نخستین 162 خط.
Nanika,
apa kau mau memaafkanku yang telah
jadi kakak yang jahat?
Baik.
Aku
mencintai Killua.
Jangan buat kesalahan yang sama.
Dan kau seharusnya minta maaf pada Kite, bukan padaku!
Kau tak tahu dia masih hidup atau sudah mati,
tapi yang yang jelas, kau harus minta maaf padanya!
Saat kau minta maaf pada teman, ada aturannya.
Apa kau tahu?
Eh?
Tidak, apa itu?
Selanjutnya kau harus lakukan sesuatu yang berbeda, itu adalah janjinya.
Dan kau harus pegang janji itu, apa pun yang terjadi.
Ya.
berdiri tegak di atas tanah
daichi wo fumishimete
kau pun terbangun
kimi wa mezameteiku
dengan senyuman bak malaikat
tenshi no hohoemi de
bawalah aku!
tsuredashite!
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
ZAINUDDINARI
m 51 -6 l -48 -6 l -48 9 l 51 9
mempersembahkan
m -18 22 l -18 22 l -26 12 l -30 17 l -22 26 l -30 35 l -26 40 l -18 31 l -9 40 l -6 35 l -14 26 l -6 17 l -10 12
walau dalam kesunyian, kita tidaklah seorang diri
kodoku demo hitori janai sa
pasti ada suatu alasan kenapa kita dilahirkan
umaretekita koto ni kanarazu imi ga aru
kau bisa tersenyum lagi
You can smile again
bermandikan cahaya mentari
taiyou abite
cobalah terbang
You can fly away
dunia ini telah menanti gemerlap cahayamu
sekai wa kimi no kagayaki wo matteru
berdiri tegak di atas tanah
daichi wo fumishimete
kau pun terbangun
kimi wa mezameteiku
dengan senyuman bak malaikat
tenshi no hohoemi de
bawalah aku! (kau bisa tersenyum)
tsuredashite! (you can smile!)
tak pernah ada kata terlambat untuk memulai
"hajimari" wa itsudemo osokunai sa
apa pun yang terjadi tetaplah berdiri
nandodemo tachiagare!
Melarikan Diri x Dan x Masa Depan
Dia punya rambut yang sama denganmu.
Aku menembaknya karena
aku tahu sampah-sampah itu sedang mengejarnya
dan permainkan mangsa mereka.
Setelah aku terlahir kembali sebagai Semut,
aku sadar bahwa apa yang kulakukan sama seperti kehidupanku sebelumnya.
Sebelum aku terlahir jadi seperti ini, pekerjaanku adalah menghabisi seseorang.
Saat aku diperintah, aku pun menekan pelatukku.
Bisa kukatakan kalau kehidupanku saat itu sangatlah memuaskan.
Pekerjaan itu bisa dilakukan oleh siapa pun.
Setelah terlahir kembali pun aku tetap mengulanginya sebagai siklus takdir yang bodoh.
Aku ingin menyelamatkannya dari siklus takdir itu.
Aku tak tahu bagaimana itu bisa terjadi.
Tapi...
Aku rasa kalau aku biarkan mereka menangkap, menyiksa, lalu membunuhnya,
siklus itu akan terus terulang dengan sendirinya.
Terdapat kehidupan yang membosankan di suatu tempat,
tapi di sana sangat damai dan tenang.
Sampai suatu saat sebuah nyawa terenggut oleh kejahatan yang tak berperasaan.
Aku tarik pelatukku
di saat mangsa sebenarnya bisa terlepas dari siklus itu.
Karena tindakanku itu, Ratu memakan ratusan manusia.
Saat mereka terlahir kembali, hanya beberapa dari mereka yang ingat kehidupan masa lalu mereka.
Kemungkinan jiwa manusia yang selamat berada di suatu tempat entah di mana.
Tapi aku ingin lakukan sesuatu.
Aku merasa bahwa aku ingin selamatkan mereka.
Kalau yang ada dalam tubuhmu bukanlah dirinya,
kemungkinan dia selamat,
dan sampai saat ini untunglah
belum ada seorang Semut pun yang menuntutku atas kematianmu di masa lalu.
Kemungkinan dia telah selamatkan diri.
Setelah semua ini terjadi, aku tak percaya akan keberadaan jiwa manusia.
Aku percaya manusia itu
sama halnya seperti lalat atau kutu, mereka hidup dan mati begitu saja.
Dan ego itu tak lebih dari sekadar
kerusakan yang terjadi akibat dari kerumitan otak manusia.
Tak ada yang terjadi setelah kematian.
Tubuh kita hanya akan membusuk, berubah jadi debu dan tak bersisa.
Aku percaya bahwa pecahan kecil itu tak punya arti.
Tapi saat ini aku ada di sini.
Dan aku ulangi siklus itu.
Penampilanku benar-benar berbeda,
tapi yang kulakukan sama bodohnya dengan kehidupanku sebelumnya.
Itu membuatku berpikir.
Mungkin aku bodoh, tapi aku tak akan sangkal sesuatu yang terjadi saat ini.
Dan aku tak ingin abaikan sesuatu yang tak kumengerti.
Aku telah mati.
Aku mati, dan tubuku hancur jadi kepingan-kepingan kecil.
Tapi itu bukanlah akhir.
Kepingan-kepingan kecil yang kuanggap tak berdaya itu
punya kekuatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Dari sudut pandang kita, partikel yang tak lebih besar dari serbuk sari
punya energi yang berdampak pada kesehatan kita
sepuluh atau beratus-ratus juta tahun kemudian.
Dan DNA kita yang berukuran sangat kecil,
punya sejumlah informasi luas yang tersimpan dalam bentuk Double Helix.
Dan dengan ukurannya yang sangat kecil itulah
memberikan kehidupan bagi ruang sangat luas yang dinamakan alam semesta.
Hanya karena ukurannya yang kecil bukan berarti memberikan energi yang kecil.
Jiwa mungkin memang kecil, tapi punya energi untuk mengulangi siklus itu.
Itu artinya aku terlahir untuk lanjutkan siklus itu?
Aku tak tahu apa yang akan terjadi.
Jadi ini tak lebih dari pendapatku saja,
tapi ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan bahwa aku tak boleh ulangi sesuatu yang sama lagi.
Kurasa aku dipaksa untuk ulangi semua itu karena
ada sesuatu yang tak bisa kumasukkan dalam jiwaku saat aku masih hidup.
Kau tahu bagaimana tubuh
bergerak secara perlahan tanpa dorongan, 'kan.
Dalam kasusku, aku selalu terseret oleh pemikiran
tentang sesuatu yang tak boleh kubiarkan tetap terjadi.
Aku tahu itu tak benar.
Aku ulangi siklus itu,
di saat aku berpikir bahwa siklus itu harus kuubah.
Karena aku buat keputusan yang salah.
Yang kutembak seharusnya bukanlah gadis itu.
Tapi seseorang yang mengejarnya.
Itu bukanlah masalah besar.
Yang pantas disebut sampah adalah aku.
Harga yang harus dibayar untuk bersihkan jiwa yang ternoda sangatlah mahal,
jadi aku menghindarinya.
Saat aku doakan jiwanya yang sedang melarikan diri,
aku coba untuk tak sakiti diriku sendiri.
Aku menembaknya untuk lindungi diriku sendiri.
Dan sekarang, aku coba untuk selamatkan diriku lagi dengan akui dosa-dosaku padamu,
seseorang yang mewarisi penampilan yang sama dengannya.
Ya ampun.
Benar-benar obrolan tak berguna.
Aku senang kau bersedia dengarkan ceritaku.
Tunggu, jangan melarikan diri.
Kau ikutlah bersamaku.
Mulai sekarang dan selamanya.
Kau akan hidup bersama dengan orang yang telah kaubunuh,
mulai sekarang anggaplah tak ada kehidupan lain selain bersamaku.
Ini adalah kewajibanmu.
Kau tak punya pilihan lain.
Tak ada yang izinkanmu untuk bunuh diri
dan tekan tombol reset.
Kau harus hidup dan minta maaf padaku setiap hari.
Aku akan membuatmu sibuk, kau tak akan punya waktu luang lagi
untuk pikirkan masalah benar atau salah.
Kau akan minta maaf padaku
dan lakukan apa pun yang kukatakan padamu,
serta abdikan hidupmu padaku.
Kalau kau lupakan tekadmu saat ini dan menyimpang lagi,
aku akan membunuhmu.
No comments yet. Be the first to leave one.