satu ons
aku akan menyetujuinya. Tapi aku mengambil keuntungan darinya.
Aku sudah berhasil melakukannya, 'kan?
Ya, mungkin sudah.
Kenapa kau begitu sedih seolah-olah telah kehilangan orang yang dicintai?
Bukan, kurasa ia takkan bertahan hari ini. Kulihat tanda-tanda itu.
Apa maksudmu?
Maksudmu temanmu, Bilal. Sepertinya kau tak keluar rumah hari ini.
Apa aku akan pergi keluar kalau tak berdaya melihatnya mati?
Kau tak lihat dan tahu karena kau tak keluar rumah hari ini.
Tahu apa?
Kalau kau bersedih terhadap temanmu, sebaiknya kau bergembira untuknya.
Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya.
Abu Bakar menebus dan membebaskannya.
Apa?
Seperti yang kaudengar. Ya, benar.
Kenapa kau ini? Kupikir berita itu akan membuatmu senang.
Tinggalkan aku sendiri. Pergi!
Tinggalkan aku!
Anakku, kenapa kau membuang-buang uang membebaskan budak lemah seperti itu?
Amir bin Fuhairah, Ummu Umais,
pembantu Abdi Dar dan putrinya
kemudian pelayan lainnya, Zinnairah, dan sekarang Bilal.
Ayah, aku tak keberatan habiskan semua uangku di jalan Allah.
Mereka saudara-saudaraku dalam Islam, dan tak ada yang melindungi mereka.
Menurut kaum kita, mereka rentan dan bisa dijadikan objek penyiksaan
sementara aku hanya menghindari semua masalah itu.
Tapi kau membebaskan sesuatu yang lemah.
Akan lebih baik, kalau kau membebaskan beberapa pria kuat untuk menjagamu.
Ayah, yang kuinginkan dari tindakanku adalah untuk menyenangkan Allah.
Kau, Yassir!
Kau adalah ayah dan suami yang dipatuhi.
Apa kau tak kasihan
dan tak ingin selamatkan mereka dari penderitaan?
Kembalilah ke agama kami dan ajak mereka juga!
Kalian akan selamat dan hidup bahagia bersama majikanmu, Bani Makhzum.
Kau menangis, Ammar!
Kau menangis!
Kenapa kau tak menangis untuk ayahmu?
Aku melihatnya menggendongmu saat kau masih kecil dan menanamkan pesona kepadamu.
Aku belum pernah lihat seorang ayah yang lebih baik terhadap anak-anaknya.
Kalau kau benar-benar peduli pada orang tuamu,
teganya kau berbuat ini pada mereka?
Kaulah yang menyesatkan dan menyebabkan mereka berakhir seperti ini.
Betapa durhakanya dirimu!
Lihatlah mereka!
Lihat!
Kemungkinan besar, mereka tak akan bertahan untuk melihat pagi hari.
Mereka tak sekuat dirimu.
Beginikah sikap anak yang berbakti?
Apa beberapa tetes air mata cukup untuk menunjukkan bahwa kau berbakti?
Kalau kau sebutkan satu kalimat saja, yaitu mengutuk Muhammad
akan kulepaskan mereka berdua sekarang juga.
Sumayyah!
Sumayyah! Wahai Sumayyah!
Jahat sekali kau sebagai seorang istri dan ibu.
Ibu macam apa yang senang melihat anak kandungnya disiksa
saata ia sanggup membebaskannya?
Dan suamimu...
Kurasa ia akan jadi yang pertama mati di antara kalian.
Aku bisa lihat kematian dengan jelas di wajah orang.
Tapi... Tapi tidak.
Kurasa kau tak akan peduli kalau ia sampai mati.
Mungkin kau peduli terhadap anakmu
tapi tidak terhadap suamimu.
Kurasa kau akan senang melihatnya mati.
Kenapa?
No comments yet. Be the first to leave one.